fragments of life, English, Bahasa IndonesiaJuly 22, 2008 1:38 am

ada 1001 cara untuk menyatakan apa yang kita maksud dalam serangkaian kata, dan baru saja aku harus mengucapkan selamat kepada seseorang karena menemukan kosa kata baru untuk mengatakan ‘matre’.

hey there, i’m sure you know that i meant you….

aku juga bingung dari mana awalnya, ketika tiba-tiba sebuah kalimat singkat yang diucapkan dengan nada ‘bercanda’, tapi sama sekali tidak lucu, terlontar dari mulutnya, "Kalau kamu sama aku ni kan sealiran, sama-sama profit oriented."

gosh, ketika sejenak sebelumnya kami berbicara tentang relationship, aku pikir ‘pesan’nya sangatlah jelas. hey, kamu mau ngatain aku matre tapi nggak berani ya?  mau ngikutin apa kata temanmu itu, yang juga dengan berbagai cara berusaha mengatakan bahwa aku matre?  basi tau….

sejujurnya sih, nggak penting apa pendapat kalian tentang aku. sejujurnya aku merasa bodoh ketika aku menjawabmu, "Sori ya, aku sih bukan profit oriented, aku experience oriented." but anyway, I needed to say what I said, so I said it.

hey guys, some women simply will not fit into your description of what a woman should be, OK?  and some people go to faraway places, choose to do the things they do, not because they are after the MONEY.  i am not saying that i am such an idealistic person.  i am not saying that i am willing to die and sacrifice all the comforts of life for the things i believe in (not that i’d been in such a situation, anyway…).  i am not saying that i don’t love the money i get for doing all the things i do.  but you know what, I LOVE DOING THE THINGS I DO.  if going places means i get to learn new things, i get to add more skills to my list, i get to add one more name and place on my CV……. and getting money on top of it, hell….why not?

dan kalau kalian menilai bahwa aku akhirnya memilih untuk berpartner dengan seorang orang ‘asing’, well, mungkin karena pada akhirnya, orang seperti dialah yang bisa mengerti keinginanku untuk maju, maju, dan terus maju.  bukan orang-orang picik seperti kalian, yang hanya bisa melihat bahwa motivasi  terbesar seseorang adalah uang…uang…dan uang. 

i am so stupid to be angry.  but next time around when a ‘friend’ get to call me ‘matre’ in any form, i just don’t know how i would react…hm…then again, maybe they’re soooo not my friend, if they don’t know me well enough to even try saying it. 

gosh, some people can be so lame….

Salatiga, July 20-22, 2008

fragments of life, English, Bahasa IndonesiaJuly 19, 2008 2:07 pm

setelah membaca postingan Sesy tentang kunjungannya ke Jogja, aku jadi ingat kompilasi film pendek yang kutonton di Benteng Vredeburg, Jogja, sebagai bagian dari Festival Kesenian Yogya 2008.

tadinya sih ke sana mau cari film-film produksinya Fourcolours Film, tapi cuma dapet satu (meskipun asli, seru banget nontonnya, salut deh…).  berhubung udah di sana, sekalian deh, mampir di bioskopnya FKY.

kalau nggak salah, kami dapet programnya yang film-film finalis Festival Film Pendek Konfiden 2007. jujur aja, aku paling terkesan dengan film pertama yang muncul dari kompilasi itu.

Judulnya "Cheng Cheng Po", produksi LimaEnam Films.  durasi (lupa-lupa ingat) : kurang lebih 10 menit. Setting: Jogjakarta.

The beginning was so sweet.  Anak-anak SD yang mau pulang sekolah, dan diberi aba-aba untuk mulai doa bareng…. jadilah terlihat berbagai anak dengan berbagai warna kulit dan ciri-ciri etnis yang beragam, menundukkan kepala dengan cara yang berbeda-beda juga.

Mengalirlah cerita tentang persahabatan empat anak SD; seorang anak laki-laki etnis Cina, seorang anak perempuan Jawa, seorang anak laki-laki Jawa, dan seorang anak laki-laki berkulit hitam berambut keriting dengan logat khas Indonesia Timur. *maaf ya, aku lupa je, nama-namanya…*

Ceritanya, si anak Cina yang ibunya berjualan bak pao, sudah ‘nunggak’ uang sekolah selama beberapa bulan, dan sebagai akibatnya, terancam tidak bisa ikut ujian akhir. bak pao rupanya sudah tidak terlalu nge-trend sebagai penganan. berundinglah keempat sahabat itu, dan tiga anak yang lain memutuskan untuk mencoba meminta uang dari orang tua masing-masing.

jadilah kisah beralih ke rumah masing-masing…

dari anak Timor yang berbapak pemilik bengkel kecil… yang sebenarnya dengan senang hati membantu, tapi kok ya sama-sama orang susah…. padahal celengan ayamnya sudah bolong gede di bawahnya….

ke anak laki-laki Jawa yang bapaknya malah sibuk terus ngisi TTS, sampe dia kehilangan momen untuk menyampaikan maksudnya…

sampai ke anak perempuan Jawa yang bapaknya paling berada (pake laptop gitu loh..di rumah…hehehehe), yang membelikan barbie tanpa diminta, tapi menolak memberikan uang untuk teman anakanya… dan malah ngomel-ngomel karena anak perempuannya terus main dengan anak laki-laki dekil….apalagi "yang cina itu…"

Tapi entah bagaimana, malam itu, sebuah bohlam menyala di kepala mereka….

Esoknya, ada diskusi rahasia..yang diikuti kegiatan rahasia yang lucu.

Ada yang ngembat dua lembar jarik ibunya di jemuran… ada yang melepas burung di dalam rumah untuk ngembat sangkarnya…. ada yang ngembat cat bapaknya sampe yang empunya bingung ga karuan….  dan dengan beberapa lembar kertas minyak warna merah… jadilah sebuah BARONGSAI.

Now, you can guess their idea?  jadilah mereka memainkan si Naga berkepala kurungan burung dan berbadan batik itu di depan kios bak pao, dan rame deh….

Very simple idea…. great symbolism…. GREAT MESSAGE…

And it brought tears to my eyes, because more and more it is becoming such a distant dream, for Indonesians and for the citizens of the world.

I wonder whether world would be boring if we can be like those children…. but then again… It’s ‘just’ a movie…  will it ever come true?

Central Java, June 27 - July 19, 2008 

fragments of life, English 11:18 am

Host unlimited photos at slide.com for FREE!time flies so fast, and by now we have spent the last three birthdays together….  not always easy, but lots of fun, and learning, and growth…

so here we are…. 

‘Prost’ for the next 10 months, and 10 years, and 20 years…. to come :)

 

Malang, July 13, 2008 

fragments of life, Bahasa IndonesiaJuly 12, 2008 12:30 am

bagaimana rasanya jika memiliki impian bagi orang lain…?

tahu kan apa yang kumaksud?  maksudku, seperti layaknya orang tua yang pengen anaknya jadi sarjana hukum.  atau menginginkan mereka menemukan jodoh secepatnya.  atau seorang cowok yang memimpikan ceweknya lebih langsing dan feminin.. atau seorang cewek yang memimpikan cowoknya lebih sporty dan macho….et cetera et cetera….

oke…oke…. mungkin contoh-contohnya terlalu sepele… tapi kebayang kan apa yang kumaksud?

ternyata sulit ya, untuk ‘mundur’ dan membiarkan orang lain memutuskan untuk memiliki ‘impian’ sendiri.  meskipun kalau dipikir-pikir kita sendiri pernah berada di pihak yang di’bebani’ dengan impian-impian orang lain, tetap saja sulit rasanya untuk menukar posisi dan berkata dengan ikhlas, "Yah, kalau memang begitu maumu, mungkin itu yang terbaik bagimu…"

untuk seseorang di luar sana…

aku berharap engkau memahami, bahwa banyak hal dalam hidup adalah kesempatan yang sulit untuk datang kedua kalinya. dan ketika sebuah kesempatan mengetuk pintumu empat kali… EMPAT KALI, dan engkau memutuskan untuk melewatkannya, mungkin itu berarti bahwa sudah saatnya kami berhenti berharap.  doaku adalah kamu benar-benar menemukan apa yang benar-benar kau cari dan kau inginkan.  dan dengan jalanmu sendiri, kamu bisa benar-benar membuktikan, bahwa ini adalah jalan yang terbaik…

mouse in the house, Boso JowoJuly 4, 2008 1:30 pm

ing sakwijining dina, aku karo kancaku mlaku-mlaku ning Salatiga.

ana kompleks pertokoan sing diarani "Malioboro Mini", hehehehe. sak jane lucu, wong aku wis suwi manggon ning Jogja, ning kethoke yo ora mirip.  sebabe diarani Malioboro Mini ki amarga nek bengi emperan tokone digawe lesehan, dodolan ronde, jagung bakar, sega goreng, karo lawuh-lawuhan ngono.  salah sijine, ana gelaran sing masang spanduk "Gemak Goreng".

la, kancaku kuwi banjur takon aku, "Eh, gemak ki sing kaya apa to? Ndak kaya dara?" Aku banjur mangsuli, "Dudu.  Kuwi rada luwih gede timbangane dara, ning yo cilik-cilik ngono nek ditanding karo pitik." Photobucket

wis rampung mlaku-mlaku, jebule kancaku kuwi isih penasaran.  banjur arep tuku.  yo wis, sisan dienggo mangan bengi, tuku telung iji.  bareng tekan omah, langsung dibukak terus diserbu, la wong pancen wis luwe…  

banjur aku takon kancaku, "Wis ngerti sing jenenge gemak, saiki?"

wangsulane,"He eh, ning kok mirip karo puyuh yo gedene?"

langsung aku karo bapakku ngguyu kemekelen…. "O alah Jeng, gemak ki yo puyuh kuwi…. mosok pas cilikan kowe ora tau mangan endog gemak?  La kuwi endog cilik-cilik kuwi lho, endog puyuh…" 

Gemak…oh gemak……..

*gemak tanpa screen shot adalah hoax, maka nikmatilah gemak mekingking ala Salatiga….* 

 
tapi amarga wong Semarang ki panganane ngeri-ngeri, yo wajar yen ora mudeng ‘gemak’ ki apa… bayangke, mosok menungsa kok mangan "BADAK", hehehehehehehehehe…..