…atau tunangan orang asing, berarti menghadapi pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar menarik, seperti misalnya:
- "Orang tua pasti bangga ya, kamu mau menikah sama bule…"
- "Kamu udah ketemu orang tuanya? Kan orang ****** biasanya rasis."
- "Nanti waktu penyelidikan kanonik, salah satunya ditanyain, apa motivasi menikah. Apa bener-bener karena cinta atau kontrak atau apa. Kan biasa tuh, orang asing kawin sama orang sini untuk bisnis atau apa…"
- "Ketemunya di mana, Bali?" - dengan sebelah alis naik sedikit
- "Wah, bagus ya, nanti anaknya bisa jadi bintang film."
- "Kok bisa sih?"
- "Dapetnya di mana?"
- "Dia nggak laku ya di sana?"
- Dan, serupa tapi dari sumber yang berbeda, komentar yang terakhir ini aku dengar dari mulut seorang pria bule sebelum aku pacaran sama masku yang terakhir ini, dan bahkan waktu itupun aku sudah ternganga mendengarnya, "Cowok bule yang pacaran sama perempuan Asia itu kan ga laku di negaranya, masa sih di sana ga ada cewek."
Reaksi? Senyum aja…sok-sok nggak dengar, hahaha. Tapi yang menarik adalah melihat berbagai jenis ’stereotype’ yang muncul dalam benak orang ketika melihat sesuatu yang menurut mereka tidak biasa - biasanya kita tidak berkomentar banyak kan, ketika melihat hal yang biasa aja?
(Tapi lucu juga terakhir mendengar cerita saudaraku yang sama-sama pergi ke stasiun sama aku dan masku untuk mengantar saudara lain pergi ke Jakarta:
"Mosok to Mbak, tadi di stasiun ada mbak-mbak gitu, rada-rada gemuk gitu deh orangnya. Terus to, dia tu ngeliatin kamu sama masmu gitu. Tadinya to, takkira cuma sekilas aja, ya biasa to… gak taune dia terus ngelirik-ngelirik terus. Dia tu ngeliatin masmu, terus ngeliat kamu… terus ngeliat kamunya dari atas sampe ke bawah gitu lho, mbak… Terus dia liat ke tempat lain, terus nanti curi pandang lagi, ngeliatin kamu lagi gitu, dari atas ke bawah… Aneh banget! Wis arep takparani, meh taktakoni, ‘Kenapa, Mbak, mbak saya cakep ya?’"
Hahaha…. Aku bilang aja, "Mungkin dia terinspirasi, Dek, cewek chubby gitu bisa dapet bule, aku bisa juga kali ya…." hahahaha.)
Menurut kamu, apa sih stereotype yang mendorong munculnya komentar-komentar di atas? Dan apakah kita sendiri sudah ‘bebas’ dari pemikiran-pemikiran semacam itu? Aku sendiri, jujur, belum. Jadi layak dan sepantasnya, aku cuma tersenyum, dan memahami. Meskipun sejatinya, dalam hati menyanyi, "Bule juga manusia…. "









