fragments of life, in the line of duty, Bahasa Aceh, Bahasa IndonesiaMay 22, 2007 12:57 pm

pada hari Selasa…well, mulai hari Senin tepatnya, setiap berangkat kantor aku selalu diingatkan pada pertanyaan yang sering menggelitik benakku. nah lho, apa kira-kira….

sesuatu yang lain dari yang lain jika dibandingkan dengan Jogja (makanya jadi garuk-garuk kepala mengamatinya…) emoticon

kenapa setiap hari Senin, lalu lintas jalur rumah - kantor (takkasih bocoran bagi yang pernah mampir di BA, mungkin kenal nama-nama areanya, dari Peuniti - Lamteumen), ga padat?  malah, terbilang sepi banget kalau mengingat bahwa resminya hari Senin adalah hari pertama kerja dalam pekan…

dan kenapa kalau hari Selasa, wuih….puadet banget sepeda motor dan kendaraan bermotor lain yang bersliweran pada jam yang sama, jalur yang sama….

hayo…..nanti kalau hari Rabu, kesibukan jalan di jam dan jalur yang sama sudah bisa dibilang normal, alias ga terlalu berbeda dengan hari Kamis dan Jumat pagi…

bedanya dengan Jogja adalah pada hari Senin pagi….wah, BERJUANG!! menyibak keramaian orang-orang yang mulai beraktivitas, pokoke syerem bo’… Jangan-jangan BA punya pengaturan hari kerja yang lain daripada yang lain ya….emoticon tapi kok tanya sana-sini belum mendapatkan jawaban…emoticon

mungkin di sinilah berlaku sebuah kalimat sakti… " Meah, beh, loen hana lontupeu …"  kesalahan penulisan harap maklum….jangan salahkan guruku….emoticon

alias, "ngapunten, kula boten ngertos"

alias "maap, ye, saye kurang paham…."

BA, Pada sebuah hari Selasa

fragments of life, in the line of dutyMarch 29, 2007 8:17 am

sudah seminggu lewat… tetapi masih ada kisah yang belum sempat kuceritakan…

 

seminggu yang lalu, pada sebuah Kamis sore, jam sudah menunjukkan waktu lewat jam lima sore waktu teman sekantorku ber”bubye…bubye” dan melangkah keluar.  Sebenarnya aku juga pengen keluar bareng…tapi berhubung tinggal sedikit lagi kerjaan yang tersisa..nanggung ah…
yang nanggung itu ternyata makan waktu sekitar 15 menit, dan aku bergegas pulang ketika semuanya sudah selesai.

 

Dalam benakku sudah terbayang sampai di ujung jalan, kira-kira 400 meter dari kantor, di sebuah perempatan jalan yang cukup ramai dengan lalu lalang truk-truk besar, untuk memanggil tukang becak motor yang biasanya nongkrong di seberang jalan.  Benar saja, dari kejauhan kulihat serombongan bapak-bapak duduk di atas becak di seberang sana…  sambil bersiap-siap mencari tempat yang strategis untuk menunggu dan melambai…eh, kok aku malah aku melihat teman sekantorku yang sudah dari tadi meninggalkan kantor…  Jadilah aku menghampirinya sambil bertanya (setengah “menuduh”)…”Tunggu apaan? Labi-labi?”  “Ga”, jawabnya, “Becak.” “Hah, la itu apa? Di sebrang?” “Becak.  Tapi mereka dari tadi dipanggil ga mau…”

 

Oh my…kuitung-itung sendiri ada lima sampai enam becak berkelompok di sana…  sementara untuk menyeberang, harus bersaing dengan orang-orang yang melanggar lampu merah, becak, motor, mobil truk..walah…..   muka mereka pun menghadap kami, tapi ketika kucoba melambai pun…nihil.  Jengkel…iya.  Capek…iya… Kesal…banget…

 

Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu becak yang lewat saja, daripada menyeberang jalan…  Akhirnya, setelah menunggu 10-15an menit kemudian…ada juga becak yang lewat, dan sesudah tawar menawar dicapai kesepakatan…dan tepat waktu kami naik, terdengan teriakan “hoi!” dari seberang jalan….


 


 

Terasa sang bapak tukang becak agak-agak ga enak ati.  Dia bertanya apakah kami sudah tawar menawar dengan tukang becak di seberang jalan, wah pak…pak…gimana mau nawar…wong datang aja ga mau…

 

Sepanjang perjalanan, berkali-kali si bapak bertanya, beneran kan kami yang manggil dia, bukannya dia yang ngerebut rejeki orang….dan selain takut merasa bersalah…ada juga sekilas rasa takut yang lain…karena akhirnya kami harus ambil jalan memutar supaya ga lewat persis di depan tempat nongkrong mereka…ah….

 

Rejeki…usaha….apakah yang berarti dalam hidup ini?  Apakah mereka butuh dihargai, atau simply, sombong?  Siapa sih yang lebih butuh, penjual jasa atau pemakai jasa…bukannya dua-duanya butuh…dan perlu saling menghormati…

Salah satu kalimat yang diucapkan tukang becak kami, mereka yang ga ramah sama kami memberikan nama jelek buat tukang becak lain, karena bisa-bisa semua orang berpikir tukang becak di Aceh sombong-sombong dan males-males…. Waduh, jujur saja ya…bukannya ga terlintas, hehe…. Tapi berhubung sebelumnya selalu ga masalah pakai tukang becak, aku sendiri tidak merasakan prasangka yang terlalu umum gitu, hanya memang aku jadi ilfil sama mereka dan berusaha untuk ga cari becak di tempat itu lagi…nah lho…bener juga ya…

Seandainya saja aku bukan orang satu-satunya yang mengalami itu…sudah berapa rupiah rejeki yang mereka buang? Tidak hanya sekali…tetapi mungkin untuk banyak kali sesudahnya…ah, rejeki…tanpa usaha dan kerendahan hati, mana mungkin.

 

Bapak Becak, bagi kami, lewatnya Bapak menjadi rejeki kami, karena siapa yang tahu sempai berapa lama lagi kami harus menunggu sebelum kami bisa pulang sore itu…

Kamis, 22 - 27 Maret 2007

fragments of life, in the line of dutyDecember 7, 2006 11:52 am

Ini dia lanjutannya… Posting ini sebenarnya hanya summary dari sebuah artikel yang kubaca bersama-sama dengan muridku di kelas beberapa hari yang lalu.  Check it out…

"Setiap Kamis, Pasar Ternak Nagari Cupadak, Limakaum, Tanah Datar, Sumatra Barat, selalu dipenuhi orang.  Sebagian orang yang ada di pasar ternak itu membawa sarung, handuk, atau kain."

Hayo, kira-kira buat apa orang-orang bawa-bawa kain ke pasar, pasar ternak lagi….jadi ketemunya sama sapi, kambing…dan tentu saja, penjual dan pembeli ternak aja… 

"Sudah sejak dahulu para tauke (juragan, atawa blantik lah di Jawa Tengah, admin.) ternak itu menggunakan sarung atau lain untuk tawar-menawar harga hewan yang diperdagangkan."  Walah, bisa dibayangkan?  Mungkin orang-orang yang berkecimpung di dunia perdagangan hewan sudah kenal metode ini ya…(bayanganku sih mungkin seperti kalau fungsi kalkulator pada waktu jual beli handphone, coba…bener apa nggak?)

"Menurut Jon, yang telah berdagang ternak sejak sekolah dasar bersama ayahnya, teknik tawar-menawar yang dinamakan jual bali baroso itu dilakukan untuk merahasiakan harga hewan ternak."

nah betul kan…kalau jual beli HP juga kan, ketik-ketik-ketik di kalkulator, kalkulator berpindah tangan, geleng-geleng kanan-kiri, ketik-ketik lagi…walah…sori, perbandingannya hanya dengan HP, karena cuma itu yang sanggup kubeli sendiri yang pake strategi tersendiri…he…he…

"Dalam jual bali baroso, setiap jari menunjukkan Rp 1 juta untuk transaksi sapi dan kerbau, serta Rp 100 ribu untuk kambing"

o…begitu.   nah, berarti 2 jari, 2 juta, 3 jari 3 juta…dan seterusnya yah….?  tapi emangnya hewan ternak harganya bulet-bulet gitu ya…kalau dua setengah juta bagaimana cara tawar menawarnya dong?  tenang…tenang…bagi yang ingin mencoba teknik ini dan sukanya menawar seikit demi sedikit, alias naik turun seperempat demi seperempat…silakan lemaskan jari dan praktekkan instruksi berikut ini!

"Bila harganya Rp 3,75 juta, pedagang akan memperlihatkan empat jari dan menekuk jempol pembelinya.  Kalau Rp 4,25 juta, penjual akan memegang empat jari dan menarik jempol pembeli."

wah…jadi rupanya tauke bener-bener belum menjadi pekerjaan uni gender, alias pria dan wanita bisa mengerjakannya.  bukan berarti salah satu gender lebih oke atau lebih profesional, tapi coba bayangkan kalau penjual satu dengan penjual lainnya berbeda gender dan bermain-main tangan di balik kain…waduh…pasti seru, he…he..

tapi mungkin di antara yang membaca posting ini ada yang bisa mempraktekkan tips-tips tersebut di atas (karena saya tidak bisa….he…he….bingung membayangkan nekuk jari ini, narik jari orang lain….aneh…), mungkin anda perlu mempertimbangkan satu pilihan profesi baru, menjadi tauke ternak di Sumatra Barat.

untuk yang mengharapkan isi yang lain dari judulnya, maaf, jangan salahkan saya….ini judul asli artikel yang bisa anda baca lengkapnya dalam Pesona Nusantara, Suplemen khusus Media Indonesia, Jumat, 1 Desember 2006.  bagi yang baru saja mengikuti perkembangan kasus (yet another…) private video of people, wajar aja mengharapkan isi yang agak-agak gimanaaa…he…he…

regards,

from yet another hillarious class…

fragments of life, in the line of dutyDecember 5, 2006 6:17 pm

hayo, judul ini kira-kira isinya apa? tunggu kelanjutannya pada episode berikutnya, dijamin bakalan sama-sama ber*huah, apa?* kayak waktu aku baca…

another funny session with a student…wonderful, hilarious, serious…

to be continued…

fragments of life, in the line of duty, di sini senang di sana senangNovember 27, 2006 9:51 am

Cool name, ha?  That is one of the terms that found its new meaning for me while I am here.

Maybe the most common meaning that this terms refers to is the kind of person who has lots of guts, speeding, zig-zaging on the street, turning suddenly without signing…well, maybe thousands of other similar  things.  The cool (?) thing is that the fact that here, it is not that rare to find.  The inspiration to write on this has dawned on me several time, especially during driving, but well…the time to sit down and write about it doesn’t seem to exist so easily.

The first weeks living in BA, I always freaked out when I had to go out in cars (well, you know, company pays, and I should have been quite grateful, but hey…I was afraid, okay?), especially when I don’t have a person from Aceh or Medan to drive me.  So there I was, being the clown in the car because of all the “funny” faces I made, especially when we came closer to traffic lights.  These are really the people who dare to die, or maybe the ones who really dare to live…  Once I had a friend in Jogja who claimed that he was able to calculate the difference in seconds between the moment the light turned red on one lane and turned green on the other.  Well, sorry Bro’, but you are in no way a match for these people.  They see red lights, they just go through, as long as there are vehicles still moving from their lane, as long as there is no visible traffic jam on the crossroads, hit it, Man!  Fuih…  Turning on the sign light when you want to turn?  That will be quite a rare thing to find.  As a result, you have to become a profound and sensitive mind reader.  In case you are driving on the street, and you see a vehicle going between the two lanes, you know, kind of undecided which lane to take…And you see that there is a T-junction coming.  That vehicle keep reducing the speed, and you can clearly see that the handlebar was kind of shaky.  Well, what do you think will happen next?  A.  S/he will turn left.  B.  S/he will turn right.  C.  S/he will make a U turn.  D.  S/he is looking for an address.  E.  It is running out of fuel.  F.  S/he is typing an SMS.  See…nothing, simply, nothing is impossible, or improbable…

One of my dearest friends here has formulated a golden rule for him as he is driving the daily madness of BA traffic, “DO NOT look at your rear view mirror as you are driving, never.  Even when you are trying to overtake, or make a turn, or change the lane”.  And you know what, that rule is really golden, because it WORKS!

But besides these guys and gals driving, there are other kings and queens who are not less magical than the people (you know what, this land is really blessed…)  Even as I was arriving here, I got a crash briefing by one of the office drivers, “Mbak, Mbak, only in Aceh (if you don’t want to count India in, ed.)  where you can drive around, or stroll and find everywhere….COWS.”  These very sexy, nude creatures can take their leasure stroll, sometimes even sitting so relaxed seeping the air of BA before sunset.

Around two weeks ago I joined a friend of mine on the first journey on his new motorbike going up and down the hills in the area called Krueng Raya, from the city you go up the hill and come out at the beach.  In Javanese we have a saying “jlajah desa, milang kori”, which literally means “roving the village, counting the doors”, but to be honest, you wouldn’t go far with “counting the doors” since there are no so many houses around.  During this trip we should really admit the power of the kings and queens of the street, the COWS.  Whoever has the experience of taking a mountain road would be able to imagine the sight, in which you see small roads with lots of bents, and sometimes you cannot really see what is behind the next bent.  This is the bad side of our trip, since there can be anything just right after the bent, we could see a bunch of cows and goats trying to cross the street as we are coming round the bent.  Plus the bush growing on the sides of the road, which did not make it easier for both of us and the animals to spot each other.  Don’t try to test how sturdy your motorbike is by bumping it into a cow, no…no…you could never win.  You will risk having to pay the damage of the cow to its owner, and you would definitely risk paying the damage to your own well-being.  So we end up taking the road very carefully, not because other drivers, but for the sake of the four legged road users.

 One thing that could be such a beautiful experience driving in the area, especially in town, is that it gives you an opportunity to reflect on what regulation personally means to you.  And also the chance to be more perceptive and sensitive to whatever is happening around you.  This is a precious experience, to observe all the other street users, and trying to figure out what is going on in their mind, where people like to go, in which lane people usually have the sudden urge to accelerate or to turn unexpectedly (well, if you are reading mind, then of course you begin to expect it…).  And all of a sudden you will feel that you senses are getting sharper, the eyes, the ears and the reflexes becoming more trained.  And a valuable opportunity it is to be able to ask yourself whenever you see the yellow light turning red right on your face, “Should I stop?”  Should I stop when I know that there are lots of drivers right behind me who would immediately commit sin by swearing at this car?  Should we break the red light because there are lots of other people doing it?  Will I stop even when I am alone and become the odd one?  Will you continue driving through the red light, when you know that it is actually “safe” to do so?

 

A precious answer.  And often, we did indeed, became the odd one.  And whispering to ourselves, “Aren’t changes coming from ourselves?”  Instead of joining the bunches of people surprised and swearing when they are stuck on the crossroads even when it is actually their turn to go,  we figure out that maybe…just maybe…we are the one who should start the trend.   So why not be the first ones who stop at the red light, even when you are actually only following your conscience which is already used to interpret red as stop.  But you know, it only takes the first one to do it, because we begin to notice that whenever a vehicle stop (not only us, by the way…), other vehicles become not so brave in breaking the red light, and we see people actually stop next to us, and wait.  See?  Want some change?  Why don’t you start?

Unfortunately, this does not apply to the cows…  But hopefully, in the end, they are the ones who are left as the only true kings and queens of the street.

Regards,  from the cherry green lights…

Malahayati Port