Hari Senin yang lalu akhirnya kesampaian juga ikutan nonton film di Europe House, Banda Aceh. Judulnya "Polleke".
Polleke nih ceritanya nama seorang gadis kecil umur 11 di Belanda, yang "yang-yangan" sama cowok apartemen sebelah, temen sekelas lagi…namanya…waduh, aku lupa-lupa ingat, kalau ga salah "Minouh", atau mirip-mirip gitu deh. Film ini mengangkat masalah "perbedaan" di antara mereka. Polleke cewek berkulit putih, hasil hubungan luar nikah, tinggal bersama ibunya saja, tapi sayang banget sama bokapnya yang sayangnya masih ngedrug… Sementara Minouh, adalah anak keturunan Maroko, bokapnya pemilik toko karpet…hehe…stereotip bangets ya….
Tadinya semuanya asik-asik aja…lucunya ABG yang kirim-kiriman surat lewat kabel jemuran, itu lho..yang bisa ditarik-ulur kayak di komik-komik BOBO, hehe….sampai datang paman Minouh asli dari Maroko yang mulai protes sana sini ngeliat mereka berduaan, dan ujung-ujungnya, ternyata mau ngejodohin Minouh sama anaknya yang….cantik, hehe… (kalau jelek kan ga seru ya filmnya…)
Lucu juga, romansa dan kecemburuan anak "kecil", makhluk-makhluk muda yang sok serius dan fatalis… bener-bener kayak lagu dangdut, dunia serasa milik berdua ajah
… Kemarahan, pengkhianatan, putus, patah hati, harapan… yah…miniatur telenovela dah…
Dalam pergulatan dengan "cinta", Polleke akhirnya membantu bapaknya untuk sembuh, menghabiskan liburannya di sebuah panti rehabilitasi, di mana dalam 20 menit pertama, bapaknya jatuh cinta sama salah satu pengurus di sana…hehe….(anehnya, Polleke yang serius-serius aneh itu, bokap nyokapnya gampang banget jatuh cinta…)
It was a sweet movie. Dialognya dalam bahasa Belanda, dengan English subtitle. Tapi ada beberapa bagian, terutama ketika dalam konteks keluarga Minouh, digunakan juga bahasa Arab. Nah, salah satu bagian percampuran bahasa inilah yang membuat aku sadar bahwa selera humor orang itu memang lain-lain….
Ceritanya, di akhir cerita, setelah melewati berbagai perjuangan, akhirnya Polleke dan Minouh boleh "bersatu"…(symbolized in a dance in her mother’s wedding). Sesudah pesta berakhir, duduklah mereka berduaan sambil menatap langit penuh bintang, dan dengan sepenuh hati Minouh menyanyikan sebuah lagu tentang anak perempuan gembala dalam bahasa Arab.
Kamera close up, intense banget scene-nya…English subtitle jalan terus…. Eyes locking, subtle smile on the lips…pokoke romantis abizzz….(ya ampyun, kok ya ceritanya tentang anak umur 12-an…hehe…)
Ketika Minouh selesai menyanyi, Polleke tersenyum dan bertanya, "Lagu itu tentang apa?" (kira-kira gitu deh ngomongnya…bahasa Belanda aku ga ngerti…)
Untukku itu adalah moment yang so sweet….karena pesan dari lagu itu terpancar total dari tatapan mata, senyuman, dan moment itu sendiri secara keseluruhan, dan bahwa meskipun Polleke ga paham kata-katanya, suasananya tetep romantis abiss….
And you know what happened? Most of the Indonesian audience broke into laughter…ketika mendengar pertanyaan Polleke, "Lagu itu tentang apa?" Aku jadi bingung, lucunya di mana ya…
For me it is difficult to see what is funny when meaning transcends words, and emotion transcends languages… And Polleke did not need to know what the song was all about, she knew what the message was… But she was just curious…curious of the song about a farmer girl to whom he would give his heart and soul, and will long for for the rest of his life…. But a scene that would make me cry
, actually made people laugh out loud…
*sigh* aku kali ya yang sense of humor-nya aneh…hehe….akhirnya tetep ketawa-ketawa…ketawa bingung tepatnya….hehehe…..
PS: semoga malam ini ga tewas, dan bisa nonton lagi..malam terakhir…. semoga…semoga…badanku ga ambruk gara-gara harus bangun jam 3 pagi ini…gosh, catching the first flight can be really annoying…









