apa salahnya bilang ‘partner’…?
Pertanyaan yang bagus, ya… apa salahnya bilang partner? Nggak ada yang salah sih, tapi di tempat-tempat tertentu, ternyata bisa menimbulkan lirikan mata penuh arti, alis yang terangkat sepersekian millimeter, pertanyaan berputar di kepala orang lain.
Mau tahu?
Salah satu kebiasaanku adalah tidak pernah mengatakan ‘pacar’ alias ‘boyfriend’ ketika berbicara tentang masku. Alasannya simple aja, sejak pertama jalan, dia sempat bilang bahwa ‘we are kind of too old to say boyfriend/girlfriend’, hahahaha. Lucu ya, tapi bener juga sih, jadi kami memang jarang aja menyebut satu sama lain sebagai pacar. Jadi sejak pertama, memang kebiasaan kami menyebut satu sama lain sebagai ‘partner’.
Sekitar setahunan yang lalu, sempat juga sih ada teman dari Jogja yang tanya lewat sms ketika mau ketemuan sama aku dan partnerku, ‘he or she?’, hahaha. Sempat aneh juga ketika menerima sms itu, masa sih nanya gitu, ketika udah kenal aku bertahun-tahun, tapi yah kumaklumi aja.
Tapi ketika berada di US, pertanyaan terus terang gitu sih tidak pernah terlontar langsung, soalnya kalau di sana kan tidak ‘politically correct’, apalagi urusan orientasi seksual memang bukan urusan orang lain. Tapi salah satu persitiwa paling menarik adalah ketika aku ikutan rombongan volunteer ke New Orleans, seminggu runtang-runtung bersama 19 orang lain dari berbagai usia dan latar belakang, meskipun semua disatukan oleh hubungan kami dengan University of Michigan.
Ngobrol punya ngobrol kesana kemari, apalagi naik mobil lebih dari 24 jam dari Ann Arbor ke New Orleans, tentu saja percakapan menyentuh topik-topik pribadi. Setelah beberapa hari bersama, kerja dari pagi sampai sore bersama, makan bersama, jalan-jalan bersama, tak bisa dihindari muncul pembicaraan tentang pasangan.
Dan ketika aku mengatakan, ‘My partner was here for winter break, and we went to Las Vegas and Grand Canyon, it was great,’ tiba-tiba kurasakan Mike, salah satu peserta rombongan termuda yang usianya masih di bawah 21, mendongak kaget. Tanpa bisa menyembunyikan rasa penasaran dan kagetnya, dia jelas-jelas menatap mukaku sambil menaikkan sebelah alisnya. Aku rada bingung, apanya yang salah ya…. Sepanjang perjalanan yang 24 jam itu, kami duduk sebelahan dan udah ngobrol ngalor ngidul, dan dia udah denger kok soal Vegas, lha kok bingung gitu…
Sepersekian detik kemudian, baru aku menyadari, apa kira-kira yang membuat dia kaget.
Langsung saja kuteruskan kalimatku, ‘Unfortunately HE could not stay in Ann Arbor too long, so I could not show him around,’ sambil kulirik Mike penuh arti. Rupanya dia menangkap bahwa ‘klarifikasi’ itu memang kutujukan kepadanya. Dia langsung tertawa lebar, sambil berkata, “Sorry… I was just curious…”
Geli juga sih, tapi mungkin itu juga yang terlintas di kepala beberapa orang yang mungkin tidak terlalu kenal aku dengan baik, dan hanya mendengar aku berbicara tentang “partner”ku. Beberapa orang yang kenal baik sih menganggap kami sedikit ‘modern’ karena memakai istilah tersebut.
Kadang aku penasaran, kira-kira apa ya, yang terlintas di pikiran mereka kalau saja mereka ngobrolin soal pasangan pas aku pakai mitten-ku yang super warna warni….warna pelangi bo’ (dan waktu beli dikomentarin sama teman deketku yang lagi ambil Masters of Social Work…, “the color is so LGBT”…hahaha….). Apa nggak tambah bingung mereka…. hahaha….
Jadi kesimpulannya, kalau suka pernak-pernik warna pelangi, dan suka menyebut pasangan sebagai ‘partner’….ehemm….siap-siap aja deh, untuk menjelaskan, “Maksud loe?”
There is nothing wrong to be LGBT, why not. It is nobody’s business. But it is interesting on what conclusion do people come to through verbal and non-verbal ‘clues’.









