sebenarnya sih ceritanya agak basi gitu, tapi berhubung kesibukan *cie..* baru sempat nulis sekarang…sebuah kejutan di akhir pekan, yang akhirnya memang cukup mengejutkan 
pada suatu hari Jumat kecepit, dua minggu yang lalu, yak, the famous "kecepit" day of May 18, 2007, ada seseorang yang tumben-tumbennya bisa secara pribadi menjemputku pulang kerja kala matahari masih gagah bersinar di angkasa Banda Aceh…(berhubung beliaunya termasuk yang bisa ikutan cuti bersama, sementara diriku nggak..
…) Saat mobil keluar dari kompleks kantor, dia segera mengusulkan supaya kami langsung pergi ke pantai…Wah!! benar-benar sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya… bisa pulang kantor sebelum gelap aja udah untung banget, eh, mana sempat pergi ke pantai segala…kok ngoyo woro….Anyway, that was so sweet of him to come up with the idea, dan untung juga hari itu aku nge-jeans dan t-shirt ke kantor, jadi…TANCAP GAS!!!
Jarak kantorku dari pantai sih kira-kira cuma 30 menit-an, jalan normal jalan raya biasa. Jadi memang sebenarnya nggak terlalu susah mencapai pantai di sini. Seperti biasa kami menuju ke pantai Lampuuk, sekitar 3 kilometer dari pabrik semen Andalas, dan berada berdampingan dengan The Turkish Village. Kenapa disebut sebagai Turkish Village? (ada plang-nya lho ..jadi ini bukan cuma julukan….) Wilayah ini merupakan wilayah yang paling parah terkena tsunami…lha iya, wong di pinggir laut puersis…sampai waktu itu masjid yang berdiri di kampung ini menjadi icon di berita-berita internasional karena sering banget muncul. Gimana nggak, satu-satunya bangunan yang tegak berdiri (meskipun rompal-rompal dindingnya, de el el…) ya masjid ini..semua yang lain rata-ta-ta-ta…foto dari udara hanya keliatan bongkahan putih-abu-abu (bukan seragam SMA lho..) dari bekas tembok-tembok bangunan lain. Rehabilitasi dan rekonstruksi kampung ini dikerjakan dengan bantuan Pemerintah Turki, karena itulah terpampang gede-gede sebuah plang waktu memasuki wilayah kampung ini : "The Turkish Village".
Eh, la kok ngelantur….
Anyway, sampai di Lampuuk, kejutan kedua sudah menanti. Pantainya BANJIR!!. Di Lampuuk, sebenarnya ada jalan kecil beraspal yang berakhir langsung di hamparan pasir putih pantainya. Dan di sini kanan jalan itu ada sepetak lahan pasir padat yang biasanya dipakai untuk parkir mobil, terutama mobil-mobil tinggi atau sekalian yang 4WD. Kali ini, di ujung jalan aspal itu ada …AIR. Di tempat parkir tidak resmi itu pun…ada AIR. Tengak-tengok kiri-kanan…we lha…tergenang deh ternyata tempatnya. Tapi sekitar 2-3 meter dari genangan itu, terbentang pasir putih yang kayaknya setengah basah, mengundang banget untuk jalan-jalan…Oke deh, akhirnya puter balik, belok ke kiri, cari tempat parkir lain, dan dibela-belain jalan ke pantai, gulung celana, tenteng sepatu…yak…ceplak…ceplak…ceplak….mengarungi genangan air… (sambil berusaha mengabaikan pikiran-pikiran "gak penting"…aduh ini tadi pasti udah kecampuk e’e dan pipis sapi…..)
Akhirnya jadi juga kami jalan-jalan di pasir pantai…Oh ya, kejutan ketiga udah terjadi di parkiran…hehe…karena tripod yang esensial banget untuk bikin foto dalam keadaan gelap, ternyata ketinggalan….hehe…..yah, sudahlah, yang penting maksudnya baik, dan sore itu emang mataharinya cerah banget, jadi ga ada tripod kan ada mata dan hati untuk mengingatnya…ya to…
Gelombang hari itu…huah….guede-guede…. Baru malamnya dan beberapa hari ke depannya kami menyadari bahwa memang mulai hari Kamis, gelombang pasang melanda berbagai daerah yang menimbulkan berbagai kerusakan besar. Foto-foto…sunset dan sunset lagi…udah nggak terhitung koleksi foto sunset kami, yang sebenarnya kalau diliat-liat kok ya mirip-mirip juga, hehe…tapi rasanya nggak afdol gitu ngeliat sunset, bawa kamera, kok nggak jeprat-jepret… Setelah puas, dan hari udah mulai gelap, kami kembali ke mobil….ciplak…cipluk lagi tentu saja, sambil meraba-raba jalan karena udah nggak seterang waktu datang…dan meluncur ke Joel’s. Sebuah restoran yang berada di dalam kampung Turki ini.
Joel’s ini terkenal banget di kalangan para expat, karena dia menyediakan pizza a’la Italia yang dimasak di dalam stone oven, alias tungku batu (semen kali ye…), kayak di acara-acara kuliner di TV itu lho… Apa sih bedanya pizza Italia dengan pizza yang biasa kita lihat tuh? Sessy, jelaskan!! hehe…aku dengar-dengar sih, kalau pizza Italia itu tipis, jadi malah agak-agak crunchy gitu, bukan seperti pizza dari Pizza Hut misalnya, yang rotinya tebel. Enak juga lho pizza tipis. Berhubung aku orangnya cepet neg, makan pizza tipis lebih nikmat karena bisa bener-bener menikmati toppingnya daripada neg duluan karena ngunyah rotinya, beda aja gitu rasanya.
Waktu kami sampai di Joel’s…..kejutan kelima!! Mati lampu bo’. Untungnya… aku bawa senter di ranselku…jangan tanya kenapa deh…
(pasti aneh banget ya…) Ga asik karena berarti ga bisa pesen jus, asik karena jadi candle light dinner gitu deh…(meskipun berhubung anginnya kenceng, dan candle-nya mati-mati, diganti pake lampu kapal….
) Pokoknya suasananya tetep "dapet" deh….
Sudah kenyang makan pizza, minum coke dan es kopi…mmmm….pulang deh….. Met malam, met bobo…makasih ya kejutannya, yang ternyata malah jadi berseri 1-5…..hehe….
