fragments of life, English, Bahasa IndonesiaAugust 2, 2008 6:20 pm

masih ingat sama lagunya Brian May? sekitar awal tahun 90-an lah….yang gosip-gosipnya didekasikan untuk Freddy Mercury yang baru saja mengakui secara terbuka bahwa dia terjangkit AIDS…

anyway, postingan ini tidak ada hubungannya sama para rocker tersebut…. juga nggak ada hubungannya sama AIDS….

postingan ini ada hubungannya sama IKAN….

lho kok….

begini ceritanya:

di rumah kontrakan kami di Banda Aceh, ada kolam ikan yang terletak di depan rumah. lumayan asyik bentuknya, setengah di halaman, yang setengah lagi sedikit ngumpet di bawah tangga teras.

kolam ini dihuni 5 ekor ikan yang guede-guede buanget… kayaknya sih dari tahun 2006 udah segede itu, hehehehe. pokoknya kalau bisa dimakan pasti udah nggak ada gurih-gurihnya tuh, udah ketuaan dan kegedean.

Host unlimited photos at slide.com for FREE!berhubung keluarga dari yang empunya rumah tetanggaan dengan kami, notabene yang mengurus kesejahteraan ikan-ikan itu adalah pekerja rumah tangga di rumah dan keluarga besar sang pemilik rumah asli.  tadinya sih pas awal-awal kami masih sok rajin, nguras kolam, de el el… tapi lama-lama jadi nyadar bahwa nguras kolamnya nggak masalah, nungguin penuhnya itu yang alamak…lama bener. lagi pula dengan sistem perpipaan rumah yang ribet abis, aku sendiri kurang paham, mana bukaan air PAM dan mana bukaan air sumur.  jadi gitu deh….  

sebulan yang lalu aku ‘mudik’ ke Jawa…(cie….kalau dari Sumatra baru bener bilang ‘Jawa’…hehehe..).  ketika balik ke rumah Banda, terciumlah bau tak sedap.  bingung lah aku… tapi ya sud lah, secara capek banget packing sampe subuh, terus jam 8 udah start dari rumah untuk ngejar pesawat di Semarang, aku langsung masuk rumah.

malamnya, dan malam-malam selanjutnya, barulah aku tahu dari mana sumber bau tak sedap itu.  setiap kali keluar rumah, tampaklah ratusan butir makanan ikan siap pakai alias pelet terapung-apung di permukaan air kolam (’terapung-apung’ itu cocok nggak untuk nerjemahin ‘kampul-kampul’,hehehehe….).  walhasil, makanan yang tak habis dimakan ikan itu menjadi sampah berbau anyir….hiii….

tiap kali lihat pengen bilang sama yang punya, kalau ngasih makan mungkin porsinya perlu dikurangi.  soalnya makanan sisa kan malah ngeracunin air kolamnya… tapi belum sempat bilang sudah keburu besok malamnya lagi, dan hal yang sama kami temukan lagi….

sampai hari ini.

hari ini housemate-ku dengan muka ‘jelek’ masuk rumah dan berkata, "Could you check the pond, please? I think the fish are not moving…"

waduh… keluarlah aku cepat-cepat…dan voila, keadaan kolam memang sangat ‘mencurigakan’…  permukaan kolam teh udah berubah warna, penuh dengan pelet yang udah melebur dengan air.  kuliat-liat sih emang tuh ikan-ikan sepertinya sudah ‘lewat’. tapi gimana nih, secara bukan ikan kita…

langsung aja kusuruh housemate-ku SMS sang tetangga, "Maaf Pak, sepertinya ada masalah dengan kolam ikan, bisa tolong cek?" tapi sampai kami keluar makan siang, keadaan kolam masih tetap pathetic….

ikan-ikan yang malang…..

you see, not only starvation kills….

 

image from here 

fragments of life, English, Bahasa IndonesiaJuly 22, 2008 1:38 am

ada 1001 cara untuk menyatakan apa yang kita maksud dalam serangkaian kata, dan baru saja aku harus mengucapkan selamat kepada seseorang karena menemukan kosa kata baru untuk mengatakan ‘matre’.

hey there, i’m sure you know that i meant you….

aku juga bingung dari mana awalnya, ketika tiba-tiba sebuah kalimat singkat yang diucapkan dengan nada ‘bercanda’, tapi sama sekali tidak lucu, terlontar dari mulutnya, "Kalau kamu sama aku ni kan sealiran, sama-sama profit oriented."

gosh, ketika sejenak sebelumnya kami berbicara tentang relationship, aku pikir ‘pesan’nya sangatlah jelas. hey, kamu mau ngatain aku matre tapi nggak berani ya?  mau ngikutin apa kata temanmu itu, yang juga dengan berbagai cara berusaha mengatakan bahwa aku matre?  basi tau….

sejujurnya sih, nggak penting apa pendapat kalian tentang aku. sejujurnya aku merasa bodoh ketika aku menjawabmu, "Sori ya, aku sih bukan profit oriented, aku experience oriented." but anyway, I needed to say what I said, so I said it.

hey guys, some women simply will not fit into your description of what a woman should be, OK?  and some people go to faraway places, choose to do the things they do, not because they are after the MONEY.  i am not saying that i am such an idealistic person.  i am not saying that i am willing to die and sacrifice all the comforts of life for the things i believe in (not that i’d been in such a situation, anyway…).  i am not saying that i don’t love the money i get for doing all the things i do.  but you know what, I LOVE DOING THE THINGS I DO.  if going places means i get to learn new things, i get to add more skills to my list, i get to add one more name and place on my CV……. and getting money on top of it, hell….why not?

dan kalau kalian menilai bahwa aku akhirnya memilih untuk berpartner dengan seorang orang ‘asing’, well, mungkin karena pada akhirnya, orang seperti dialah yang bisa mengerti keinginanku untuk maju, maju, dan terus maju.  bukan orang-orang picik seperti kalian, yang hanya bisa melihat bahwa motivasi  terbesar seseorang adalah uang…uang…dan uang. 

i am so stupid to be angry.  but next time around when a ‘friend’ get to call me ‘matre’ in any form, i just don’t know how i would react…hm…then again, maybe they’re soooo not my friend, if they don’t know me well enough to even try saying it. 

gosh, some people can be so lame….

Salatiga, July 20-22, 2008

fragments of life, English, Bahasa IndonesiaJuly 19, 2008 2:07 pm

setelah membaca postingan Sesy tentang kunjungannya ke Jogja, aku jadi ingat kompilasi film pendek yang kutonton di Benteng Vredeburg, Jogja, sebagai bagian dari Festival Kesenian Yogya 2008.

tadinya sih ke sana mau cari film-film produksinya Fourcolours Film, tapi cuma dapet satu (meskipun asli, seru banget nontonnya, salut deh…).  berhubung udah di sana, sekalian deh, mampir di bioskopnya FKY.

kalau nggak salah, kami dapet programnya yang film-film finalis Festival Film Pendek Konfiden 2007. jujur aja, aku paling terkesan dengan film pertama yang muncul dari kompilasi itu.

Judulnya "Cheng Cheng Po", produksi LimaEnam Films.  durasi (lupa-lupa ingat) : kurang lebih 10 menit. Setting: Jogjakarta.

The beginning was so sweet.  Anak-anak SD yang mau pulang sekolah, dan diberi aba-aba untuk mulai doa bareng…. jadilah terlihat berbagai anak dengan berbagai warna kulit dan ciri-ciri etnis yang beragam, menundukkan kepala dengan cara yang berbeda-beda juga.

Mengalirlah cerita tentang persahabatan empat anak SD; seorang anak laki-laki etnis Cina, seorang anak perempuan Jawa, seorang anak laki-laki Jawa, dan seorang anak laki-laki berkulit hitam berambut keriting dengan logat khas Indonesia Timur. *maaf ya, aku lupa je, nama-namanya…*

Ceritanya, si anak Cina yang ibunya berjualan bak pao, sudah ‘nunggak’ uang sekolah selama beberapa bulan, dan sebagai akibatnya, terancam tidak bisa ikut ujian akhir. bak pao rupanya sudah tidak terlalu nge-trend sebagai penganan. berundinglah keempat sahabat itu, dan tiga anak yang lain memutuskan untuk mencoba meminta uang dari orang tua masing-masing.

jadilah kisah beralih ke rumah masing-masing…

dari anak Timor yang berbapak pemilik bengkel kecil… yang sebenarnya dengan senang hati membantu, tapi kok ya sama-sama orang susah…. padahal celengan ayamnya sudah bolong gede di bawahnya….

ke anak laki-laki Jawa yang bapaknya malah sibuk terus ngisi TTS, sampe dia kehilangan momen untuk menyampaikan maksudnya…

sampai ke anak perempuan Jawa yang bapaknya paling berada (pake laptop gitu loh..di rumah…hehehehe), yang membelikan barbie tanpa diminta, tapi menolak memberikan uang untuk teman anakanya… dan malah ngomel-ngomel karena anak perempuannya terus main dengan anak laki-laki dekil….apalagi "yang cina itu…"

Tapi entah bagaimana, malam itu, sebuah bohlam menyala di kepala mereka….

Esoknya, ada diskusi rahasia..yang diikuti kegiatan rahasia yang lucu.

Ada yang ngembat dua lembar jarik ibunya di jemuran… ada yang melepas burung di dalam rumah untuk ngembat sangkarnya…. ada yang ngembat cat bapaknya sampe yang empunya bingung ga karuan….  dan dengan beberapa lembar kertas minyak warna merah… jadilah sebuah BARONGSAI.

Now, you can guess their idea?  jadilah mereka memainkan si Naga berkepala kurungan burung dan berbadan batik itu di depan kios bak pao, dan rame deh….

Very simple idea…. great symbolism…. GREAT MESSAGE…

And it brought tears to my eyes, because more and more it is becoming such a distant dream, for Indonesians and for the citizens of the world.

I wonder whether world would be boring if we can be like those children…. but then again… It’s ‘just’ a movie…  will it ever come true?

Central Java, June 27 - July 19, 2008 

fragments of life, Bahasa IndonesiaJuly 12, 2008 12:30 am

bagaimana rasanya jika memiliki impian bagi orang lain…?

tahu kan apa yang kumaksud?  maksudku, seperti layaknya orang tua yang pengen anaknya jadi sarjana hukum.  atau menginginkan mereka menemukan jodoh secepatnya.  atau seorang cowok yang memimpikan ceweknya lebih langsing dan feminin.. atau seorang cewek yang memimpikan cowoknya lebih sporty dan macho….et cetera et cetera….

oke…oke…. mungkin contoh-contohnya terlalu sepele… tapi kebayang kan apa yang kumaksud?

ternyata sulit ya, untuk ‘mundur’ dan membiarkan orang lain memutuskan untuk memiliki ‘impian’ sendiri.  meskipun kalau dipikir-pikir kita sendiri pernah berada di pihak yang di’bebani’ dengan impian-impian orang lain, tetap saja sulit rasanya untuk menukar posisi dan berkata dengan ikhlas, "Yah, kalau memang begitu maumu, mungkin itu yang terbaik bagimu…"

untuk seseorang di luar sana…

aku berharap engkau memahami, bahwa banyak hal dalam hidup adalah kesempatan yang sulit untuk datang kedua kalinya. dan ketika sebuah kesempatan mengetuk pintumu empat kali… EMPAT KALI, dan engkau memutuskan untuk melewatkannya, mungkin itu berarti bahwa sudah saatnya kami berhenti berharap.  doaku adalah kamu benar-benar menemukan apa yang benar-benar kau cari dan kau inginkan.  dan dengan jalanmu sendiri, kamu bisa benar-benar membuktikan, bahwa ini adalah jalan yang terbaik…

fragments of life, English, Bahasa IndonesiaJune 24, 2008 8:07 pm

weit, judulnya agak ‘berat’ nih… tapi berhubung ceritanya masih segar, dan menggelitik banget untuk temen-teman "seprofesi", jadi merasa kudu mesti posting deh…

sekitar dua mingguan yang lalu, seorang teman baikku mendarat di Jogja dengan suaminya yang, kebetulan, seorang londo….hehehe.  mereka sudah pesan airport transfer dari sebuah hotel terkemuka, tapi kok ya nggak biasa-biasanya, yang jemput dua orang, satu perempuan dan satunya lagi laki-laki.  menurut cerita kawanku itu, biasanya ya cuma satu, bapak-bapak.

anyway, sang bapak segera menyapa si bule suami temanku itu, "Are you alone?" secara temanku itu jalan sedikit di belakang suaminya.  suaminya menjawab, "No, I’m with my wife," sambil nunjuk istrinya.  Bapak itu tersenyum ramah sambil ngambil koper-kopernya.

sambil jalan menuju mobil, rupanya si mbak penjemput itu merasa perlu beramah tamah sama sang bule.  kata temenku yang adalah seorang guru bahasa Inggris, pertanyaan awal sih standard, "How was your trip?", "Is this the first time you are in Jogja?" de el el…. sampai pada saat si mbak itu menatap kawanku dengan tatapan penuh tanya, dan bertanya pada sang bule, "Who is she?"

kata kawanku, dia dan suaminya saking kaget dengan formulasi kalimatnya sampe nggak menjawab beberapa saat, sambil delok-delokan… untung aja cepet nyadar dan si suami menjawab, "This is my wife."

pertanyaan selanjutnya, (ditujukan pada temanku itu…), "What’s your name?"  dengan berat hati temanku menjawab, "Reni".  (secara di papan nama penjemputan kan ada nama suaminya, kenapa nggak langsung aja bilang, oh Mrs Smith atau gimana gitu….)

dijawab gitu malah mbaknya mengerutkan kening beberapa saat sambil ngeliatin temanku itu, terus nanya, "Oh…are you from Indonesia?"  dengan cueknya, temanku mbagus-mbagusin aksennya biar keren, nggak se’keren’ Cincha EL itu sih, hehehehe,  sambil menjawab, "Yes, I am from Indonesia."

sambil agak bete, kawanku mempercepat langkahnya, nguntit si bapak yang bawa koper.  tapi samar-samar dia mendengar pertanyaan-pertanyaan selanjutnya, yang asli terlarang abisss…

di antaranya:

"How long are you married?"

"Where did you meet?"

dan…eng ing eng….

"HOW MANY CHILDREN DO YOU HAVE?"

inget ya bo’…. perjalanannya cuma antara gerbang kedatangan sampe parkiran mobil….nggak ada 500 meter.  terang aja si kawanku itu langsung ngomel abis-abisan dan besoknya langsung curhat sama aku….huahahahahaha…

tapi sambil ketawa, dan nyumbang gondok…, miris juga sih… secara, sebagai guru bahasa Inggris, sedih juga merasakan bahwa ada hal-hal penting yang terlewat begitu saja dalam pelatihan si mbak, dan mungkin, banyak mbak-mbak yang lain…. 

speaking a language, is not only about "speaking" the language, saying the words properly, and putting the words in a perfect order…. but also speaking within the framework of the culture of the language.

jadi ya prens, intinya nanyain anak itu bukan basa-basi yang baik dan benar, huahahahahaha……. masih untung tu mbak-mbak nggak langsung didamprat, "That is none of your business, Miss."