Sesudah mengalami banyak kemiripan-kemiripan di negara sendiri, kayak yang kuceritain di postingan lebih dari dua tahun lalu, di sini, ternyata sesudah keluar dari negara sendiri, tetep aja ada kejadian-kejadian yang semakin membuktikan bahwa mukaku…. Pasaraaaaan!!!
Selama di Amerika Serikat, banyak orang yang nebak aku orang Filipina. Sering juga di supermarket asia, tahu-tahu ada orang Filipina yang main tanya aja, di mana bisa ketemu sesuatu (itu tebakanku aja sih, hehehe….. habis, tanya apa lagi sih kalau lagi di supermarket…). Tapi itu bisa dipahami, lha wong aku sendiri kadang kalau ngeliat orang Filipina juga kadang ragu-ragu, kira-kira ini orang Indonesia atau bukan, hehe. Cuma karena kadar keberanian dan kepedeanku aja yang kurang, jadi aku nggak pernah asal nyapa gitu aja, hehehe.
Jadi, lama-lama aku santai aja kalau ada orang yang nebak aku orang Filipina. Kirain itu aja, ternyata ada lagi orang yang mikir aku Latina, terus lebih parah lagi India…. terus lebih aneh lagi Indian…. wis jan. Memangnya mukaku itu apanya sih yang bisa masuk ke berbagai benua begini?
Hampir setahun di AS, udah biasa lah dengan berbagai label aneh itu. Kirain waktu kembali ke Asia, kejadian kayak gitu nggak bakalan terulang kembali. Eh, salah dong… hahaha…
Pertama, jalan ke Kuala Lumpur…yah, wajar lah, kalau aku dikira orang Melayu, ya nggak, emang mirip. Tapi kadang-kadang lumayan repot juga kalau diperlakukan seperti orang lokal, dalam beberapa hal rasanya pelayanan lebih oke kalau mereka tahu kita itu turis. Seminggu lidah berlipat-lipat dan telinga keriting mencoba untuk bicara dan memahami bahasa Melayu, aku seneng juga kembali ke Indonesia.
Perjalanan berikutnya membawaku ke Kamboja. So far so good, sebagian besar orang bisa bahasa Inggris lancar. Beberapa kali orang sana mengatakan bahwa mukaku mirip orang Khmer, ah, kuanggap itu sekedar keramahtamahan saja. Tapi ternyata…. hari ketiga di Siem Reap, setelah gosong bolak balik, di salah satu candi terakhir dari rangkaian candi-candi Angkor, tahu-tahu petuga pemeriksa tiket nyerocos dalam bahasa Khmer. Aku pikir dia ngomong sama pedagang asongan, eh, ternyata nggak ada yang nyautin, tengok sana tengok sini, ah, rupanya si bapak teh lagi ngomong sama aku, hahaha. Baru sesudah aku nggak nyaut, dia nanya, "Where are you from?"
Besok paginya, pas mau nyebrang ke Thailand lewat perbatasan Poipet-Aranyaprathet, petugas yang ukur-ukur suhu tubuh, tau-tau tanya, "Laos?" Nah lho…. Kemarin dikira Khmer, hari ini dikira Laos. Hahaha… lagi antre puanjang buanget untuk masuk Thailand, tau-tau aku ditowel petugasnya untuk masuk ke antrean baru. Nah lho, aku jadi bingung, bingungnya…jangan-jangan dia nowel aku karena dia pikir aku orang lokal…lha wong aku disuruhnya masuh ke antrean yang tulisannya jelas-jelas "THAI". Tapi ya udah lah, gila aja, antreannya puanjang abis… yipeee!
Lewat imigrasi, kami naik tuk-tuk (kayak becak motor gitu…) ke stasiun Aranyaprathet untuk naik kereta ke Bangkok. Beli tiket, gampang… Pas naik, kedengeran orang-orang bilang "farang", yang artinya ‘orang asing’. Sip deh, hehehe. Tapi begitu duduk, ada bapak-bapak di dekat tempat duduk kita yang tau-tau nyerocos… baru kita bengong deh. Ternyata dia mau tanya, berapa harga tiketnya, mungkin dia penasaran, kalau orang asing bayarnya sama nggak. Hahaha…akhirnya dia cuma bisa tanya, "how much?", terus senyam senyum aja, hahaha.
7 jam berlalu nyaris tanpa insiden. Begitu ‘mendarat’ di stasiun Hualamphong di Bangkok, keluar cari taksi, ada tukang taksi gelap yang nyerocos nawarin taksinya…pakai bahasa Thai… Lha ya aku bingung ta, baru sesudah aku bilang, "I am not Thai," dia ganti ke bahasa Inggris. hahaha…. Besoknya jalan-jalan di Bangkok, tau-tau disamperin cowok gitu, nanya sesuatu. Lah, itu lebih parah, karena memang cuma ada aku dan temanku di situ. Aku clingak-clinguk aja, terus dia nunjuk-nujuk pergelangan tangannya. O alah, tanya jam…ya aku tunjukin aja jamku, sambil bilang, "I am not Thai." Langsung dia minta maaf bertubi-tubi dalam bahasa Inggris, hahaha.
Yah, begitulah. Nggak di dalam negeri, nggak di luar negeri, ternyata mukaku bisa ditaruh di mana aja..hahaha. Sekali pasaran, teteup…pasaran.
15/08/2009










pasaran kie bahasa ingrise opo yo??
Comment by fathur — August 19, 2009 @ 5:11 pm
hahaha…apa ya bahasa Inggrisnya, tauk tuh…
Comment by teresa — August 19, 2009 @ 5:47 pm
walahh! malah bagus tho, mbak…anggap saja mereka pernah bertemu denganmu di banyak negara….
*ngeyel ben dikiro wes tau muteri bumi*
Comment by neng oCHa — August 19, 2009 @ 11:44 pm
gitu ya, Cha… hahaha, boleh juga tuh…
Comment by teresa — August 20, 2009 @ 6:44 pm