My Friend's Daughter
English version - please click here
Bahasa Indonesia version:
Dear Temans, di bawah ini ada curahan hati seorang teman lamaku...yang sedang memperjuangkan anak tercintanya....
Kalau ada teman-teman yang punya kontak atau ide kemana mereka harus mencari bantuan...entah itu finansial, second or third opinion dari dokter...atau lembaga bantuan apapun yang sekiranya bisa membantu mereka....yayasan atau kelompok yang sekiranya peduli pada masalah-masalah ini, support group..apapun.....tolong sampaikan ide dan informasinya ya?
makasih banyak...... alamat e-mail ada di bawah banget......
Hallo, akhirnya aku putuskan untuk mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk menulis ini semua. (dijalani aja berat apalagi harus diingat dan ditulis pula).
Awalnya tgl 12 Februari 2007 anakku lahir jam 06.00 dan 10 menit setelah aku dikabari dokter dan rasanya seperti “dipatahkan” kebahagiaanku. Dokter kandungan yang membantu persalinan mengatakan ada kelainan pada anak bapak………… Oh God. Ada semacam tonjolan di perut luar kulit … semoga itu hanya lemak.
Aku putuskan untuk tidak langsung memberitahu istriku yang tentu saja secara fisik dan psikis belum stabil.Siangnya dokter anak datang dan mengatakan belum berani mendiagnosa so akan dikonsulkan dokter urologi.Dokter urologi datang dan mengatakan bahwa tonjolan itu adalah kandung kemih yang terbuka dan terletak di luar. Sehingga harus segera mungkin dioperasi karena ini berkaitan dengan fungsi (untuk kencing ) dan untuk menghindari infeksi.Dioperasi untuk ditangkupkan dan dimasukan kembali ke perut.
Ya Tuhan……………….
Hanya diam, benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.
Malamnya bapakku datang tanpa tahu apa yang terjadi (bagi kamu yang tau kayak apa Bapaku bisa dibayangkan betapa senang dan ekspresi Bapaku kan). Sampai di rumah sakit mandi dan tampak senang sekali baru keceritakan “tsunami” itu.Inilah hari yang mengubah hidupku.
Besoknya aku minta dokter menjelaskan ke istriku didampingi keluarga besarku. Seahri Istriku terus menangis dan tidak bisa tidur, marah, sedih dll. Mulailah hari pesakitan itu, anakku mulai ditest –test medis mulai dari injeksi infus, test darah laborat, bahkan transfusi.
Rabu 21 Februari 2007, artinya umur 9 hari anakku masuk ruang operasi, salah satu 4 jam terlama dalam hidupku. Huh, rasanya hampir gila menunggui anak operasi. Dokter keluar dan mengatakan operasi berhasil Pak. Kamis aku udah doyan makan. Jumat aku ada acara doa bersama (eukemene) dan aku memberi kesaksian atas syukurku atas operasi ketakutanku, dan operasi berhasil
Sabtu, 25 Februari 2007 ganti balut opersai dan luka jahitan agak terbuka dan akhirnya jebol. Aku minta perawat menelepon dokter.
Senin 26 Februari 2007 operasi DIULANG (benar benar gila menurutku) 3,5 jam. Perasaanku berkecamuk (bahkan lebih) seperti operasi yang pertama. Dokter keluar dan mengatakan kita berhasil opersai dan kita sudah mellakukan maksimal. Semoga tidak jebol lagi. Aku mengatakan pada dokter jangan sampai gagal lagi saya bisa gila.
Selasa 27 Februari 2007 aku ditelpon istriku dari rumah sakit, anakku tersedak susu nafasnya sesak, membiru dan masuk NICU, mungkin 3 mingguan. Setiap hari kayak dipaksa gila. Yang nafas spontanya hilang jadi harus dibantu oksigen bahkan ventilator karena nafas spontanya tidak ada. Suhu panas, selang makan, terlalu banyka kabel dan selang di badannya. Disinilah anakku kena infeksi dan luka jahitanya meradang dan jebol lagi artinya harus OPERASI LAGI.
Beberapa saat setelah pemulihan dari ICU anak (NICU), dokter bilang anaku agar dipindah ke RS Karyadi aja. Rumah sakit pemerintah terbesar di Semarang, alasanya disini rumah sakit pendidikan dso banyak ahli dan dokternya lebih enak bekerja di Karyadi.
Singkat cerita pada hari kamis putih anakku dilakukan operasi yang ketiga kalinya…………. Gagal.
Bahkan tidak bisa diambil tindakan. Sejak kamis siang samapi jumat sore tidak ada dokter yang datang pada kami dan menjelaskan dengan lebih jelas apa yang terjadi dan amu diambil tindakan apa. Bisa dibayangkan betapa mengerikan hidup tanpa tau apa yang akan dilakukan dan tidak ada yang dituju didepan. Mengerikan sekali.Kemudian dokter bilang agar anakku dibawa pulang saja dirawat di rumah , nanti 3 bulan lagi datang dan akan diambil tindakan dengan metode yang lain.
Kadang aku bertanya “ tenanan gak sih dokter ini” 2 bulan dirawat di RS, 3 kali operasi gagal, belum tau mau diapakan besoknya udah datang dan enteng menceritakan ada metode lain yang menurutku sangat sederhana, udah dikaji betul gak neh.
Akhirnya aku hanya berpikir bagaimana cepat pulang sik, kecuali tenaga dan pikiran yang rusak karena terlalu lama dan tentu saja biaya di rumah sakit
Sekarang sudah kurang lebih 2-3 minggu anakku dirumah. Kondisi dia keluar dari rumah sakit tidak lebih baik dari kondisi waktu dia lahir bahkan dia pulang dengan kondisi kelainan yang belum bisa ditangani tapi sudah ditambah luka injeksi obat, bekas transfuse, cek darah, vena section (infus tapi lewat persaiuntuk vena yang didalam tubuh), luka bekas operasi, sisa –sisa infeksi dan lukanya. Aku seperti prajurit yang pulang kalah perang.
Aku tetap mohon dibantu doa. Karena kami masih akan mencari jalan keluar demi kesembuhan anak kami. Rasanya berat sekali. Oh iya, kami sekeluarga mengucapkan terima kasih tenan atas bantuan teman-teamn lewat perhatian, sms dan sumbangan yang sudah kami terima. Sungguh pilu rasanya menerima sumbangan tapi itu ternyata sangat berguna dan terima kasih sekali.
Ayah Marina Gabriela
Antonius Arie Wibowo : uampuhman [at] yahoo [dot] com
or you can write to: 








