fragments of life, Bahasa IndonesiaNovember 15, 2009 7:46 am

Jadilah kita sampai ke bagian yang paling serem, yaitu memenuhi persyaratan pemerintah Jerman.  Kenapa itu penting?  Karena, meskipun pernikahan dilakukan di Indonesia, jangan sampai dong nggak diakui di mata pemerintah Jerman, yang artinya pernikahan tersebut harus didaftarkan secara resmi di Jerman, atau Kedutaan Jerman, juga.  Dan untuk bisa mendaftarkan pernikahan tersebut nantinya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi SEBELUM pernikahan tersebut dilangsungkan.  Sebenarnya syarat yang harus dipenuhi sih cuma satu, yaitu mendapatkan Surat Ijin Menikah.  Tapiiiiiiiii, untuk mendapatkan satu surat itu, perjalanannya panjang, man…. 

Persyaratan yang pertama untuk pihak Indonesia adalah surat keterangan tidak kawin yang dikeluarkan oleh catatan sipil (untuk non muslim, untuk muslim yang mengeluarkan KUA).  Proses untuk mendapatkan surat ini dimulai dari RT, RW, sampai Kelurahan.  Pas sampai di Kelurahan, ternyata mereka tidak mau memproses surat pengantar untuk keterangan belum kawin saja, tetapi mereka maunya langsung membuat N1-N5 itu tadi.  Waduh, balik lagi deh ke RT dan RW.  Yang kedua adalah surat keterangan domisili, yang resminya menurut website hanya perlu disahkan lurah, tapi ternyata harus disahkan Camat (untung ada yang memberi arahan…fuih….).   Ini kejadiannya juga nyaris sama dengan surat keterangan belum kawin tadi, untung ngurusnya berbarengan…

Syarat berikutnya, akte kelahiran TERBARU, tidak boleh lebih dari 6 bulan.  Nah lho, ini dia nih yang bikin heboh.  Aku pikir gampang ya, pergi ke catatan sipil, minta diperbarui.  Eh, ternyata sampai di sana harus jelasin panjang lebar karena mereka kekeuh kalau akte kelahiran itu sekali seumur hidup.  Untungnya format akte kelahiran yang terbaru udah beda dengan format akte kelahiranku yang asli, jadi akhirnya mereka kasih lagi dengan alasan menyesuaikan format terbaru.  Itu juga aku harus kembali 3 -4 kali ke kantor, karena pada waktu yang sudah dijanjikan, ternyata suratku belum dikerjakan sama sekali dengan alasan bahwa format baru menyebutkan bahwa yang bersangkutan adalah anak nomor sekian, sementara di format lama sama sekali tidak ada keterangan itu…. *sigh*  Persyaratan terakhir  sih standard, fotocopy paspor.

Syarat-syarat ini sederhana kan? Tunggu dulu, hebatnya adalah, akte kelahiran dan surat keterangan belum menikah harus dilegalisir di tingkat KEMENTERIAN!!  Alias dibawa ke Jakarta, dibawa ke Departemen Hukum dan HAM, dan satunya apa nggak ngerti, baru bisa diterjemahkan dan dibawa ke Kedutaan Jerman di Jakarta untuk dilegalisir. 

Untungnya adalah, ada beberapa kenalan yang sudah melewati proses yang sama, dan mereka bisa ngasih tips-tips.  Salah satunya adalah memakai jasa penerjemah yang bisa membantu mengurus dokumen juga, yah, kasarannya, agen dokumen lah.  Jujur saja, meskipun harganya cukup tinggi (tapi aku nggak tahu juga sih, sebenarnnya kalau ngurus sendiri berapa biaya administrasinya…), tapi jasa ini sangat membantu, apalagi karena aku tinggal jauh dari Jakarta, dan sama sekali buta soal prosedur-prosedur itu.  Jadilah dengan deg-degan, aku mengirimkan semua dokumen asli lewat TIKI ONS, plus meterai yang sudah ditandatangani 6 biji (untuk agennya membuat surat kuasa atas namaku).  Lancar kan? Eits, nanti dulu…

Kira-kira apa sih tujuannya surat-surat kita harus serba terbaru dan harus dilegalisir sampai ke pusat?  Tujuannya adalah memastikan kebenaran informasi yang ada di dalam surat-surat tersebut, termasuk memastikan keasliannya.  Rupanya, di tingkat kementerian, ada database contoh/specimen tanda tangan seluruh pejabat yang berwenang untuk menandatangani surat-surat dari seluruh Indonesia (er…. paling nggak, seharusnya begitu…hehehe…).  Ini juga yang akhirnya menjadi masalah kecil untuk surat-suratnya. 

Selidik punya selidik, ternyata Jakarta belum punya specimen tanda tangan kepala kantor pencatatan sipil Salatiga…. halah……  Sang agen bilang dia akan minta Jakarta untuk meminta ke Salatiga, tapi biasanya jalur resmi begitu lama, makanya dia minta aku coba juga minta, siapa tahu ada koneksi.  Wah, aku, koneksi? Ngeri thok thokan…  Tapi aku nekad juga ke kantor catatan sipil, dan ajaib!!! Mereka dengan baik hati (atau mungkin aku harus bilang, ‘dengan santainya….’), memberikan specimen tanda tangan, paraf dan cap asli dan sang kepala kantor pencatatan sipil Salatiga.  Mereka cuma bingung aja, karena mereka merasa sudah pernah mengirim specimen ke Jakarta, karena sang ibu kepala kantor sudah dinas di Salatiga hampir satu tahun lamanya.  Aduh, Pak, Bu, terima kasih buanyak…… 

Berhubung waktu itu paspor mau kupakai dulu, maka aku janjian sama agennya untuk ketemuan di Jakarta.  Aku nyerahin paspor untuk mereka bawa ke Kedutaan Jerman untuk mengesahkan semua dokumen yang udah dicap bolak-balik sama kementerian apa aja itu nggak tahu, dan sudah diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah.  Udah beres semua, masku nengok lagi nih, persyaratan terakhir adalah “fotocopy paspor yang sudah dilegalisir”, nah lho…. Kayaknya kata ‘dilegalisir’ ini mencurigakan.  Kami pikir kan paspor Indonesia yang melegalisir ya kantor Indonesia….ternyata tidak saudara-saudara… Setelah masku telepon ke Kedutaan dan aku nelpon agennya sekali lagi, ternyata oh ternyata…..fotocopy pasporku harus dilegalisir oleh Kedutaan Jerman di Jakarta. Oh no!!! Kenapa si agen nggak ngomong apa-apa sih, bukannya sekalian… Jadilah besoknya kami ‘mruput’ pergi ke Kedutaan lagi, sampai pak satpamnya yang jaga di depan pintu heran, “Lho, Mbak, kemarin bukannya udah ke sini?” (waktu aku nganterin paspor).  Hehe……

Semua sudah ada, tinggal kuserahkan ke masku.  Sekarang giliran dia deh yang ngurus apa itu yang namanya Surat Ijin Menikah…… hah…….

Postingan bagian pertama di sini.

fragments of life, Bahasa Indonesia 7:42 am

Setelah menghadapi betapa ribetnya mengurus surat-surat untuk menikah, rasanya bagus juga kalau pengalaman ini dirangkum sedikit, siapa tahu berguna bagi yang membutuhkan, hehehe.

Sebagai latar belakang, aku seorang warga negara Indonesia, masku warga negara Jerman.  Aku seorang anggota gereja Katolik, masku seorang anggota gereja Kristen Protestan.  Aku tinggal di Indonesia, masku tinggal di Yaman.  Dengan segala keadaan yang cukup ‘istimewa’ ini, rasanya memang persiapan pernikahan menjadi pekerjaan full time yang menyita waktu dan tenaga.

Secara umum, surat menyurat yang harus kami siapkan harus memuaskan tiga pihak, pihak gereja katolik, pihak catatan sipil setempat, dan pihak pemerintah Jerman. 

Dari gereja, mereka tidak terlalu membedakan apakah pasangan kita orang asing atau bukan.  Jadi syarat-syaratnya ya standard, foto 4 x 6 berwarna berdampingan, pria di sebelah kanan (gila ya, detil banget, hehe….), surat baptis terbaru, formulir pendaftaran yang sudah ditandatangani dan dicap ketua lingkungan.  Lebih asyiknya lagi, karena pada dasarnya pihak gereja bisa membantu menguruskan surat-surat ke pencatatan sipil, maka persyaratan untuk ke pencatatan sipil juga bisa diserahkan ke gereja pada saat mendekati hari H. 

Tetapi, ada syarat lain yang cukup ribet, yaitu harus menyerahkan juga sertifikat kursus persiapan perkawinan.  Dan yang membuat ribet adalah, jadwal kursus perkawinan di setiap gereja, minimal di daerah Salatiga dan sekitarnya, adalah setiap dua bulan sekali. Alhasil, menyesuaikan dengan jadwal merupakan tantangan tersendiri, soal ini kami juga punya cerita sendiri.  Sesudah itu, ada proses yang namanya penyelidikan kanonik, di mana kami diwawancara oleh seorang pastor tentang kesiapan untuk menikah.  Berhubung masku orang non katolik, maka kami harus membawa dua orang saksi untuk pihaknya, yang berani menyatakan bahwa dia memang belum menikah.

Itu yang dari gereja.  Dari pencatatan sipil sebenarnya bisa diurus belakangan, tetapi ternyata ada beberapa hal yang terpaksa harus diurus di depan karena berkaitan dengan persyaratan dari pemerintah Jerman. Persyaratan dari Catatan Sipil adalah fotocopy KTP/paspor, fotocopy KK, fotocopy Akte Kelahiran, fotocopy KTP saksi-saksi, surat keterangan belum menikah, foto, surat keterangan dari kelurahan (N1,N2 N3, N4, N5), fotocopy surat imunisasi bagi pihak perempuan.  Kedengarannya sederhana ya, tetapi pada kenyataannya cukup susah, apalagi karena masku tidak berada di Jerman, jadi terpaksa deh merepotkan camer, hehehe.  Dan kurang jelas juga surat mana aja yang perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dan jujur aku juga belum tahu, karena banyak yang belum kuurus, hehehe.

Wah, rasanya udah panjang ya…. Kita sambung ke bagian kedua nanti ya…. Sabar, cerita yang serem-serem belum keluar, jadi tunggu kelanjutannya :)

fragments of life, Bahasa IndonesiaOctober 6, 2009 1:59 pm

…atau tunangan orang asing, berarti menghadapi pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar menarik, seperti misalnya:

  •  "Orang tua pasti bangga ya, kamu mau menikah sama bule…"
  •  "Kamu udah ketemu orang tuanya? Kan orang ****** biasanya rasis."
  •  "Nanti waktu penyelidikan kanonik, salah satunya ditanyain, apa motivasi menikah.  Apa bener-bener karena cinta atau kontrak atau apa.  Kan biasa tuh, orang asing kawin sama orang sini untuk bisnis atau apa…"
  •  "Ketemunya di mana, Bali?" - dengan sebelah alis naik sedikit
  •  "Wah, bagus ya, nanti anaknya bisa jadi bintang film."
  •  "Kok bisa sih?"
  •  "Dapetnya di mana?"
  •  "Dia nggak laku ya di sana?"
  •  Dan, serupa tapi dari sumber yang berbeda, komentar yang terakhir ini aku dengar dari mulut seorang pria bule sebelum aku pacaran sama masku yang terakhir ini, dan bahkan waktu itupun aku sudah ternganga mendengarnya, "Cowok bule yang pacaran sama perempuan Asia itu kan ga laku di negaranya, masa sih di sana ga ada cewek."

Reaksi? Senyum aja…sok-sok nggak dengar, hahaha.  Tapi yang menarik adalah melihat berbagai jenis ’stereotype’ yang muncul dalam benak orang ketika melihat sesuatu yang menurut mereka tidak biasa - biasanya kita tidak berkomentar banyak kan, ketika melihat hal yang biasa aja?

(Tapi lucu juga terakhir mendengar cerita saudaraku yang sama-sama pergi ke stasiun sama aku dan masku untuk mengantar saudara lain pergi ke Jakarta:

"Mosok to Mbak, tadi di stasiun ada mbak-mbak gitu, rada-rada gemuk gitu deh orangnya.  Terus to, dia tu ngeliatin kamu sama masmu gitu.  Tadinya to, takkira cuma sekilas aja, ya biasa to… gak taune dia terus ngelirik-ngelirik terus. Dia tu ngeliatin masmu, terus ngeliat kamu… terus ngeliat kamunya dari atas sampe ke bawah gitu lho, mbak… Terus dia liat ke tempat lain, terus nanti curi pandang lagi, ngeliatin kamu lagi gitu, dari atas ke bawah… Aneh banget! Wis arep takparani, meh taktakoni, ‘Kenapa, Mbak, mbak saya cakep ya?’"

Hahaha…. Aku bilang aja, "Mungkin dia terinspirasi, Dek, cewek chubby gitu bisa dapet bule, aku bisa juga kali ya…." hahahaha.)

Menurut kamu, apa sih stereotype yang mendorong munculnya komentar-komentar di atas? Dan apakah kita sendiri sudah ‘bebas’ dari pemikiran-pemikiran semacam itu?  Aku sendiri, jujur, belum.  Jadi layak dan sepantasnya, aku cuma tersenyum, dan memahami.  Meskipun sejatinya, dalam hati menyanyi, "Bule juga manusia…. " :D

fragments of life, Bahasa IndonesiaOctober 4, 2009 1:36 pm

Aku suka Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, mau tahu karena apa?  Karena dua-duanya memberikan tempat untuk menjadi akrab tanpa terlalu akrab dan asing tanpa terlalu asing.  Ketika sudah berada di sini, baru aku menyadari, betapa asyiknya bisa menyapa orang asing dengan panggilan ‘Mas’, ‘Mbak’, ‘Bang’, ‘Kak’, ‘Pak’ dan ‘Bu’, atau menempelkan sapaan-sapaan itu ke depan nama orang-orang yang kita kenal.  Bahkan kita bisa memakai sapaan-sapaan itu untuk orang yang kita kenal dengan baik, maupun orang yang hampir-hampir asing, seperti penjaga toko.

Di sini, sampai saat ini, aku kok belum menemukan sapaan yang setara dengan itu.  Walhasil, sampai sekarang, aku cuma pernah mendengar diriku disapa dengan dua cara, namaku saja alias njangkar, dan ‘Madam’.  Aduh, rasanya aneh dipanggil begitu.  Sopir kantor di Aceh dulu, yang lebih muda dari aku, panggil aku Mbak, sopir yang sekarang, jauh lebih tua, panggil aku ‘Madam’.  Pembantu di rumah Aceh malah cuma panggil aku pakai nama, eh, di sini, lagi-lagi, ‘Madam’.  Aku kok merasa kayak jadi nyonya besar, hahaha, nggak cocok banget.

Aku juga merasa nggak nyaman memanggil staf kantor, dari Project Manager, sampai sopir dan security hanya dengan nama, aduh… padahal semuanya jauh lebih tua.  Mungkin perlu pembelajaran lebih banyak untuk membiasakan diri pada budaya baru, atau, yang lebih jelas, perlu benar-benar belajar bahasa setempat, siapa tahu menemukan kata-kata yang bisa mengobati kegegaranbudayaku.  Atau mungkin suatu hari nanti, aku hanya perlu menerima, bahwa bahasa di sini memang jauh lebih egaliter daripada bahasaku, siapa tahu…

fragments of life, Bahasa IndonesiaAugust 15, 2009 9:07 pm

Sesudah mengalami banyak kemiripan-kemiripan di negara sendiri, kayak yang kuceritain di postingan lebih dari dua tahun lalu, di sini,  ternyata sesudah keluar dari negara sendiri, tetep aja ada kejadian-kejadian yang semakin membuktikan bahwa mukaku…. Pasaraaaaan!!!

Selama di Amerika Serikat, banyak orang yang nebak aku orang Filipina.  Sering juga di supermarket asia, tahu-tahu ada orang Filipina yang main tanya aja, di mana bisa ketemu sesuatu (itu tebakanku aja sih, hehehe….. habis, tanya apa lagi sih kalau lagi di supermarket…). Tapi itu bisa dipahami, lha wong aku sendiri kadang kalau ngeliat orang Filipina juga kadang ragu-ragu, kira-kira ini orang Indonesia atau bukan, hehe. Cuma karena kadar keberanian dan kepedeanku aja yang kurang, jadi aku nggak pernah asal nyapa gitu aja, hehehe.

Jadi, lama-lama aku santai aja kalau ada orang yang nebak aku orang Filipina. Kirain itu aja, ternyata ada lagi orang yang mikir aku Latina, terus lebih parah lagi India…. terus lebih aneh lagi Indian…. wis jan.  Memangnya mukaku itu apanya sih yang bisa masuk ke berbagai benua begini?

Hampir setahun di AS, udah biasa lah dengan berbagai label aneh itu.  Kirain waktu kembali ke Asia, kejadian kayak gitu nggak bakalan terulang kembali.  Eh, salah dong… hahaha…

Pertama, jalan ke Kuala Lumpur…yah, wajar lah, kalau aku dikira orang Melayu, ya nggak, emang mirip. Tapi kadang-kadang lumayan repot juga kalau diperlakukan seperti orang lokal, dalam beberapa hal rasanya pelayanan lebih oke kalau mereka tahu kita itu turis. Seminggu lidah berlipat-lipat dan telinga keriting mencoba untuk bicara dan memahami bahasa Melayu, aku seneng juga kembali ke Indonesia.

Perjalanan berikutnya membawaku ke Kamboja.  So far so good, sebagian besar orang bisa bahasa Inggris lancar.  Beberapa kali orang sana mengatakan bahwa mukaku mirip orang Khmer, ah, kuanggap itu sekedar keramahtamahan saja.  Tapi ternyata…. hari ketiga di Siem Reap, setelah gosong bolak balik, di salah satu candi terakhir dari rangkaian candi-candi Angkor, tahu-tahu petuga pemeriksa tiket nyerocos dalam bahasa Khmer.  Aku pikir dia ngomong sama pedagang asongan, eh, ternyata nggak ada yang nyautin, tengok sana tengok sini, ah, rupanya si bapak teh lagi ngomong sama aku, hahaha. Baru sesudah aku nggak nyaut, dia nanya, "Where are you from?"

Besok paginya, pas mau nyebrang ke Thailand lewat perbatasan Poipet-Aranyaprathet, petugas yang ukur-ukur suhu tubuh, tau-tau tanya, "Laos?"  Nah lho…. Kemarin dikira Khmer, hari ini dikira Laos. Hahaha… lagi antre puanjang buanget untuk masuk Thailand, tau-tau aku ditowel petugasnya untuk masuk ke antrean baru.  Nah lho, aku jadi bingung, bingungnya…jangan-jangan dia nowel aku karena dia pikir aku orang lokal…lha wong aku disuruhnya masuh ke antrean yang tulisannya jelas-jelas "THAI". Tapi ya udah lah, gila aja, antreannya puanjang abis… yipeee!

Lewat imigrasi, kami naik tuk-tuk (kayak becak motor gitu…) ke stasiun Aranyaprathet untuk naik kereta ke Bangkok. Beli tiket, gampang… Pas naik, kedengeran orang-orang bilang "farang", yang artinya ‘orang asing’. Sip deh, hehehe. Tapi begitu duduk, ada bapak-bapak di dekat tempat duduk kita yang tau-tau nyerocos… baru kita bengong deh. Ternyata dia mau tanya, berapa harga tiketnya, mungkin dia penasaran, kalau orang asing bayarnya sama nggak. Hahaha…akhirnya dia cuma bisa tanya, "how much?", terus senyam senyum aja, hahaha.

7 jam berlalu nyaris tanpa insiden.  Begitu ‘mendarat’ di stasiun Hualamphong di Bangkok, keluar cari taksi, ada tukang taksi gelap yang nyerocos nawarin taksinya…pakai bahasa Thai… Lha ya aku bingung ta, baru sesudah aku bilang, "I am not Thai," dia ganti ke bahasa Inggris. hahaha…. Besoknya jalan-jalan di Bangkok, tau-tau disamperin cowok gitu, nanya sesuatu. Lah, itu lebih parah, karena memang cuma ada aku dan temanku di situ.  Aku clingak-clinguk aja, terus dia nunjuk-nujuk pergelangan tangannya. O alah, tanya jam…ya aku tunjukin aja jamku, sambil bilang, "I am not Thai." Langsung dia minta maaf bertubi-tubi dalam bahasa Inggris, hahaha.

Yah, begitulah.  Nggak di dalam negeri, nggak di luar negeri, ternyata mukaku bisa ditaruh di mana aja..hahaha. Sekali pasaran, teteup…pasaran.

15/08/2009

fragments of life, Bahasa IndonesiaJuly 8, 2009 6:32 pm

Akhir pekan lalu aku beruntung sekali, karena diajak sama ibu-ibu yang buaik buanget untuk pergi ke pesta perkawinan….emm…tepatnya Pesta Kawin Khusus Perempuan.

Maksudnya???? Maksudnya sih sederhana aja, ya begitu itu, ada pesta khusus perrempuan dan ada pesta khusus buat laki-laki.  Dan jangan salah lho…pestanya bukan cuma ada dua itu, tapi pesta untuk masing-masing kelompok juga ada beberapa macam… jadi nggak usah repot ngitung-itung deh, sudah pasti muahaaaal buanget jatuhnya.

Singkat cerita, sesudah panik panik nggak jelas gara-gara ngerasa nggak punya baju yang pantas dipakai ke acara begituan, dan setelah maksa-maksa mampir toko buat beli sepasang sepatu peep-toe warna silver (udah deh, mukanya nggak usah kaget begitu…nggak salah baca kok…), akhirnya aku sih pasrah aja sama penampilan yang kemungkinan besar jauh di bawah standar pesta-pesta kawinan di Sana’a yang terkenal mewah abisss.

Begitu dengar klakson mobil di depan rumah, langsung deh aku ‘bungkus diriPhotobucket‘ pakai abaya dan jalaaaaan.

Lokasi acaranya sih cuma kira-kira lima menit dari rumah, dan pas udah sampai….wah….antrean mobilnya puanjangan abissss.  Gara-gara yang ngajak lupa ngasih tahu kalau nggak boleh bawa HP yang ada kameranya ke dalam, akhirnya terpaksa nitip HPku dua-duanya ke sopir ibu itu. Dari mobil-mobil yang berjajar-jajar itu keluarlah wanita-wanita berselubung hitam dari ujung kaki sampai ujung kepala.  Dan kami termasuk di antara mereka.  Sesudah menunjukkan tiket undangan (jadi, kartu undangan yang seperti biasa itu, di dalamnya ada tiket kecil-kecil dengan berbagai warna, masing-masing tiket untuk acara pesta di hari dan tempat yang berbeda-beda…gila kan..) ke penjaga di luar tembok, kami masuk ke dalam, dan segera disambut penjaga perempuan yang merazia dompet tamu untuk mencari barang-barang berkamera.  Kami lolos dengan sukses (ya iya lah, lha wong nggak bawa apa-apa, hehehe).

Yang pertama terlihat adalah…!!! jreng…jreng…jreng….. Ruangan gede banget yang dindingnya dipasangi cermin dari mulai setinggi dada sampai ke langit-langit.  Dan lebih jreng lagi adalah…di depan cermin segede seruangan itu berdirilah belasan perempuan sedang merapikan dandanan mereka.  Ada yang sedang melepas abaya, sisiran, lipstikan…wah, pokoknya segala macam.  Sudah jelas langsung bikin minder ke mana-mana :p

Baju-bajunya bow’, nggak kebayang banget deh. Jujur saja aku tidak pernah membayangkan perempuan ‘biasa’ bakalan memakai gaun-gaun malam yang modelnya mewah-mewah begitu, serasa lagi ngintipin foto-foto red carpet dari Yahoo, hehehe.  Dan itu belum ngebahas perhiasannya.  Mereka benar-benar serius deh, dan dari sekian banyak bling-bling, aku yakin lebih dari 60% berlian asli.  Untungnya, entah kenapa, kayaknya gaunku nggak parah-parah amat, hahaha, dan yang jelas aku bersyukur setengah mati udah maksain beli tuh sepatu silver murahan. Coba kalau nggak ada bling-bling dikit (meskipun di ujung kaki…), bisa-bisa tambah nggak ngangkat deh.

Sesudah rapi-rapi, masuklah kami juga ke ruangan pesta yang lumayan gede….isinya perempuaaaaan semuanya, ratusan.  Udah gitu semuanya glamor dan cantik-cantik, wuih.  Di depan ada panggung yang dihiasi pilar-pilar putih dan kain-kain putih dan pink, terus ada kursi merah berhias pas di tengah-tengahnya…tapi…kosong.

Banyak cewek-cewek yang lagi nari di depan panggung, goyang mengikuti irama padang pasir, dengan rambut panjang terurai - ada yang dilurusin, dikeriting, dicat, highlight…pokoknya semua ada.  Tato henna dengan berbagai model juga terlihat di mana-mana, di lengan, di bahu, bahkan di punggung.  

Dan itu….baru awalnya saja :)

Dan postingan ini kayaknya udah kepanjangan… Kita sambung lain kali ya…

Sana’a, 5 Juli 2009.

DISCLAIMER:   Foto di postingan ini BUKAN foto tamu undangan.  Foto ini hanya untuk memberikan ilustrasi kira-kira gaun-gaun seperti apa yang bisa kita lihat (eh, khusus untuk anda kaum adam….yang tidak akan pernah bisa anda lihat ding…) di pesta semacam ini.  Dan beneran lho, aku lihat sendiri beberapa variasi model semacam ini.  Fotonya diambil dari sini.

fragments of life, Bahasa IndonesiaJune 24, 2009 9:07 pm

Seminggu kemudian, aku pusing menghadapi setumpuk huruf yang bukan cuma harus dihapalkan, juga harus disambung-sambung dan dibaca dengan lancar….aduh mak…

Selamat datang di dunia pelajaran Bahasa Arab.

Yah, betul, anda tidak salah dengar baca. Hari ini dengan resmi ditutup hari ke-5 aku duduk manis 3 jam setiap hari di Yemen Language Center / Yemen College for Middle Eastern Studies di Sana’a, untuk belajar Bahasa Arab. Guru-gurunya semangat banget, saking semangatnya, dalam waktu dua hari aku sudah diberi buku ke-2, padahal ngapalin alif, ba, ta aja masih kerepotan. Tapi sedih juga sih…soalnya belum bisa belajar yang lain-lain sebelum bisa baca huruf Arabnya, alias, sudah seminggu belajar aku baru bisa bilang "assalamualaikum" (yah, itu sih dari Indonesia juga udah bisa, hihihi….), "selamat pagi" sama "apa kabar"… oya, sama "namamu siapa?", hahaha… Masa ngobrol sama orang, habis nyapa selamat pagi, gimana kabarnya, siapa namanya, terus macet…. Ujung-ujungnya cuma bisa bilang "qalas"…alias cuma bisa segitu aja, hahaha, sambil cengar-cengir. emoticon

Masih ada dua minggu lagi… SEMANGAT!! Dan berharap semoga minggu depan sudah bisa ngomong sedikit, paling nggak sama sopir taksi.  Lah, masak dianter-jemput 20 menit sekali jalan, nggak ngobrol apa-apa.  Ya itu tadi, habis bilang selamat pagi, apa kabar, terus sepi deh…hahaha…

Wish me luck ya, temans!

Sana’a, 24 Juni 2009