fragments of life, English, Bahasa IndonesiaFebruary 12, 2009 5:24 am

Seperti biasa, aku langsung melotot waktu melihat poster dengan tulisan "Oscar Nominated Short Films - Catch Them While You Can" di Michigan Theater, Ann Arbor.  Dan pengalaman nonton Sundance Short Films Festival, aku yakin yang ini juga sayang untuk dilewatkan. 

Setelah browsing sana-sini, ternyata satu-satunya kesempatan untukku menonton program ini cuma hari Minggu, 8 Februari.  Saking semangatnya, aku maraton nonton dua program sekaligus, hehehe…. sampai digodain sama Katharina, yang janjian nonton sama aku untuk sesi kedua, "See you at 7, that is if your eyes are not square because you stared too long into the screen…"

Anyway, bagian pertama aku nonton Live Action, dengan film-film ini:

Live Action:

• Auf Der Strecke (On the Line) - A department store security guard is secretly infatuated with a clerk in the store’s bookshop. When he witnesses a love rival being attacked on a train, he abandons him. A decision that carries with it devastating consequences. Dir. Reto Caffi - Germany/Switzerland - 30 min.

• New Boy - Based on a Roddy Doyle short story, a young African immigrant struggles to find a place for himself during his first day at an Irish school. Dir. Steph Green - Ireland - 11 min.

• Toyland - Germany 1942. A mother convinces her son that the Jewish neighbors are going on a journey to ‘Toyland’. Dir. Jochen Freydank - Germany - 14 min.

• The Pig - When Asbjorn is admitted to hospital, he finds comfort in a painting of a whimsical pig - until it is removed by the request of another patient. Dirs. Tivi Magnusson and Dorte Høgh - Denmark - 22 min.

• Manon on the Asphalt - What really flashes before your eyes at the end? It’s a lovely spring day and Manon is on her way to a rendezvous with her boyfriend when an unexpected bump in the road makes her see life from an entirely fresh perspective. Dirs. Elizabeth Marre and Olivier Pont - France - 15 min.

 

Hmmm…. kira-kira film-film ini bakalan beredar di Indonesia nggak ya?  Kalau iya, kayaknya postinganku cukup sampai di sini aja, hehehe…ntar malah jadi spoiler…  Tapi kayaknay kemungkinannya tipis ya?  Ya udah deh… kapan-kapan aku tulis lagi tentang cerita beberapa film ini.

Yang jelas, kesanku adalah, semua film ini berakhir - relatively - happy ending.  Beda dengan film-film Sundance yang kadang lebih gelap dan sulit ditebak akhirnya.                  

fragments of life, Bahasa Indonesia 5:18 am

postingan ini yang jelas tidak mau mengungkit kembali polemik tentang lagu "Rasa Sayange" kira-kira setahun yang lalu… tapi setelah kampung halaman jauh di mata, mendengarkan lagu ini dipakai untuk membuka malam pertunjukan kebuadayaan negara tetangga tetap pahit-pahit manis rasanya… menggigit…

setelah hampir satu minggu berlalu, rasanya kurang jujur kalau aku akhirnya tetap tidak menuangkannya dalam bentuk tulisan. tapi bukan untuk menggugat ‘mereka’, tapi untuk menggugat diri sendiri.

kita ngapain aja?????!!!!!!!!

sakitnya sebuah kekecewaan yang bersumber dari rasa ketidakberdayaan, karena bagaimanapun juga harus diakui ‘mereka’ berhasil untuk menjadi lebih terkenal dari ‘kita’. dan ketika aku duduk berjejeran dengan 2 mahasiswa amerika yang belajar bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, dan seorang mahasiswa argentina teman dekatku, menikmati pertunjukan yang senyatanya indah dan jelas dipersiapkan dengan sangat matang dan penuh kerja keras…rasa sakitku tidak cukup membuatku tega untuk menusuk balon kebahagiaan mereka dan berkata, ‘eh, tau nggak sih….’… tapi aku merasa jadi orang yang kalah.  dengan berbisik-bisik akhirnya kukatakan pada teman dekatku, ‘hey, kawan , tahukah kamu lagu itu?’

aku marah. pada diri sendiri…karena lebih penting pertanyaannya…apakah yang sudah kita lakukan untuk melindungi, melestarikan dan mempromosikan budaya kita sendiri? biar semua orang tahu, bahwa ‘harta’ itu punya kita…bukan punya siapa-siapa…

ah…. basi….

Ann Arbor, 7 - 11 Februari 2009 

fragments of life, Bahasa IndonesiaFebruary 7, 2009 9:44 pm

Semester ini aku mulai kesibukan baru sebagai instruktur salsa di kampus.  Jadilah jadwal salsa yang sebelumnya 2 jam per minggu melonjak drastis 3 kali lipat, 4 jam setiap Senin, dan 2 jam setiap Rabu….wah…, hari Senin untuk mengajar dan hari Rabu untuk latihan internal.

Dua Senin pertama rasanya aneh banget.  Minggu pertama, ada kenalan dari semester lalu yang nggak tahu bahwa aku direkrut jadi instruktur bertanya dengan anehnya, kenapa aku nongkrong di level yang sangat rendah, aku jadi nggak enak ‘ngelesnya’, hehehehe.  Karena aku sendiri sebenarnya bingung, kok bisa-bisanya aku direkrut jadi instruktur, padahal banyak orang lain yang sebenarnya jauh lebih bagus.

Hari Senin minggu yang kedua, t-shirt instruktur untuk para instruktur baru udah jadi, dan hari itu pertama kalinya semua instruktur baru pakai seragam itu.  Aku berdiri bersebelahan dengan salah satu murid yang mungkin udah hampir satu tahun lebih ikutan kelompok salsa itu, dan dengan santainya dia bertanya, ‘Eh, kamu kok bisa dapet t-shirt itu?  Kenapa kamu pakai t-shirt begituan?’…. pertanyaan yang cukup menarik, karena logikanya harusnya dia tanya, "Oh, kamu sekarang instruktur ya?" hahahahaha. Mungkin dia mikir nggak mungkin banget anak ini jadi instruktur, jadi pasti ada alasan lain dia pakai seragam instruktur, hahahaha…

Yah, semoga aja tambahan jam ini bikin berat badanku yang naik selama liburan kemarin bisa segera turun lagi :) Dan yang jelas, aku harus konsen ngejar materi karena memang di antara semua rekrutan baru, aku rekrutan yang level belajarnya paling rendah, jadi masih banyak buanget gerakan-gerakan yang instruktur lain udah tahu, aku ngeliat aja belum pernah, hehehehe….

Have a magical winter semester!

Ann Arbor, February 7, 2009

 

MSalsa