fragments of life, points to ponderMarch 21, 2007 8:43 am

Dua tahun sesudah tsunami, dengan semua kerusakan yang terjadi, dan semua proses pembangunan…mungkin ada bagian yang terlupakan, sedikit banyak…

Salah satu yang mungkin terlewat dari perhatian orang biasa, di samping permasalahan perumahan, pekerjaan, NGO, de el el…adalah kemana saja sampah dan, hm…mungkin tidak bisa disebut sampah, puing-puing bekas tsunami yang kita lihat melalui berbagai media massa, telah meluluh lantakkan ribuan rumah…

Mungkin tidak bisa menjawab semuanya…mungkin hanya berkaitan dengan satu hal saja.  Tapi ada hidup baru bagi para kayu…

 

Di salah satu ujung kota Banda Aceh, di daerah yang namanya Kampung Jawa *hey??* terletak tempat pembuangan sampah akhir, bersebelahan dengan Krueng Aceh, sungai besar yang membelah kota BA dan bermuara di laut.  Di lokasi yang sama, terletak sebuah workshop…hm..apa ya namanya, seperti balai kerja, tempat kayu-kayu bekas tsunami diolah menjadi berbagai perabotan…ya, hidup baru untuk kayu-kayu ini…

 

Sudah lama aku mendengar tentang tempat ini, tapi baru akhir minggu ini, sempat mampir di sana.  Kami masuk ke area tersebut, berbaris dengan berbagai warna truk sampah melewati jalan semi aspal, semi tanah yang *maklum saja* kondisinya kurang baik. Dan ya, tumpukan potongan-potongan kayu berbagai ukuran menyambut mata, dibarengi suara peralatan pertukangan bertenaga listrik *nggggggguuuengggggggg….. nggggggguuuengggggggg…..”….mendobrak gendang telinga.  Beberapa tumpukan kayu tertata rapi, dan sebuah bukit kayu kecil mengelilingi bangunan tempat perabotan dibuat. 

Sulit untuk tidak merasakan melankoli, karena meskipun sudah berubah warna dan bentuk dimakan cuaca, namun masih bisa sedikit dikenali bahwa dulunya kayu yang ini blandar…eh, apa ya, oh ya…kuda-kuda rumah, yang ini keliatannya tiang…yang ini kelihatannya kaki meja, de el el…  Sulit untuk tidak mengingat bahwa kayu-kayu ini dulunya mungkin rumah, tempat orang tinggal, dan bahkan tempat mereka mencoba berlindung waktu bencana terjadi…  Ah ya, tapi bukan waktunya untuk sedih, bukan?

Melankoli itu tentu saja tidak dirasakan oleh orang yang dengan bersemangat menyeretku sampai ke sana…  Dengan antusias dia menggambarkan keinginannya untuk memesan sebuah rak dan beberapa kursi untuk melengkapi meja yang sudah ada di rumah, dengan perabotan yang terbuat dari tsunami wood, alias kayu tsunami.

 

Pernah, dulu, aku bertanya, kenapa begitu bersemangat memesan perabotan di sana… Karena bagiku, cukup ngeri membayangkan bahwa di dalam rumah ada perabotan yang berhubungan dengan sebuah bencana yang meninggalkan kenangan yang begitu mendalam untuk banyak orang, baik yang mengalami langsung, maupun yang cuma menonton dari tv…

Tapi jawabannya, kayu ini membawa sejarah di dalamnya, punya riwayat dan sejarah tersendiri, dan rasanya ingin menyimpan sejarah itu dalam bentuk satu atau dua potong perabotan yang dibuat dari kayu bersejarah itu… a sense of history… 
Yah, bisa dimengerti sih.  Cuma sedikit berbeda rasa…

Jadilah kami masuk dan berkeliling.  Oh ya, tempat ini didanai oleh Multi Donor Fund dan dikelola oleh UNDP, tapi jangan mengharapkan tempat ini ada bulenya lho… dari dua kali kunjungan, kami bertemu dengan full orang Indonesia.  Hm, perabotannya boleh juga lho…  Keren. Ehem, kalau yang suka melihat perabotan dari Bali, mohon jangan dibandingkan.  Tanpa merendahkan perabotan Aceh lho, tapi di toko-toko mebel di sini, gaya perabotan tidak terlalu bervariasi.  Ada banyak yang bagus dari rotan, tapi kalau perabotan kayu, di sini masih “mode” gaya perabotan berat, yang tentu saja berkualitas bagus karena kayu keras dan gede-gede, tapi tentu saja terkesan agak “kuno”.    Di balai kerja ini, gayanya lebih ringan, pekerjaannya halus, wah…pokoknya keren…

 

Hm…sempat naksir sebuah kursi goyang seharga “cuma” 500  ribu…(meskipun pake tanda petik, ini beneran murah lho…minimal untuk ukuran sini), membayangkan terletak manis di rumah untuk bapak tersayang… hm…sayangnya bapakku tersayang nun jauh di mata, dan kebayang banget bahwa ongkos transport itu kursi goyang akhirnya akan berlipat-lipat lebih mahal daripada harga pembuatannya… *maaf ya Pak, kursi goyang keren buat Bapak berhenti cuma sampai tahap naksir saja…*

 

Pesanan dibuat….kata Bang Januari (yang menerima pesanan kami) harus ngantre dulu sampe akhir bulan…hm…ga papa lah.  Hasilnya bagaimana…kita tunggu dan lihat saja nanti…

 

Untuk para kayu, ada hidup baru….

Untuk kami, segera akan ada perabot baru… emoticon

 

Banda Aceh, 17-19 Maret 2007

fragments of life, points to ponderMarch 15, 2007 1:18 pm

Mengikuti berita dan salah satu thread di satu mailing list, kembali terhenyak dengan apa yang terjadi antara anggota korps kepolisian negara tercinta ini, entah karena alasan pribadi atau apa itu entahlah….

Tapi pagi ini, sedikit rasa yang indah dan sebersit harapan muncul di hati dalam perjalanan ke kantor… ah…andai saja ini sebuah pertanda baik…

Seperti biasa, hitungan mundur menuju jam 8 pagi berarti rombongan sepeda motor, mobil pribadi, mobil organisasi, NGO de el el berbaur dalam serabutannya jalan kota Banda Aceh, termasuk aku yang duduk manis di samping pak sopir yang sedang bekerja *sayang bukan pada hari Minggu ya…* emoticon… 

Di salah satu perempatan tersibuk *terutama pada jam-jam segini* kulihat dari kejauhan, jalur dari arah berlawanan sedikit macet, dan seorang anggota polisi sedang berjalan menyeberang sambil menyelip-nyelip di antara kendaraan yang sudah terburu nafsu melihat lampu berganti hijau…  Selintas perasaan berkata, “Aduh, siapa tuh, kasihan…pagi-pagi begini udah kena tilang..” yah, pengalaman pribadi liat polisi nyeberang jalan dengan gaya yang mirip dalam sebuah insiden kecil di Medan

Ketika mobil semakin mendekat, terlihat pemandangan yang sungguh *bagiku* tak terduga…  tepat di depan lampu merah itu, seorang sopir mobil pick-up dengan muka memucat dan kikuk, sibuk mendorong mobilnya dari sisi sopir…dan di sisi belakang kanan seorang anggota polisi sedang membantunya…rupanya yang seorang lagi menyeberang jalan untuk bantu dorong dari sisi belakang kiri…

Ah… setelah menyaksikan begitu banyak arogansi aparat, dan tak jarang kejadian yang sama hanya akan membuat sang bapak polisi semakin tampak garang memelototi sopir yang bodoh-bodohnya “sengaja” membuat mobilnya mogok di salah satu perempatan tersibuk di sebuah kota….rasanya menjadi pagi yang manis menatap pemandangan di depan mata….

Ah ya…ternyata dunia dan manusia itu tetap indah adanya….semoga.

PS: perasaan bahwa pagi itu indah cukup bertahan, meskipun sampai di kantor disambut komputer yang ngadat total, dan hang on the first try…waduh….emoticon…tapi dunia tetap indah lage… emoticon

fragments of lifeMarch 7, 2007 3:12 pm

pagi-pagi..baru saja duduk menghadapi komputer yang sedang akan menyala…tiba-tiba mendengar berita ada pesawat Garuda terbakar di bandara Jogja…

entah kenapa perasaan sedih yang sangat personal mendera…

bukan karena kemaren-kemaren ga sedih dengar gempa di Solok, tanah longsor di Manggarai, kapal terbakar…bukan…tapi Yogya dan bandaranya dan pesawat-pesawat Garuda akan selalu menjadi bagian istimewa dalam hidupku, dan yang masih kubayangkan suatu hari akan membawaku mendarat di suatu tempat yang sampai saat ini masih kuanggap "rumah"…

seperti saat gempa melanda dan lebih dari panik yang terasa adalah rasa tak percaya, begitu juga pagi ini, siang ini, hari ini…dan sedihku tak akan bisa membantu…hanya menyadarkan aku kembali betapa aku masih merindukan kota itu…di mana kulewati lalu lintas di jalan Solo, terus melewati Ayam Goreng Suharti menuju bandara untuk menjemput orang terkasih yang turun dari Garuda…ah…

kangen…

*Indonesia…the ring of fire…* and I DO love you and I do hope that more and more people will be spared from the natural and man-made disasters hovering over this beautiful country…

fragments of lifeMarch 5, 2007 7:16 pm

Do you know that according to WHO, the avian influenza in Indonesia is now at stage 3?  This is out of 6 levels, in which level 5 and 6 are already epidemic levels in which we have to go into quarantine already.  Anyway, I will not discuss something serious like that, oh no…

Though this is somehow still related to the issue of avian influenza, this is of a more relaxed nature.

In the news since late last year, there has been coverage on bird flu all over Aceh region, and although we have been a bit worried, we actually did not really take it seriously until it literally knocked on our neighbor’s door.  About three days ago, local newspapers covered a story about 36 chicken that died suddenly and were identified positively by Dinas Peternakan of catching the avian influenza virus, and guess what…the spot was actually 150 meters away from our house. O…ow…and only when we read carefully the piece of news, mentioning 6 other areas in Banda Aceh where avian influenza had been found among chicken, oh, how we know the names of the places by heart…

So we tried to take a precaution measure.

As any other more fortunate households around here, we have somebody to help us clean up the house and oh, what a wonderful cook she is (to be honest, she’s better in cooking than cleaning…well, she likes cooking more than cleaning anyway…).  And one day, my dear bule housemate decided to inform her not to buy eggs on her own…

Conversation (original in very basic Indonesian..)

“Kak, sekarang anda tidak membeli telur lagi ya.  Saya akan membeli telur untuk rumah, dan bersihkan dan put , (‘Schatz, what’s to put in Bahasa Indonesia?’ ‘Taruh’, came the reply), ah ya…taruh di kulkas.  Tolong tidak membeli telur.  Anda hanya memasak telur di kulkas.”
“Kenapa Mister?”
“Mm, sekarang ada flu burung di Aceh, dan kemarin ada news di koran bilang ada ayam mati di dekat rumah kita.  Lebih bagus hati-hati.  Kami membeli telur dari toko special lalu bersihkan dengan sabun special juga, untuk hati-hati.”
(this is actually a simplified explanation since he was not sure that he is able to explain thoroughly and discuss with her in Indonesian)
Ah, Mister beli telur Australia ya…baik, baik…”

“Haa??? “

We had no clue what she meant by that, but since there was no chance to continue the discussion, he was simply grateful that she understood he would buy the eggs for the whole house, simply nodded and walked away.

We thought that was because there is a shop around here that many affectionately called the “bule shop”, originally named Blangrakal meat shop.  This shop has evolved over the months from an imported meat shop into import shop which sells mostly things to satisfy the taste of the bules, expats for those who don’t know what bule is, or Indonesians coming from Jakarta or other bigger cities who once in while crave for good ice cream, jams, fancy daily products we can’t find in normal supermarkets.  This shop IS famous for New Zealand steak meat, and though NZ and OZ are two different places, we could understand the confusion (well, I am not that good with geography anyway, so that’ no wonder for me…)

Only later during the weekend we understood that “telur Australia” is a new-found egg “branding” created by our great eggs marketer to ease the mind of the paranoia surrounding the bird flu matter (oh no, we are not paranoid, we are simply taking precaution…he…he…).
We heard from a couple of friends visiting us later that week that their egg “supplier” also claimed to have imported their eggs from Australia, so “bebas flu burung”, oh sorry…I mean “bird flu free”.

Oh yeah…like you are going to eat rotten eggs brought over the ocean from Australia to escape bird flu?
Geez…what a funny world…

fragments of life, mouse in the house 6:22 pm

A conversation between a mildly athletic guy with a sluggish plump girl….one night via telephone:
” Hey, could you buy me a wrist band? You know, the one you wear for sport around your wrist…”
“Yes, of course. Thinking of taking up tennis? Or badminton? That’s a good idea!”
“Hey, don’t get too excited.  I need it to go to the office.”

“????”

Well, to begin with, it’s a bit exaggerating to call this adversity, since the word is meant to convey a bigger, deeper meaning than my experience.  But it sounds like a catchy wise word sentence, so why not borrowing it for this experience.

Starting a new job in a completely new environment is somehow exciting, challenging, though at the same time, exhausting.  Almost each day I arrive “home” feeling exhausted, with slight backpain and stiff fingers out of sitting and typing in front of a computer all day long, greatly different from my mobile job before.  I am fortunate, though, since there is somebody I can show my “battle wounds” to at each end of the day emoticon

But alas, one day I found that the joints just above my wrists have changed color.  What used to be kind of fair *ehem…* skin has turned into brownish color on both wrists, the right slightly worse than the other.  The spots are kind of hard to the touch, and that rang an alarming bell in the head…  Not that I mind having a little bit of thick skin here and there, but the “here and there" is kind of expanding, so I’m bound to take some measures.

So I began raking my brain on the easy, available ideas to deal with this.  I assume that I need to minimize contact between my wrist and the not so soft table surface where I work every day.  I began taking a small towel that I put under the keyboard on the spots where my wrists rest.

You know, I have really cute little towels.  But no matter how cute the towels are, with flowers and all, that was still not a very cute sight there on my office desk.  And one day, voila…another idea… (really, the needy is the most creative of all..)  Hanging out with a-used-to-be-very-athletic guy, gives me lots of visual clues on sports equipment, and at that moment the visual cue of a wrist band simply popped into my brain, hm…that seems like a practical idea!!  So the telephone conversation took place, and the following week, my wrists are [un]fashionably adorned by a pair of [mis]matched wrist bands. Hm…still not a very cute sight, but at least no towel hovering on my desk as if I would start dripping any moment…

I guess my colleagues thought I got injured, or I have a some kind of weird fashion statement emoticon Anyway, nobody did much more than stealing a curious glance, no question asked…  great eh?  And that was really great timing since during that week, and the following, and the following week…my work load is really record breaking…  But thanks to my not very cute wrist bands, I have happier wrists now (though there is now no chance for the bands to return to their true calling since they have been stretched out of shape to accommodate the base of my palms and my working fingers…well, that’s life… c’est la vie…)