fragments of life, Bahasa IndonesiaOctober 6, 2009 1:59 pm

…atau tunangan orang asing, berarti menghadapi pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar menarik, seperti misalnya:

  •  "Orang tua pasti bangga ya, kamu mau menikah sama bule…"
  •  "Kamu udah ketemu orang tuanya? Kan orang ****** biasanya rasis."
  •  "Nanti waktu penyelidikan kanonik, salah satunya ditanyain, apa motivasi menikah.  Apa bener-bener karena cinta atau kontrak atau apa.  Kan biasa tuh, orang asing kawin sama orang sini untuk bisnis atau apa…"
  •  "Ketemunya di mana, Bali?" - dengan sebelah alis naik sedikit
  •  "Wah, bagus ya, nanti anaknya bisa jadi bintang film."
  •  "Kok bisa sih?"
  •  "Dapetnya di mana?"
  •  "Dia nggak laku ya di sana?"
  •  Dan, serupa tapi dari sumber yang berbeda, komentar yang terakhir ini aku dengar dari mulut seorang pria bule sebelum aku pacaran sama masku yang terakhir ini, dan bahkan waktu itupun aku sudah ternganga mendengarnya, "Cowok bule yang pacaran sama perempuan Asia itu kan ga laku di negaranya, masa sih di sana ga ada cewek."

Reaksi? Senyum aja…sok-sok nggak dengar, hahaha.  Tapi yang menarik adalah melihat berbagai jenis ’stereotype’ yang muncul dalam benak orang ketika melihat sesuatu yang menurut mereka tidak biasa - biasanya kita tidak berkomentar banyak kan, ketika melihat hal yang biasa aja?

(Tapi lucu juga terakhir mendengar cerita saudaraku yang sama-sama pergi ke stasiun sama aku dan masku untuk mengantar saudara lain pergi ke Jakarta:

"Mosok to Mbak, tadi di stasiun ada mbak-mbak gitu, rada-rada gemuk gitu deh orangnya.  Terus to, dia tu ngeliatin kamu sama masmu gitu.  Tadinya to, takkira cuma sekilas aja, ya biasa to… gak taune dia terus ngelirik-ngelirik terus. Dia tu ngeliatin masmu, terus ngeliat kamu… terus ngeliat kamunya dari atas sampe ke bawah gitu lho, mbak… Terus dia liat ke tempat lain, terus nanti curi pandang lagi, ngeliatin kamu lagi gitu, dari atas ke bawah… Aneh banget! Wis arep takparani, meh taktakoni, ‘Kenapa, Mbak, mbak saya cakep ya?’"

Hahaha…. Aku bilang aja, "Mungkin dia terinspirasi, Dek, cewek chubby gitu bisa dapet bule, aku bisa juga kali ya…." hahahaha.)

Menurut kamu, apa sih stereotype yang mendorong munculnya komentar-komentar di atas? Dan apakah kita sendiri sudah ‘bebas’ dari pemikiran-pemikiran semacam itu?  Aku sendiri, jujur, belum.  Jadi layak dan sepantasnya, aku cuma tersenyum, dan memahami.  Meskipun sejatinya, dalam hati menyanyi, "Bule juga manusia…. " :D

fragments of life, Bahasa IndonesiaOctober 4, 2009 1:36 pm

Aku suka Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, mau tahu karena apa?  Karena dua-duanya memberikan tempat untuk menjadi akrab tanpa terlalu akrab dan asing tanpa terlalu asing.  Ketika sudah berada di sini, baru aku menyadari, betapa asyiknya bisa menyapa orang asing dengan panggilan ‘Mas’, ‘Mbak’, ‘Bang’, ‘Kak’, ‘Pak’ dan ‘Bu’, atau menempelkan sapaan-sapaan itu ke depan nama orang-orang yang kita kenal.  Bahkan kita bisa memakai sapaan-sapaan itu untuk orang yang kita kenal dengan baik, maupun orang yang hampir-hampir asing, seperti penjaga toko.

Di sini, sampai saat ini, aku kok belum menemukan sapaan yang setara dengan itu.  Walhasil, sampai sekarang, aku cuma pernah mendengar diriku disapa dengan dua cara, namaku saja alias njangkar, dan ‘Madam’.  Aduh, rasanya aneh dipanggil begitu.  Sopir kantor di Aceh dulu, yang lebih muda dari aku, panggil aku Mbak, sopir yang sekarang, jauh lebih tua, panggil aku ‘Madam’.  Pembantu di rumah Aceh malah cuma panggil aku pakai nama, eh, di sini, lagi-lagi, ‘Madam’.  Aku kok merasa kayak jadi nyonya besar, hahaha, nggak cocok banget.

Aku juga merasa nggak nyaman memanggil staf kantor, dari Project Manager, sampai sopir dan security hanya dengan nama, aduh… padahal semuanya jauh lebih tua.  Mungkin perlu pembelajaran lebih banyak untuk membiasakan diri pada budaya baru, atau, yang lebih jelas, perlu benar-benar belajar bahasa setempat, siapa tahu menemukan kata-kata yang bisa mengobati kegegaranbudayaku.  Atau mungkin suatu hari nanti, aku hanya perlu menerima, bahwa bahasa di sini memang jauh lebih egaliter daripada bahasaku, siapa tahu…

fragments of life, Bahasa IndonesiaAugust 15, 2009 9:07 pm

Sesudah mengalami banyak kemiripan-kemiripan di negara sendiri, kayak yang kuceritain di postingan lebih dari dua tahun lalu, di sini,  ternyata sesudah keluar dari negara sendiri, tetep aja ada kejadian-kejadian yang semakin membuktikan bahwa mukaku…. Pasaraaaaan!!!

Selama di Amerika Serikat, banyak orang yang nebak aku orang Filipina.  Sering juga di supermarket asia, tahu-tahu ada orang Filipina yang main tanya aja, di mana bisa ketemu sesuatu (itu tebakanku aja sih, hehehe….. habis, tanya apa lagi sih kalau lagi di supermarket…). Tapi itu bisa dipahami, lha wong aku sendiri kadang kalau ngeliat orang Filipina juga kadang ragu-ragu, kira-kira ini orang Indonesia atau bukan, hehe. Cuma karena kadar keberanian dan kepedeanku aja yang kurang, jadi aku nggak pernah asal nyapa gitu aja, hehehe.

Jadi, lama-lama aku santai aja kalau ada orang yang nebak aku orang Filipina. Kirain itu aja, ternyata ada lagi orang yang mikir aku Latina, terus lebih parah lagi India…. terus lebih aneh lagi Indian…. wis jan.  Memangnya mukaku itu apanya sih yang bisa masuk ke berbagai benua begini?

Hampir setahun di AS, udah biasa lah dengan berbagai label aneh itu.  Kirain waktu kembali ke Asia, kejadian kayak gitu nggak bakalan terulang kembali.  Eh, salah dong… hahaha…

Pertama, jalan ke Kuala Lumpur…yah, wajar lah, kalau aku dikira orang Melayu, ya nggak, emang mirip. Tapi kadang-kadang lumayan repot juga kalau diperlakukan seperti orang lokal, dalam beberapa hal rasanya pelayanan lebih oke kalau mereka tahu kita itu turis. Seminggu lidah berlipat-lipat dan telinga keriting mencoba untuk bicara dan memahami bahasa Melayu, aku seneng juga kembali ke Indonesia.

Perjalanan berikutnya membawaku ke Kamboja.  So far so good, sebagian besar orang bisa bahasa Inggris lancar.  Beberapa kali orang sana mengatakan bahwa mukaku mirip orang Khmer, ah, kuanggap itu sekedar keramahtamahan saja.  Tapi ternyata…. hari ketiga di Siem Reap, setelah gosong bolak balik, di salah satu candi terakhir dari rangkaian candi-candi Angkor, tahu-tahu petuga pemeriksa tiket nyerocos dalam bahasa Khmer.  Aku pikir dia ngomong sama pedagang asongan, eh, ternyata nggak ada yang nyautin, tengok sana tengok sini, ah, rupanya si bapak teh lagi ngomong sama aku, hahaha. Baru sesudah aku nggak nyaut, dia nanya, "Where are you from?"

Besok paginya, pas mau nyebrang ke Thailand lewat perbatasan Poipet-Aranyaprathet, petugas yang ukur-ukur suhu tubuh, tau-tau tanya, "Laos?"  Nah lho…. Kemarin dikira Khmer, hari ini dikira Laos. Hahaha… lagi antre puanjang buanget untuk masuk Thailand, tau-tau aku ditowel petugasnya untuk masuk ke antrean baru.  Nah lho, aku jadi bingung, bingungnya…jangan-jangan dia nowel aku karena dia pikir aku orang lokal…lha wong aku disuruhnya masuh ke antrean yang tulisannya jelas-jelas "THAI". Tapi ya udah lah, gila aja, antreannya puanjang abis… yipeee!

Lewat imigrasi, kami naik tuk-tuk (kayak becak motor gitu…) ke stasiun Aranyaprathet untuk naik kereta ke Bangkok. Beli tiket, gampang… Pas naik, kedengeran orang-orang bilang "farang", yang artinya ‘orang asing’. Sip deh, hehehe. Tapi begitu duduk, ada bapak-bapak di dekat tempat duduk kita yang tau-tau nyerocos… baru kita bengong deh. Ternyata dia mau tanya, berapa harga tiketnya, mungkin dia penasaran, kalau orang asing bayarnya sama nggak. Hahaha…akhirnya dia cuma bisa tanya, "how much?", terus senyam senyum aja, hahaha.

7 jam berlalu nyaris tanpa insiden.  Begitu ‘mendarat’ di stasiun Hualamphong di Bangkok, keluar cari taksi, ada tukang taksi gelap yang nyerocos nawarin taksinya…pakai bahasa Thai… Lha ya aku bingung ta, baru sesudah aku bilang, "I am not Thai," dia ganti ke bahasa Inggris. hahaha…. Besoknya jalan-jalan di Bangkok, tau-tau disamperin cowok gitu, nanya sesuatu. Lah, itu lebih parah, karena memang cuma ada aku dan temanku di situ.  Aku clingak-clinguk aja, terus dia nunjuk-nujuk pergelangan tangannya. O alah, tanya jam…ya aku tunjukin aja jamku, sambil bilang, "I am not Thai." Langsung dia minta maaf bertubi-tubi dalam bahasa Inggris, hahaha.

Yah, begitulah.  Nggak di dalam negeri, nggak di luar negeri, ternyata mukaku bisa ditaruh di mana aja..hahaha. Sekali pasaran, teteup…pasaran.

15/08/2009

fragments of life, Bahasa IndonesiaJuly 8, 2009 6:32 pm

Akhir pekan lalu aku beruntung sekali, karena diajak sama ibu-ibu yang buaik buanget untuk pergi ke pesta perkawinan….emm…tepatnya Pesta Kawin Khusus Perempuan.

Maksudnya???? Maksudnya sih sederhana aja, ya begitu itu, ada pesta khusus perrempuan dan ada pesta khusus buat laki-laki.  Dan jangan salah lho…pestanya bukan cuma ada dua itu, tapi pesta untuk masing-masing kelompok juga ada beberapa macam… jadi nggak usah repot ngitung-itung deh, sudah pasti muahaaaal buanget jatuhnya.

Singkat cerita, sesudah panik panik nggak jelas gara-gara ngerasa nggak punya baju yang pantas dipakai ke acara begituan, dan setelah maksa-maksa mampir toko buat beli sepasang sepatu peep-toe warna silver (udah deh, mukanya nggak usah kaget begitu…nggak salah baca kok…), akhirnya aku sih pasrah aja sama penampilan yang kemungkinan besar jauh di bawah standar pesta-pesta kawinan di Sana’a yang terkenal mewah abisss.

Begitu dengar klakson mobil di depan rumah, langsung deh aku ‘bungkus diriPhotobucket‘ pakai abaya dan jalaaaaan.

Lokasi acaranya sih cuma kira-kira lima menit dari rumah, dan pas udah sampai….wah….antrean mobilnya puanjangan abissss.  Gara-gara yang ngajak lupa ngasih tahu kalau nggak boleh bawa HP yang ada kameranya ke dalam, akhirnya terpaksa nitip HPku dua-duanya ke sopir ibu itu. Dari mobil-mobil yang berjajar-jajar itu keluarlah wanita-wanita berselubung hitam dari ujung kaki sampai ujung kepala.  Dan kami termasuk di antara mereka.  Sesudah menunjukkan tiket undangan (jadi, kartu undangan yang seperti biasa itu, di dalamnya ada tiket kecil-kecil dengan berbagai warna, masing-masing tiket untuk acara pesta di hari dan tempat yang berbeda-beda…gila kan..) ke penjaga di luar tembok, kami masuk ke dalam, dan segera disambut penjaga perempuan yang merazia dompet tamu untuk mencari barang-barang berkamera.  Kami lolos dengan sukses (ya iya lah, lha wong nggak bawa apa-apa, hehehe).

Yang pertama terlihat adalah…!!! jreng…jreng…jreng….. Ruangan gede banget yang dindingnya dipasangi cermin dari mulai setinggi dada sampai ke langit-langit.  Dan lebih jreng lagi adalah…di depan cermin segede seruangan itu berdirilah belasan perempuan sedang merapikan dandanan mereka.  Ada yang sedang melepas abaya, sisiran, lipstikan…wah, pokoknya segala macam.  Sudah jelas langsung bikin minder ke mana-mana :p

Baju-bajunya bow’, nggak kebayang banget deh. Jujur saja aku tidak pernah membayangkan perempuan ‘biasa’ bakalan memakai gaun-gaun malam yang modelnya mewah-mewah begitu, serasa lagi ngintipin foto-foto red carpet dari Yahoo, hehehe.  Dan itu belum ngebahas perhiasannya.  Mereka benar-benar serius deh, dan dari sekian banyak bling-bling, aku yakin lebih dari 60% berlian asli.  Untungnya, entah kenapa, kayaknya gaunku nggak parah-parah amat, hahaha, dan yang jelas aku bersyukur setengah mati udah maksain beli tuh sepatu silver murahan. Coba kalau nggak ada bling-bling dikit (meskipun di ujung kaki…), bisa-bisa tambah nggak ngangkat deh.

Sesudah rapi-rapi, masuklah kami juga ke ruangan pesta yang lumayan gede….isinya perempuaaaaan semuanya, ratusan.  Udah gitu semuanya glamor dan cantik-cantik, wuih.  Di depan ada panggung yang dihiasi pilar-pilar putih dan kain-kain putih dan pink, terus ada kursi merah berhias pas di tengah-tengahnya…tapi…kosong.

Banyak cewek-cewek yang lagi nari di depan panggung, goyang mengikuti irama padang pasir, dengan rambut panjang terurai - ada yang dilurusin, dikeriting, dicat, highlight…pokoknya semua ada.  Tato henna dengan berbagai model juga terlihat di mana-mana, di lengan, di bahu, bahkan di punggung.  

Dan itu….baru awalnya saja :)

Dan postingan ini kayaknya udah kepanjangan… Kita sambung lain kali ya…

Sana’a, 5 Juli 2009.

DISCLAIMER:   Foto di postingan ini BUKAN foto tamu undangan.  Foto ini hanya untuk memberikan ilustrasi kira-kira gaun-gaun seperti apa yang bisa kita lihat (eh, khusus untuk anda kaum adam….yang tidak akan pernah bisa anda lihat ding…) di pesta semacam ini.  Dan beneran lho, aku lihat sendiri beberapa variasi model semacam ini.  Fotonya diambil dari sini.

fragments of life, Bahasa IndonesiaJune 24, 2009 9:07 pm

Seminggu kemudian, aku pusing menghadapi setumpuk huruf yang bukan cuma harus dihapalkan, juga harus disambung-sambung dan dibaca dengan lancar….aduh mak…

Selamat datang di dunia pelajaran Bahasa Arab.

Yah, betul, anda tidak salah dengar baca. Hari ini dengan resmi ditutup hari ke-5 aku duduk manis 3 jam setiap hari di Yemen Language Center / Yemen College for Middle Eastern Studies di Sana’a, untuk belajar Bahasa Arab. Guru-gurunya semangat banget, saking semangatnya, dalam waktu dua hari aku sudah diberi buku ke-2, padahal ngapalin alif, ba, ta aja masih kerepotan. Tapi sedih juga sih…soalnya belum bisa belajar yang lain-lain sebelum bisa baca huruf Arabnya, alias, sudah seminggu belajar aku baru bisa bilang "assalamualaikum" (yah, itu sih dari Indonesia juga udah bisa, hihihi….), "selamat pagi" sama "apa kabar"… oya, sama "namamu siapa?", hahaha… Masa ngobrol sama orang, habis nyapa selamat pagi, gimana kabarnya, siapa namanya, terus macet…. Ujung-ujungnya cuma bisa bilang "qalas"…alias cuma bisa segitu aja, hahaha, sambil cengar-cengir. emoticon

Masih ada dua minggu lagi… SEMANGAT!! Dan berharap semoga minggu depan sudah bisa ngomong sedikit, paling nggak sama sopir taksi.  Lah, masak dianter-jemput 20 menit sekali jalan, nggak ngobrol apa-apa.  Ya itu tadi, habis bilang selamat pagi, apa kabar, terus sepi deh…hahaha…

Wish me luck ya, temans!

Sana’a, 24 Juni 2009

fragments of life, English, Bahasa IndonesiaMay 14, 2009 1:31 pm

Pertanyaan yang bagus, ya… apa salahnya bilang partner?  Nggak ada yang salah sih, tapi di tempat-tempat tertentu, ternyata bisa menimbulkan lirikan mata penuh arti, alis yang terangkat sepersekian millimeter, pertanyaan berputar di kepala orang lain.

Mau tahu?

Salah satu kebiasaanku adalah tidak pernah mengatakan ‘pacar’ alias ‘boyfriend’ ketika berbicara tentang masku.  Alasannya simple aja, sejak pertama jalan, dia sempat bilang bahwa ‘we are kind of too old to say boyfriend/girlfriend’, hahahaha.  Lucu ya, tapi bener juga sih, jadi kami memang jarang aja menyebut satu sama lain sebagai pacar.  Jadi sejak pertama, memang kebiasaan kami menyebut satu sama lain sebagai ‘partner’.

Sekitar setahunan yang lalu, sempat juga sih ada teman dari Jogja yang tanya lewat sms ketika mau ketemuan sama aku dan partnerku, ‘he or she?’, hahaha.  Sempat aneh juga ketika menerima sms itu, masa sih nanya gitu, ketika udah kenal aku bertahun-tahun, tapi yah kumaklumi aja.

Tapi ketika berada di US, pertanyaan terus terang gitu sih tidak pernah terlontar langsung, soalnya kalau di sana kan tidak ‘politically correct’, apalagi urusan orientasi seksual memang bukan urusan orang lain.  Tapi salah satu persitiwa paling menarik adalah ketika aku ikutan rombongan volunteer ke New Orleans, seminggu runtang-runtung bersama 19 orang lain dari berbagai usia dan latar belakang, meskipun semua disatukan oleh hubungan kami dengan University of Michigan. 

Ngobrol punya ngobrol kesana kemari, apalagi naik mobil lebih dari 24 jam dari Ann Arbor ke New Orleans, tentu saja percakapan menyentuh topik-topik pribadi.  Setelah beberapa hari bersama, kerja dari pagi sampai sore bersama, makan bersama, jalan-jalan bersama, tak bisa dihindari muncul pembicaraan tentang pasangan. 

Dan ketika aku mengatakan, ‘My partner was here for winter break, and we went to Las Vegas and Grand Canyon, it was great,’ tiba-tiba kurasakan Mike, salah satu peserta rombongan termuda yang usianya masih di bawah 21, mendongak kaget.  Tanpa bisa menyembunyikan rasa penasaran dan kagetnya, dia jelas-jelas menatap mukaku sambil menaikkan sebelah alisnya.  Aku rada bingung, apanya yang salah ya….  Sepanjang perjalanan yang 24 jam itu, kami duduk sebelahan dan udah ngobrol ngalor ngidul, dan dia udah denger kok soal Vegas, lha kok bingung gitu…

Sepersekian detik kemudian, baru aku menyadari, apa kira-kira yang membuat dia kaget. emoticon  Langsung saja kuteruskan kalimatku, ‘Unfortunately HE could not stay in Ann Arbor too long, so I could not show him around,’ sambil kulirik Mike penuh arti.  Rupanya dia menangkap bahwa ‘klarifikasi’ itu memang kutujukan kepadanya.  Dia langsung tertawa lebar, sambil berkata, “Sorry… I was just curious…”

Geli juga sih, tapi mungkin itu juga yang terlintas di kepala beberapa orang yang mungkin tidak terlalu kenal aku dengan baik, dan hanya mendengar aku berbicara tentang “partner”ku.  Beberapa orang yang kenal baik sih menganggap kami sedikit ‘modern’ karena memakai istilah tersebut.

Kadang aku penasaran, kira-kira apa ya, yang terlintas di pikiran mereka kalau saja mereka ngobrolin soal pasangan pas aku pakai mitten-ku yang super warna warni….warna pelangi bo’ (dan waktu beli dikomentarin sama teman deketku yang lagi ambil Masters of Social Work…, “the color is so LGBT”…hahaha….).  Apa nggak tambah bingung mereka…. hahaha….emoticon

Jadi kesimpulannya, kalau suka pernak-pernik warna pelangi, dan suka menyebut pasangan sebagai ‘partner’….ehemm….siap-siap aja deh, untuk menjelaskan, “Maksud loe?”

There is nothing wrong to be LGBT, why not.  It is nobody’s business.  But it is interesting on what conclusion do people come to through verbal and non-verbal ‘clues’.

fragments of life, points to ponder, English, Bahasa IndonesiaMay 12, 2009 8:50 pm

(English version below)

Rasanya klise mengatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan cinta, pasti akan menghasilkan sesuatu yang baik adanya.  Tetapi dari hari ke hari, mungkin memang segala hal yang terdengar klise itulah yang ternyata telah teruji dengan waktu dan pengalaman manusia.

Orang tidak perlu selalu berbakat, dan cerdas, dan hebat, untuk bisa melakukan hal-hal yang luar biasa.  Bahkan, mungkin definisi ‘hal-hal luar biasa’ itu sendiri selalu terbuka dan subyektif.  

Jangan takut untuk mencoba hal baru.  Jangan takut akan kegagalan.  Jangan takut untuk terlihat lebih lemah dari orang lain.  Jangan takut untuk kalah.

Lakukanlah semua dengan cinta.  Dan apa yang kaulakukan akan menjadi hebat.  Hebat dengan caramu sendiri.  Mungkin tidak hebat untuk ukuran orang lain.  Mungkin tidak luar biasa untuk ukuran normal dunia.  Tetapi terkadang, hal-hal kecil yang sepele di mata dunia, adalah sebuah prestasi bagi diri sendiri.  Berbanggalah.  Berbanggalah pada pilihan yang kauambil, kehebatan yang berhasil kaubuktikan pada diri sendiri.  

Lakukanlah dengan cinta.  Maka cintamu akan menjadi kekuatan dan inspirasi.  Lakukanlah dengan cinta, karena itu akan membuatmu bahagia.

With love

It sounds like a cliché when we say that everything done with love, will always produce something good.  But as days gone by, probably all the clichés are there because they have been proven through time and experience.

We don’t have to be that talented, smart and great to produce extraordinary things.  We might even need to redefine “greatness” itself, because it is always open and subjective.

Don’t be afraid to try new things.  Don’t be afraid to fail.  Don’t be afraid to look weaker than others.  Don’t be afraid to lose.

Do everything with love.  And whatever you do will be great.  You will be great in your own ways.  Probably you are not great for others.  Probably what you do is not extraordinary in the eyes of the world.  But sometimes, a small thing in the eyes of the world is an achievement for yourself.  Be proud.  Be proud of your own choices, the greatness that you have proven to yourself.

Do everything with love.  Your love will become your strength and inspiration.  Do everything with love, because it will bring you happiness.