wah, rasanya telat banget nulis postingan ini.  tapi mungkin nggak ada salahnya juga dituangkan.

beberapa kali aku ditanyai, bahkan oleh masku sendiri, apa resolusiku tahun ini, tahun 2009. bahkan ketika sambil bercanda dia bilang kalau resolusinya adalah ‘menikah tahun ini’, aku cuma bisa nyengir.  kenapa? apakah karena aku nggak punya rencana, bayangan, angan-angan, atau sekedar nggak punya semangat?  nggak dong. jawaban dari pertanyaan itu ada pada refleksi tahun 2008 yang sudah lewat.

tahun 2008 penuh dengan kejutan, hampir semuanya manis, tapi semuanya sangat, sangat, sangat mengejutkan.

dari tahun yang kuawali dengan kembali ke Banda Aceh untuk meneruskan pekerjaannku di salah satu organisasi internasional, tiba-tiba aku dihadapkan pada pertanyaan pelik, maukah aku mengikuti masku pindah tugas ke sebuah negara antah berantah di Jazirah Arab, yang berarti pula sebuah konsekuensi sosial: menikah.  

ketika akhirnya sampai pada kesimpulan, oke, tiba-tiba muncul berita baru yang memberikan aku sebuah kesempatan sekali seumur hidup untuk menghabiskan waktu selama 9 bulan di AS, sementara kontrak masku sudah ditandatangani untuk berangkat ke Sana’s, Yaman.

dalam waktu 3 bulan, kami memaksakan mempersiapkan diri untuk merenovasi rumah, mempersiapkan kepindahan ke Amerika dan Yaman, pada waktu yang bersamaan.

semuanya serba tak terduga.

di Michigan, aku larut dalam rutinitas baru yang mengasyikkan.  bertemu teman-teman baru, berbagi pengalaman baru.  tadinya aku berangkat dengan bayangan semua akan sedikit mengerikan, tapi ternyata tidak. aku berharap masih punya waktu di luar kegiatan akademis untuk mulai menari lagi (nari apa aja), menulis dan belajar fotografi.

bulan November 2008, satu puisiku ikut terbit dalam majalah sastra kelompok penulis kampus, aku diberi tahu bahwa tahun 2009 aku direkrut sebagai asisten pengajar di klub salsa yang aku ikuti, dan kemampuan fotografiku….NOL BESAR.

jawabanku atas resolusiku tahun 2009, to make the best of things, as always.  karena kehidupan selalu membukakan pintu dan jendela kalau kita membuka indera lebar-lebar, dan selalu tersenyum.  ada banyak hal tak terencana yang terjadi, dan semuanya indah adanya.  ada harapan yang terpenuhi, ada kekecewaan yang harus dihadapi, dan yang jelas akan selalu ada pilihan yang harus diambil.  selalu tersenyum, dan dunia akan menolongmu.

Ann Arbor, 01.23.2009