kadang-kadang ketika melihat sesuatu lagi mode, maksudku dalam hal pakaian, kadang bengong, bingung, dan terkaget-kaget…kok aneh-aneh ya…. ada yang maksa, ada yang kurang bahan, ada yang kelebihan…. ada yang gatel mana tahan…. ada yang silir bikin masuk angin… wah, pokoknya macem-macem…
ada juga yang indah, bikin tambah cakep…. tapi kok ada juga yang kayaknya indah, tapi kok malah bikin tambah jelek…hehehehe….mungkin itu yang disebut kormod, alias korban mode.
tapi jujur saja, bulan Oktober lalu, saat dianugerahi keberuntungan untuk bisa jalan-jalan ke negeri ‘antah berantah’, dan mengintip apa sih yang disebut-sebut sebagai "musim gugur yang indah" itu… tiba-tiba aku kok merasa mengalami "pencerahan" mini. o alah…ternyata sedikit, mungkin sedikit saja, aku jadi bisa ngerti kenapa sih pakaian di dunia ini beranekaragam macamnya….dan kenapa juga yang namanya "maksa" itu ya tetap langsung terlihat dan terasa, kalau pakaian yang "tidak pada tempat dan musimnya" diadopsi begitu saja…
————————————-
musim gugur di Eropa, selain dihiasi keindahan daun-daun merah dan kuning yang menempel di pohonnya maupun yang jatuh berguguran, juga sudah mulai dingin. sebenarnya sih kalau dari suhu ga dingin-dingin banget, tapiii…..anginnya itu lho, semribit, membuat suhu yang seger jadi semakin bikin merinding. jalan-jalan di tengah kota…ehem…tepatnya berjingkat-jingkat di tengah kota, karena waktu itu masih pake setengah kruk…. tiba-tiba aku jadi inget satu gank temen SMUku dulu.
jaman SMU dulu, kan model banget tuh, bikin kaos kelas, terus kaos angkatan, terus kaos asrama putri, kaos asrama putra, hehehe…. jaket kelas, jaket angkatan, jaket ekskul…. pokoke bermacam-macam barang yang mungkin jaman sekarang disebut ‘merchandise’ sekolah kali ya. salah satu dari merchandise-merchandise itu dibikin oleh segerombolan teman seangkatanku, cowok-cowok sih seingatku. mereka membuat jaket khusus untuk gank mereka, hitam, panjang sampai ke mata kaki, dengan bordiran khusus nama-nama mereka ala net nickname (jaman itu internet belum menjamur…hehehe…), kayak m4r-c3l, p4k-dh3…. de el el.
kami sering menyebutnya sebagai jaket ‘mafia’, hehehe…soalnya tampilannya kayak karakter2 film bersambung tentang Al Pacino di tivi-tivi itu lho… yang walhasil di-ban guru-guru di sekolah, alias ga boleh dipake ke sekolah. soalnya, meskipun merekanya ga terlalu bandel-bandel, gayanya kalau pas make jaket/mantel itu emang persis kayak mafia, hehehe….jas panjang, kerah diberdirikan (sekarang kayaknya lagi mode ya…), jalan pelan-pelan di lorong sekolah, sambil toss kiri kanan…pokoke "cool man!"

anyway, autumn di Jerman, kulihatlah berlalu lalang orang-orang dengan barang yang nyaris persis sama dengan ‘jaket mafia’ kawan-kawanku dulu. tapi bener-bener deh, kali ini, aku ngiri abis. meskipun aku tahu jaket macam begituan ga akan pernah menjadi flaterring, alias ga bakalan membuat bentuk tubuhku yang cenderung ‘apel’ alias buntel ini menjadi terlihat seksi, tapi asli bo’, demi melawan dingin, kayaknya modis bisa turun peringkatnya.
pas datang pertama kali, aku langsung mendapat crash course tentang berpakaian di musim gugur, atau dingin. yang mereka sebut sebagai "onion style". kenapa begitu? karena prinsip berpakaian itu seperti bawang (bawang merah lho maksudnya…atau bawang bombay lah, soalnya yang mereka sebut sebagai onion itu kan bawang bombay….), artinya berlapis-lapis, terutama untuk atasannya.
jadi pertama-tama, jelas, pakai daleman (tapi ya, terserah selera ding..hehehehe…). terus pakai kaos, terserah lengan pendek atau panjang, ada juga yang pake dua, kayak gaya jilbab gaul jaman sekarang, ketat lengan panjang di dalam, luarnya kaos lengan pendek. abis itu di atasya lagi, ada yang pakai pullover, alias sweater gitu, atau jaket hangat, biasanya dari bahan fleece. ada juga yang heboh pake dobel, pullover sama jaket fleece. baru di atasnya, lapisan terakhir, jaket penahan angin. jadi kalau copot-copot, misaln bertamu di rumah orang, ya lapis demi lapis gitu deh. jaket luar, jelas dicopot… terus kalau anget, karena pakai heater, ya pullover atau jaket angetnya dibuka lagi, tapi kalau ruangannya dingin ya dipake aja.
tapi lapisan-lapisan itu tentu saja tidak menjamin bahwa kaki kita selamat dari angin dingin. makanya ada yang pake daleman panjang, atau legging, atau hot pants, dan kawan-kawannya. makanya aku ngiri sama orang-orang yang pake jaket panjang berjuntai-juntai itu, karena paling tidak sampe sedengkul lumayan lah ketutup dari angin…. brrr……

jadi, ngapaian ya orang-orang pake jaket begituan di negara kita tercinta yang tropis abis ini? hmm… karena kan mereka makenya ga di Puncak dong, gak di Kopeng, atau Bandungan, atau dipuncak Merbabu…yang bener-bener duingin…. kan mereka pakenya di tengah-tengah kota Jakarta, Bandung, Medan….dll… apa jangan-jangan AC dipasang terlalu kencang, jadi kedinginanlah mereka semua itu?hehehehe…. opo tumon….
——————
pencerahan lain ya pas ke Sana’a itu….sana itu lho… Sana’a…
saking gentar menghadapi negara muslim plus semi padang pasir sisan… aku sudah membekali diri dengan baju-baju longgar lengan panjang, plus matching-matchingin selendang yang ada di lemari. yup, ternyata sangat berguna.
selain terlihat menghargai budaya setempat…(oke…oke…aku ga sampai sih make abaya ke mana-mana…. tapi paling tidak sopan dan tertutup…), ternyata di sinilah aku merasakan ‘nikmatnya’ berkerudung…hehehe…. bukan untuk alasan-alasan ideologis lho. tapi asli sumpe…..puanasnya halah…halah….
di sinilah aku merasakan betapa praktis sehelai kain warna-warni berukuran 30 x 120 cm itu…. meskipun topi hasil huntingan muter-muter Citraland sudah ada di tas, tapi memang selendang jauh lebih praktis. kalau ga panas, pake aja melingkar di leher, nanti begitu panas atau silau, atau berdebu, tarik aja langsung ke atas kepala. sip, teduh deh. kalau sinar matahari terlalu silau, tarik aja sedikit bagian depannya, lumayan….

di sinilah aku menemukan sebuah ‘pencerahan’, tentang sebuah gaya berbusana, yang kadang dipaksakan, kadang dipakai sebagai pemisah dan pemilah, kadang dipakai sebagai identitas… namun pada tempat dan waktu yang tepat, alangkah membebaskan….
Sana’a yang panas, tapi tidak gerah lho…karena terlalu kering, di siang hari, berubah menjadi Sana’a yang, tetap kering, dingin di malam hari, dengan angin yang garang bertiup-tiup di sela-sela bangunan-bangunan tinggi menjulang di kota tuanya yang sudah berumur 2000 tahunan. di kota tua yang menjadi rumah dari sebuah masjid legendaris yang kono sudah berdiri sejak jaman Nabi Muhammad S.A.W, selendang-selendangku tercinta mengambil peran baru sebagai lapisan ekstra di luar blus-blus lengan panjangku.
selain untuk menahan hembusan angin yang lumayan dingin dan semribit…. juga lumayan untuk semakin menyamarkan bentuk tubuh di balik blus itu, hehehe…..

seri pembelajaran pribadi…..
PS: foto yang terakhir itu bukan sok-sokan bercadar lho ya….tapi ndilalah kok ya salah satu lantai museum yang kami kunjungi itu lagi direnovasi, dilapisi ulang dengan semacam kapur gitu… walhasil, serbuk kapur beterbangan di mana-mana….sekali lagi, long live my ’selendang’…hehehehehe
Banda Aceh, May 8, 2008
Serupa tapi tak sama: English version click here….
– counting down the days…. –










foto2nya bagussssssss….jadi pengen..
oia..pake baju pun harus pake hati ya mba..;)
Comment by kian — May 9, 2008 @ 9:06 am
hehehehehehehehe, good idea tuh, pake baju pake hati, setahuku pake baju kan pake kain (ato daun; jadul)
Comment by gembos — May 9, 2008 @ 9:28 am
wahh..oleh2nya bu..???
*nunggu di semarang*
Comment by escoret — May 9, 2008 @ 9:35 am
hrsnya dulu km ikutan beli jaket mafia itu jd bisa di bawa ke jerman ya miss. he he he he
Comment by sesy — May 13, 2008 @ 10:06 pm
bagus mbakyu…
gimana kabar aceh?
Comment by wiwikwae — May 14, 2008 @ 9:27 am