Pernahkah berpikir seberapa besarnya peranan jurusan atau bidang yang kita pelajari, terhadap cara kita memandang dunia?
Kalau ketemu sama anak jurusan psikologi, yang hobi banget menggolong-golongkan orang berdasarkan karakternya, lalu dengan sibuk menganalisa apakah dia terjebak dalam masa anal yang tak terselesaikan, oral atau apalah, itu sudah pernah…..
Kalau ketemu dengan mahasiswa antropologi, yang selalu tertarik pada orang lain..banyak bertanya tentang keluarga, masalah-masalah sosial, keadilan sosial, konflik antar kelompok etnis…pernah juga.
Ketemu dengan ahli sejarah yang dalam 3 menit pertama langsung bertanya panjang lebar tentang GAM…pernah.
Ketemu dengan ‘ahli’ bahasa Inggris yang selalu membenarkan apa saja yang ditulis atau dikatakan oleh orang lain….pernah juga.
Ketemu guru bahasa Inggris yang ga tega beli kaos di mall gara-gara grammar dan spellingnya sering salah….lha, kalau itu aku sendiri, huahahahaha.
Kalau ketemu dengan mahasiswa ekonomi yang membahas hubungan antar manusia dalam terminologi pasar bebas… nah, itu baru membuat aku shock berat.
Menarik sekali berdiskusi dengan seseorang yang sedang ‘jatuh cinta’ pada ilmu yang dia tekuni, dan memilih untuk memandang dunia melalui kacamata ilmu tersebut. Lebih menarik lagi ketika kemudian pandangan itu di-generalisasi untuk memandang berbagai fenomena di luar ilmu tersebut.
Bayangkan bila terjadi diskusi di mana pertanyaannya adalah: "Bagaimana menurutmu perbedaan budaya dari setiap negara itu akan mempengaruhi kehidupan berkomunitas?"
Dan jawabannya adalah:"Pada dasarnya semua orang sama (sampai sini sih OK, ya kan?), karena kan semua orang pada dasarnya punya kebutuhan yang sama dan mereka adalah konsumen yang membutuhkan jasa dan layanan yang sama. Jadi para ‘merchant’lah yang menyatukan dunia. Jadi saya pikir nilai-nilai itu ga terlalu penting dalam kehidupan komunitas, karena pada dasarnya kita sama, konsumen."
Gubrak…
Hasilnya adalah keheningan. Semua bingung karena dalam diskusi kan tidak ada yang benar dan salah, tapi ini ilmu ekonomi diterapkan dalam sosiologi. Yang memang bisa jadi menjadi pengaruh besar, tapi apa iya bisa diterapkan mentah-mentah begitu.
Aku nggak tahu, apakah ini kaitannya dengan bidang keilmuan saja, atau lebih pada usia dan keadaan "kejatuhcintaan" itu yang membuat orang ini lupa pada ‘dunia’.
Ah, aku berharap dia akan (aduh, kok aku nggak ketemu ungkapannya dalam Bahasa Indonesia ya…, maaf ya….) ‘grow out of it’. Karena sedihnya kalau semua orang dilihat sebagai ‘konsumen’ saja. Apakah hanya konsumerisme yang menyatukan kita, wahai umat manusia?
*Aku berharap aku tidak melihat orang dari kemampuannya berbahasa saja…..huehehehehehe…..*











