kok tiba-tiba aku pengen bicara soal mantan ya…aneh kan?
tapi bukan hal yang pribadi-pribadi kok, hehe….jadi bagi yang merasa mantanku (halah…
), jangan ngerasa gimana-gimana ya…hehe…
sebenarnya apa sih yang membuat sebuah hubungan itu tidak berhasil? dan apakah ketika hubungan itu sudah ’selesai’, ‘tutup buku’ atau apalah itu judulnya, "selesai" jugakah eksistensi sang ‘mantan’ di dunia masing-masing?
kayaknya aku kepancing sama salah satu postingannya Jeng ini (eh, Jeng, jangan diambil hati ya…ini sama-sama curhat wae acaranya…
) yang berbicara tentang relationship. yang menarik untuk aku adalah bahwa ada satu kalimat yang dikutip dari bibir sang kekasih yang bisa aja menimbulkan salah paham gede-gedean gitu…
"kalau nanti di sana kamu ga suka, kamu bisa pulang aja…" kira-kira gitu deh statement-nya…
nah, ini bisa jadi positif bisa jadi negatif kan…
kalau orang lagi sensi, pasti interpretasinya, "Halah, ngusir nih?" atau, "Emangnya kamu ga mau pertahankan aku?" Nah lho…hayo ngaku, para cewek…eh cowok juga ding…pasti ada masa-masanya kalimat-kalimat kayak gini jadi litani sehari-hari…
kalau orang sabar dan serba positive thinking, mungkin akan menginterpretasikannya sebagai: "waduh, pengertian banget ya…kok boleh ya aku pulang gitu aja…"
tapi apa yang kupelajari sampai sejauh ini adalah pentingnya suatu pasangan untuk berada pada halaman yang sama….(halah, wagu…kalau diterjemahkan ya… maksudku itu lho, English expression yang bunyinya ‘on the same page’…). yah, ibarat baca buku, yang satu baru sampai perkenalan tokoh, satunya sudah baca sampai tokohnya pergi ke Cina sesudah India, Thailand, dll. la kalau tiba-tiba ngobrol, "eh, gila ya…di novel itu Taj Mahal kayaknya keren abis.." ya nggak nyambung lah yaw….
sama juga dengan yang namanya relationship. kalau satu pihak pikirannya sudah kemana-mana, yang satunya ga sepakat, kan ga jalan… ada baiknya keduanya ’sepakat’ sebenarnya kita mau ke mana, dan commit dengan itu. artinya, letakkanlah kepercayaan dan komitmen pada proporsi yang tepat.
kalau misalnya nih…misalnya lho ya… sudah memikirkan untuk menikah. yang namanya pernikahan itu kan nilainya beda-beda untuk tiap orang. jadi persepsi itupun, harus dibicarakan dulu.
seperti banyak dibilang oleh para selebritis, terutama yang baru jadian atau rumah tangganya belum tidak mengalami gonjang-ganjing…yang penting adalah kepercayaan. kalau untuk aku sih, tetep bukan kepercayaan buta, tapi kepercayaan yang ada pada porsinya. tapi minimal banget, kepercayaan bahwa si dia tetap mengusahakan yang terbaik untuk kita berdua, dan bahwa pada dasarnya, maksudnya itu baik. dan terbukalah tentang apa yang kita rasakan…
misalnya nih..sekali lagi misalnya lho ya… kalau seseorang yang kita harapkan berkata, "la nek arep mulih yo mulih wae to…"
bisa jadi kita langsung tersinggung, ‘la berarti kita tak bisa dipertahankan lagi’
atau… ‘wah, dirimu tidak memperjuangkan diriku’…
….meskipun siapa tau bener….hehe…
becanda..becanda…
tapi bisa juga kan kita mengartikannya sebagai…’dia pengertian banget dengan pengorbananku’…
..atau siapa tahu kalimatnya ada buntutnya….’mulih wae, ning aku meluuuuuw’….
tapi kalau kita percaya bahwa memang tujuannya sama…kenapa harus negative thinking? kalau perlu, tanya aja langsung…
dan kalau berada dalam sebuah hubungan di mana negative thinking meraja, atau, bertanyapun tak bisa….is it really the time to think about marriage at all? then maybe the relationship has not reached that stage yet.
eh, la kok kayaknya malah ga ada hubungannya sama mantan ya…huehehehe…
…jadi malu…aku malah jadi penasaran, sebenernya kenapa ya aku mbukanya tadi tentang mantan…halah…kalau gitu kucari dulu ah…
pareng….