fragments of life, Bahasa IndonesiaJune 24, 2009 9:07 pm

Seminggu kemudian, aku pusing menghadapi setumpuk huruf yang bukan cuma harus dihapalkan, juga harus disambung-sambung dan dibaca dengan lancar….aduh mak…

Selamat datang di dunia pelajaran Bahasa Arab.

Yah, betul, anda tidak salah dengar baca. Hari ini dengan resmi ditutup hari ke-5 aku duduk manis 3 jam setiap hari di Yemen Language Center / Yemen College for Middle Eastern Studies di Sana’a, untuk belajar Bahasa Arab. Guru-gurunya semangat banget, saking semangatnya, dalam waktu dua hari aku sudah diberi buku ke-2, padahal ngapalin alif, ba, ta aja masih kerepotan. Tapi sedih juga sih…soalnya belum bisa belajar yang lain-lain sebelum bisa baca huruf Arabnya, alias, sudah seminggu belajar aku baru bisa bilang "assalamualaikum" (yah, itu sih dari Indonesia juga udah bisa, hihihi….), "selamat pagi" sama "apa kabar"… oya, sama "namamu siapa?", hahaha… Masa ngobrol sama orang, habis nyapa selamat pagi, gimana kabarnya, siapa namanya, terus macet…. Ujung-ujungnya cuma bisa bilang "qalas"…alias cuma bisa segitu aja, hahaha, sambil cengar-cengir. emoticon

Masih ada dua minggu lagi… SEMANGAT!! Dan berharap semoga minggu depan sudah bisa ngomong sedikit, paling nggak sama sopir taksi.  Lah, masak dianter-jemput 20 menit sekali jalan, nggak ngobrol apa-apa.  Ya itu tadi, habis bilang selamat pagi, apa kabar, terus sepi deh…hahaha…

Wish me luck ya, temans!

Sana’a, 24 Juni 2009

fragments of life, English, Bahasa IndonesiaMay 14, 2009 1:31 pm

Pertanyaan yang bagus, ya… apa salahnya bilang partner?  Nggak ada yang salah sih, tapi di tempat-tempat tertentu, ternyata bisa menimbulkan lirikan mata penuh arti, alis yang terangkat sepersekian millimeter, pertanyaan berputar di kepala orang lain.

Mau tahu?

Salah satu kebiasaanku adalah tidak pernah mengatakan ‘pacar’ alias ‘boyfriend’ ketika berbicara tentang masku.  Alasannya simple aja, sejak pertama jalan, dia sempat bilang bahwa ‘we are kind of too old to say boyfriend/girlfriend’, hahahaha.  Lucu ya, tapi bener juga sih, jadi kami memang jarang aja menyebut satu sama lain sebagai pacar.  Jadi sejak pertama, memang kebiasaan kami menyebut satu sama lain sebagai ‘partner’.

Sekitar setahunan yang lalu, sempat juga sih ada teman dari Jogja yang tanya lewat sms ketika mau ketemuan sama aku dan partnerku, ‘he or she?’, hahaha.  Sempat aneh juga ketika menerima sms itu, masa sih nanya gitu, ketika udah kenal aku bertahun-tahun, tapi yah kumaklumi aja.

Tapi ketika berada di US, pertanyaan terus terang gitu sih tidak pernah terlontar langsung, soalnya kalau di sana kan tidak ‘politically correct’, apalagi urusan orientasi seksual memang bukan urusan orang lain.  Tapi salah satu persitiwa paling menarik adalah ketika aku ikutan rombongan volunteer ke New Orleans, seminggu runtang-runtung bersama 19 orang lain dari berbagai usia dan latar belakang, meskipun semua disatukan oleh hubungan kami dengan University of Michigan. 

Ngobrol punya ngobrol kesana kemari, apalagi naik mobil lebih dari 24 jam dari Ann Arbor ke New Orleans, tentu saja percakapan menyentuh topik-topik pribadi.  Setelah beberapa hari bersama, kerja dari pagi sampai sore bersama, makan bersama, jalan-jalan bersama, tak bisa dihindari muncul pembicaraan tentang pasangan. 

Dan ketika aku mengatakan, ‘My partner was here for winter break, and we went to Las Vegas and Grand Canyon, it was great,’ tiba-tiba kurasakan Mike, salah satu peserta rombongan termuda yang usianya masih di bawah 21, mendongak kaget.  Tanpa bisa menyembunyikan rasa penasaran dan kagetnya, dia jelas-jelas menatap mukaku sambil menaikkan sebelah alisnya.  Aku rada bingung, apanya yang salah ya….  Sepanjang perjalanan yang 24 jam itu, kami duduk sebelahan dan udah ngobrol ngalor ngidul, dan dia udah denger kok soal Vegas, lha kok bingung gitu…

Sepersekian detik kemudian, baru aku menyadari, apa kira-kira yang membuat dia kaget. emoticon  Langsung saja kuteruskan kalimatku, ‘Unfortunately HE could not stay in Ann Arbor too long, so I could not show him around,’ sambil kulirik Mike penuh arti.  Rupanya dia menangkap bahwa ‘klarifikasi’ itu memang kutujukan kepadanya.  Dia langsung tertawa lebar, sambil berkata, “Sorry… I was just curious…”

Geli juga sih, tapi mungkin itu juga yang terlintas di kepala beberapa orang yang mungkin tidak terlalu kenal aku dengan baik, dan hanya mendengar aku berbicara tentang “partner”ku.  Beberapa orang yang kenal baik sih menganggap kami sedikit ‘modern’ karena memakai istilah tersebut.

Kadang aku penasaran, kira-kira apa ya, yang terlintas di pikiran mereka kalau saja mereka ngobrolin soal pasangan pas aku pakai mitten-ku yang super warna warni….warna pelangi bo’ (dan waktu beli dikomentarin sama teman deketku yang lagi ambil Masters of Social Work…, “the color is so LGBT”…hahaha….).  Apa nggak tambah bingung mereka…. hahaha….emoticon

Jadi kesimpulannya, kalau suka pernak-pernik warna pelangi, dan suka menyebut pasangan sebagai ‘partner’….ehemm….siap-siap aja deh, untuk menjelaskan, “Maksud loe?”

There is nothing wrong to be LGBT, why not.  It is nobody’s business.  But it is interesting on what conclusion do people come to through verbal and non-verbal ‘clues’.

fragments of life, points to ponder, English, Bahasa IndonesiaMay 12, 2009 8:50 pm

(English version below)

Rasanya klise mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan cinta, pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik adanya.  Tetapi dari hari ke hari, mungkin memang segala hal yang terdengar klise itulah yang ternyata telah teruji dengan waktu dan pengalaman manusia.

Orang tidak perlu selalu berbakat, dan cerdas, dan hebat, untuk bisa melakukan hal-hal yang luar biasa.  Bahkan, mungkin definisi ‘hal-hal luar biasa’ itu sendiri selalu terbuka dan subyektif.  

Jangan takut untuk mencoba hal baru.  Jangan takut akan kegagalan.  Jangan takut untuk terlihat lebih lemah dari orang lain.  Jangan takut untuk kalah.

Lakukanlah semua dengan cinta.  Dan apa yang kaulakukan akan menjadi hebat.  Hebat dengan caramu sendiri.  Mungkin tidak hebat untuk ukuran orang lain.  Mungkin tidak luar biasa untuk ukuran normal dunia.  Tetapi terkadang, hal-hal kecil yang sepele di mata dunia, adalah sebuah prestasi bagi diri sendiri.  Berbanggalah.  Berbanggalah pada pilihan yang kauambil, kehebatan yang berhasil kaubuktikan pada diri sendiri.  

Lakukanlah dengan cinta.  Maka cintamu akan menjadi kekuatan dan inspirasi.  Lakukanlah dengan cinta, karena itu akan membuatmu bahagia.

With love

It sounds like a cliché when we say that everything done with love, will always produce something good.  But as days gone by, probably all the clichés are there because they have been proven through time and experience.

We don’t have to be that talented, smart and great to produce extraordinary things.  We might even need to redefine “greatness” itself, because it is always open and subjective.

Don’t be afraid to try new things.  Don’t be afraid to fail.  Don’t be afraid to look weaker than others.  Don’t be afraid to lose.

Do everything with love.  And whatever you do will be great.  You will be great in your own ways.  Probably you are not great for others.  Probably what you do is not extraordinary in the eyes of the world.  But sometimes, a small thing in the eyes of the world is an achievement for yourself.  Be proud.  Be proud of your own choices, the greatness that you have proven to yourself.

Do everything with love.  Your love will become your strength and inspiration.  Do everything with love, because it will bring you happiness.

fragments of life, in the line of duty, Bahasa IndonesiaMarch 10, 2009 4:12 am

Akhirnya, terbayar sudah pegel-pegel latihan intensif sebulan di Salatiga, sebelum berangkat ke US tahun lalu.

ICN 2009Setelah nongol sekilas tahun lalu dengan tarian spontan untuk mengiringi lagu dolanan "Jaranan" yang dinyanyikan temanku di Michigan State University, kali ini aku muncul dengan tarian yang nyaris pakem. Latihan satu setengah minggu berbekal video rekaman hari terakhir aku latihan dengan guruku waktu itu (Matur nuwun, nggih, Mas), akhirnya siap-nggak siap, the show must go on.

Indonesian Cultural Night di University of Michigan tahun ini bertema "A Night at the Indonesian Museum".  Sounds familiar?  Yup, idenya ya mirip-mirip ‘A Night at the Museum’nya Ben Stiler. Ceritanya MCnya ada dua orang, dan yang satu, pemilik museum, tahu kalau setiap malam semua display comes to life, sementara yang satunya nggak tahu.  Jadi setiap kali yang satunya meninggalkan panggung, mulailah satu performance, terus pas di akhir atau awal performance, si orang itu masuk, dan penari/penyanyinya harus mematung, sementara pemilik museum menerangkan, display ini dari mana dan tentang apa. Seru juga…

Aku ngeluarin tari Golek Manis, versi Solo.  Salah satu temanku di sini ikutan group nari Saman, satu-satunya bule di kelompok itu… sementara yang satunya lagi bawa istrinya untuk pakai baju Dayak… juga satu-satunya pasangan bule di acara peragaan busana daerah dari Indonesia… I’m so proud of them! 

 

 

Yup, hari Sabtu, 7 Maret 2009, menjadi penutup manis untuk satu minggu yang penuh dengan kegelisahan, kesedihan dan rasa kawatir… 

 Golek Manis 001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   ~ Tari Golek Manis ~

 

Photobucket

 ~ Tari Saman ~

 

Photobucket 

  ~  Peragaan Busana Daerah ~
 

 

Ann Arbor, 9 Maret 2009

fragments of life, English, Bahasa IndonesiaFebruary 12, 2009 5:24 am

Seperti biasa, aku langsung melotot waktu melihat poster dengan tulisan "Oscar Nominated Short Films - Catch Them While You Can" di Michigan Theater, Ann Arbor.  Dan pengalaman nonton Sundance Short Films Festival, aku yakin yang ini juga sayang untuk dilewatkan. 

Setelah browsing sana-sini, ternyata satu-satunya kesempatan untukku menonton program ini cuma hari Minggu, 8 Februari.  Saking semangatnya, aku maraton nonton dua program sekaligus, hehehe…. sampai digodain sama Katharina, yang janjian nonton sama aku untuk sesi kedua, "See you at 7, that is if your eyes are not square because you stared too long into the screen…"

Anyway, bagian pertama aku nonton Live Action, dengan film-film ini:

Live Action:

• Auf Der Strecke (On the Line) - A department store security guard is secretly infatuated with a clerk in the store’s bookshop. When he witnesses a love rival being attacked on a train, he abandons him. A decision that carries with it devastating consequences. Dir. Reto Caffi - Germany/Switzerland - 30 min.

• New Boy - Based on a Roddy Doyle short story, a young African immigrant struggles to find a place for himself during his first day at an Irish school. Dir. Steph Green - Ireland - 11 min.

• Toyland - Germany 1942. A mother convinces her son that the Jewish neighbors are going on a journey to ‘Toyland’. Dir. Jochen Freydank - Germany - 14 min.

• The Pig - When Asbjorn is admitted to hospital, he finds comfort in a painting of a whimsical pig - until it is removed by the request of another patient. Dirs. Tivi Magnusson and Dorte Høgh - Denmark - 22 min.

• Manon on the Asphalt - What really flashes before your eyes at the end? It’s a lovely spring day and Manon is on her way to a rendezvous with her boyfriend when an unexpected bump in the road makes her see life from an entirely fresh perspective. Dirs. Elizabeth Marre and Olivier Pont - France - 15 min.

 

Hmmm…. kira-kira film-film ini bakalan beredar di Indonesia nggak ya?  Kalau iya, kayaknya postinganku cukup sampai di sini aja, hehehe…ntar malah jadi spoiler…  Tapi kayaknay kemungkinannya tipis ya?  Ya udah deh… kapan-kapan aku tulis lagi tentang cerita beberapa film ini.

Yang jelas, kesanku adalah, semua film ini berakhir - relatively - happy ending.  Beda dengan film-film Sundance yang kadang lebih gelap dan sulit ditebak akhirnya.                  

fragments of life, Bahasa Indonesia 5:18 am

postingan ini yang jelas tidak mau mengungkit kembali polemik tentang lagu "Rasa Sayange" kira-kira setahun yang lalu… tapi setelah kampung halaman jauh di mata, mendengarkan lagu ini dipakai untuk membuka malam pertunjukan kebuadayaan negara tetangga tetap pahit-pahit manis rasanya… menggigit…

setelah hampir satu minggu berlalu, rasanya kurang jujur kalau aku akhirnya tetap tidak menuangkannya dalam bentuk tulisan. tapi bukan untuk menggugat ‘mereka’, tapi untuk menggugat diri sendiri.

kita ngapain aja?????!!!!!!!!

sakitnya sebuah kekecewaan yang bersumber dari rasa ketidakberdayaan, karena bagaimanapun juga harus diakui ‘mereka’ berhasil untuk menjadi lebih terkenal dari ‘kita’. dan ketika aku duduk berjejeran dengan 2 mahasiswa amerika yang belajar bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, dan seorang mahasiswa argentina teman dekatku, menikmati pertunjukan yang senyatanya indah dan jelas dipersiapkan dengan sangat matang dan penuh kerja keras…rasa sakitku tidak cukup membuatku tega untuk menusuk balon kebahagiaan mereka dan berkata, ‘eh, tau nggak sih….’… tapi aku merasa jadi orang yang kalah.  dengan berbisik-bisik akhirnya kukatakan pada teman dekatku, ‘hey, kawan , tahukah kamu lagu itu?’

aku marah. pada diri sendiri…karena lebih penting pertanyaannya…apakah yang sudah kita lakukan untuk melindungi, melestarikan dan mempromosikan budaya kita sendiri? biar semua orang tahu, bahwa ‘harta’ itu punya kita…bukan punya siapa-siapa…

ah…. basi….

Ann Arbor, 7 - 11 Februari 2009 

fragments of life, Bahasa IndonesiaFebruary 7, 2009 9:44 pm

Semester ini aku mulai kesibukan baru sebagai instruktur salsa di kampus.  Jadilah jadwal salsa yang sebelumnya 2 jam per minggu melonjak drastis 3 kali lipat, 4 jam setiap Senin, dan 2 jam setiap Rabu….wah…, hari Senin untuk mengajar dan hari Rabu untuk latihan internal.

Dua Senin pertama rasanya aneh banget.  Minggu pertama, ada kenalan dari semester lalu yang nggak tahu bahwa aku direkrut jadi instruktur bertanya dengan anehnya, kenapa aku nongkrong di level yang sangat rendah, aku jadi nggak enak ‘ngelesnya’, hehehehe.  Karena aku sendiri sebenarnya bingung, kok bisa-bisanya aku direkrut jadi instruktur, padahal banyak orang lain yang sebenarnya jauh lebih bagus.

Hari Senin minggu yang kedua, t-shirt instruktur untuk para instruktur baru udah jadi, dan hari itu pertama kalinya semua instruktur baru pakai seragam itu.  Aku berdiri bersebelahan dengan salah satu murid yang mungkin udah hampir satu tahun lebih ikutan kelompok salsa itu, dan dengan santainya dia bertanya, ‘Eh, kamu kok bisa dapet t-shirt itu?  Kenapa kamu pakai t-shirt begituan?’…. pertanyaan yang cukup menarik, karena logikanya harusnya dia tanya, "Oh, kamu sekarang instruktur ya?" hahahahaha. Mungkin dia mikir nggak mungkin banget anak ini jadi instruktur, jadi pasti ada alasan lain dia pakai seragam instruktur, hahahaha…

Yah, semoga aja tambahan jam ini bikin berat badanku yang naik selama liburan kemarin bisa segera turun lagi :) Dan yang jelas, aku harus konsen ngejar materi karena memang di antara semua rekrutan baru, aku rekrutan yang level belajarnya paling rendah, jadi masih banyak buanget gerakan-gerakan yang instruktur lain udah tahu, aku ngeliat aja belum pernah, hehehehe….

Have a magical winter semester!

Ann Arbor, February 7, 2009

 

MSalsa