fragments of life, points to ponderSeptember 29, 2008 11:11 pm

Pernahkah berpikir seberapa besarnya peranan jurusan atau bidang yang kita pelajari, terhadap cara kita memandang dunia?

Kalau ketemu sama anak jurusan psikologi, yang hobi banget menggolong-golongkan orang berdasarkan karakternya, lalu dengan sibuk menganalisa apakah dia terjebak dalam masa anal yang tak terselesaikan, oral atau apalah, itu sudah pernah…..

Kalau ketemu dengan mahasiswa antropologi, yang selalu tertarik pada orang lain..banyak bertanya tentang keluarga, masalah-masalah sosial, keadilan sosial, konflik antar kelompok etnis…pernah juga.

Ketemu dengan ahli sejarah yang dalam 3 menit pertama langsung bertanya panjang lebar tentang GAM…pernah.

Ketemu dengan ‘ahli’ bahasa Inggris yang selalu membenarkan apa saja yang ditulis atau dikatakan oleh orang lain….pernah juga.

Ketemu guru bahasa Inggris yang ga tega beli kaos di mall gara-gara grammar dan spellingnya sering salah….lha, kalau itu aku sendiri, huahahahaha.

Kalau ketemu dengan mahasiswa ekonomi yang membahas hubungan antar manusia dalam terminologi pasar bebas… nah, itu baru membuat aku shock berat.

Menarik sekali berdiskusi dengan seseorang yang sedang ‘jatuh cinta’ pada ilmu yang dia tekuni, dan memilih untuk memandang dunia melalui kacamata ilmu tersebut.  Lebih menarik lagi ketika kemudian pandangan itu di-generalisasi untuk memandang berbagai fenomena di luar ilmu tersebut.

Bayangkan bila terjadi diskusi di mana pertanyaannya adalah: "Bagaimana menurutmu perbedaan budaya dari setiap negara itu akan mempengaruhi kehidupan berkomunitas?"

Dan jawabannya adalah:"Pada dasarnya semua orang sama (sampai sini sih OK, ya kan?), karena kan semua orang pada dasarnya punya kebutuhan yang sama dan mereka adalah konsumen yang membutuhkan jasa dan layanan yang sama.  Jadi para ‘merchant’lah yang menyatukan dunia.  Jadi saya pikir nilai-nilai itu ga terlalu penting dalam kehidupan komunitas, karena pada dasarnya kita sama, konsumen."

Gubrak…

Hasilnya adalah keheningan.  Semua bingung karena dalam diskusi kan tidak ada yang benar dan salah, tapi ini ilmu ekonomi diterapkan dalam sosiologi.  Yang memang bisa jadi menjadi pengaruh besar, tapi apa iya bisa diterapkan mentah-mentah begitu.

Aku nggak tahu, apakah ini kaitannya dengan bidang keilmuan saja, atau lebih pada usia dan keadaan "kejatuhcintaan" itu yang membuat orang ini lupa pada ‘dunia’. 

Ah, aku berharap dia akan (aduh, kok aku nggak ketemu ungkapannya dalam Bahasa Indonesia ya…, maaf ya….) ‘grow out of it’.  Karena sedihnya kalau semua orang dilihat sebagai ‘konsumen’ saja.  Apakah hanya konsumerisme yang menyatukan kita, wahai umat manusia?

*Aku berharap aku tidak melihat orang dari kemampuannya berbahasa saja…..huehehehehehe…..*

fragments of life, points to ponder, EnglishSeptember 18, 2008 5:09 am

Last night I met 2 Tibetans… and boy, wasn’t that interesting….

The meeting was really really seriously interesting because of a mix of factors…

  1. Well, they are Tibetans.  Does it get any more interesting than that?  And the fact that our residence is also home to plenty of Chinese residents, well, might get more interesting…I hope the fact that there were only 2 of the numerous Chinese residents attended the dinner, and one walked out half way (presumably because of piling homeworks…), leaving one Chinese born American to ‘defend’ their country, did not really say anything about the whole issue.
  2. One of the Tibetans made it very clear in the beginning, that they come from Tibet, and they have their own language.  But unfortunately, so he said, they were only given an Chinese-American translator who speaks Chinese.  It was an awkwardly strong message.  Very strong message.  He made it a point to introduce himself in Tibetan, and then explained in English (the only moment when he spoke English for almost full 2 minutes..), that it was supposed to be a ‘joke’ that showed that although they have to speak Chinese for the sake of translation, they DO have their own language. * ouch….translator….*
  3. More *ouch* for the translator (I shouldn’t say translator, though… He’s an employee of the State Department responsible for inviting foreign visitors to talk around US…that’s no regular translator…).  In the heat of the moment, the Chinese resident (who obviously understand their direct conversation, critisized the translator for not translating accurately.  He (the resident) was trying to ‘respond’ (can’t you see I’m trying so hard to be politically correct here?) to some statements from the Tibetans, and in doing so, quoted some phrases which were non-existent in the explanation that the rest of the room heard (in English).  And the ‘translator’ made it a point to say, "I’m sorry, I guess you misunderstodd, he never said that…" *ye…ye….GO translator, GO!* As a ‘retaliation’, the resident said something which more or else implied that ‘you’d better do your job better, coz I know damn well what they’re saying (or what I though they’re saying…)’ ….(ehem, f course not in so many words, but that’s what I interpret…being a translator myself once…).

It brought back a lot of memories.

Of course it reminded me of the days I was there, in his shoes, receiving the point blank bullets shooting at me.  Of all the pressures to be ‘politically correct’, while sending an accurate translation/interpretation to what is actually said and done, of trying to keep the whole discussion going and not diverted into some kind of a power game.  Gosh….what days…

It made me think also.  On one hand, I am a member of a minority group, on the other, I am definitely a majority.  It made me look deep into myself, on how I’ve been behaving as a member of a majority group.  Was I angry?  Was I disappointed to all these people who, despite the importance of the unity of our country, still want to have their own way? Did I curse them?  Did I say, or think, or feel, that they are a bunch of ungrateful people who live off my country but only wants more?  Did I want to tell them, hey guys, you’ve received so much…so very very much…and still not satisfied?

Did I think that way?  towards my fellow countrymen and women (though they might not feel as if they’re mine…)…  Have I tried seriously to reflect on my fear as a minority, that one day my way of living will cease to exist in my beautiful country?  Did I feel that these people feel it, too?

Last night I met two Tibetans.  And I was sent down the spiral of reflection.

fragments of life, points to ponder, EnglishJune 2, 2008 6:18 pm

I have a dream…no, i’m not trying to borrow from Martin Luther, nor Obama….  I simply have a dream, too.

I have a dream that someday, people can simply sit down, and communicate.  You know, opening their mouths, and hearts, and heads, and brains, and tell people what they think, what they feel, what they agree and disagree with.  And listen.  Opening their ears and hearts and heads, and listen.

I have a dream, that someday violence is not an option.  Not even for the last resort.  No, not even then.

I have a dream, that someday, people have the right to be different, to be honest, to be who they want to be.  That state actually means something, and that something is actually a good thing.

I have a dream, that someday, I can do more than simply dreaming.  That I can be part of the solution.  That I can stop crying silently in my heart, and have the courage to stand up and shout, "Stop….please stop….just stop…"

Indonesia, June 2, 2008

Ode to my country…. Ode to Earth.
  

 

fragments of life, points to ponder, Bahasa IndonesiaMay 30, 2008 11:06 am

masih percaya yang namanya kebetulan?  rasa-rasanya, semakin lama kok semakin aku merasa, bahwa nggak ada hal dalam hidup ini yang kebetulan.  untuk ke-sekian kalinya, ada begitu banyak "kebetulan" yang terjadi hampir berbarengan.

belum ada seminggu yang lalu, aku buka milist dari komunitas ini, yang isinya ngajak untuk bikin kumpulan cerpen.   yah, meskipun sang inisiator diejek-ejek pengen japri de el el, menurutku lucu juga kali, hehehe.  dan berhubung akhir-akhir ini hidupku nggak dramatis-dramatis amat, aku akhirnya menengok ke masa lalu untuk mencari inspirasi.  karena cuma iseng, sedikit ala kadarnya, hehehe.  tapi sedikit banyak, itu menjadi katarsis pengalaman yang sudah mengendap selama dua tahun terakhir ini. 

yang aneh, selama menulis cerita yang pertama, yang jujur aja diinspirasi pengalaman yang kurang menyenangkan… moodku anjlok, drastis, seolah-olah aku terseret kembali ke masa-masa gelap aku harus bergumul dengan segala perasaan itu, hiiii….. ngeri deh.  untung cuma cerpen, kalau novel mesti aku jadi depresi, hehehehe.  tapi positifnya, jadi ada hasil sampingannya nih…hehehe….selain cerpennya. 

tapi aku jadi kaget….

kemarin aku sempat YMan sama temen, dan ternyata oh ternyata…. entah dari mana awalnya, kami jadi membicarakan si tokoh dalam ceritaku itu.  dan, ya ampun….. kisah yang menginspirasi cerpenku itu, ternyata berulang kembali di kehidupan nyatanya!!  ehem…maksudku, sebagian dari kejadiannya…hehehe. semoga saja tidak berakhir sama.

benar-benar aku kaget aja.  kok kebetulan banget ya… kebetulan banget aku baru aja "dipaksa" untuk mengingat dia, dan episode ‘dinas luar kota’ itu.  la kok, tiba-tiba aku dengar dia ‘dinas luar kota’ lagi, halah…. so strange. 

pesan ini, kamu tidak akan pernah membacanya…  dan mungkin, seperti pesan-pesan lain juga, kamu tak kan pernah mengerti apa yang sebenarnya ingin kukatakan, karena seperti katamu, aku itu terlalu njlimet….hehehehe.

"Mas, hadapilah hidup dengan optimisme.  karena hidup itu butuh keberanian, dan semangat yang membara.  seandainya aku masih boleh mendoakanmu, kuharapkan dirimu tidak akan pernah kekurangan ‘api’ itu…..’api’ yang selalu kita debatkan apa maknanya.  ‘api’ yang membuat hidup itu penuh dengan keberanian, dan bukan ketakutan.  beranilah, Mas, karena sesungguhnya jagad raya ini bergerak dengan energi positif. 

Jangan kalah pada ketakutan diri sendiri.  Karena semua hal, itu ada hikmahnya.  Belajar!! Belajar!! dan terus belajar, dari hidup itu sendiri.  Jangan takut, karena kalau kamu percaya Tuhan, Dia tidak akan pernah meninggalkanmu."

fragments of life, points to ponderFebruary 1, 2008 5:27 pm

nah, sekarang aku baru ingat…hehe…emoticon

kenapa tadinya aku pengen nulis soal ‘mantan’..ternyata oh ternyata..gara-gara postingan yang ada di blog itu, aku sempet diskusi sama temen kantor tentang mantan-mantan kami.  kenapa begitu, ya karena buntut obrolan bahwa sebuah partnership itu minimal perlu memiliki dasar yang sama, mau dibawa ke mana sih…  dan akibat ketidaksepakatan tersebut lah…akhirnya jadi punya mantan deh….

hehe….biasa kan merembet…jadi seru deh pembicaraannya… karena si beliau itu barusan putus, hehe..jadi masih seger deh peristiwanya…

jadi, ketika seseorang menjadi "mantan", apakah dia berhenti menjadi mantan saja? tutup buku?

bagiku sendiri sih, putus dengan seseorang itu bukan berarti bahwa dia bukan orang baik.  bukan berarti aku bukan orang baik.  kebetulan sih sejauh ini, dari hubungan yang pernah terjadi, aku beruntung dapet orang-orang yang baik. mantan-mantan itu orangnya baik-baik, hanya ga cocok untuk aku.  tentunya mereka juga pernah mencoba menjalani sebuah hubungan sama aku juga karena ada sesuatu yang baik yang mereka lihat dalam diriku.  jadi, apakah ketika sudah putus, si mantan itu kemudian berubah menjadi monster?  ga kan?

kualitas-kualitas yang ada dalam dirinya mungkin masih sama.  mungkin malah semakin terlihat harganya ketika sudah ada jarak yang membuat kita jadi lebih obyektif. dan sebagai seorang pribadi, tinggal kita aja menilai kembali, apa aku masih tertarik untuk berteman dengan seseorang yang punya pribadi dan kualitas seperti ini?

ini adalah salah satu pandangan yang membawa perdebatan panjang dengan salah seorang ‘mantan’.  beliau ga terima kalau aku masih berteman dengan mantan yang lain karena dia menganggap bahwa rasa ya rasa..yang ada di situ ya ada terus…mantan ya mantan, titik. 

bagiku, aku sudah berhenti melihat seseorang itu sebagai seorang mantan.  karena dia seseorang yang begitu berkualitas yang layak untuk diberi tempat dalam hidupku sebagai kawan, kenapa tidak?  kenapa aku harus tidak menghargai kualitas seseorang dalam kapasitas yang lain, hanya karena kami pernah memilih untuk menempuh suatu jalan yang akhirnya berbeda arah?  dan buktinya, semuanya baik-baik saja.  salah satu kualitas yang paling aku hargai dari persahabatan kami adalah bahwa kami sama-sama mampu kembali berteman.  teman saja. titik.

Pelajaran yang bisa dipetik:  insecurity, alias rasa tidak aman, adalah sebuah racun dalam sebuah hubungan. 

kalau diri sendiri merasa tidak percaya diri dan tidak aman, apapun yang dilakukan orang lain tidak akan bisa mengubah apa yang kita rasakan, apa yang kita percayai.  sembuhkan diri sendiri.  percaya pada diri sendiri, dan biarkanlah kepercayaan itu mengalir ke dalam kehangatan hubungan itu. ubahlah perspektif, danpercayalah bahwa menjadi lebih positif itu sangat membebaskan.  bebaskanlah dirimu, dan yang kaucintai itu.

dan apabila memang ternyata bukan ini jalannya, sepakatlah untuk tidak sepakat…sepakatlah bahwa memang ternyata kita tidak sepakat mengenai ke mana kita harus melangkah, atau apakah kita bisa melangkah bersama…

berikan tepukan hangat di punggung, dan ambillah jalan indah terbentang di hadapan…dan berikan harapan terbaik untuknya juga…

bukankah sebagai sebuah pribadi….kita masing-masing ini BAIK?    

fragments of life, points to ponder, English, Basa Jawa, Bahasa Indonesia 12:10 pm

kok tiba-tiba aku pengen bicara soal mantan ya…aneh kan?

tapi bukan hal yang pribadi-pribadi kok, hehe….jadi bagi yang merasa mantanku (halah…emoticon), jangan ngerasa gimana-gimana ya…hehe…

sebenarnya apa sih yang membuat sebuah hubungan itu tidak berhasil?  dan apakah ketika hubungan itu sudah ’selesai’, ‘tutup buku’ atau apalah itu judulnya, "selesai" jugakah eksistensi sang ‘mantan’ di dunia masing-masing?

kayaknya aku kepancing sama salah satu postingannya Jeng ini (eh, Jeng, jangan diambil hati ya…ini sama-sama curhat wae acaranya…emoticon) yang berbicara tentang relationship. yang menarik untuk aku adalah bahwa ada satu kalimat yang dikutip dari bibir sang kekasih yang bisa aja menimbulkan salah paham gede-gedean gitu… 

"kalau nanti di sana kamu ga suka, kamu bisa pulang aja…" kira-kira gitu deh statement-nya…

nah, ini bisa jadi positif bisa jadi negatif kan…

kalau orang lagi sensi, pasti interpretasinya, "Halah, ngusir nih?" atau, "Emangnya kamu ga mau pertahankan aku?" Nah lho…hayo ngaku, para cewek…eh cowok juga ding…pasti ada masa-masanya kalimat-kalimat kayak gini jadi litani sehari-hari…

kalau orang sabar dan serba positive thinking, mungkin akan menginterpretasikannya sebagai: "waduh, pengertian banget ya…kok boleh ya aku pulang gitu aja…"

tapi apa yang kupelajari sampai sejauh ini adalah pentingnya suatu pasangan untuk berada pada halaman yang sama….(halah, wagu…kalau diterjemahkan ya… maksudku itu lho, English expression yang bunyinya ‘on the same page’…).  yah, ibarat baca buku, yang satu baru sampai perkenalan tokoh, satunya sudah baca sampai tokohnya pergi ke Cina sesudah India, Thailand, dll.  la kalau tiba-tiba ngobrol, "eh, gila ya…di novel itu Taj Mahal kayaknya keren abis.." ya nggak nyambung lah yaw….

sama juga dengan yang namanya relationship.  kalau satu pihak pikirannya sudah kemana-mana, yang satunya ga sepakat, kan ga jalan…  ada baiknya keduanya ’sepakat’ sebenarnya kita mau ke mana, dan commit dengan itu.  artinya, letakkanlah kepercayaan dan komitmen pada proporsi yang tepat.

kalau misalnya nih…misalnya lho ya… sudah memikirkan untuk menikah.  yang namanya pernikahan itu kan nilainya beda-beda untuk tiap orang. jadi persepsi itupun, harus dibicarakan dulu.

seperti banyak dibilang oleh para selebritis, terutama yang baru jadian atau rumah tangganya belum tidak mengalami gonjang-ganjing…yang penting adalah kepercayaan.  kalau untuk aku sih, tetep bukan kepercayaan buta, tapi kepercayaan yang ada pada porsinya.  tapi minimal banget, kepercayaan bahwa si dia tetap mengusahakan yang terbaik untuk kita berdua, dan bahwa pada dasarnya, maksudnya itu baik.  dan terbukalah tentang apa yang kita rasakan…

misalnya nih..sekali lagi misalnya lho ya…  kalau seseorang yang kita harapkan berkata, "la nek arep mulih yo mulih wae to…"

bisa jadi kita langsung tersinggung, ‘la berarti kita tak bisa dipertahankan lagi’ emoticon atau… ‘wah, dirimu tidak memperjuangkan diriku’…emoticon….meskipun siapa tau bener….hehe…emoticon becanda..becanda…

tapi bisa juga kan kita mengartikannya sebagai…’dia pengertian banget dengan pengorbananku’…emoticon..atau siapa tahu kalimatnya ada buntutnya….’mulih wae, ning aku meluuuuuw’….emoticon

tapi kalau kita percaya bahwa memang tujuannya sama…kenapa harus negative thinking? kalau perlu, tanya aja langsung…

dan kalau berada dalam sebuah hubungan di mana negative thinking meraja, atau, bertanyapun tak bisa….is it really the time to think about marriage at all?  then maybe the relationship has not reached that stage yet.

eh, la kok kayaknya malah ga ada hubungannya sama mantan ya…huehehehe…emoticon…jadi malu…aku malah jadi penasaran, sebenernya kenapa ya aku mbukanya tadi tentang mantan…halah…kalau gitu kucari dulu ah…

pareng…. 

fragments of life, points to ponder, EnglishJanuary 30, 2008 3:43 pm

Choices…are you lucky, or unlucky?

When you have to face several options at the same time, do you usually consider yourself as being lucky, or unlucky?
During those moments when you have a chance to create an option, would you simply try to stick with what is there, or would go for it and create a possibility for yourself?

Many of us belong to a group of people one of my dearest colleagues calls as “safety player”, do you get what he meant?  emoticon  Hehe…. What he actually meant were people who like to play it safe.  You know, not taking risks, not taking decisions, putting a lot of efforts simply by trying to be safe.  Many of us feel like being stuck, and yet, are too afraid to let go of the “devil we know” for the unknown one(s).  

And for some people, choices seem to always come at the least fortunate timing.  You know those moments when more than one opportunity come knocking and you are left utterly confused and frightened.  Would I make the best option? What would happen if I choose this?  How about that? What if….this….What if …that….  A zillion of “if”s haunting your sleepless nights…  Hm, sounds familiar?

So then again, what are you when you are in such situation?  Do you consider yourself to be lucky?  Or unlucky, instead?
Would you be happier if you are stuck in a situation where you simply want to get out, but just don’t know where to… or when you are cursing yourself for not being able to make up your mind?

Sometime…well, correction, very often, life and people surprise me a lot.
There are times when my own life and people around me take a sudden turn that I never thought was possible.  And at other times, I was simply dying to push myself, and other people (strictly for positive reasons…by the way emoticon) off the cliff and fly away.

To my Friends, MS and MM (hey guys, you even have similar initials..)

To one of you I would really feel like congratulating…  I never thought you would have the guts to take the path you are taking right now.  To be honest, I always knew you have better things to do than sitting around leading a “normal” life, but what you choose to do right now is really out of this world. Hope you are faring well…

To the other one I would really love to say, take the jump.  If you fall, you’ll fall.  But knowing you, I think you would not fall that far.  You know what, I think we should start appreciating ourselves better.  And if these people don’t appreciate you enough, maybe then, they don’t deserve you. I never thought that someday I would agree to this statement, me a “safety player” emoticon at heart…, but now I come to realize that indeed, it is better to know whether we fail or succeed, better to try our chances and know what’s at the end of the tunnel, rather than asking ourselves, “What would have happened IF….”

And yes, Mizz, I AM asking myself.  
What would I do in six months time?  Would I end up doing this? Or would I end up doing that?  Would I end up trying to survive? Or would I end up leaving commitments in the trash bin?  Would I find myself celebrating Christmas 2008 here, or there?  Or what?  

And if life chooses not to be so complicated, I guess it would not be this fun.  So yes, I guess I am lucky, though in a couple of months I might reverse my opinion emoticon

How about you?  Are you taking risks?  I hope they are all worth taking.