fragments of life, points to ponder, Bahasa IndonesiaMay 30, 2008 11:06 am

masih percaya yang namanya kebetulan?  rasa-rasanya, semakin lama kok semakin aku merasa, bahwa nggak ada hal dalam hidup ini yang kebetulan.  untuk ke-sekian kalinya, ada begitu banyak "kebetulan" yang terjadi hampir berbarengan.

belum ada seminggu yang lalu, aku buka milist dari komunitas ini, yang isinya ngajak untuk bikin kumpulan cerpen.   yah, meskipun sang inisiator diejek-ejek pengen japri de el el, menurutku lucu juga kali, hehehe.  dan berhubung akhir-akhir ini hidupku nggak dramatis-dramatis amat, aku akhirnya menengok ke masa lalu untuk mencari inspirasi.  karena cuma iseng, sedikit ala kadarnya, hehehe.  tapi sedikit banyak, itu menjadi katarsis pengalaman yang sudah mengendap selama dua tahun terakhir ini. 

yang aneh, selama menulis cerita yang pertama, yang jujur aja diinspirasi pengalaman yang kurang menyenangkan… moodku anjlok, drastis, seolah-olah aku terseret kembali ke masa-masa gelap aku harus bergumul dengan segala perasaan itu, hiiii….. ngeri deh.  untung cuma cerpen, kalau novel mesti aku jadi depresi, hehehehe.  tapi positifnya, jadi ada hasil sampingannya nih…hehehe….selain cerpennya. 

tapi aku jadi kaget….

kemarin aku sempat YMan sama temen, dan ternyata oh ternyata…. entah dari mana awalnya, kami jadi membicarakan si tokoh dalam ceritaku itu.  dan, ya ampun….. kisah yang menginspirasi cerpenku itu, ternyata berulang kembali di kehidupan nyatanya!!  ehem…maksudku, sebagian dari kejadiannya…hehehe. semoga saja tidak berakhir sama.

benar-benar aku kaget aja.  kok kebetulan banget ya… kebetulan banget aku baru aja "dipaksa" untuk mengingat dia, dan episode ‘dinas luar kota’ itu.  la kok, tiba-tiba aku dengar dia ‘dinas luar kota’ lagi, halah…. so strange. 

pesan ini, kamu tidak akan pernah membacanya…  dan mungkin, seperti pesan-pesan lain juga, kamu tak kan pernah mengerti apa yang sebenarnya ingin kukatakan, karena seperti katamu, aku itu terlalu njlimet….hehehehe.

"Mas, hadapilah hidup dengan optimisme.  karena hidup itu butuh keberanian, dan semangat yang membara.  seandainya aku masih boleh mendoakanmu, kuharapkan dirimu tidak akan pernah kekurangan ‘api’ itu…..’api’ yang selalu kita debatkan apa maknanya.  ‘api’ yang membuat hidup itu penuh dengan keberanian, dan bukan ketakutan.  beranilah, Mas, karena sesungguhnya jagad raya ini bergerak dengan energi positif. 

Jangan kalah pada ketakutan diri sendiri.  Karena semua hal, itu ada hikmahnya.  Belajar!! Belajar!! dan terus belajar, dari hidup itu sendiri.  Jangan takut, karena kalau kamu percaya Tuhan, Dia tidak akan pernah meninggalkanmu."

fragments of life, English, Bahasa IndonesiaMay 29, 2008 12:51 pm

perasaan yang aneh…..

kala memindahkan pengalaman nyata ke dalam fiksi.

 

berpura-pura, seolah aku dan kamu hanyalah karakter karangan semata

dalam kisah yang mengalir melalui keyboard ini.

 

….. mau lengkapnya ? … klik di sini.

fragments of life, di sini senang di sana senang, Bahasa IndonesiaMay 8, 2008 3:46 pm

kadang-kadang ketika melihat sesuatu  lagi mode, maksudku dalam hal pakaian, kadang bengong, bingung, dan terkaget-kaget…kok aneh-aneh ya….  ada yang maksa, ada yang kurang bahan, ada yang kelebihan…. ada yang gatel mana tahan…. ada yang silir bikin masuk angin… wah, pokoknya macem-macem…

ada juga yang indah, bikin tambah cakep….  tapi kok ada juga yang kayaknya indah, tapi kok malah bikin tambah jelek…hehehehe….mungkin itu yang disebut kormod, alias korban mode. 

tapi jujur saja, bulan Oktober lalu, saat dianugerahi keberuntungan untuk bisa jalan-jalan ke negeri ‘antah berantah’, dan mengintip apa sih yang disebut-sebut sebagai "musim gugur yang indah" itu… tiba-tiba aku kok merasa mengalami "pencerahan" mini.   o alah…ternyata sedikit, mungkin sedikit saja, aku jadi bisa ngerti kenapa sih pakaian di dunia ini beranekaragam macamnya….dan kenapa juga yang namanya "maksa" itu ya tetap langsung terlihat dan terasa, kalau pakaian yang "tidak pada tempat dan musimnya" diadopsi begitu saja… 

————————————- 

musim gugur di Eropa, selain dihiasi keindahan daun-daun merah dan kuning yang menempel di pohonnya maupun yang jatuh berguguran, juga sudah mulai dingin.  sebenarnya sih kalau dari suhu ga dingin-dingin banget, tapiii…..anginnya itu lho, semribit, membuat suhu yang seger jadi semakin bikin merinding.  jalan-jalan di tengah kota…ehem…tepatnya berjingkat-jingkat di tengah kota, karena waktu itu masih pake setengah kruk…. tiba-tiba aku jadi inget satu gank temen SMUku dulu.

jaman SMU dulu, kan model banget tuh, bikin kaos kelas, terus kaos angkatan, terus kaos asrama putri, kaos asrama putra, hehehe…. jaket kelas, jaket angkatan, jaket ekskul…. pokoke bermacam-macam barang yang mungkin jaman sekarang disebut ‘merchandise’ sekolah kali ya. salah satu dari merchandise-merchandise itu dibikin oleh segerombolan teman seangkatanku, cowok-cowok sih seingatku.  mereka membuat jaket khusus untuk gank mereka, hitam, panjang sampai ke mata kaki, dengan bordiran khusus nama-nama mereka ala net nickname (jaman itu internet belum menjamur…hehehe…), kayak m4r-c3l, p4k-dh3…. de el el. 

kami sering menyebutnya sebagai jaket ‘mafia’, hehehe…soalnya tampilannya kayak karakter2 film bersambung tentang Al Pacino di tivi-tivi itu lho… yang walhasil di-ban guru-guru di sekolah, alias ga boleh dipake ke sekolah.  soalnya, meskipun merekanya ga terlalu bandel-bandel, gayanya kalau pas make jaket/mantel itu emang persis kayak mafia, hehehe….jas panjang, kerah diberdirikan (sekarang kayaknya lagi mode ya…), jalan pelan-pelan di lorong sekolah, sambil toss kiri kanan…pokoke "cool man!" 

Photobucket

anyway, autumn di Jerman, kulihatlah berlalu lalang orang-orang dengan barang yang nyaris persis sama dengan ‘jaket mafia’ kawan-kawanku dulu.  tapi bener-bener deh, kali ini, aku ngiri abis.  meskipun aku tahu jaket macam begituan ga akan pernah menjadi flaterring, alias ga bakalan membuat bentuk tubuhku yang cenderung ‘apel’ alias buntel ini menjadi terlihat seksi, tapi asli bo’, demi melawan dingin, kayaknya modis bisa turun peringkatnya. 

pas datang pertama kali, aku langsung mendapat crash course tentang berpakaian di musim gugur, atau dingin.  yang mereka sebut sebagai "onion style".  kenapa begitu? karena prinsip berpakaian itu seperti bawang (bawang merah lho maksudnya…atau bawang bombay lah, soalnya yang mereka sebut sebagai onion itu kan bawang bombay….), artinya berlapis-lapis, terutama untuk atasannya. 

jadi pertama-tama, jelas, pakai daleman (tapi ya, terserah selera ding..hehehehe…). terus pakai kaos, terserah lengan pendek atau panjang, ada juga yang pake dua, kayak gaya jilbab gaul jaman sekarang, ketat lengan panjang di dalam, luarnya kaos lengan pendek. abis itu di atasya lagi, ada yang pakai pullover, alias sweater gitu, atau jaket hangat, biasanya dari bahan fleece.  ada juga yang heboh pake dobel, pullover sama jaket fleece.  baru di atasnya, lapisan terakhir, jaket penahan angin.  jadi kalau copot-copot, misaln bertamu di rumah orang, ya lapis demi lapis gitu deh.  jaket luar, jelas dicopot… terus kalau anget, karena pakai heater, ya pullover atau jaket angetnya dibuka lagi, tapi kalau ruangannya dingin ya dipake aja. 

tapi lapisan-lapisan itu tentu saja tidak menjamin bahwa kaki kita selamat dari angin dingin.  makanya ada yang pake daleman panjang, atau legging, atau hot pants, dan kawan-kawannya.  makanya aku ngiri sama orang-orang yang pake jaket panjang berjuntai-juntai itu, karena paling tidak sampe sedengkul lumayan lah ketutup dari angin…. brrr……

Photobucket

jadi, ngapaian ya orang-orang pake jaket begituan di negara kita tercinta yang tropis abis ini?  hmm… karena kan mereka makenya ga di Puncak dong, gak di Kopeng, atau Bandungan, atau dipuncak Merbabu…yang bener-bener duingin…. kan mereka pakenya di tengah-tengah kota Jakarta, Bandung, Medan….dll… apa jangan-jangan AC dipasang terlalu kencang, jadi kedinginanlah mereka semua itu?hehehehe…. opo tumon…. 

—————— 

pencerahan lain ya pas ke Sana’a itu….sana itu lho… Sana’a…

saking gentar menghadapi negara muslim plus semi padang pasir sisan… aku sudah membekali diri dengan baju-baju longgar lengan panjang, plus matching-matchingin selendang yang ada di lemari.  yup, ternyata sangat berguna.

selain terlihat menghargai budaya setempat…(oke…oke…aku ga sampai sih make abaya ke mana-mana…. tapi paling tidak sopan dan tertutup…), ternyata di sinilah aku merasakan ‘nikmatnya’ berkerudung…hehehe…. bukan untuk alasan-alasan ideologis lho.  tapi asli sumpe…..puanasnya halah…halah….

di sinilah aku merasakan betapa praktis sehelai kain warna-warni berukuran 30 x 120 cm itu…. meskipun topi hasil huntingan muter-muter Citraland sudah ada di tas, tapi memang selendang jauh lebih praktis.  kalau ga panas, pake aja melingkar di leher, nanti begitu panas atau silau, atau berdebu, tarik aja langsung ke atas kepala. sip, teduh deh.  kalau sinar matahari terlalu silau, tarik aja sedikit bagian depannya, lumayan….

Photobucket

di sinilah aku menemukan sebuah ‘pencerahan’, tentang sebuah gaya berbusana, yang kadang dipaksakan, kadang dipakai sebagai pemisah dan pemilah, kadang dipakai sebagai identitas… namun pada tempat dan waktu yang tepat, alangkah membebaskan…. 

Sana’a yang panas, tapi tidak gerah lho…karena terlalu kering, di siang hari, berubah menjadi Sana’a yang, tetap kering, dingin di malam hari, dengan angin yang garang bertiup-tiup di sela-sela bangunan-bangunan tinggi menjulang di kota tuanya yang sudah berumur 2000 tahunan. di kota tua yang menjadi rumah dari sebuah masjid legendaris yang kono sudah berdiri sejak jaman Nabi Muhammad S.A.W, selendang-selendangku tercinta mengambil peran baru sebagai lapisan ekstra di luar blus-blus lengan panjangku.
selain untuk menahan hembusan angin yang lumayan dingin dan semribit…. juga lumayan untuk semakin menyamarkan bentuk tubuh di balik blus itu, hehehe…..

Photobucket

seri pembelajaran pribadi…..  

PS: foto yang terakhir itu bukan sok-sokan bercadar lho ya….tapi ndilalah kok ya salah satu lantai museum yang kami kunjungi itu lagi direnovasi, dilapisi ulang dengan semacam kapur gitu… walhasil, serbuk kapur beterbangan di mana-mana….sekali lagi, long live my ’selendang’…hehehehehe 

Banda Aceh, May 8, 2008 

Serupa tapi tak sama: English version click here….

– counting down the days…. – 

fragments of life, Bahasa IndonesiaMay 5, 2008 5:43 pm

akhirnya….meskipun nggak bisa langsung posting foto di blog ini, semoga masih punya waktu untuk klik ke sini dan ke sini ya….

kunjungan yang diawali dengan penerbangan acak adul di tanggal 18 April 2008, akhirnya diakhiri dengan pendaratan pada tanggal 25 April 2008, tengah malam, 10 jam terlambat dari jadwal awal.

tapi untuk penerbangan pulang, kami cukup beruntung karena sempat ditelepon bahwa penerbangan yang sedianya berangkat tanggal 24 April pukul 21.00 waktu setempat, ditunda menjadi pukul 06.00 esok harinya, waktu setempat, dan kami harus standby jam 4 pagi…(!!) di airport.  beruntung karena berarti ga harus cengok di airport semaleman, dan dapat bonus waktu untuk bisa jalan-jalan lagi di Sana’a Old City.  walhasil, kami berangkat dari rumah tumpangan kami jam 3 pagi, sampai di airport jam 3.20, hanya untuk menemukan bahwa pesawat kami….delay 1 jam lagi…alias berangkat jam 7 waktu setempat…

satu demi satu pesawat berangkat….dan dengan tidak adanya sistem loudspeaker (sepertinya…) karena boarding hanya ditandai dengan teriakan-teriakan ‘Riyadh…Socotra….Ryan….Dubai!!’…betul-betul priceless moment ketika salah seorang petugas mendekati kami yang notabene sudah nongkrong lebih dari setengah jam, dan tak juga beranjak, dengan muka penuh tanya mengulang kata, "Socotra?", kami respon dengan gelengan. "Dubai?", geleng juga….  Menanggapi alisnya yang naik sekian milimeter, kami menjawab, "Jakarta."  wah, pokoke, priceless banget deh ekspresi di mukanya. antara shock, bengong, kasihan, campur aduk jadi satu, dan sekilas aku melihat dia sedikit ‘gedhek-gedhek’ ketika berlalu.  ya iya lah…secara udah tongkrong di airport jam 3 lewat, untuk penerbangan jam 7 dengan maskapai yang udah terkenal jago telatnya….kabar-kabarnya tak satupun pesawat dari maskapai ini pernah on time (he, sounds familiar…hehehehehe….).

tapi tetep, dasar wong jowo…kami tetap merasa beruntung….(maksudnya, separo dari kami, yang jowo ini…) coba bayangkan…(merem dulu juga boleh, tapi ntar dibuka lagi, kalau nggak, ya nggak bisa baca terusannya to yo…)

pesawat ini adalah pesawat tujuan Jakarta, dengan transit di Dubai.  perjalanan ke Dubai kira-kira 2,5 jam lah, terus lanjutannya ke jakarta 8 jam.  oya, mungkin perlu diketahui dulu kalau di Yaman, weekend itu bukan Sabtu - Minggu, tapi Kamis-Jumat, jadi kami berangkat seharusnya hari Kamis malam, yang kalau di kita itu seperti mudik hari Sabtu sore gitu…bingung ya…pokoke gitu lah. jadi demi untuk penerbangan weekend ke Dubai yang cuma 2,5 jam itu, delay-nya 10 jam lebih…resminya, belum lagi delay di sana sini gara pesawat belum selesai dibersihkan dll…kalau gitu kan namanya rugi bandar…ya to. la kalau kami kan ‘cucuk’, apa ya bahasa Indonesianya…setimpal gitu…penerbangan total 12-13 jam, delay 10 jam kan ga papa….hehehehe…..

pulang sepesawat dengan pahlawan-pahlawan devisa (seperti banner yang dipasang gede-gede di bandara Soekarno-Hatta…) memang pengalaman tersendiri.  penerbangan yang biasanya sepi dengan ditingkahi suara ngorok di sana sini dan flush toilet, kali ini betul-betul heboh dengan celotehan masing -masing tentang majikan, kampung halaman, anak, suami….wis, pokoke ruame.  ibaratnya kalau naik bis, itu bukan kayak naik bis patas, tapi naik bis rombongan darmawisata…

lessons learned: kalau biaya ada, waktu ada, jangan pergi ke Timur Tengah pakai pesawat dengan kode IY…makan ati…..hehehehehe… ("sayangnya"…sebenarnya selain harganya paling miring untuk Jakarta-Sana’a p.p., sebenarnya IY ini juga yang koneksinya paling bagus…wis jan…..tapi emang semua harus pakai kompromi…)

back to Banda Aceh, May 5, 2008