pentingnya belajar budaya dalam pembelajaran bahasa.
weit, judulnya agak ‘berat’ nih… tapi berhubung ceritanya masih segar, dan menggelitik banget untuk temen-teman "seprofesi", jadi merasa kudu mesti posting deh…
sekitar dua mingguan yang lalu, seorang teman baikku mendarat di Jogja dengan suaminya yang, kebetulan, seorang londo….hehehe. mereka sudah pesan airport transfer dari sebuah hotel terkemuka, tapi kok ya nggak biasa-biasanya, yang jemput dua orang, satu perempuan dan satunya lagi laki-laki. menurut cerita kawanku itu, biasanya ya cuma satu, bapak-bapak.
anyway, sang bapak segera menyapa si bule suami temanku itu, "Are you alone?" secara temanku itu jalan sedikit di belakang suaminya. suaminya menjawab, "No, I’m with my wife," sambil nunjuk istrinya. Bapak itu tersenyum ramah sambil ngambil koper-kopernya.
sambil jalan menuju mobil, rupanya si mbak penjemput itu merasa perlu beramah tamah sama sang bule. kata temenku yang adalah seorang guru bahasa Inggris, pertanyaan awal sih standard, "How was your trip?", "Is this the first time you are in Jogja?" de el el…. sampai pada saat si mbak itu menatap kawanku dengan tatapan penuh tanya, dan bertanya pada sang bule, "Who is she?"
kata kawanku, dia dan suaminya saking kaget dengan formulasi kalimatnya sampe nggak menjawab beberapa saat, sambil delok-delokan… untung aja cepet nyadar dan si suami menjawab, "This is my wife."
pertanyaan selanjutnya, (ditujukan pada temanku itu…), "What’s your name?" dengan berat hati temanku menjawab, "Reni". (secara di papan nama penjemputan kan ada nama suaminya, kenapa nggak langsung aja bilang, oh Mrs Smith atau gimana gitu….)
dijawab gitu malah mbaknya mengerutkan kening beberapa saat sambil ngeliatin temanku itu, terus nanya, "Oh…are you from Indonesia?" dengan cueknya, temanku mbagus-mbagusin aksennya biar keren, nggak se’keren’ Cincha EL itu sih, hehehehe, sambil menjawab, "Yes, I am from Indonesia."
sambil agak bete, kawanku mempercepat langkahnya, nguntit si bapak yang bawa koper. tapi samar-samar dia mendengar pertanyaan-pertanyaan selanjutnya, yang asli terlarang abisss…
di antaranya:
"How long are you married?"
"Where did you meet?"
dan…eng ing eng….
"HOW MANY CHILDREN DO YOU HAVE?"
inget ya bo’…. perjalanannya cuma antara gerbang kedatangan sampe parkiran mobil….nggak ada 500 meter. terang aja si kawanku itu langsung ngomel abis-abisan dan besoknya langsung curhat sama aku….huahahahahaha…
tapi sambil ketawa, dan nyumbang gondok…, miris juga sih… secara, sebagai guru bahasa Inggris, sedih juga merasakan bahwa ada hal-hal penting yang terlewat begitu saja dalam pelatihan si mbak, dan mungkin, banyak mbak-mbak yang lain….
speaking a language, is not only about "speaking" the language, saying the words properly, and putting the words in a perfect order…. but also speaking within the framework of the culture of the language.
jadi ya prens, intinya nanyain anak itu bukan basa-basi yang baik dan benar, huahahahahaha……. masih untung tu mbak-mbak nggak langsung didamprat, "That is none of your business, Miss."
Hi....I am Die Kleinetheresia. It has nothing to do with I am being small or something...just an alternative interpretation of the origin of my christian name. I am an Indonesian girl who is trying to experience living in different places of Indonesia, enjoying the culture and experience.








that’s why CCU is an important subject and speaking naturally is an important book.
Comment by sesy — June 25, 2008 @ 5:25 pm
Aku jadi inget, setiap ketemu “londo eropa maupun londo africa” aku selalu ditanya (as openibg questions) dari mana berasal? Musim apa? dan berapa poulasi penduduk di kotamu……….. untuk terakhir ini aku selalu gak bisa jawab. Aku coba ingat Semarang, tapi selalu lupa, coba Wonosobo yang lebih kecil juga selalu lupa, tapi kalo aku jawab Indonesia 220. juta mereka koment ah aku udah tau. Hehehe
Comment by bolloth — June 29, 2008 @ 4:49 pm
Ettyyyy…

Arrrgghhh… aku jadi inget geregetannya kalo lagi jalan sama “Mon Cheri” dan belakangan “My Habibi”.. gara-gara perlakuan diskriminatif orang2 Indonesia sendiri. I’m sure you know how it is lah…
Ngga cuma ditanyain “who is she?” tapi juga sederet pertanyaan terlarang itu, yg bikin aku pengen bilang, “none of your business”.
Percaya atau ngga, seringkali yg lebih diskriminatif sama kita2 adalah para perempuan. Mulai dari cuekin kita, ngga perhatiin order kita, prioritasin order dari pacar kita, sok ramah dengan “artificial hospitality”-nya.. dll. dsb…
Gaya bertanyanya ke kita juga keliatan rada sirik, dan seringkali men-judge seolah2 kita ini barang bawaan. Baru setelah kita ngomong, dengan bahasa inggris yang bagus (kalau aku suka jadi show-off bahasa perancis juga..hehehe…), mereka baru ngeh kalo ngga semua cewe yang jalan bareng bule itu brainless!
Trus mereka paling shock kalo pas saat bayar ternyata pake credit card atas nama kita, atau uang dari dompet kita… uuuggghhh…. rasain!
Teman2ku juga punya cerita yang sama…
dan kalo lagi curhat, kita sepakat bahwa ngga cuma ada masalah CCU di sini, tapi juga masalah “mental inlander”. Mental bahwa the bules are the best, atau superior, dan kita ini masih bangsa kelas dua, yang ngga mungkin punya “equal relationship” dengan para bule…
Fiuh…
puas deh curhatnya…
Thanks for raising this issue!
-A-
Comment by asri — July 7, 2008 @ 9:36 pm
@ Sesy: CCU is important, but more important is the teachers who are aware that that is an important component to a language instruction.
@ Bolloth: Weit, la nek londo jerman takon opo wae , Pak? gimana kabarnya Gaby?
@ Asri: welkam home, Jeng. hehehehe…. curhatan standard nih. dengan mein Schatz, kami nebel2in kuping abis, hehe. terus aku suka ngadu pake bahasa Jerman acak adul gitu, terus dia jadi ketus… hehehehe….asiiikkk…dibelain, huehehehehe
Comment by teresa — July 8, 2008 @ 12:58 pm