sudah seminggu lewat… tetapi masih ada kisah yang belum sempat kuceritakan…

 

seminggu yang lalu, pada sebuah Kamis sore, jam sudah menunjukkan waktu lewat jam lima sore waktu teman sekantorku ber”bubye…bubye” dan melangkah keluar.  Sebenarnya aku juga pengen keluar bareng…tapi berhubung tinggal sedikit lagi kerjaan yang tersisa..nanggung ah…
yang nanggung itu ternyata makan waktu sekitar 15 menit, dan aku bergegas pulang ketika semuanya sudah selesai.

 

Dalam benakku sudah terbayang sampai di ujung jalan, kira-kira 400 meter dari kantor, di sebuah perempatan jalan yang cukup ramai dengan lalu lalang truk-truk besar, untuk memanggil tukang becak motor yang biasanya nongkrong di seberang jalan.  Benar saja, dari kejauhan kulihat serombongan bapak-bapak duduk di atas becak di seberang sana…  sambil bersiap-siap mencari tempat yang strategis untuk menunggu dan melambai…eh, kok aku malah aku melihat teman sekantorku yang sudah dari tadi meninggalkan kantor…  Jadilah aku menghampirinya sambil bertanya (setengah “menuduh”)…”Tunggu apaan? Labi-labi?”  “Ga”, jawabnya, “Becak.” “Hah, la itu apa? Di sebrang?” “Becak.  Tapi mereka dari tadi dipanggil ga mau…”

 

Oh my…kuitung-itung sendiri ada lima sampai enam becak berkelompok di sana…  sementara untuk menyeberang, harus bersaing dengan orang-orang yang melanggar lampu merah, becak, motor, mobil truk..walah…..   muka mereka pun menghadap kami, tapi ketika kucoba melambai pun…nihil.  Jengkel…iya.  Capek…iya… Kesal…banget…

 

Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu becak yang lewat saja, daripada menyeberang jalan…  Akhirnya, setelah menunggu 10-15an menit kemudian…ada juga becak yang lewat, dan sesudah tawar menawar dicapai kesepakatan…dan tepat waktu kami naik, terdengan teriakan “hoi!” dari seberang jalan….


 


 

Terasa sang bapak tukang becak agak-agak ga enak ati.  Dia bertanya apakah kami sudah tawar menawar dengan tukang becak di seberang jalan, wah pak…pak…gimana mau nawar…wong datang aja ga mau…

 

Sepanjang perjalanan, berkali-kali si bapak bertanya, beneran kan kami yang manggil dia, bukannya dia yang ngerebut rejeki orang….dan selain takut merasa bersalah…ada juga sekilas rasa takut yang lain…karena akhirnya kami harus ambil jalan memutar supaya ga lewat persis di depan tempat nongkrong mereka…ah….

 

Rejeki…usaha….apakah yang berarti dalam hidup ini?  Apakah mereka butuh dihargai, atau simply, sombong?  Siapa sih yang lebih butuh, penjual jasa atau pemakai jasa…bukannya dua-duanya butuh…dan perlu saling menghormati…

Salah satu kalimat yang diucapkan tukang becak kami, mereka yang ga ramah sama kami memberikan nama jelek buat tukang becak lain, karena bisa-bisa semua orang berpikir tukang becak di Aceh sombong-sombong dan males-males…. Waduh, jujur saja ya…bukannya ga terlintas, hehe…. Tapi berhubung sebelumnya selalu ga masalah pakai tukang becak, aku sendiri tidak merasakan prasangka yang terlalu umum gitu, hanya memang aku jadi ilfil sama mereka dan berusaha untuk ga cari becak di tempat itu lagi…nah lho…bener juga ya…

Seandainya saja aku bukan orang satu-satunya yang mengalami itu…sudah berapa rupiah rejeki yang mereka buang? Tidak hanya sekali…tetapi mungkin untuk banyak kali sesudahnya…ah, rejeki…tanpa usaha dan kerendahan hati, mana mungkin.

 

Bapak Becak, bagi kami, lewatnya Bapak menjadi rejeki kami, karena siapa yang tahu sempai berapa lama lagi kami harus menunggu sebelum kami bisa pulang sore itu…

Kamis, 22 - 27 Maret 2007