fragments of life, mouse in the houseMay 26, 2007 12:23 pm

When you think about breathtaking sunsets…your mind would automatically fly to sights of beaches, lakes..any body of water…or mountain peaks…Wonderful grandeur spots on earth which offer great scenery…

But here, in Banda Aceh, great sunsets are literally on your doorstep…well, maybe more, on your window sills emoticon  Could you imagine living in a house almost at the city center, and not one normal city it is being the capital city of a vast province called NAD, and to be able to look out of your window and gasps,"Look at the sky!"

That’s what happened to us.  Almost each time when we werelucky enough to catch the last glimpse of sunrays, we would be entertained with various rays of light in different colours dancing across the Banda Aceh sky.  And last Thursday, we ran up the stairs and came out on to the terrace, well…not really a balcony….and our jaws dropped to see the blood-red sky there, just right there, from our terrace…

WOW……WOW….WOW…….

terrace sunset    

mouse in the house, di sini senang di sana senang 12:13 pm

sebenarnya sih ceritanya agak basi gitu, tapi berhubung kesibukan *cie..* baru sempat nulis sekarang…sebuah kejutan di akhir pekan, yang akhirnya memang cukup mengejutkan emoticon

pada suatu hari Jumat kecepit, dua minggu yang lalu, yak, the famous "kecepit" day of May 18, 2007, ada seseorang yang tumben-tumbennya bisa secara pribadi menjemputku pulang kerja kala matahari masih gagah bersinar di angkasa Banda Aceh…(berhubung beliaunya termasuk yang bisa ikutan cuti bersama, sementara diriku nggak.. emoticon…) Saat mobil keluar dari kompleks kantor, dia segera mengusulkan supaya kami langsung pergi ke pantai…Wah!! benar-benar sesuatu yang belum pernah kami lakukan sebelumnya… bisa pulang kantor sebelum gelap aja udah untung banget, eh, mana sempat pergi ke pantai segala…kok ngoyo woro….Anyway, that was so sweet of him to come up with the idea, dan untung juga hari itu aku nge-jeans dan t-shirt ke kantor, jadi…TANCAP GAS!!!

Jarak kantorku dari pantai sih kira-kira cuma 30 menit-an, jalan normal jalan raya biasa.  Jadi memang sebenarnya nggak terlalu susah mencapai pantai di sini.  Seperti biasa kami menuju ke pantai Lampuuk, sekitar 3 kilometer dari pabrik semen Andalas, dan berada berdampingan dengan The Turkish Village.  Kenapa disebut sebagai Turkish Village? (ada plang-nya lho ..jadi ini bukan cuma julukan….) Wilayah ini merupakan wilayah yang paling parah terkena tsunami…lha iya, wong di pinggir laut puersis…sampai waktu itu masjid yang berdiri di kampung ini menjadi icon di berita-berita internasional karena sering banget muncul.  Gimana nggak, satu-satunya bangunan yang tegak berdiri (meskipun rompal-rompal dindingnya, de el el…) ya masjid ini..semua yang lain rata-ta-ta-ta…foto dari udara hanya keliatan bongkahan putih-abu-abu (bukan seragam SMA lho..) dari bekas tembok-tembok bangunan lain. Rehabilitasi dan rekonstruksi kampung ini dikerjakan dengan bantuan Pemerintah Turki, karena itulah terpampang gede-gede sebuah plang waktu memasuki wilayah kampung ini : "The Turkish Village".

Eh, la kok ngelantur….

Anyway, sampai di Lampuuk, kejutan kedua sudah menanti.  Pantainya BANJIR!!.  Di Lampuuk, sebenarnya ada jalan kecil beraspal yang berakhir langsung di hamparan pasir putih pantainya.  Dan di sini kanan jalan itu ada sepetak lahan pasir padat yang biasanya dipakai untuk parkir mobil, terutama mobil-mobil tinggi atau sekalian yang 4WD.  Kali ini, di ujung jalan aspal itu ada …AIR.  Di tempat parkir tidak resmi itu pun…ada AIR.  Tengak-tengok kiri-kanan…we lha…tergenang deh ternyata tempatnya.  Tapi sekitar 2-3 meter dari genangan itu, terbentang pasir putih yang kayaknya setengah basah, mengundang banget untuk jalan-jalan…Oke deh, akhirnya puter balik, belok ke kiri, cari tempat parkir lain, dan dibela-belain jalan ke pantai, gulung celana, tenteng sepatu…yak…ceplak…ceplak…ceplak….mengarungi genangan air… (sambil berusaha mengabaikan pikiran-pikiran "gak penting"…aduh ini tadi pasti udah kecampuk e’e dan pipis sapi…..) 

Akhirnya jadi juga kami jalan-jalan di pasir pantai…Oh ya, kejutan ketiga udah terjadi di parkiran…hehe…karena tripod yang esensial banget untuk bikin foto dalam keadaan gelap, ternyata ketinggalan….hehe…..yah, sudahlah, yang penting maksudnya baik, dan sore itu emang mataharinya cerah banget, jadi ga ada tripod kan ada mata dan hati untuk mengingatnya…ya to…

Gelombang hari itu…huah….guede-guede…. Baru malamnya dan beberapa hari ke depannya kami menyadari bahwa memang mulai hari Kamis, gelombang pasang melanda berbagai daerah yang menimbulkan berbagai kerusakan besar.  Foto-foto…sunset dan sunset lagi…udah nggak terhitung koleksi foto sunset kami, yang sebenarnya kalau diliat-liat kok ya mirip-mirip juga, hehe…tapi rasanya nggak afdol gitu ngeliat sunset, bawa kamera, kok nggak jeprat-jepret… Setelah puas, dan hari udah mulai gelap, kami kembali ke mobil….ciplak…cipluk lagi tentu saja, sambil meraba-raba jalan karena udah nggak seterang waktu datang…dan meluncur ke Joel’s.  Sebuah restoran yang berada di dalam kampung Turki ini.

Joel’s ini terkenal banget di kalangan para expat, karena dia menyediakan pizza a’la Italia yang dimasak di dalam stone oven, alias tungku batu (semen kali ye…), kayak di acara-acara kuliner di TV itu lho… Apa sih bedanya pizza Italia dengan pizza yang biasa kita lihat tuh? Sessy, jelaskan!! hehe…aku dengar-dengar sih, kalau pizza Italia itu tipis, jadi malah agak-agak crunchy gitu, bukan seperti pizza dari Pizza Hut misalnya, yang rotinya tebel.  Enak juga lho pizza tipis.  Berhubung aku orangnya cepet neg, makan pizza tipis lebih nikmat karena bisa bener-bener menikmati toppingnya daripada neg duluan karena ngunyah rotinya, beda aja gitu rasanya. 

Waktu kami sampai di Joel’s…..kejutan kelima!! Mati lampu bo’. Untungnya… aku bawa senter di ranselku…jangan tanya kenapa deh…emoticon (pasti aneh banget ya…) Ga asik karena berarti ga bisa pesen jus, asik karena jadi candle light dinner gitu deh…(meskipun berhubung anginnya kenceng, dan candle-nya mati-mati, diganti pake lampu kapal….emoticon)  Pokoknya suasananya tetep "dapet" deh….

Sudah kenyang makan pizza, minum coke dan es kopi…mmmm….pulang deh….. Met malam, met bobo…makasih ya kejutannya, yang ternyata malah jadi berseri 1-5…..hehe….

 surprise...surprise...

fragments of life, in the line of duty, Bahasa Aceh, Bahasa IndonesiaMay 22, 2007 12:57 pm

pada hari Selasa…well, mulai hari Senin tepatnya, setiap berangkat kantor aku selalu diingatkan pada pertanyaan yang sering menggelitik benakku. nah lho, apa kira-kira….

sesuatu yang lain dari yang lain jika dibandingkan dengan Jogja (makanya jadi garuk-garuk kepala mengamatinya…) emoticon

kenapa setiap hari Senin, lalu lintas jalur rumah - kantor (takkasih bocoran bagi yang pernah mampir di BA, mungkin kenal nama-nama areanya, dari Peuniti - Lamteumen), ga padat?  malah, terbilang sepi banget kalau mengingat bahwa resminya hari Senin adalah hari pertama kerja dalam pekan…

dan kenapa kalau hari Selasa, wuih….puadet banget sepeda motor dan kendaraan bermotor lain yang bersliweran pada jam yang sama, jalur yang sama….

hayo…..nanti kalau hari Rabu, kesibukan jalan di jam dan jalur yang sama sudah bisa dibilang normal, alias ga terlalu berbeda dengan hari Kamis dan Jumat pagi…

bedanya dengan Jogja adalah pada hari Senin pagi….wah, BERJUANG!! menyibak keramaian orang-orang yang mulai beraktivitas, pokoke syerem bo’… Jangan-jangan BA punya pengaturan hari kerja yang lain daripada yang lain ya….emoticon tapi kok tanya sana-sini belum mendapatkan jawaban…emoticon

mungkin di sinilah berlaku sebuah kalimat sakti… " Meah, beh, loen hana lontupeu …"  kesalahan penulisan harap maklum….jangan salahkan guruku….emoticon

alias, "ngapunten, kula boten ngertos"

alias "maap, ye, saye kurang paham…."

BA, Pada sebuah hari Selasa

fragments of life, di sini senang di sana senangMay 3, 2007 7:29 pm

salah satu kebahagiaan terbesarku tahun ini adalah membawa Bapak dan keponakanku *aduh, serasa udah tua…jangan salah lho…she’s only 5 years younger than me….emoticon* datang ke Banda Aceh dan sekitarnya….

ada berbagai hal menarik yang terjadi, sejak mereka berangkat dari Semarang, sampai mereka terbang kembali ke sana, yang tak akan mungkin habis diceritakan dalam satu postingan aja…bahkan mungkin gak akan cukup waktuku untuk menulis postingan demi postingan tentang itu…tapi tetep…ada satu hal yang khas….pokoknya…bapakku banget deh….. 

coba lihatlah….mau di mana aja…difoto oleh siapa aja…..

menulis di lhok nga 

 di Pantai Lhok Nga, Aceh Besar

menulis di hotel 

di hotel di Pantai Sumur Tiga, pulau Weh

menulis di nok kilometer 

di titik nol, Pulau Weh

 

Yep, bapakku selalu menulis…dan menulis…dan menulis….

bahkan waktu tertangkap kamera di hotel, rupanya beliau juga sedang melengkapi tulisannya dengan sketsa pantai yang penuh dengan phon kelapa yang melambai-lambai….

tanpa kamera digital ala masa kini, tanpa blog online yang menyebarkan kenangannya ke seluruh dunia maya…bapakku mengandalkan buku catatan kecilnya dan bolpen parker yang tak pernah mengecewakannya, untuk mencatat dan mengenang kembali semua pengalamannya….

pertama kali naik pesawat udara…

pertama kali naik ferry…

pertama kali ke Banda Aceh…

pertama kali menginjakkan kaki di ujung barat negara Indonesia ini…

dan semuanya tertuang dalam buku catatan mungil yang selalu dikantonginya…

ah Bapak….. 

aku senang Bapak mau datang, mengunjungi anak nakalnya yang entah kemana ga bisa lagi kepegang ekornya *terjemahan bebas ekspresi bahasa jawa…rak kecekel buntute….emoticon*

fragments of life, di sini senang di sana senangMay 2, 2007 6:35 pm

a glance of Sabang, too much to be put in words…

but I believe the pics will tell….

besides the fact that Pulau Weh is a famous spot for snorkelling and diving, downtown Sabang is a nice place for a walk in the afternoon, in a way an idyllic place to be…

enjoy…

downtown Sabang

nice pavements with pretty tiles, but careful, don’t slip on it, cos it’s so smooth and clean…

pasar di sabang

market at nap time….oh yeah, i said NAP time…so quiet, and guess what, so CLEAN, oh wow…

taman ria

if the concept of city parks is something quite foreign for most bigger cities in Indonesia, just take a look at the trees and parks in Sabang…so peaceful, and yes, park benches are available, clean ones, with old trees shadding you from the sun…

 

cute building

there are so many Dutch era buildings scaterred in the town, and one effort of modernising, or simply, repainting the old shops results in really an eye-catching photo object…

becak skuter

last but not least, Sabang insists to differ in the choice of public transport.  where other cities in North Sumatra, such as Medan and Banda Aceh, know "becak motor" which are normally drawn by what so called 125cc-male-motorbikes, here most of the "becak"s are drawn by scooters.  Yep, never thought that scooters could really drag such a burden, and speed, on top of that.  And…colorful ones…yes..purple, metalic blue, shocking pink skuters, you name it, they got it.

a glance of Sabang…pretty, little town on the western tip of Indonesia.

Sabang, April 19 - 22, 2007