fragments of life, EnglishNovember 23, 2009 10:31 pm

It’s a piece of reflection from more than a month ago, as I was watching the old episodes of Amazing Race, season 5, on TV in Sana’a. 

Once I asked my partner, "Do you think that you would be interested to join something like this?", and as I have expected, he said, "Yeah, why not."  Me, I have my answer, which might sound really bad for my partner, but nonetheless, an honest one.  "In general, I won’t even think of joining something like this, but if I have to, I wouldn’t want to do it with you."

The truth is, I don’t think that I am an Amazing Race material.  I don’t speak multiple languages, at least those which will come in handy in various continents of the world…I definitely lack the physical prowess to be able to be on the run for I don’t know how long, running from one pitstop to the next, probably crossing a continent in one night, fighting for the last seat on a plane going out of the country, bickering and fighting with other competitors…. wow, I don’t think I have what it takes to be one of those guys.  And more than that, doing it with my partner is a big NO NO, because honestly, I think relationships are challenging enough without deliberately putting extra strain and burden on top of that.

If you have seen, or remember, season 5 of The Amazing Race, you might know Alison and Donny.  They won the first leg of the journey, so they started the second leg of the race as the first group, and ended as…the last one.  As the credit title was rolling in, the ending showed them separating, literally.  They broke up, then and there. Alison and Dony, Amazing Race Season 5

I am not talking about the fact how they dramatically lost their throne, being overtaken by 10 other teams must be quite a hard feat to do, but they ‘managed’ to do it.  What was more impressive was the way their relationship developed - or rather, unraveled - within the brief moments of their glory and struggle at the race.  They were constantly bitching at each other, criticizing and yelling at each other, and at more than one point of time, started saying really really really awful words to each other. They were once caught saying that, "Fighting is our way of communicating."  Well, even if it works, which I seriously doubt - looking at the outcome, would you think it’s the best way to do so?

I believe that fighting is necessary.  Don’t tell me you don’t feel like blowing off steam, once in a while, that would be dishonest.  But being in a relationship takes a constant reminder that the other person is not you, and that you are in it as much as the other person is also in it.  If you catch yourself about to say something that you know will be particularly hurtful, swallow it.  The whole mess of trying to make up is sometimes not worth it.  And sometimes, it simply doesn’t work anymore.  There are things that would simply be the last straw, and there would not be any making up from that.

He is not perfect.  I am not perfect.  We might or might not be perfect together.  Relationship is a constant effort to make things work, and have the best times of your life.  For me, I wouldn’t try to put it into too many tests, because tests come our way anyway, without too much invitation and prodding.  It is too precious to stretch too far, not knowing what will be the last straw, which I hope, will never fall on the back of our camel. 

So, am I an Amazing Race material? Definitely not, and I am glad about it.

fragments of life, Bahasa IndonesiaNovember 15, 2009 7:46 am

Jadilah kita sampai ke bagian yang paling serem, yaitu memenuhi persyaratan pemerintah Jerman.  Kenapa itu penting?  Karena, meskipun pernikahan dilakukan di Indonesia, jangan sampai dong nggak diakui di mata pemerintah Jerman, yang artinya pernikahan tersebut harus didaftarkan secara resmi di Jerman, atau Kedutaan Jerman, juga.  Dan untuk bisa mendaftarkan pernikahan tersebut nantinya, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi SEBELUM pernikahan tersebut dilangsungkan.  Sebenarnya syarat yang harus dipenuhi sih cuma satu, yaitu mendapatkan Surat Ijin Menikah.  Tapiiiiiiiii, untuk mendapatkan satu surat itu, perjalanannya panjang, man…. 

Persyaratan yang pertama untuk pihak Indonesia adalah surat keterangan tidak kawin yang dikeluarkan oleh catatan sipil (untuk non muslim, untuk muslim yang mengeluarkan KUA).  Proses untuk mendapatkan surat ini dimulai dari RT, RW, sampai Kelurahan.  Pas sampai di Kelurahan, ternyata mereka tidak mau memproses surat pengantar untuk keterangan belum kawin saja, tetapi mereka maunya langsung membuat N1-N5 itu tadi.  Waduh, balik lagi deh ke RT dan RW.  Yang kedua adalah surat keterangan domisili, yang resminya menurut website hanya perlu disahkan lurah, tapi ternyata harus disahkan Camat (untung ada yang memberi arahan…fuih….).   Ini kejadiannya juga nyaris sama dengan surat keterangan belum kawin tadi, untung ngurusnya berbarengan…

Syarat berikutnya, akte kelahiran TERBARU, tidak boleh lebih dari 6 bulan.  Nah lho, ini dia nih yang bikin heboh.  Aku pikir gampang ya, pergi ke catatan sipil, minta diperbarui.  Eh, ternyata sampai di sana harus jelasin panjang lebar karena mereka kekeuh kalau akte kelahiran itu sekali seumur hidup.  Untungnya format akte kelahiran yang terbaru udah beda dengan format akte kelahiranku yang asli, jadi akhirnya mereka kasih lagi dengan alasan menyesuaikan format terbaru.  Itu juga aku harus kembali 3 -4 kali ke kantor, karena pada waktu yang sudah dijanjikan, ternyata suratku belum dikerjakan sama sekali dengan alasan bahwa format baru menyebutkan bahwa yang bersangkutan adalah anak nomor sekian, sementara di format lama sama sekali tidak ada keterangan itu…. *sigh*  Persyaratan terakhir  sih standard, fotocopy paspor.

Syarat-syarat ini sederhana kan? Tunggu dulu, hebatnya adalah, akte kelahiran dan surat keterangan belum menikah harus dilegalisir di tingkat KEMENTERIAN!!  Alias dibawa ke Jakarta, dibawa ke Departemen Hukum dan HAM, dan satunya apa nggak ngerti, baru bisa diterjemahkan dan dibawa ke Kedutaan Jerman di Jakarta untuk dilegalisir. 

Untungnya adalah, ada beberapa kenalan yang sudah melewati proses yang sama, dan mereka bisa ngasih tips-tips.  Salah satunya adalah memakai jasa penerjemah yang bisa membantu mengurus dokumen juga, yah, kasarannya, agen dokumen lah.  Jujur saja, meskipun harganya cukup tinggi (tapi aku nggak tahu juga sih, sebenarnnya kalau ngurus sendiri berapa biaya administrasinya…), tapi jasa ini sangat membantu, apalagi karena aku tinggal jauh dari Jakarta, dan sama sekali buta soal prosedur-prosedur itu.  Jadilah dengan deg-degan, aku mengirimkan semua dokumen asli lewat TIKI ONS, plus meterai yang sudah ditandatangani 6 biji (untuk agennya membuat surat kuasa atas namaku).  Lancar kan? Eits, nanti dulu…

Kira-kira apa sih tujuannya surat-surat kita harus serba terbaru dan harus dilegalisir sampai ke pusat?  Tujuannya adalah memastikan kebenaran informasi yang ada di dalam surat-surat tersebut, termasuk memastikan keasliannya.  Rupanya, di tingkat kementerian, ada database contoh/specimen tanda tangan seluruh pejabat yang berwenang untuk menandatangani surat-surat dari seluruh Indonesia (er…. paling nggak, seharusnya begitu…hehehe…).  Ini juga yang akhirnya menjadi masalah kecil untuk surat-suratnya. 

Selidik punya selidik, ternyata Jakarta belum punya specimen tanda tangan kepala kantor pencatatan sipil Salatiga…. halah……  Sang agen bilang dia akan minta Jakarta untuk meminta ke Salatiga, tapi biasanya jalur resmi begitu lama, makanya dia minta aku coba juga minta, siapa tahu ada koneksi.  Wah, aku, koneksi? Ngeri thok thokan…  Tapi aku nekad juga ke kantor catatan sipil, dan ajaib!!! Mereka dengan baik hati (atau mungkin aku harus bilang, ‘dengan santainya….’), memberikan specimen tanda tangan, paraf dan cap asli dan sang kepala kantor pencatatan sipil Salatiga.  Mereka cuma bingung aja, karena mereka merasa sudah pernah mengirim specimen ke Jakarta, karena sang ibu kepala kantor sudah dinas di Salatiga hampir satu tahun lamanya.  Aduh, Pak, Bu, terima kasih buanyak…… 

Berhubung waktu itu paspor mau kupakai dulu, maka aku janjian sama agennya untuk ketemuan di Jakarta.  Aku nyerahin paspor untuk mereka bawa ke Kedutaan Jerman untuk mengesahkan semua dokumen yang udah dicap bolak-balik sama kementerian apa aja itu nggak tahu, dan sudah diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah.  Udah beres semua, masku nengok lagi nih, persyaratan terakhir adalah “fotocopy paspor yang sudah dilegalisir”, nah lho…. Kayaknya kata ‘dilegalisir’ ini mencurigakan.  Kami pikir kan paspor Indonesia yang melegalisir ya kantor Indonesia….ternyata tidak saudara-saudara… Setelah masku telepon ke Kedutaan dan aku nelpon agennya sekali lagi, ternyata oh ternyata…..fotocopy pasporku harus dilegalisir oleh Kedutaan Jerman di Jakarta. Oh no!!! Kenapa si agen nggak ngomong apa-apa sih, bukannya sekalian… Jadilah besoknya kami ‘mruput’ pergi ke Kedutaan lagi, sampai pak satpamnya yang jaga di depan pintu heran, “Lho, Mbak, kemarin bukannya udah ke sini?” (waktu aku nganterin paspor).  Hehe……

Semua sudah ada, tinggal kuserahkan ke masku.  Sekarang giliran dia deh yang ngurus apa itu yang namanya Surat Ijin Menikah…… hah…….

Postingan bagian pertama di sini.

fragments of life, Bahasa Indonesia 7:42 am

Setelah menghadapi betapa ribetnya mengurus surat-surat untuk menikah, rasanya bagus juga kalau pengalaman ini dirangkum sedikit, siapa tahu berguna bagi yang membutuhkan, hehehe.

Sebagai latar belakang, aku seorang warga negara Indonesia, masku warga negara Jerman.  Aku seorang anggota gereja Katolik, masku seorang anggota gereja Kristen Protestan.  Aku tinggal di Indonesia, masku tinggal di Yaman.  Dengan segala keadaan yang cukup ‘istimewa’ ini, rasanya memang persiapan pernikahan menjadi pekerjaan full time yang menyita waktu dan tenaga.

Secara umum, surat menyurat yang harus kami siapkan harus memuaskan tiga pihak, pihak gereja katolik, pihak catatan sipil setempat, dan pihak pemerintah Jerman. 

Dari gereja, mereka tidak terlalu membedakan apakah pasangan kita orang asing atau bukan.  Jadi syarat-syaratnya ya standard, foto 4 x 6 berwarna berdampingan, pria di sebelah kanan (gila ya, detil banget, hehe….), surat baptis terbaru, formulir pendaftaran yang sudah ditandatangani dan dicap ketua lingkungan.  Lebih asyiknya lagi, karena pada dasarnya pihak gereja bisa membantu menguruskan surat-surat ke pencatatan sipil, maka persyaratan untuk ke pencatatan sipil juga bisa diserahkan ke gereja pada saat mendekati hari H. 

Tetapi, ada syarat lain yang cukup ribet, yaitu harus menyerahkan juga sertifikat kursus persiapan perkawinan.  Dan yang membuat ribet adalah, jadwal kursus perkawinan di setiap gereja, minimal di daerah Salatiga dan sekitarnya, adalah setiap dua bulan sekali. Alhasil, menyesuaikan dengan jadwal merupakan tantangan tersendiri, soal ini kami juga punya cerita sendiri.  Sesudah itu, ada proses yang namanya penyelidikan kanonik, di mana kami diwawancara oleh seorang pastor tentang kesiapan untuk menikah.  Berhubung masku orang non katolik, maka kami harus membawa dua orang saksi untuk pihaknya, yang berani menyatakan bahwa dia memang belum menikah.

Itu yang dari gereja.  Dari pencatatan sipil sebenarnya bisa diurus belakangan, tetapi ternyata ada beberapa hal yang terpaksa harus diurus di depan karena berkaitan dengan persyaratan dari pemerintah Jerman. Persyaratan dari Catatan Sipil adalah fotocopy KTP/paspor, fotocopy KK, fotocopy Akte Kelahiran, fotocopy KTP saksi-saksi, surat keterangan belum menikah, foto, surat keterangan dari kelurahan (N1,N2 N3, N4, N5), fotocopy surat imunisasi bagi pihak perempuan.  Kedengarannya sederhana ya, tetapi pada kenyataannya cukup susah, apalagi karena masku tidak berada di Jerman, jadi terpaksa deh merepotkan camer, hehehe.  Dan kurang jelas juga surat mana aja yang perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dan jujur aku juga belum tahu, karena banyak yang belum kuurus, hehehe.

Wah, rasanya udah panjang ya…. Kita sambung ke bagian kedua nanti ya…. Sabar, cerita yang serem-serem belum keluar, jadi tunggu kelanjutannya :)

fragments of life, Bahasa IndonesiaOctober 6, 2009 1:59 pm

…atau tunangan orang asing, berarti menghadapi pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar menarik, seperti misalnya:

  •  "Orang tua pasti bangga ya, kamu mau menikah sama bule…"
  •  "Kamu udah ketemu orang tuanya? Kan orang ****** biasanya rasis."
  •  "Nanti waktu penyelidikan kanonik, salah satunya ditanyain, apa motivasi menikah.  Apa bener-bener karena cinta atau kontrak atau apa.  Kan biasa tuh, orang asing kawin sama orang sini untuk bisnis atau apa…"
  •  "Ketemunya di mana, Bali?" - dengan sebelah alis naik sedikit
  •  "Wah, bagus ya, nanti anaknya bisa jadi bintang film."
  •  "Kok bisa sih?"
  •  "Dapetnya di mana?"
  •  "Dia nggak laku ya di sana?"
  •  Dan, serupa tapi dari sumber yang berbeda, komentar yang terakhir ini aku dengar dari mulut seorang pria bule sebelum aku pacaran sama masku yang terakhir ini, dan bahkan waktu itupun aku sudah ternganga mendengarnya, "Cowok bule yang pacaran sama perempuan Asia itu kan ga laku di negaranya, masa sih di sana ga ada cewek."

Reaksi? Senyum aja…sok-sok nggak dengar, hahaha.  Tapi yang menarik adalah melihat berbagai jenis ’stereotype’ yang muncul dalam benak orang ketika melihat sesuatu yang menurut mereka tidak biasa - biasanya kita tidak berkomentar banyak kan, ketika melihat hal yang biasa aja?

(Tapi lucu juga terakhir mendengar cerita saudaraku yang sama-sama pergi ke stasiun sama aku dan masku untuk mengantar saudara lain pergi ke Jakarta:

"Mosok to Mbak, tadi di stasiun ada mbak-mbak gitu, rada-rada gemuk gitu deh orangnya.  Terus to, dia tu ngeliatin kamu sama masmu gitu.  Tadinya to, takkira cuma sekilas aja, ya biasa to… gak taune dia terus ngelirik-ngelirik terus. Dia tu ngeliatin masmu, terus ngeliat kamu… terus ngeliat kamunya dari atas sampe ke bawah gitu lho, mbak… Terus dia liat ke tempat lain, terus nanti curi pandang lagi, ngeliatin kamu lagi gitu, dari atas ke bawah… Aneh banget! Wis arep takparani, meh taktakoni, ‘Kenapa, Mbak, mbak saya cakep ya?’"

Hahaha…. Aku bilang aja, "Mungkin dia terinspirasi, Dek, cewek chubby gitu bisa dapet bule, aku bisa juga kali ya…." hahahaha.)

Menurut kamu, apa sih stereotype yang mendorong munculnya komentar-komentar di atas? Dan apakah kita sendiri sudah ‘bebas’ dari pemikiran-pemikiran semacam itu?  Aku sendiri, jujur, belum.  Jadi layak dan sepantasnya, aku cuma tersenyum, dan memahami.  Meskipun sejatinya, dalam hati menyanyi, "Bule juga manusia…. " :D

fragments of life, Bahasa IndonesiaOctober 4, 2009 1:36 pm

Aku suka Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, mau tahu karena apa?  Karena dua-duanya memberikan tempat untuk menjadi akrab tanpa terlalu akrab dan asing tanpa terlalu asing.  Ketika sudah berada di sini, baru aku menyadari, betapa asyiknya bisa menyapa orang asing dengan panggilan ‘Mas’, ‘Mbak’, ‘Bang’, ‘Kak’, ‘Pak’ dan ‘Bu’, atau menempelkan sapaan-sapaan itu ke depan nama orang-orang yang kita kenal.  Bahkan kita bisa memakai sapaan-sapaan itu untuk orang yang kita kenal dengan baik, maupun orang yang hampir-hampir asing, seperti penjaga toko.

Di sini, sampai saat ini, aku kok belum menemukan sapaan yang setara dengan itu.  Walhasil, sampai sekarang, aku cuma pernah mendengar diriku disapa dengan dua cara, namaku saja alias njangkar, dan ‘Madam’.  Aduh, rasanya aneh dipanggil begitu.  Sopir kantor di Aceh dulu, yang lebih muda dari aku, panggil aku Mbak, sopir yang sekarang, jauh lebih tua, panggil aku ‘Madam’.  Pembantu di rumah Aceh malah cuma panggil aku pakai nama, eh, di sini, lagi-lagi, ‘Madam’.  Aku kok merasa kayak jadi nyonya besar, hahaha, nggak cocok banget.

Aku juga merasa nggak nyaman memanggil staf kantor, dari Project Manager, sampai sopir dan security hanya dengan nama, aduh… padahal semuanya jauh lebih tua.  Mungkin perlu pembelajaran lebih banyak untuk membiasakan diri pada budaya baru, atau, yang lebih jelas, perlu benar-benar belajar bahasa setempat, siapa tahu menemukan kata-kata yang bisa mengobati kegegaranbudayaku.  Atau mungkin suatu hari nanti, aku hanya perlu menerima, bahwa bahasa di sini memang jauh lebih egaliter daripada bahasaku, siapa tahu…

fragments of life, EnglishOctober 3, 2009 12:27 pm

"perfect timing" is what I call it when I found out that 24 hours after I left home, my watch stopped working, grrrr……. Not that it will be impossible to find replacement batteries out here, but, seriously… why didn’t it stop working back home, where I know exactly where to find them? And a watch is something I can’t live without :(

fragments of life, points to ponder, EnglishOctober 2, 2009 10:04 pm

A couple of days ago, I happened to be in a conversation that would haunt me for days.  I was with a couple of male friends, both of them married, and in their early thirties. As we were discussing about my coming wedding, one of them, let’s call him Mr. X, asked a somewhat simple question to me, "If you look at yourself, would you consider this wedding to come early in life, late, or just in time?"

As I was sitting on the back seat of the car, while both of the were on the front seats, they couldn’t really see my face as I was pondering the question.  But before I opened my mouth, the other guy, Mr. Z, already responded with another question, "What do you mean?"

So then, this conversation followed:

Mr.X:  I mean, when I looked at myself, I think I got married quite early..

Mr.Z: What do you mean by early, in age, or you only had a short time to get to know her before deciding?

Mr. X:  No, I mean, by age.  I think I never thought that I would get married already at that age, and I think that fact also surprised some of my friends, you know… that I settled down ‘early’.

Me (err… let me call myself Ms. Y, hahaha) :  Yeah, I can see that.  I mean, not that you’re never serious about life, but I can see that you might not fit into the typical guy who settles down early in life.

Mr. Z:  For me, I think I got married quite late for my standard.

Mr. X:  Hence the question, how about you, Y?  What do you think about marrying at this age?

And before I had the chance to respond, again, Mr. Z quickly answered,

Mr.Z :  I think for a girl, marrying in this age is quite late.  Normally, women in her age are already married for some years, and even have children.

Mr. X: I am not talking about ‘normally’, I am talking about measuring oneself against one’s goals in life, does she think that she gets married at the right time, at the time she wants, or plans, to get married.

Mr. Z :  I still think this age is quite late for a woman to get married.

And err… guys, I was STILL SITTING there behind you, comprende? But we arrived at our destination before I could answer, so we left the conversation at that.

But it was an interesting question to start with, if you measure yourself, would you think that the things that happen to you in life, the choices you make, the events, opportunities, changes, come to early, just right or too late? 

And I am wondering how many people are actually thinking about it, about how they measure themselves. Not according to parents’ expectation, society expectation, what is ‘normal’, or whatever it is the name we attach to ‘conformity’. 

How many people actually ask themselves, am I ready for this?  Do I really want to take this decision, that will change my life, for the better hopefully, now?  Does it fit into the kind of life I want to have?  Do I really need to take control of everything in my life, or is it time to let go a bit and let my life takes its own course?  Am I ready to take the plunge, knowing that there is no guarantee that everything will work out fine?

Anything, anything in life… be it graduating, getting a job, getting a new job, first boy/girlfriend, first kiss, making commitments, breaking up, virginity, moving to a new place, making investments, getting married, having children, going back to school, traveling, quitting a job… any choice, any decision… Is it too early, just right, or too late, in our own scheme of time? Is this the life you want to experience?  Is this the person you want to see in the mirror the next morning?  Do you really listen to what YOU want to do and WHEN you want to do it?

And as the answer I never got to give, I think it’s just in time.  At times, I tend to think it’s a bit too early (an answer that would make my mother turn in her grave - her being the traditional, typical Javanese woman she was), but I think it’s a good time to start a new challenge in life.  I am not saying I am fully ready for whatever comes as the consequence of this choice, but I can say that I think I have sufficient base to take the decision, and take the plunge. And honestly, I do think sometimes, it’s about time.

Sana’a, October 2, 2009.

PS: Thanks AB for the intriguing philosophical question, and at least that day I know that people who think the way I think are not that rare.