fragments of life, EnglishFebruary 28, 2008 6:23 pm

What kind of questions do you get when people find out that you have an expat partner?

Here are some real life examples:

——————————— 

Person A :  “How old is he?”

Me  : “ xx years old.”

Person A :  “What?!!  In that age he must have slept with plenty of girls already!! What are you doing with such a guy…aren’t you disgusted??” 

Me  :  emoticon  emoticon

———————————————— 

Person B : “So, are you married?”

Me (partly for the sake of convenience…):  “Yes.”

Person B :  “Is he a ‘bule’?”

Me  : “Yes.”

Person B :  “How did you get him?”

Me (slightly surprised with her choice of words, get – for goodness sake…emoticon) : “Hm, I didn’t get him, he got me.”

Person B :  “Oh, do you think he couldn’t find anyone in his own country? Nggak laku?” ( I can’t really translate this part, because men and women are essentially not for sale, and there is only one in stock anyway…can I say ‘he didn’t manage to sell himself out??’ emoticon)

Me : “What the hell???!!!” emoticon emoticon  (of course I didn’t say it out loud….)

————————————-

Person C :  “Oh, where is your husband?  He doesn’t come with you today?”

Me :  “Oh, no.  He’s out of the country, visiting his parents.”

Person C : “Is he coming back?”

Me : (he?? If he’s my husband, he’d better be coming back… )emoticon emoticon

———————————————————
Person D :  making gesture toward the Man, one single word, “Husband?”

Me :  “Yes.”

Person D : “Must be great, huh, married to a bule,” with a meaningful smirk on his face.

Me : trying hard to be nonchalant, “It’s okay, he’s just an ordinary man.” emoticon

————————————————————–

Gosh…from stereotypical to sick humor remarks and questions….I wonder what other people might ask…or might be asked…

The bule happens to be a very sweet, responsible, a bit conservative regarding that point that Person A was trying to make, by the way.  And we are having a good time.  Just like any other partnership.

 

Photo credit: www.fotosearch.com 

fragments of life, mouse in the house, Bahasa IndonesiaFebruary 19, 2008 3:32 pm

Aku kok tiba-tiba inget dengan cerita satu ini ya…entah dari mana asalnya, mungkin karena kebanyakan browsing foto-foto binatang yang lucu-lucu (lumayan, bisa ngilangin stress…..sorry ya guys, gue masih pada tahap tertarik sama foto bayi binatang, belum sampe bayi manusia….hueheheh….). Anyway, jadi inget pengalaman aneh bin agak ngeselin waktu main ke Frankfurt pertengahan Oktober tahun lalu.

Ceritanya aku dan MP (alias my partner) mampir ke Frankfurt, ke rumah salah satu sohibnya dari jaman kuliah dulu. Namanya juga mampir, kami cuma nginep semalam di situ. Berhubung si teman baik itu baru aja pindah ke apartemen baru, ceritanya juga diisi dengan penasaran gitu… gimana apartemen barunya, soalnya dari e-mail kayaknya keren abis. Walhasil dari stasiun kereta bawah tanah jadilah kami menyeret-nyeret koper yang guede. Berhubung waktu itu salah satu onderdilku masih dalam masa perbaikan,  jadilah jalan pelan-pelan. Karena injury time itu jugalah kami cuma bawa satu koper, tapi gede dan koper logam gitu…pokoke kalau di Indonesia semua bellboy yang angkat tu koper wajib dapet tip lebih gede dah..hehe…

Tengak-tengok kiri kanan, ternyata oh ternyata, gedung apartemen itu ada di ujung lain dari jalan itu, alias kami harus jalan sampe hampir ke ujung baru deh nomornya mulai mendekati alamat yang dituju. Kayaknya memang daerah itu daerah residential gitu, jadi kiri kanan emang isinya bangunan apartemen yang rata-rata tingginya 3-4 lantai (ga termasuk basement lho ya…)

Pas udah hampir sampai di gedung si teman, MP langsung nunjuk ke salah satu jendela bangunan di seberang jalan, sambil ketawa. “Wah, itu pasti apartemennya!!” baru abis itu dia nyadar jendela yang ditunjuk itu di mana, “Wah, di lantai 3, kamu bisa nggak?” Yah…bisa ga bisa deh… tapi aku penasaran, kok dia bisa nebak yang itu apartemen temannya, kan dia belum tahu tepatnya?

Ternyata setelah kuliat juga ke jendela yang dimaksud…. ada seekor kucing nongkrong di atas tumpukan kardus-kardus…. Nongkrong aja gitu si kucing, sambil ngeliat ke luar jendela yang belum ada kordennya. Yak tul, ternyata itu tandanya. Kata MP, ”Dia tu suka banget sama kucing, dan punya dua kucing, dan kan dia baru pindahan, jadi pasti banyak kardus yang belum dibongkar. Jadi, cocok kan?” Iya juga ya…

Host unlimited photos at slide.com for FREE!

Setelah berjuang mendaki 3 lantai…ternyata, apartemennya emang keren abis…lantainya kayu dan ornamen di pintu, dll…asik punya… Dan ternyata betul juga, bahwa tu kucing emang nangkring di atas kardus, tapi tau nggak, kardusnya nangkring di atas lemari!! Ya ampyun deh.. Yang keliatan dari jalan sih emang kardus sama kucingnya doang… Dan ternyata juga, di situlah jatah kami nginep, di atas sofa yang bisa dibuka-buka… Ngobrol punya ngobrol, makan, ndengerin musik, ngopi segala macem, tibalah saat untuk say good night. Si teman ini dengan setengah becanda bilang, ”Tenang aja deh, kali ini kucingku ga bakalan pipis-pipis lagi deh…”

He?? Ternyata sekitar 1-2 tahun lalu, waktu MP mampir ke apartemen mereka yang lama, bantalnya pernah dipipisin sama si kucing itu. Aku cuma ingat satu aja namanya Minu, satunya siapa ya…aku kok lupa…Soalnya si Minu itu caper buanget…lari ke sana ke mari, manjat-manjat jendela, nabrak kursi…pokoke kucing yang hiperaktif… Gitu deh, pokoknya dengan wanti-wanti bahwa kamar mandi luar yang ada di seberang kamar tidur pintunya dibuka dikit kalau malam (soalnya toilet kucingnya ada di situ, biar mereka bisa keluar masuk gitu…), dan sekali lagi meyakinkan bahwa ga akan ada kejadian aneh-aneh lagi…masuklah kali ke kamar masing-masing. Udah cuapek buanget…rasanya cuma pengen tewas. Tapi harus tepuk sini tepuk sana bersihin bulu kucing yang nempel di mana-mana.

Si MP mau ambil sesuatu di kopernya, tiba-tiba dia tanya, ”Kok kopernya basah ya? Emang kamu naruh apa?”

”Basah? Aku kan ga bawa minuman di situ… botolnya ada di ransel kok…”

”Iya juga ya… Wah…JANGAN-JANGAN…..” dengan penuh rasa was-was ditempelkannya ujung jari ke idung…..”Scheiße!! Koperku dipipisin!!!!…..lagi….”

Waduh…..terpaksa malam itu kami dia (aku tewas…) nglembur abis ngelapin semua barang di dalam koper pakai tissue basah dan kering…buku, majalah, (untung pakaian dimasukin ke tas-tas plastik…), sepatu, CD, DVD…..halah….

Paginya si empunya kucing shock abis ketika diceritain…. Soalnya 2 tahun lalu kan alasannya, mungkin karena mereka masih kecil, nah sekarang udah gede kok teteup…. Sekarang sih pembelaannya…mungkin mereka (kucingnya, maksudku…) pikir itu toiletnya yang baru…(yo’i coy…ceritanya mereka baru aja dibeliin toilet baru, jadi mungkin belum apal bentuk toilet yang barunya gimana…plis deh…) Tapi ternyata yang dipipisin berulang ya cuma si MP, selama ini ga ada kejadian mereka pipis sembarangan gitu….

Hehehe……mungkin si kucing pengen menandai si MP kali ya….atau jangan-jangan merekanya marah karena si MP mungkin selalu tidur di tempat biasanya mereka tidur….hehehe….jadi balas dendam dah….

Host unlimited photos at slide.com for FREE!

Pokoke ampun deh….ga tau lesson learnt-nya apa…

never to bring a suitcase that looks like cat’s toilet…atau…

never enter a cat’s territory without your things sealed in individual plastic bags and some highly useful packages of wet tissue…   

fragments of life, points to ponderFebruary 1, 2008 5:27 pm

nah, sekarang aku baru ingat…hehe…emoticon

kenapa tadinya aku pengen nulis soal ‘mantan’..ternyata oh ternyata..gara-gara postingan yang ada di blog itu, aku sempet diskusi sama temen kantor tentang mantan-mantan kami.  kenapa begitu, ya karena buntut obrolan bahwa sebuah partnership itu minimal perlu memiliki dasar yang sama, mau dibawa ke mana sih…  dan akibat ketidaksepakatan tersebut lah…akhirnya jadi punya mantan deh….

hehe….biasa kan merembet…jadi seru deh pembicaraannya… karena si beliau itu barusan putus, hehe..jadi masih seger deh peristiwanya…

jadi, ketika seseorang menjadi "mantan", apakah dia berhenti menjadi mantan saja? tutup buku?

bagiku sendiri sih, putus dengan seseorang itu bukan berarti bahwa dia bukan orang baik.  bukan berarti aku bukan orang baik.  kebetulan sih sejauh ini, dari hubungan yang pernah terjadi, aku beruntung dapet orang-orang yang baik. mantan-mantan itu orangnya baik-baik, hanya ga cocok untuk aku.  tentunya mereka juga pernah mencoba menjalani sebuah hubungan sama aku juga karena ada sesuatu yang baik yang mereka lihat dalam diriku.  jadi, apakah ketika sudah putus, si mantan itu kemudian berubah menjadi monster?  ga kan?

kualitas-kualitas yang ada dalam dirinya mungkin masih sama.  mungkin malah semakin terlihat harganya ketika sudah ada jarak yang membuat kita jadi lebih obyektif. dan sebagai seorang pribadi, tinggal kita aja menilai kembali, apa aku masih tertarik untuk berteman dengan seseorang yang punya pribadi dan kualitas seperti ini?

ini adalah salah satu pandangan yang membawa perdebatan panjang dengan salah seorang ‘mantan’.  beliau ga terima kalau aku masih berteman dengan mantan yang lain karena dia menganggap bahwa rasa ya rasa..yang ada di situ ya ada terus…mantan ya mantan, titik. 

bagiku, aku sudah berhenti melihat seseorang itu sebagai seorang mantan.  karena dia seseorang yang begitu berkualitas yang layak untuk diberi tempat dalam hidupku sebagai kawan, kenapa tidak?  kenapa aku harus tidak menghargai kualitas seseorang dalam kapasitas yang lain, hanya karena kami pernah memilih untuk menempuh suatu jalan yang akhirnya berbeda arah?  dan buktinya, semuanya baik-baik saja.  salah satu kualitas yang paling aku hargai dari persahabatan kami adalah bahwa kami sama-sama mampu kembali berteman.  teman saja. titik.

Pelajaran yang bisa dipetik:  insecurity, alias rasa tidak aman, adalah sebuah racun dalam sebuah hubungan. 

kalau diri sendiri merasa tidak percaya diri dan tidak aman, apapun yang dilakukan orang lain tidak akan bisa mengubah apa yang kita rasakan, apa yang kita percayai.  sembuhkan diri sendiri.  percaya pada diri sendiri, dan biarkanlah kepercayaan itu mengalir ke dalam kehangatan hubungan itu. ubahlah perspektif, danpercayalah bahwa menjadi lebih positif itu sangat membebaskan.  bebaskanlah dirimu, dan yang kaucintai itu.

dan apabila memang ternyata bukan ini jalannya, sepakatlah untuk tidak sepakat…sepakatlah bahwa memang ternyata kita tidak sepakat mengenai ke mana kita harus melangkah, atau apakah kita bisa melangkah bersama…

berikan tepukan hangat di punggung, dan ambillah jalan indah terbentang di hadapan…dan berikan harapan terbaik untuknya juga…

bukankah sebagai sebuah pribadi….kita masing-masing ini BAIK?    

fragments of life, points to ponder, English, Boso Jowo, Bahasa Indonesia 12:10 pm

kok tiba-tiba aku pengen bicara soal mantan ya…aneh kan?

tapi bukan hal yang pribadi-pribadi kok, hehe….jadi bagi yang merasa mantanku (halah…emoticon), jangan ngerasa gimana-gimana ya…hehe…

sebenarnya apa sih yang membuat sebuah hubungan itu tidak berhasil?  dan apakah ketika hubungan itu sudah ’selesai’, ‘tutup buku’ atau apalah itu judulnya, "selesai" jugakah eksistensi sang ‘mantan’ di dunia masing-masing?

kayaknya aku kepancing sama salah satu postingannya Jeng ini (eh, Jeng, jangan diambil hati ya…ini sama-sama curhat wae acaranya…emoticon) yang berbicara tentang relationship. yang menarik untuk aku adalah bahwa ada satu kalimat yang dikutip dari bibir sang kekasih yang bisa aja menimbulkan salah paham gede-gedean gitu… 

"kalau nanti di sana kamu ga suka, kamu bisa pulang aja…" kira-kira gitu deh statement-nya…

nah, ini bisa jadi positif bisa jadi negatif kan…

kalau orang lagi sensi, pasti interpretasinya, "Halah, ngusir nih?" atau, "Emangnya kamu ga mau pertahankan aku?" Nah lho…hayo ngaku, para cewek…eh cowok juga ding…pasti ada masa-masanya kalimat-kalimat kayak gini jadi litani sehari-hari…

kalau orang sabar dan serba positive thinking, mungkin akan menginterpretasikannya sebagai: "waduh, pengertian banget ya…kok boleh ya aku pulang gitu aja…"

tapi apa yang kupelajari sampai sejauh ini adalah pentingnya suatu pasangan untuk berada pada halaman yang sama….(halah, wagu…kalau diterjemahkan ya… maksudku itu lho, English expression yang bunyinya ‘on the same page’…).  yah, ibarat baca buku, yang satu baru sampai perkenalan tokoh, satunya sudah baca sampai tokohnya pergi ke Cina sesudah India, Thailand, dll.  la kalau tiba-tiba ngobrol, "eh, gila ya…di novel itu Taj Mahal kayaknya keren abis.." ya nggak nyambung lah yaw….

sama juga dengan yang namanya relationship.  kalau satu pihak pikirannya sudah kemana-mana, yang satunya ga sepakat, kan ga jalan…  ada baiknya keduanya ’sepakat’ sebenarnya kita mau ke mana, dan commit dengan itu.  artinya, letakkanlah kepercayaan dan komitmen pada proporsi yang tepat.

kalau misalnya nih…misalnya lho ya… sudah memikirkan untuk menikah.  yang namanya pernikahan itu kan nilainya beda-beda untuk tiap orang. jadi persepsi itupun, harus dibicarakan dulu.

seperti banyak dibilang oleh para selebritis, terutama yang baru jadian atau rumah tangganya belum tidak mengalami gonjang-ganjing…yang penting adalah kepercayaan.  kalau untuk aku sih, tetep bukan kepercayaan buta, tapi kepercayaan yang ada pada porsinya.  tapi minimal banget, kepercayaan bahwa si dia tetap mengusahakan yang terbaik untuk kita berdua, dan bahwa pada dasarnya, maksudnya itu baik.  dan terbukalah tentang apa yang kita rasakan…

misalnya nih..sekali lagi misalnya lho ya…  kalau seseorang yang kita harapkan berkata, "la nek arep mulih yo mulih wae to…"

bisa jadi kita langsung tersinggung, ‘la berarti kita tak bisa dipertahankan lagi’ emoticon atau… ‘wah, dirimu tidak memperjuangkan diriku’…emoticon….meskipun siapa tau bener….hehe…emoticon becanda..becanda…

tapi bisa juga kan kita mengartikannya sebagai…’dia pengertian banget dengan pengorbananku’…emoticon..atau siapa tahu kalimatnya ada buntutnya….’mulih wae, ning aku meluuuuuw’….emoticon

tapi kalau kita percaya bahwa memang tujuannya sama…kenapa harus negative thinking? kalau perlu, tanya aja langsung…

dan kalau berada dalam sebuah hubungan di mana negative thinking meraja, atau, bertanyapun tak bisa….is it really the time to think about marriage at all?  then maybe the relationship has not reached that stage yet.

eh, la kok kayaknya malah ga ada hubungannya sama mantan ya…huehehehe…emoticon…jadi malu…aku malah jadi penasaran, sebenernya kenapa ya aku mbukanya tadi tentang mantan…halah…kalau gitu kucari dulu ah…

pareng….