fragments of life, mouse in the houseMarch 29, 2007 8:28 am

“Pasaran?  Ih, enggak banget deh…”

Mungkin itu salah satu ekspresi pertama yang terlontar kalau mendengar kata “pasaran”.  Apalagi kalau bicara tentang hal-hal yang pribadi…seperti “ih, seleramu pasaran”, “ih, baju kok pasaran…”, “HP seribu umat, pasaran ah…” 

Bete kan kalau dikatain pasaran?

 

Coba kalau ada yang bilang, “Eh, Jeng, mukamu kok pasaran ya?” Bakalan tersinggung? Juengkel? Atau pasrah aja…”yah memang mukanya gini, mau diapain lagi…?”

 

Kalau aku, dengan jujur dan legawa *pinjam istilah ya…* emoticon, mengakui bahwa wajahku “pasaran”.
Mau disebut dengan istilah “Jawa banget” kek, “Indonesia banget” kek…intinya ya itu, “pasaran”.

 

Setelah sebelumnya di Jogja, waktu mengajar, aku sering ditanyain murid-muridku apakah aku punya adik kuliah di sini atau di sana gara-gara mukanya mirip banget.  Ada juga yang bilang, “Eh, Miss, muka Missnya mirip lho sama temen SMAku…” atau, lebih parah, “Miss, Missnya tu mirip lho sama tanteku..” *gubrak*  Tapi, terutama kalau yang komentar gitu cowok *dan mayoritas sih iya, kalau cewek tahu kali ya perempuan sensi kalau dimirip-miripin* , aku sering menganggapnya sebagai angin lalu dan merupakan cara mereka untuk berkomunikasi dan ngobrol lebih akrab *siapa tahu dapet tips-tips biar listeningnya bagus…iya to*.  Tanggapanku standard, “Ah, ya gini deh kalau muka pasaran, banyak yang ngembari…” atau kalau lagi kambuh urat narsisnya, “Ya kalau muka manis emang banyak ditiru…”

 

Tapi kali ini, sesudah enam bulan lebih ga bersentuhan dengan murid yang aneh dan lucu-lucu, ternyata aku diingatkan kembali, bahwa yang namanya muka pasaran, dibawa sampai kemana, kok tetap ada yang ngembari ya…

Sekitar dua minggu yang lalu, aku dan ‘teman’ku janjian dinner sama sepasang suami istri…sang suami kerjanya berkaitan sama ‘teman’ku, sementara sang istri baru aja masuk ke kantorku, manajer baru di salah satu proyek. 

Sambil bercanda, ‘teman’ku tanya sama ibu itu,

“Kamu nyangka ga kalau aku datangnya sama dia,” sambil nunjuk aku. 

Ibu itu senyum sedikit, terus bilang, “Iya dan enggak sih…  Soalnya waktu kita ketemu di bank aku tanyain dia bilang nggak.” 

“Bank? Bank apaan ya?”

“Bank M___i.  Dua hari yang lalu kan kita ketemu di bank to?”

“mm….ga juga tuh…saya kan ga pernah ke bank M itu?”

“Wah, pantesan…ga nyambung… Mirip banget, sampai takajak ngobrol… Jadi malu nih…”

 

Aku jadi agak heran….
Lebih heran lagi hari Senin kemarin, lagi asik-asiknya ngerjain file, ada bapak-bapak teman sekantor yang datang ke lantai tempat aku bekerja, nyariin temen kerja yang mejanya satu lantai sama aku.  Orangnya ga ada, dan bapak itu SMS si teman kerja. 

Sambil menunggu balasan, bapak itu duduk-duduk, dan tiba-tiba, “Eh, Sabtu kemarin ikut ngantar rombongan penganten itu ya? Anak kantor sebelah?” 

“Wuah…siapa yang nikah, Pak?” (secara aku salah paham, kupikir dia mau cerita sambil mengisi kekosongan)…

”Itu, anak gedung sebelah. Adik ikut kan nganter, saya lihat tempo hari…” 

“Oh, saya…? (baru ngeh kalau itu tadi pertanyaan).  Ga tu Pak, saya ga ikut. Saya malah ga tahu siapa yang nikah, Pak.” 

“Kemarin, di Indrapuri..nggak ikut?”  (keukeuh juga nih…)

“Hehe….nggak, Pak.”  *ngeles mode on* “Bapak ikut ya, Pak?  Yang Bapak liat mirip saya ya Pak, hehe….kayaknya ada orang mirip saya nih, soalnya ibu X juga sempat salah kira….”

“Oh, bukan ya, saya pikir Adik.”

 

Waduh…aku ini mukanya berarti Indonesia banget ya…di Jawa pasaran, di Bali dikira orang Bali, di Aceh kalau ga dikira orang Aceh dan di”tes” pakai sapaan bahasa Aceh, atau ternyata masih ada juga yang salah mengenali…waduh…semoga “kembaranku” orangnya suka senyum…supaya aku ga kena getahnya…hehe….jangan sampai suatu hari ada orang nuduh aku somse gara-gara ketemu di jalan tapi jutek….nasib..nasib…

 

Pasaran….due…pasaran…..

fragments of life, in the line of duty 8:17 am

sudah seminggu lewat… tetapi masih ada kisah yang belum sempat kuceritakan…

 

seminggu yang lalu, pada sebuah Kamis sore, jam sudah menunjukkan waktu lewat jam lima sore waktu teman sekantorku ber”bubye…bubye” dan melangkah keluar.  Sebenarnya aku juga pengen keluar bareng…tapi berhubung tinggal sedikit lagi kerjaan yang tersisa..nanggung ah…
yang nanggung itu ternyata makan waktu sekitar 15 menit, dan aku bergegas pulang ketika semuanya sudah selesai.

 

Dalam benakku sudah terbayang sampai di ujung jalan, kira-kira 400 meter dari kantor, di sebuah perempatan jalan yang cukup ramai dengan lalu lalang truk-truk besar, untuk memanggil tukang becak motor yang biasanya nongkrong di seberang jalan.  Benar saja, dari kejauhan kulihat serombongan bapak-bapak duduk di atas becak di seberang sana…  sambil bersiap-siap mencari tempat yang strategis untuk menunggu dan melambai…eh, kok aku malah aku melihat teman sekantorku yang sudah dari tadi meninggalkan kantor…  Jadilah aku menghampirinya sambil bertanya (setengah “menuduh”)…”Tunggu apaan? Labi-labi?”  “Ga”, jawabnya, “Becak.” “Hah, la itu apa? Di sebrang?” “Becak.  Tapi mereka dari tadi dipanggil ga mau…”

 

Oh my…kuitung-itung sendiri ada lima sampai enam becak berkelompok di sana…  sementara untuk menyeberang, harus bersaing dengan orang-orang yang melanggar lampu merah, becak, motor, mobil truk..walah…..   muka mereka pun menghadap kami, tapi ketika kucoba melambai pun…nihil.  Jengkel…iya.  Capek…iya… Kesal…banget…

 

Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu becak yang lewat saja, daripada menyeberang jalan…  Akhirnya, setelah menunggu 10-15an menit kemudian…ada juga becak yang lewat, dan sesudah tawar menawar dicapai kesepakatan…dan tepat waktu kami naik, terdengan teriakan “hoi!” dari seberang jalan….


 


 

Terasa sang bapak tukang becak agak-agak ga enak ati.  Dia bertanya apakah kami sudah tawar menawar dengan tukang becak di seberang jalan, wah pak…pak…gimana mau nawar…wong datang aja ga mau…

 

Sepanjang perjalanan, berkali-kali si bapak bertanya, beneran kan kami yang manggil dia, bukannya dia yang ngerebut rejeki orang….dan selain takut merasa bersalah…ada juga sekilas rasa takut yang lain…karena akhirnya kami harus ambil jalan memutar supaya ga lewat persis di depan tempat nongkrong mereka…ah….

 

Rejeki…usaha….apakah yang berarti dalam hidup ini?  Apakah mereka butuh dihargai, atau simply, sombong?  Siapa sih yang lebih butuh, penjual jasa atau pemakai jasa…bukannya dua-duanya butuh…dan perlu saling menghormati…

Salah satu kalimat yang diucapkan tukang becak kami, mereka yang ga ramah sama kami memberikan nama jelek buat tukang becak lain, karena bisa-bisa semua orang berpikir tukang becak di Aceh sombong-sombong dan males-males…. Waduh, jujur saja ya…bukannya ga terlintas, hehe…. Tapi berhubung sebelumnya selalu ga masalah pakai tukang becak, aku sendiri tidak merasakan prasangka yang terlalu umum gitu, hanya memang aku jadi ilfil sama mereka dan berusaha untuk ga cari becak di tempat itu lagi…nah lho…bener juga ya…

Seandainya saja aku bukan orang satu-satunya yang mengalami itu…sudah berapa rupiah rejeki yang mereka buang? Tidak hanya sekali…tetapi mungkin untuk banyak kali sesudahnya…ah, rejeki…tanpa usaha dan kerendahan hati, mana mungkin.

 

Bapak Becak, bagi kami, lewatnya Bapak menjadi rejeki kami, karena siapa yang tahu sempai berapa lama lagi kami harus menunggu sebelum kami bisa pulang sore itu…

Kamis, 22 - 27 Maret 2007