nah, sekarang aku baru ingat…hehe…emoticon

kenapa tadinya aku pengen nulis soal ‘mantan’..ternyata oh ternyata..gara-gara postingan yang ada di blog itu, aku sempet diskusi sama temen kantor tentang mantan-mantan kami.  kenapa begitu, ya karena buntut obrolan bahwa sebuah partnership itu minimal perlu memiliki dasar yang sama, mau dibawa ke mana sih…  dan akibat ketidaksepakatan tersebut lah…akhirnya jadi punya mantan deh….

hehe….biasa kan merembet…jadi seru deh pembicaraannya… karena si beliau itu barusan putus, hehe..jadi masih seger deh peristiwanya…

jadi, ketika seseorang menjadi "mantan", apakah dia berhenti menjadi mantan saja? tutup buku?

bagiku sendiri sih, putus dengan seseorang itu bukan berarti bahwa dia bukan orang baik.  bukan berarti aku bukan orang baik.  kebetulan sih sejauh ini, dari hubungan yang pernah terjadi, aku beruntung dapet orang-orang yang baik. mantan-mantan itu orangnya baik-baik, hanya ga cocok untuk aku.  tentunya mereka juga pernah mencoba menjalani sebuah hubungan sama aku juga karena ada sesuatu yang baik yang mereka lihat dalam diriku.  jadi, apakah ketika sudah putus, si mantan itu kemudian berubah menjadi monster?  ga kan?

kualitas-kualitas yang ada dalam dirinya mungkin masih sama.  mungkin malah semakin terlihat harganya ketika sudah ada jarak yang membuat kita jadi lebih obyektif. dan sebagai seorang pribadi, tinggal kita aja menilai kembali, apa aku masih tertarik untuk berteman dengan seseorang yang punya pribadi dan kualitas seperti ini?

ini adalah salah satu pandangan yang membawa perdebatan panjang dengan salah seorang ‘mantan’.  beliau ga terima kalau aku masih berteman dengan mantan yang lain karena dia menganggap bahwa rasa ya rasa..yang ada di situ ya ada terus…mantan ya mantan, titik. 

bagiku, aku sudah berhenti melihat seseorang itu sebagai seorang mantan.  karena dia seseorang yang begitu berkualitas yang layak untuk diberi tempat dalam hidupku sebagai kawan, kenapa tidak?  kenapa aku harus tidak menghargai kualitas seseorang dalam kapasitas yang lain, hanya karena kami pernah memilih untuk menempuh suatu jalan yang akhirnya berbeda arah?  dan buktinya, semuanya baik-baik saja.  salah satu kualitas yang paling aku hargai dari persahabatan kami adalah bahwa kami sama-sama mampu kembali berteman.  teman saja. titik.

Pelajaran yang bisa dipetik:  insecurity, alias rasa tidak aman, adalah sebuah racun dalam sebuah hubungan. 

kalau diri sendiri merasa tidak percaya diri dan tidak aman, apapun yang dilakukan orang lain tidak akan bisa mengubah apa yang kita rasakan, apa yang kita percayai.  sembuhkan diri sendiri.  percaya pada diri sendiri, dan biarkanlah kepercayaan itu mengalir ke dalam kehangatan hubungan itu. ubahlah perspektif, danpercayalah bahwa menjadi lebih positif itu sangat membebaskan.  bebaskanlah dirimu, dan yang kaucintai itu.

dan apabila memang ternyata bukan ini jalannya, sepakatlah untuk tidak sepakat…sepakatlah bahwa memang ternyata kita tidak sepakat mengenai ke mana kita harus melangkah, atau apakah kita bisa melangkah bersama…

berikan tepukan hangat di punggung, dan ambillah jalan indah terbentang di hadapan…dan berikan harapan terbaik untuknya juga…

bukankah sebagai sebuah pribadi….kita masing-masing ini BAIK?