Aku suka Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa, mau tahu karena apa? Karena dua-duanya memberikan tempat untuk menjadi akrab tanpa terlalu akrab dan asing tanpa terlalu asing. Ketika sudah berada di sini, baru aku menyadari, betapa asyiknya bisa menyapa orang asing dengan panggilan ‘Mas’, ‘Mbak’, ‘Bang’, ‘Kak’, ‘Pak’ dan ‘Bu’, atau menempelkan sapaan-sapaan itu ke depan nama orang-orang yang kita kenal. Bahkan kita bisa memakai sapaan-sapaan itu untuk orang yang kita kenal dengan baik, maupun orang yang hampir-hampir asing, seperti penjaga toko.
Di sini, sampai saat ini, aku kok belum menemukan sapaan yang setara dengan itu. Walhasil, sampai sekarang, aku cuma pernah mendengar diriku disapa dengan dua cara, namaku saja alias njangkar, dan ‘Madam’. Aduh, rasanya aneh dipanggil begitu. Sopir kantor di Aceh dulu, yang lebih muda dari aku, panggil aku Mbak, sopir yang sekarang, jauh lebih tua, panggil aku ‘Madam’. Pembantu di rumah Aceh malah cuma panggil aku pakai nama, eh, di sini, lagi-lagi, ‘Madam’. Aku kok merasa kayak jadi nyonya besar, hahaha, nggak cocok banget.
Aku juga merasa nggak nyaman memanggil staf kantor, dari Project Manager, sampai sopir dan security hanya dengan nama, aduh… padahal semuanya jauh lebih tua. Mungkin perlu pembelajaran lebih banyak untuk membiasakan diri pada budaya baru, atau, yang lebih jelas, perlu benar-benar belajar bahasa setempat, siapa tahu menemukan kata-kata yang bisa mengobati kegegaranbudayaku. Atau mungkin suatu hari nanti, aku hanya perlu menerima, bahwa bahasa di sini memang jauh lebih egaliter daripada bahasaku, siapa tahu…









