fragments of life, di sini senang di sana senang, Bahasa IndonesiaNovember 3, 2008 1:22 pm

Lah, emangnya kemarin berapa?

Sampai jam 2 pagi hari Minggu waktu sini (yang adalah jam 1 siang WIB), perbedaan waktunya 11 jam, abis itu, jadi 12 jam.  Bingung?  hehehehe…sama…

Itulah keajaiban dunia dan keputusan manusia yang namanya "Daylight Savings".  Itupun sempat terjadi kebingungan, karena minggu lalu ada yang udah mundurin jamnya 1 jam padahal harusnya baru minggu ini, ada juga beberapa jam digital lama yang otomatis mundur sejam.  weleh…weleh… Eropa juga kayaknya udah mundurin minggu lalu.

Daylight Savings time itu waktunya dimajuin (atau dimundurin, tergantung perspektif masing-masing dah…) 1 jam, selama kalau nggak salah sekitar 4 (atau 5 ya…) bulan, dari akhir musim semi sampai sekitar awal musim gugur. Tujuannya adalah untuk memaksimalkan penggunaan cahaya matahari (karena waktu matahari terbit dan terbenam bisa beda banget gesernya, sejam-an lah…), sehingga menghemat energi, nambah produktivitas, dll. 

Kita di Indonesia sih ga bakalan mengalami, soalnya hampir sepanjang tahun antara gelap dan terang hampir sama panjangnya.

Jadi hari Minggu, 2 November kemarin, dapet bonus tidur 1 jam deh, hehehehe…. 

 

Ann Arbor, 3 November 2008, dini hari. 

fragments of life, di sini senang di sana senang, Basa Jawa, Bahasa IndonesiaSeptember 8, 2008 4:30 am

Akhirnya, aku sampai juga di Ann Arbor, negara bagian Michigan, Amerika Serikat.  Perjalanan yang sangat panjang…. Dimulai tanggal 23 Agt 2008, sudah hampir tengah malam waktu pesawatku terbang menuju Singapura.  Sampai di Singapura, lihat 2 postingan sebelum yang ini ya, hehehehe.

Dari Singapuran subuh-subuh (waktu sana), berangkat ke Narita, Jepang, transit 2 jam-an, terus berangkat lagi ke San Fransisco.  Sampai San Fransisco hari Minggu, 24 Agt 2008, jam 10 kurang 5 menit. Aku bertambah muda setengah hari deh, dalam perjalanan ini.

Photobucket

Di bandara San Fransisco, aku dan dua teman dari Indonesia, plus satu temen dari Filipina yang ternyata satu pesawat dari Jepang, dijemput oleh Language Center Stanford University pake….LIMOUSINE!! Halah, kami semua jadi rada katrok, karena saking gumun…lha kok bisa-bisanya naik limo kayak di film-film itu, hehehe. Tapi kasian juga, mobil keren gitu tapi bagasinya sampe nggak bisa ditutup karena koper 4 orang cewek yang super guedhe-guedhe…sampe dipasangi sabuk khusus, dan bagasinya terbuka gitu sepanjang jalan.

Kami naik limo sampai ke Casa Italiana, di kompleks kampus Stanford yang legendaris.  Di sanalah kami akan ikut orientasi selama 3 hari (diitung 4 hari termasuk cek in dan cek out).  Seru juga.  Bisa jalan-jalan keliling kampus Stanford, yang bangunannya keren-keren.  Aku sekamar dengan Nur, dari Turki, yang cantik dan seksi.

Hari Kamis siang, aku berangkat lagi ke bandara San Fransisco, untuk terbang ke Detroit.  Kalau ga salah sih terbang sekitar 2 jam-an, aku ga begitu mudeng karena aku tidur….hehehehe.  Sampai di Detroit, udah dijemput juga, tapi kali ini sedan aja, hehehe…jadi ga over acting lagi dah…  Tapi tetep aja bingung, karena perbedaan waktu antara San Fransisco dengan Detroit ternyata 3 jam…

Wis jan, jet lag berlapis-lapis deh. Dari Indonesia sudah terlanjur menyesuaikan sama jam San Fransisco, eh, sampai Detroit, terus lanjut ke Ann Arbor, udah beda lagi.  Jadilah malam itu, jam 2 pagi aku masih melek abis…karena jam 2 pagi waktu Ann Arbor berarti jam 11 malam waktu San Fransisco (yang biasanya masih pada online atau ngobrol), dan jam 1 siang Waktu Indonesia Bagian Barat. Halah….

Dimulailah perjalanan panjang ngurus administrasi…. Wis, sekian dulu ya… Ntar tak sambung lagi dengan detil-detil ‘menegangkan’, heheheheh…

Ann Arbor, Minggu, 7 Sept 2008, jam 17.30 (Senin, jam 04.30 pagi WIB)

Perjalanan dalam foto lihat di sini ya….

Di sini juga ada…..

fragments of life, di sini senang di sana senang, Bahasa IndonesiaMay 8, 2008 3:46 pm

kadang-kadang ketika melihat sesuatu  lagi mode, maksudku dalam hal pakaian, kadang bengong, bingung, dan terkaget-kaget…kok aneh-aneh ya….  ada yang maksa, ada yang kurang bahan, ada yang kelebihan…. ada yang gatel mana tahan…. ada yang silir bikin masuk angin… wah, pokoknya macem-macem…

ada juga yang indah, bikin tambah cakep….  tapi kok ada juga yang kayaknya indah, tapi kok malah bikin tambah jelek…hehehehe….mungkin itu yang disebut kormod, alias korban mode. 

tapi jujur saja, bulan Oktober lalu, saat dianugerahi keberuntungan untuk bisa jalan-jalan ke negeri ‘antah berantah’, dan mengintip apa sih yang disebut-sebut sebagai "musim gugur yang indah" itu… tiba-tiba aku kok merasa mengalami "pencerahan" mini.   o alah…ternyata sedikit, mungkin sedikit saja, aku jadi bisa ngerti kenapa sih pakaian di dunia ini beranekaragam macamnya….dan kenapa juga yang namanya "maksa" itu ya tetap langsung terlihat dan terasa, kalau pakaian yang "tidak pada tempat dan musimnya" diadopsi begitu saja… 

————————————- 

musim gugur di Eropa, selain dihiasi keindahan daun-daun merah dan kuning yang menempel di pohonnya maupun yang jatuh berguguran, juga sudah mulai dingin.  sebenarnya sih kalau dari suhu ga dingin-dingin banget, tapiii…..anginnya itu lho, semribit, membuat suhu yang seger jadi semakin bikin merinding.  jalan-jalan di tengah kota…ehem…tepatnya berjingkat-jingkat di tengah kota, karena waktu itu masih pake setengah kruk…. tiba-tiba aku jadi inget satu gank temen SMUku dulu.

jaman SMU dulu, kan model banget tuh, bikin kaos kelas, terus kaos angkatan, terus kaos asrama putri, kaos asrama putra, hehehe…. jaket kelas, jaket angkatan, jaket ekskul…. pokoke bermacam-macam barang yang mungkin jaman sekarang disebut ‘merchandise’ sekolah kali ya. salah satu dari merchandise-merchandise itu dibikin oleh segerombolan teman seangkatanku, cowok-cowok sih seingatku.  mereka membuat jaket khusus untuk gank mereka, hitam, panjang sampai ke mata kaki, dengan bordiran khusus nama-nama mereka ala net nickname (jaman itu internet belum menjamur…hehehe…), kayak m4r-c3l, p4k-dh3…. de el el. 

kami sering menyebutnya sebagai jaket ‘mafia’, hehehe…soalnya tampilannya kayak karakter2 film bersambung tentang Al Pacino di tivi-tivi itu lho… yang walhasil di-ban guru-guru di sekolah, alias ga boleh dipake ke sekolah.  soalnya, meskipun merekanya ga terlalu bandel-bandel, gayanya kalau pas make jaket/mantel itu emang persis kayak mafia, hehehe….jas panjang, kerah diberdirikan (sekarang kayaknya lagi mode ya…), jalan pelan-pelan di lorong sekolah, sambil toss kiri kanan…pokoke "cool man!" 

Photobucket

anyway, autumn di Jerman, kulihatlah berlalu lalang orang-orang dengan barang yang nyaris persis sama dengan ‘jaket mafia’ kawan-kawanku dulu.  tapi bener-bener deh, kali ini, aku ngiri abis.  meskipun aku tahu jaket macam begituan ga akan pernah menjadi flaterring, alias ga bakalan membuat bentuk tubuhku yang cenderung ‘apel’ alias buntel ini menjadi terlihat seksi, tapi asli bo’, demi melawan dingin, kayaknya modis bisa turun peringkatnya. 

pas datang pertama kali, aku langsung mendapat crash course tentang berpakaian di musim gugur, atau dingin.  yang mereka sebut sebagai "onion style".  kenapa begitu? karena prinsip berpakaian itu seperti bawang (bawang merah lho maksudnya…atau bawang bombay lah, soalnya yang mereka sebut sebagai onion itu kan bawang bombay….), artinya berlapis-lapis, terutama untuk atasannya. 

jadi pertama-tama, jelas, pakai daleman (tapi ya, terserah selera ding..hehehehe…). terus pakai kaos, terserah lengan pendek atau panjang, ada juga yang pake dua, kayak gaya jilbab gaul jaman sekarang, ketat lengan panjang di dalam, luarnya kaos lengan pendek. abis itu di atasya lagi, ada yang pakai pullover, alias sweater gitu, atau jaket hangat, biasanya dari bahan fleece.  ada juga yang heboh pake dobel, pullover sama jaket fleece.  baru di atasnya, lapisan terakhir, jaket penahan angin.  jadi kalau copot-copot, misaln bertamu di rumah orang, ya lapis demi lapis gitu deh.  jaket luar, jelas dicopot… terus kalau anget, karena pakai heater, ya pullover atau jaket angetnya dibuka lagi, tapi kalau ruangannya dingin ya dipake aja. 

tapi lapisan-lapisan itu tentu saja tidak menjamin bahwa kaki kita selamat dari angin dingin.  makanya ada yang pake daleman panjang, atau legging, atau hot pants, dan kawan-kawannya.  makanya aku ngiri sama orang-orang yang pake jaket panjang berjuntai-juntai itu, karena paling tidak sampe sedengkul lumayan lah ketutup dari angin…. brrr……

Photobucket

jadi, ngapaian ya orang-orang pake jaket begituan di negara kita tercinta yang tropis abis ini?  hmm… karena kan mereka makenya ga di Puncak dong, gak di Kopeng, atau Bandungan, atau dipuncak Merbabu…yang bener-bener duingin…. kan mereka pakenya di tengah-tengah kota Jakarta, Bandung, Medan….dll… apa jangan-jangan AC dipasang terlalu kencang, jadi kedinginanlah mereka semua itu?hehehehe…. opo tumon…. 

—————— 

pencerahan lain ya pas ke Sana’a itu….sana itu lho… Sana’a…

saking gentar menghadapi negara muslim plus semi padang pasir sisan… aku sudah membekali diri dengan baju-baju longgar lengan panjang, plus matching-matchingin selendang yang ada di lemari.  yup, ternyata sangat berguna.

selain terlihat menghargai budaya setempat…(oke…oke…aku ga sampai sih make abaya ke mana-mana…. tapi paling tidak sopan dan tertutup…), ternyata di sinilah aku merasakan ‘nikmatnya’ berkerudung…hehehe…. bukan untuk alasan-alasan ideologis lho.  tapi asli sumpe…..puanasnya halah…halah….

di sinilah aku merasakan betapa praktis sehelai kain warna-warni berukuran 30 x 120 cm itu…. meskipun topi hasil huntingan muter-muter Citraland sudah ada di tas, tapi memang selendang jauh lebih praktis.  kalau ga panas, pake aja melingkar di leher, nanti begitu panas atau silau, atau berdebu, tarik aja langsung ke atas kepala. sip, teduh deh.  kalau sinar matahari terlalu silau, tarik aja sedikit bagian depannya, lumayan….

Photobucket

di sinilah aku menemukan sebuah ‘pencerahan’, tentang sebuah gaya berbusana, yang kadang dipaksakan, kadang dipakai sebagai pemisah dan pemilah, kadang dipakai sebagai identitas… namun pada tempat dan waktu yang tepat, alangkah membebaskan…. 

Sana’a yang panas, tapi tidak gerah lho…karena terlalu kering, di siang hari, berubah menjadi Sana’a yang, tetap kering, dingin di malam hari, dengan angin yang garang bertiup-tiup di sela-sela bangunan-bangunan tinggi menjulang di kota tuanya yang sudah berumur 2000 tahunan. di kota tua yang menjadi rumah dari sebuah masjid legendaris yang kono sudah berdiri sejak jaman Nabi Muhammad S.A.W, selendang-selendangku tercinta mengambil peran baru sebagai lapisan ekstra di luar blus-blus lengan panjangku.
selain untuk menahan hembusan angin yang lumayan dingin dan semribit…. juga lumayan untuk semakin menyamarkan bentuk tubuh di balik blus itu, hehehe…..

Photobucket

seri pembelajaran pribadi…..  

PS: foto yang terakhir itu bukan sok-sokan bercadar lho ya….tapi ndilalah kok ya salah satu lantai museum yang kami kunjungi itu lagi direnovasi, dilapisi ulang dengan semacam kapur gitu… walhasil, serbuk kapur beterbangan di mana-mana….sekali lagi, long live my ’selendang’…hehehehehe 

Banda Aceh, May 8, 2008 

Serupa tapi tak sama: English version click here….

– counting down the days…. – 

fragments of life, di sini senang di sana senang, Bahasa IndonesiaDecember 11, 2007 12:32 pm

Setelah sedih melihat di koran kalau Kesawan Square yang unik abis ternyata sudah ga ada lagi di Medan, bingung lah kami mencari tempat makan untuk hinggap, hari Sabtu, 8 Desember 2007.

Tadinya ada yang pengen makan di Shushi Tei, yang kabarnya enak banget…tapi berhubung kayaknya rame banget dan pakai reservasi segala…dan aku lagi pengen yang spontan2 aja, tak jadi terwujudlah kepengenan untuk makan sushi…*sorry ya Bos…*

Akhirnya hinggaplah kami di Merdeka Walk, sambil lirak-lirik agak ngeri karena rame abiss….  Dan menclok di Nelayan.  Restoran tenda chinese food.  Seru juga, rame banget, dan beruntung banget, karena pas dateng, pas ada yang cabut… 

Udah ngadepin menu, dan pesen minuman…apa ya, aku kok lupa-lupa ingat…oya, Jus Jeruk Nipis…suedep dah….  Barulah aku sadar bahwa model penyajian di sini lumayan unik.

Memang di menu ada berbagai macam mie, nasi, dim sum (yummy….), kepiting, dll….  Tapi ternyata, selain makanan-makanan seperti nasi goreng, kwe tiau goreng, dan yang semacamnya, kita ga perlu pesan.  Secara berkala para waiters and waitresses puter-puter nawarin berbagai makanan di atas nampan.  Ada yang bawa senampan penuh keranjang-keranjang kecil penuh dengan berbagai dim sum, ada yang bawa piring-piring isi kepiting lunak, ada yang bawa lumpia, gorengan-gorengan….wah, seru….tinggal ambil aja kalau tertarik, dan akan ada orang yang keliling untuk nulis apa aja yang udah kita ambil, terus naruh notanya di meja kita….

Wah, jadi gelap mata, hehehe….emoticon  setelah berminggu-minggu sarapan siomay ayam beku yang dikukus pakai pengukus darurat made in BA, kalap lah ngeliat dim sum "beneran" di depan mata….Walhasil, amblas lah tiga keranjang dim dum (ampir aja jadi empat..), yang masing-masing isi 4 biji, plus dua keranjang ceker ayam saus tiram…asli pedes, tapi uenak….hehe…. Eh, itu dim sum tanggung jawab berdua lho…tapi kalau soal cakar ayam-nya, aku ngaku bersalah deh….abis sejak kutinggalkan Jogja, rasanya susah bener menikmati nikmatnya "ngrikiti" cakar ayam….mungkin di luar angkringan cakar ayam ga elit kali ya, hehe…..

pokoknya mbecak balik ke hotel…puwas….was….was….. emoticon

fragments of life, di sini senang di sana senang, EnglishAugust 14, 2007 8:53 pm

did I say that with one swelling foot I visited the night market of Medan old chinatown? yup…the story will come shortly after, but not so cute snapshots will shortly follow..

gosh, i hope the sole reason why i squeezed in a visit to Medan on that weekend really comes true…to make this bandage, and the X-ray, and the 3 day off work really worth it…(hey, did i tell you that this is my first X-ray, ever? not so cool, hm? first X-ray after more than a quarter of century living, just because of a sprained foot on a *damn* rare long weekend…?)

that’s a lot of "ouch…." and "aua…." and "aduh…." 

 

 

 kaki gendut

big foot monster….(colorful, hm?)

What is interesting is also different ways people "interpret" the causes of the incident…First thing, of course, "Did you fall?"

When I was limping away from the crowd of Medan chinatown, waiting for my photo enthusiast partner to finish clicking his camera, a middle aged guy standing next to me remarked on the fact that I was limping, and asked, "Did you hurt yourself while pratising?"  Slighlty bewildered, I asked, "Practising?" "Yes, karate? tae kwon do? you know, martial arts?" ah….gosh…well, I wish it was that ‘heroic’, but can anyone say that I look like someone who is practising martial arts?? (well, good though, it means those street guys would need to thing twice before buggering me around…emoticon  )

When I was back in BA, guess what…"Did you wear high heels?" Gosh, as if I would ever wear high heels on an outing, and hey..!! I’m not that clumsy anyway with high heels. 

Unfortunately the real version of the incident is far removed from any stoic, heroic or sporty background.  it was even far from being dramatic.  i did not even fall.

nope, nothing in the scene related to stoically trying to draw myself proud and confident up from a puddle on the street, or from a menacing becak that had just knocked me off my balance…NO NO NO…i simply took a wrong step, on an uneven part of the street, and sprained my foot. full stop.  not dramatic. simple. painfull.  was painfull. has been painfull. still painfull.

and feeling stupid and clumsy did nothing to help me feel better. and also being impatient.  I enjoy to be lazy, and not to have the obligation to move around to much…only when it is an optional choice.  When I have to ‘not to move around too much’, when I have to adopt being ‘lazy’, oow…I figured that I did not like it too much. gosh, you never know what you’ve got till it’s *temporarily* gone…how true….(the insident was NOT dramatic, but there’s is nothing to stop me making it a dramatic ‘aftermath’, right emoticon )

so here I am, limping along like an injured cat…oye..oye…. 

Medan, August 10, 2007 - Banda Aceh, August 16, 2007 

fragments of life, di sini senang di sana senang, English 8:46 pm

photos first…my second visit to Kesawan Square, the old chinatown of Medan at night. with swelling foot and pain in my brain, the place is still a pretty sight…of course…

 

 

 >> people enjoying their dinner

 

 >> across from TIP TOP, an antique restaurant where we had our dinner the last time

 

>> an old building in green

 

Medan, August 11, 2007

fragments of life, di sini senang di sana senang, Bahasa IndonesiaJuly 19, 2007 10:34 am

oleh-oleh jalan-jalan di Medan…

kesempatan ke…berapa ya, mampir di Medan..saking jarangnya mampir di Medan, setiap kali ke sana dengan waktu yang lumayan longgar dan keadaan yang fit, selalu menemukan sesuatu yang baru.

this time, aku menganggapnya sebagai birthday gift dari kantor dan my partner…secara ga langsung sih…berhubung bulan Juni kemarin sempat "kena" lembur hari Sabtu-Minggu jadi boleh ambil hari kerja untuk off, dan here we went…long weekend (well, lebih dekat ke long week-beginning)…to Medan.

partnerku adalah orang yang nge-fans banget sama yang namanya guidebooks, things like Lonely Planets, etc.  kali ini, guidebook-nya menunjukkan the old chinatown area, dan khususnya Tjong A Fie mansion, sebagai tempat yang worth visiting.  menilik besarnya populasi orang Cina di Medan, kayaknya ga berlebihan kalau mengharapkan area yang impressive.  but we got more than we expected.

 


jalan A Yani, (yang kami temukan dengan muter-muter gara-gara tukang becaknya salah denger…bilang TIP-TOP dengarnya CIPTO…halah….), ternyata menjadi kejutan tersendiri.

Kesawan Square alias Jl. A Yani, Medan. 

 

 

datang-datang, kami disambut police line, dan jalan yang diblokir…dan orang-orang yang sedang memasang tenda dan kursi-kursi plastik di tengah jalan…ternyata area ini menjadi tempat makan yang buka dari jam 6-an malam.  wah, seru banget deh…berhubung kami datang jam setengah enaman, jadi kami banyakan nonton orang siap-siap.  semakin malam semakin seru, dan ketika kami cabut, habis makan sorbet TIP-TOP yang hmmm….., jam 8-an, the activities were in full swing. (ada stand B*BI yang tulisannya cabang Semarang lho…hehe…sayang ga sempat ambil foto…)

sembari meninggalkan lokasi, ternyata di ujung-ujung jalan itu, satunya dipasang screen besar dan proyektor, yang malam itu menayangkan balapan motor GP, dan di ujung lain, ada LCD besar yang dipakai untuk…karaoke lagu Mandarin!!…

waktu balik dari Medan ke BA, dan ditanya oleh teman kantor expat, di Medan ke mana aja..dan aku jawab ke Chinatown, dia bilang, "wah, saya suka juga ke sana, kalau di sana saya merasa seperti di Singapura…" Berhubung diriku belum pernah ke Singapura, jadi ga bisa bandingin deh…tapi kalau liat lokasi dan bayangin foto-foto tourism about Singapore…kayaknya gambaran yang ga terlalu meleset jauh…

hm…what will the next trip bring??

Central Java, here i come….(back….) 

Banda Aceh, July 19, 2007