Dua tahun sesudah tsunami, dengan semua kerusakan yang terjadi, dan semua proses pembangunan…mungkin ada bagian yang terlupakan, sedikit banyak…
Salah satu yang mungkin terlewat dari perhatian orang biasa, di samping permasalahan perumahan, pekerjaan, NGO, de el el…adalah kemana saja sampah dan, hm…mungkin tidak bisa disebut sampah, puing-puing bekas tsunami yang kita lihat melalui berbagai media massa, telah meluluh lantakkan ribuan rumah…
Mungkin tidak bisa menjawab semuanya…mungkin hanya berkaitan dengan satu hal saja. Tapi ada hidup baru bagi para kayu…
Di salah satu ujung kota Banda Aceh, di daerah yang namanya Kampung Jawa *hey??* terletak tempat pembuangan sampah akhir, bersebelahan dengan Krueng Aceh, sungai besar yang membelah kota BA dan bermuara di laut. Di lokasi yang sama, terletak sebuah workshop…hm..apa ya namanya, seperti balai kerja, tempat kayu-kayu bekas tsunami diolah menjadi berbagai perabotan…ya, hidup baru untuk kayu-kayu ini…
Sudah lama aku mendengar tentang tempat ini, tapi baru akhir minggu ini, sempat mampir di sana. Kami masuk ke area tersebut, berbaris dengan berbagai warna truk sampah melewati jalan semi aspal, semi tanah yang *maklum saja* kondisinya kurang baik. Dan ya, tumpukan potongan-potongan kayu berbagai ukuran menyambut mata, dibarengi suara peralatan pertukangan bertenaga listrik *nggggggguuuengggggggg….. nggggggguuuengggggggg…..”….mendobrak gendang telinga. Beberapa tumpukan kayu tertata rapi, dan sebuah bukit kayu kecil mengelilingi bangunan tempat perabotan dibuat.

Sulit untuk tidak merasakan melankoli, karena meskipun sudah berubah warna dan bentuk dimakan cuaca, namun masih bisa sedikit dikenali bahwa dulunya kayu yang ini blandar…eh, apa ya, oh ya…kuda-kuda rumah, yang ini keliatannya tiang…yang ini kelihatannya kaki meja, de el el… Sulit untuk tidak mengingat bahwa kayu-kayu ini dulunya mungkin rumah, tempat orang tinggal, dan bahkan tempat mereka mencoba berlindung waktu bencana terjadi… Ah ya, tapi bukan waktunya untuk sedih, bukan?
Melankoli itu tentu saja tidak dirasakan oleh orang yang dengan bersemangat menyeretku sampai ke sana… Dengan antusias dia menggambarkan keinginannya untuk memesan sebuah rak dan beberapa kursi untuk melengkapi meja yang sudah ada di rumah, dengan perabotan yang terbuat dari tsunami wood, alias kayu tsunami.
Pernah, dulu, aku bertanya, kenapa begitu bersemangat memesan perabotan di sana… Karena bagiku, cukup ngeri membayangkan bahwa di dalam rumah ada perabotan yang berhubungan dengan sebuah bencana yang meninggalkan kenangan yang begitu mendalam untuk banyak orang, baik yang mengalami langsung, maupun yang cuma menonton dari tv…
Tapi jawabannya, kayu ini membawa sejarah di dalamnya, punya riwayat dan sejarah tersendiri, dan rasanya ingin menyimpan sejarah itu dalam bentuk satu atau dua potong perabotan yang dibuat dari kayu bersejarah itu… a sense of history…Yah, bisa dimengerti sih. Cuma sedikit berbeda rasa…
Jadilah kami masuk dan berkeliling. Oh ya, tempat ini didanai oleh Multi Donor Fund dan dikelola oleh UNDP, tapi jangan mengharapkan tempat ini ada bulenya lho… dari dua kali kunjungan, kami bertemu dengan full orang Indonesia. Hm, perabotannya boleh juga lho… Keren. Ehem, kalau yang suka melihat perabotan dari Bali, mohon jangan dibandingkan. Tanpa merendahkan perabotan Aceh lho, tapi di toko-toko mebel di sini, gaya perabotan tidak terlalu bervariasi. Ada banyak yang bagus dari rotan, tapi kalau perabotan kayu, di sini masih “mode” gaya perabotan berat, yang tentu saja berkualitas bagus karena kayu keras dan gede-gede, tapi tentu saja terkesan agak “kuno”. Di balai kerja ini, gayanya lebih ringan, pekerjaannya halus, wah…pokoknya keren…
Hm…sempat naksir sebuah kursi goyang seharga “cuma” 500 ribu…(meskipun pake tanda petik, ini beneran murah lho…minimal untuk ukuran sini), membayangkan terletak manis di rumah untuk bapak tersayang… hm…sayangnya bapakku tersayang nun jauh di mata, dan kebayang banget bahwa ongkos transport itu kursi goyang akhirnya akan berlipat-lipat lebih mahal daripada harga pembuatannya… *maaf ya Pak, kursi goyang keren buat Bapak berhenti cuma sampai tahap naksir saja…*
Pesanan dibuat….kata Bang Januari (yang menerima pesanan kami) harus ngantre dulu sampe akhir bulan…hm…ga papa lah. Hasilnya bagaimana…kita tunggu dan lihat saja nanti…
Untuk para kayu, ada hidup baru….
Untuk kami, segera akan ada perabot baru… 
Banda Aceh, 17-19 Maret 2007
…tapi dunia tetap indah lage… 


Anyway, nobody did much more than stealing a curious glance, no question asked… great eh? And that was really great timing since during that week, and the following, and the following week…my work load is really record breaking… But thanks to my not very cute wrist bands, I have happier wrists now (though there is now no chance for the bands to return to their true calling since they have been stretched out of shape to accommodate the base of my palms and my working fingers…well, that’s life… c’est la vie…)
Hi....I am Die Kleinetheresia. It has nothing to do with I am being small or something...just an alternative interpretation of the origin of my christian name. I am an Indonesian girl who is trying to experience living in different places of Indonesia, enjoying the culture and experience.







