fragments of life, points to ponderFebruary 1, 2008 5:27 pm

nah, sekarang aku baru ingat…hehe…emoticon

kenapa tadinya aku pengen nulis soal ‘mantan’..ternyata oh ternyata..gara-gara postingan yang ada di blog itu, aku sempet diskusi sama temen kantor tentang mantan-mantan kami.  kenapa begitu, ya karena buntut obrolan bahwa sebuah partnership itu minimal perlu memiliki dasar yang sama, mau dibawa ke mana sih…  dan akibat ketidaksepakatan tersebut lah…akhirnya jadi punya mantan deh….

hehe….biasa kan merembet…jadi seru deh pembicaraannya… karena si beliau itu barusan putus, hehe..jadi masih seger deh peristiwanya…

jadi, ketika seseorang menjadi "mantan", apakah dia berhenti menjadi mantan saja? tutup buku?

bagiku sendiri sih, putus dengan seseorang itu bukan berarti bahwa dia bukan orang baik.  bukan berarti aku bukan orang baik.  kebetulan sih sejauh ini, dari hubungan yang pernah terjadi, aku beruntung dapet orang-orang yang baik. mantan-mantan itu orangnya baik-baik, hanya ga cocok untuk aku.  tentunya mereka juga pernah mencoba menjalani sebuah hubungan sama aku juga karena ada sesuatu yang baik yang mereka lihat dalam diriku.  jadi, apakah ketika sudah putus, si mantan itu kemudian berubah menjadi monster?  ga kan?

kualitas-kualitas yang ada dalam dirinya mungkin masih sama.  mungkin malah semakin terlihat harganya ketika sudah ada jarak yang membuat kita jadi lebih obyektif. dan sebagai seorang pribadi, tinggal kita aja menilai kembali, apa aku masih tertarik untuk berteman dengan seseorang yang punya pribadi dan kualitas seperti ini?

ini adalah salah satu pandangan yang membawa perdebatan panjang dengan salah seorang ‘mantan’.  beliau ga terima kalau aku masih berteman dengan mantan yang lain karena dia menganggap bahwa rasa ya rasa..yang ada di situ ya ada terus…mantan ya mantan, titik. 

bagiku, aku sudah berhenti melihat seseorang itu sebagai seorang mantan.  karena dia seseorang yang begitu berkualitas yang layak untuk diberi tempat dalam hidupku sebagai kawan, kenapa tidak?  kenapa aku harus tidak menghargai kualitas seseorang dalam kapasitas yang lain, hanya karena kami pernah memilih untuk menempuh suatu jalan yang akhirnya berbeda arah?  dan buktinya, semuanya baik-baik saja.  salah satu kualitas yang paling aku hargai dari persahabatan kami adalah bahwa kami sama-sama mampu kembali berteman.  teman saja. titik.

Pelajaran yang bisa dipetik:  insecurity, alias rasa tidak aman, adalah sebuah racun dalam sebuah hubungan. 

kalau diri sendiri merasa tidak percaya diri dan tidak aman, apapun yang dilakukan orang lain tidak akan bisa mengubah apa yang kita rasakan, apa yang kita percayai.  sembuhkan diri sendiri.  percaya pada diri sendiri, dan biarkanlah kepercayaan itu mengalir ke dalam kehangatan hubungan itu. ubahlah perspektif, danpercayalah bahwa menjadi lebih positif itu sangat membebaskan.  bebaskanlah dirimu, dan yang kaucintai itu.

dan apabila memang ternyata bukan ini jalannya, sepakatlah untuk tidak sepakat…sepakatlah bahwa memang ternyata kita tidak sepakat mengenai ke mana kita harus melangkah, atau apakah kita bisa melangkah bersama…

berikan tepukan hangat di punggung, dan ambillah jalan indah terbentang di hadapan…dan berikan harapan terbaik untuknya juga…

bukankah sebagai sebuah pribadi….kita masing-masing ini BAIK?    

fragments of life, points to ponder, English, Basa Jawa, Bahasa Indonesia 12:10 pm

kok tiba-tiba aku pengen bicara soal mantan ya…aneh kan?

tapi bukan hal yang pribadi-pribadi kok, hehe….jadi bagi yang merasa mantanku (halah…emoticon), jangan ngerasa gimana-gimana ya…hehe…

sebenarnya apa sih yang membuat sebuah hubungan itu tidak berhasil?  dan apakah ketika hubungan itu sudah ’selesai’, ‘tutup buku’ atau apalah itu judulnya, "selesai" jugakah eksistensi sang ‘mantan’ di dunia masing-masing?

kayaknya aku kepancing sama salah satu postingannya Jeng ini (eh, Jeng, jangan diambil hati ya…ini sama-sama curhat wae acaranya…emoticon) yang berbicara tentang relationship. yang menarik untuk aku adalah bahwa ada satu kalimat yang dikutip dari bibir sang kekasih yang bisa aja menimbulkan salah paham gede-gedean gitu… 

"kalau nanti di sana kamu ga suka, kamu bisa pulang aja…" kira-kira gitu deh statement-nya…

nah, ini bisa jadi positif bisa jadi negatif kan…

kalau orang lagi sensi, pasti interpretasinya, "Halah, ngusir nih?" atau, "Emangnya kamu ga mau pertahankan aku?" Nah lho…hayo ngaku, para cewek…eh cowok juga ding…pasti ada masa-masanya kalimat-kalimat kayak gini jadi litani sehari-hari…

kalau orang sabar dan serba positive thinking, mungkin akan menginterpretasikannya sebagai: "waduh, pengertian banget ya…kok boleh ya aku pulang gitu aja…"

tapi apa yang kupelajari sampai sejauh ini adalah pentingnya suatu pasangan untuk berada pada halaman yang sama….(halah, wagu…kalau diterjemahkan ya… maksudku itu lho, English expression yang bunyinya ‘on the same page’…).  yah, ibarat baca buku, yang satu baru sampai perkenalan tokoh, satunya sudah baca sampai tokohnya pergi ke Cina sesudah India, Thailand, dll.  la kalau tiba-tiba ngobrol, "eh, gila ya…di novel itu Taj Mahal kayaknya keren abis.." ya nggak nyambung lah yaw….

sama juga dengan yang namanya relationship.  kalau satu pihak pikirannya sudah kemana-mana, yang satunya ga sepakat, kan ga jalan…  ada baiknya keduanya ’sepakat’ sebenarnya kita mau ke mana, dan commit dengan itu.  artinya, letakkanlah kepercayaan dan komitmen pada proporsi yang tepat.

kalau misalnya nih…misalnya lho ya… sudah memikirkan untuk menikah.  yang namanya pernikahan itu kan nilainya beda-beda untuk tiap orang. jadi persepsi itupun, harus dibicarakan dulu.

seperti banyak dibilang oleh para selebritis, terutama yang baru jadian atau rumah tangganya belum tidak mengalami gonjang-ganjing…yang penting adalah kepercayaan.  kalau untuk aku sih, tetep bukan kepercayaan buta, tapi kepercayaan yang ada pada porsinya.  tapi minimal banget, kepercayaan bahwa si dia tetap mengusahakan yang terbaik untuk kita berdua, dan bahwa pada dasarnya, maksudnya itu baik.  dan terbukalah tentang apa yang kita rasakan…

misalnya nih..sekali lagi misalnya lho ya…  kalau seseorang yang kita harapkan berkata, "la nek arep mulih yo mulih wae to…"

bisa jadi kita langsung tersinggung, ‘la berarti kita tak bisa dipertahankan lagi’ emoticon atau… ‘wah, dirimu tidak memperjuangkan diriku’…emoticon….meskipun siapa tau bener….hehe…emoticon becanda..becanda…

tapi bisa juga kan kita mengartikannya sebagai…’dia pengertian banget dengan pengorbananku’…emoticon..atau siapa tahu kalimatnya ada buntutnya….’mulih wae, ning aku meluuuuuw’….emoticon

tapi kalau kita percaya bahwa memang tujuannya sama…kenapa harus negative thinking? kalau perlu, tanya aja langsung…

dan kalau berada dalam sebuah hubungan di mana negative thinking meraja, atau, bertanyapun tak bisa….is it really the time to think about marriage at all?  then maybe the relationship has not reached that stage yet.

eh, la kok kayaknya malah ga ada hubungannya sama mantan ya…huehehehe…emoticon…jadi malu…aku malah jadi penasaran, sebenernya kenapa ya aku mbukanya tadi tentang mantan…halah…kalau gitu kucari dulu ah…

pareng….