mouse in the house, di sini senang di sana senangMay 26, 2007 12:13 pm

sebenarnya sih ceritanya agak basi gitu, tapi berhubung kesibukan *cie..* baru sempat nulis sekarang…sebuah kejutan di akhir pekan, yang akhirnya memang cukup mengejutkan emoticon

pada suatu hari Jumat kecepit, dua minggu yang lalu, yak, the famous "kecepit" day of May 18, 2007, ada seseorang yang tumben-tumbennya bisa secara pribadi menjemputku pulang kerja kala matahari masih gagah bersinar di angkasa Banda Aceh…(berhubung beliaunya termasuk yang bisa ikutan cuti bersama, sementara diriku nggak.. emoticon…) Saat mobil keluar dari kompleks kantor, dia segera mengusulkan supaya kami langsung pergi ke pantai…Wah!! benar-benar sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya… bisa pulang kantor sebelum gelap aja udah untung banget, eh, mana sempat pergi ke pantai segala…kok ngoyo woro….Anyway, that was so sweet of him to come up with the idea, dan untung juga hari itu aku nge-jeans dan t-shirt ke kantor, jadi…TANCAP GAS!!!

Jarak kantorku dari pantai sih kira-kira cuma 30 menit-an, jalan normal jalan raya biasa.  Jadi memang sebenarnya nggak terlalu susah mencapai pantai di sini.  Seperti biasa kami menuju ke pantai Lampuuk, sekitar 3 kilometer dari pabrik semen Andalas, dan berada berdampingan dengan The Turkish Village.  Kenapa disebut sebagai Turkish Village? (ada plang-nya lho ..jadi ini bukan cuma julukan….) Wilayah ini merupakan wilayah yang paling parah terkena tsunami…lha iya, wong di pinggir laut puersis…sampai waktu itu masjid yang berdiri di kampung ini menjadi icon di berita-berita internasional karena sering banget muncul.  Gimana nggak, satu-satunya bangunan yang tegak berdiri (meskipun rompal-rompal dindingnya, de el el…) ya masjid ini..semua yang lain rata-ta-ta-ta…foto dari udara hanya keliatan bongkahan putih-abu-abu (bukan seragam SMA lho..) dari bekas tembok-tembok bangunan lain. Rehabilitasi dan rekonstruksi kampung ini dikerjakan dengan bantuan Pemerintah Turki, karena itulah terpampang gede-gede sebuah plang waktu memasuki wilayah kampung ini : "The Turkish Village".

Eh, la kok ngelantur….

Anyway, sampai di Lampuuk, kejutan kedua sudah menanti.  Pantainya BANJIR!!.  Di Lampuuk, sebenarnya ada jalan kecil beraspal yang berakhir langsung di hamparan pasir putih pantainya.  Dan di sini kanan jalan itu ada sepetak lahan pasir padat yang biasanya dipakai untuk parkir mobil, terutama mobil-mobil tinggi atau sekalian yang 4WD.  Kali ini, di ujung jalan aspal itu ada …AIR.  Di tempat parkir tidak resmi itu pun…ada AIR.  Tengak-tengok kiri-kanan…we lha…tergenang deh ternyata tempatnya.  Tapi sekitar 2-3 meter dari genangan itu, terbentang pasir putih yang kayaknya setengah basah, mengundang banget untuk jalan-jalan…Oke deh, akhirnya puter balik, belok ke kiri, cari tempat parkir lain, dan dibela-belain jalan ke pantai, gulung celana, tenteng sepatu…yak…ceplak…ceplak…ceplak….mengarungi genangan air… (sambil berusaha mengabaikan pikiran-pikiran "gak penting"…aduh ini tadi pasti udah kecampuk e’e dan pipis sapi…..) 

Akhirnya jadi juga kami jalan-jalan di pasir pantai…Oh ya, kejutan ketiga udah terjadi di parkiran…hehe…karena tripod yang esensial banget untuk bikin foto dalam keadaan gelap, ternyata ketinggalan….hehe…..yah, sudahlah, yang penting maksudnya baik, dan sore itu emang mataharinya cerah banget, jadi ga ada tripod kan ada mata dan hati untuk mengingatnya…ya to…

Gelombang hari itu…huah….guede-guede…. Baru malamnya dan beberapa hari ke depannya kami menyadari bahwa memang mulai hari Kamis, gelombang pasang melanda berbagai daerah yang menimbulkan berbagai kerusakan besar.  Foto-foto…sunset dan sunset lagi…udah nggak terhitung koleksi foto sunset kami, yang sebenarnya kalau diliat-liat kok ya mirip-mirip juga, hehe…tapi rasanya nggak afdol gitu ngeliat sunset, bawa kamera, kok nggak jeprat-jepret… Setelah puas, dan hari udah mulai gelap, kami kembali ke mobil….ciplak…cipluk lagi tentu saja, sambil meraba-raba jalan karena udah nggak seterang waktu datang…dan meluncur ke Joel’s.  Sebuah restoran yang berada di dalam kampung Turki ini.

Joel’s ini terkenal banget di kalangan para expat, karena dia menyediakan pizza a’la Italia yang dimasak di dalam stone oven, alias tungku batu (semen kali ye…), kayak di acara-acara kuliner di TV itu lho… Apa sih bedanya pizza Italia dengan pizza yang biasa kita lihat tuh? Sessy, jelaskan!! hehe…aku dengar-dengar sih, kalau pizza Italia itu tipis, jadi malah agak-agak crunchy gitu, bukan seperti pizza dari Pizza Hut misalnya, yang rotinya tebel.  Enak juga lho pizza tipis.  Berhubung aku orangnya cepet neg, makan pizza tipis lebih nikmat karena bisa bener-bener menikmati toppingnya daripada neg duluan karena ngunyah rotinya, beda aja gitu rasanya. 

Waktu kami sampai di Joel’s…..kejutan kelima!! Mati lampu bo’. Untungnya… aku bawa senter di ranselku…jangan tanya kenapa deh…emoticon (pasti aneh banget ya…) Ga asik karena berarti ga bisa pesen jus, asik karena jadi candle light dinner gitu deh…(meskipun berhubung anginnya kenceng, dan candle-nya mati-mati, diganti pake lampu kapal….emoticon)  Pokoknya suasananya tetep "dapet" deh….

Sudah kenyang makan pizza, minum coke dan es kopi…mmmm….pulang deh….. Met malam, met bobo…makasih ya kejutannya, yang ternyata malah jadi berseri 1-5…..hehe….

 surprise...surprise...

fragments of life, di sini senang di sana senangMay 3, 2007 7:29 pm

salah satu kebahagiaan terbesarku tahun ini adalah membawa Bapak dan keponakanku *aduh, serasa udah tua…jangan salah lho…she’s only 5 years younger than me….emoticon* datang ke Banda Aceh dan sekitarnya….

ada berbagai hal menarik yang terjadi, sejak mereka berangkat dari Semarang, sampai mereka terbang kembali ke sana, yang tak akan mungkin habis diceritakan dalam satu postingan aja…bahkan mungkin gak akan cukup waktuku untuk menulis postingan demi postingan tentang itu…tapi tetep…ada satu hal yang khas….pokoknya…bapakku banget deh….. 

coba lihatlah….mau di mana aja…difoto oleh siapa aja…..

menulis di lhok nga 

 di Pantai Lhok Nga, Aceh Besar

menulis di hotel 

di hotel di Pantai Sumur Tiga, pulau Weh

menulis di nok kilometer 

di titik nol, Pulau Weh

 

Yep, bapakku selalu menulis…dan menulis…dan menulis….

bahkan waktu tertangkap kamera di hotel, rupanya beliau juga sedang melengkapi tulisannya dengan sketsa pantai yang penuh dengan phon kelapa yang melambai-lambai….

tanpa kamera digital ala masa kini, tanpa blog online yang menyebarkan kenangannya ke seluruh dunia maya…bapakku mengandalkan buku catatan kecilnya dan bolpen parker yang tak pernah mengecewakannya, untuk mencatat dan mengenang kembali semua pengalamannya….

pertama kali naik pesawat udara…

pertama kali naik ferry…

pertama kali ke Banda Aceh…

pertama kali menginjakkan kaki di ujung barat negara Indonesia ini…

dan semuanya tertuang dalam buku catatan mungil yang selalu dikantonginya…

ah Bapak….. 

aku senang Bapak mau datang, mengunjungi anak nakalnya yang entah kemana ga bisa lagi kepegang ekornya *terjemahan bebas ekspresi bahasa jawa…rak kecekel buntute….emoticon*

fragments of life, di sini senang di sana senangMay 2, 2007 6:35 pm

a glance of Sabang, too much to be put in words…

but I believe the pics will tell….

besides the fact that Pulau Weh is a famous spot for snorkelling and diving, downtown Sabang is a nice place for a walk in the afternoon, in a way an idyllic place to be…

enjoy…

downtown Sabang

nice pavements with pretty tiles, but careful, don’t slip on it, cos it’s so smooth and clean…

pasar di sabang

market at nap time….oh yeah, i said NAP time…so quiet, and guess what, so CLEAN, oh wow…

taman ria

if the concept of city parks is something quite foreign for most bigger cities in Indonesia, just take a look at the trees and parks in Sabang…so peaceful, and yes, park benches are available, clean ones, with old trees shadding you from the sun…

 

cute building

there are so many Dutch era buildings scaterred in the town, and one effort of modernising, or simply, repainting the old shops results in really an eye-catching photo object…

becak skuter

last but not least, Sabang insists to differ in the choice of public transport.  where other cities in North Sumatra, such as Medan and Banda Aceh, know "becak motor" which are normally drawn by what so called 125cc-male-motorbikes, here most of the "becak"s are drawn by scooters.  Yep, never thought that scooters could really drag such a burden, and speed, on top of that.  And…colorful ones…yes..purple, metalic blue, shocking pink skuters, you name it, they got it.

a glance of Sabang…pretty, little town on the western tip of Indonesia.

Sabang, April 19 - 22, 2007

fragments of life, di sini senang di sana senangApril 26, 2007 7:17 pm

mengintip kota kecil Sabang, kota paling barat di republik ini…..

perempuan dua generasi berbeda menelusuri jalan kota.

berjalan bersama teman, menikmati sore yang segar…

bergegas pulang di atas sepeda motor, mungkin menuju keluarga yang menunggu sebungkus goreng pisang?

perempuan dua generasi, dua dunia yang berbeda…dua jalan dan tujuan….namun bermimpi indah yang sama, tentang dunia dan bangsa yang lebih dan lebih baik lagi..untuk mereka dan anak-anak mereka….

Lokasi: Kota Sabang

Tanggal: 21 April 2007, jam 17.21 WIB

Kamera: Samsung Digimax A502

fragments of life, di sini senang di sana senang, EnglishApril 25, 2007 11:08 am

after the holiday…with my niece and daddy….

trying to return to daily grind of life….phew….still trying to get back…

and life goes on as it is supposed to be…

Banda Aceh, April 25, 2007

fragments of life, di sini senang di sana senangMarch 21, 2007 2:22 pm

Cafe Bohnen [German] in English means "Coffee Beans" is a cool new place to have meals and hang out at the side of Krueng Aceh…riverside view is guaranteed  emoticon

Café Bohnen, atau coffee beans, atawa biji kopi… adalah sebuah restoran yang dibuat berkonsep ruang terbuka.  Sebenarnya sih ruang utama restoran ini adalah sebuah extension dari teras sebuah ruko yang menghadap ke sungai Krueng Aceh (wah, redundant, wong “krueng” itu artinya sudah “sungai”…).  Jadi yang jelas-jelas berdinding adalah bagian belakangnya, dengan pintu terbuka ke arah lantai pertama ruko yang berfungsi sebagai dapur.

Dengan dapur minuman dibuat ala bar *tapi dijamin ga ada alkoholnya…* di bagian luar bangunan, jadi terasa banget ambience “lain” dari tempat ini.  Sang bartender cum pembuat kopi cum kakak kandung manajer restoran bangga banget dengan coffee machine-nya yang memang menghasilkan kopi yang topz!!

Cuma satu hal…sebaiknya bawalah kesana *seperti kemana-mana sih di Banda Aceh* lotion anti nyamuk…  tapi salah satu bukti bahwa resto ini concern dengan kenyamanan pelanggan, to a certain degree, mereka menyediakan berbotol-botol lotion anti nyamuk dengan merek “senior” yang bisa dibawa ke meja masing-masing…

 

Hm…asik juga…  Meskipun konsep resto ini memang ditujukan untuk membidik selera para bule, tetapi harganya tidak terlalu mengerikan… dan mereka berencana memadukan lebih banyak menu bercitarasa  lokal untuk mencoba survive sesudah para bule angkatz kaki…

Oh ya, kenapa namanya berbahasa Jerman… hm…sejujurnya sih, pelanggan setia sejauh ini memang orang Jerman, hehe…karena anggota keluarga dari penanam modal utama (yang berada di…guess where…yak tul, Jakarta!! the city of investors emoticon ) bisnis “keluarga” ini memang bekerja untuk organisasi Jerman di BA.  Tapi di balik itu, dua bapak yang menjalankan resto ini ndilalah lulusan universitas di Jerman, jamannya kuliah di Jerman masih gratis asalkan cas cis cus bahasa Jermannya layaknya orang “pribumi”.  Istri sang manajer cum chef lebih Jerman lagi karena berhutang sebagian DNAnya pada sang mama yang Jerman asli.

Well, ayo main ke BA!!! Kalau “kebetulan” mampir di sana, cari aja daerah namanya Peunayong, deket-deket Simpang Lima…. Asal ga nyasar, pasti ketemu *walah*

See ya…

mouse in the house, di sini senang di sana senang 2:18 pm

some Sundays are simply worth dying for…some are just….memorable…

like being stuck in the mud

Sunday, March 10, 2007
We decided to visit a colleague, well, actually a group of colleagues,building their “beach house” on the East coast of Banda Aceh.  My dear friend decided to take his beloved motorbike, regardless of the fact that the sky was a bit cloudy.
But in the end, that was NOT the problem.

The problem was that the night before we left, Saturday midnight, to be precise hard rain poured over Banda Aceh and the surrounding areas…but you know, before we left, we did not have a clue on whether this would influence out journey or not.  We, actually, it was ME who did not have a clue.

So we had a nice ride…until we got there, around 30 minutes drive from where we live.

And the trouble began when the motorbike had to go through some deep mud.
There was so much mud stuck under the mud guard of the front wheel that it simply stopped turning. Gosh…

The colleagues ended up having to pick us up, and we then had to return with a big plastic can of water and several types of make-shift tools to try to solve the problem.

After a bad case of sunburn for my fair-skinned friend, and the reinforcement of the patterns of my trekking sandals on my feet, we managed to get it free.  So we made a promise to ourselves to go there next time ..if any time, by car, the  precious, cool four wheel drive car that sticks around at the house during weekends.

 

 

And so, we kept our promise.

The following Sunday, armed with a bunch of snack, some bottles of water and the four wheel drive car, three bules and an Indonesian set out for another adventurous journey, though not at the same spot we went to the previous week.  Well, to be honest, it was not really meant to be that adventurous.  But the curious nature of four heads combined got the better of us, and we decided to take a smaller path going out of the main road ,”just to see where it ends up”.

As you might have predicted, it went quite a way.. through the mighty bushes and logging sites *don’t you dare to ask, legal???*

And then, ended up somewhere in the middle of bushy valley, with the path narrowing down until only motorbike can get through.  Well, that was the end of our “adventure” and we had to turn back.

But we did not arrive at that point without going through…guess what, yup, MUD! AGAIN.

Seemed like the road was quite muddy, and the sight of truck going out of the site which originally put us on high spirit (well, that means the road is going somewhere, right?), soon made us realize hat the truck left behind a deep track on the mud that made it more difficult for our car that has a lower chassis to go through.  Oh well…..

So, there we were…Sunday after Sunday…mud holes after mud holes….
Well, that’s what life is for, isn’t it?

Adventures…little bit, one at a time…but adventures still they were.