fragments of life, di sini senang di sana senangMarch 21, 2007 2:22 pm

Cafe Bohnen [German] in English means "Coffee Beans" is a cool new place to have meals and hang out at the side of Krueng Aceh…riverside view is guaranteed  emoticon

CafĂ© Bohnen, atau coffee beans, atawa biji kopi… adalah sebuah restoran yang dibuat berkonsep ruang terbuka.  Sebenarnya sih ruang utama restoran ini adalah sebuah extension dari teras sebuah ruko yang menghadap ke sungai Krueng Aceh (wah, redundant, wong “krueng” itu artinya sudah “sungai”…).  Jadi yang jelas-jelas berdinding adalah bagian belakangnya, dengan pintu terbuka ke arah lantai pertama ruko yang berfungsi sebagai dapur.

Dengan dapur minuman dibuat ala bar *tapi dijamin ga ada alkoholnya…* di bagian luar bangunan, jadi terasa banget ambience “lain” dari tempat ini.  Sang bartender cum pembuat kopi cum kakak kandung manajer restoran bangga banget dengan coffee machine-nya yang memang menghasilkan kopi yang topz!!

Cuma satu hal…sebaiknya bawalah kesana *seperti kemana-mana sih di Banda Aceh* lotion anti nyamuk…  tapi salah satu bukti bahwa resto ini concern dengan kenyamanan pelanggan, to a certain degree, mereka menyediakan berbotol-botol lotion anti nyamuk dengan merek “senior” yang bisa dibawa ke meja masing-masing…

 

Hm…asik juga…  Meskipun konsep resto ini memang ditujukan untuk membidik selera para bule, tetapi harganya tidak terlalu mengerikan… dan mereka berencana memadukan lebih banyak menu bercitarasa  lokal untuk mencoba survive sesudah para bule angkatz kaki…

Oh ya, kenapa namanya berbahasa Jerman… hm…sejujurnya sih, pelanggan setia sejauh ini memang orang Jerman, hehe…karena anggota keluarga dari penanam modal utama (yang berada di…guess where…yak tul, Jakarta!! the city of investors emoticon ) bisnis “keluarga” ini memang bekerja untuk organisasi Jerman di BA.  Tapi di balik itu, dua bapak yang menjalankan resto ini ndilalah lulusan universitas di Jerman, jamannya kuliah di Jerman masih gratis asalkan cas cis cus bahasa Jermannya layaknya orang “pribumi”.  Istri sang manajer cum chef lebih Jerman lagi karena berhutang sebagian DNAnya pada sang mama yang Jerman asli.

Well, ayo main ke BA!!! Kalau “kebetulan” mampir di sana, cari aja daerah namanya Peunayong, deket-deket Simpang Lima…. Asal ga nyasar, pasti ketemu *walah*

See ya…

mouse in the house, di sini senang di sana senang 2:18 pm

some Sundays are simply worth dying for…some are just….memorable…

like being stuck in the mud

Sunday, March 10, 2007
We decided to visit a colleague, well, actually a group of colleagues,building their “beach house” on the East coast of Banda Aceh.  My dear friend decided to take his beloved motorbike, regardless of the fact that the sky was a bit cloudy.
But in the end, that was NOT the problem.

The problem was that the night before we left, Saturday midnight, to be precise hard rain poured over Banda Aceh and the surrounding areas…but you know, before we left, we did not have a clue on whether this would influence out journey or not.  We, actually, it was ME who did not have a clue.

So we had a nice ride…until we got there, around 30 minutes drive from where we live.

And the trouble began when the motorbike had to go through some deep mud.
There was so much mud stuck under the mud guard of the front wheel that it simply stopped turning. Gosh…

The colleagues ended up having to pick us up, and we then had to return with a big plastic can of water and several types of make-shift tools to try to solve the problem.

After a bad case of sunburn for my fair-skinned friend, and the reinforcement of the patterns of my trekking sandals on my feet, we managed to get it free.  So we made a promise to ourselves to go there next time ..if any time, by car, the  precious, cool four wheel drive car that sticks around at the house during weekends.

 

 

And so, we kept our promise.

The following Sunday, armed with a bunch of snack, some bottles of water and the four wheel drive car, three bules and an Indonesian set out for another adventurous journey, though not at the same spot we went to the previous week.  Well, to be honest, it was not really meant to be that adventurous.  But the curious nature of four heads combined got the better of us, and we decided to take a smaller path going out of the main road ,”just to see where it ends up”.

As you might have predicted, it went quite a way.. through the mighty bushes and logging sites *don’t you dare to ask, legal???*

And then, ended up somewhere in the middle of bushy valley, with the path narrowing down until only motorbike can get through.  Well, that was the end of our “adventure” and we had to turn back.

But we did not arrive at that point without going through…guess what, yup, MUD! AGAIN.

Seemed like the road was quite muddy, and the sight of truck going out of the site which originally put us on high spirit (well, that means the road is going somewhere, right?), soon made us realize hat the truck left behind a deep track on the mud that made it more difficult for our car that has a lower chassis to go through.  Oh well…..

So, there we were…Sunday after Sunday…mud holes after mud holes….
Well, that’s what life is for, isn’t it?

Adventures…little bit, one at a time…but adventures still they were.

fragments of life, points to ponder 8:43 am

Dua tahun sesudah tsunami, dengan semua kerusakan yang terjadi, dan semua proses pembangunan…mungkin ada bagian yang terlupakan, sedikit banyak…

Salah satu yang mungkin terlewat dari perhatian orang biasa, di samping permasalahan perumahan, pekerjaan, NGO, de el el…adalah kemana saja sampah dan, hm…mungkin tidak bisa disebut sampah, puing-puing bekas tsunami yang kita lihat melalui berbagai media massa, telah meluluh lantakkan ribuan rumah…

Mungkin tidak bisa menjawab semuanya…mungkin hanya berkaitan dengan satu hal saja.  Tapi ada hidup baru bagi para kayu…

 

Di salah satu ujung kota Banda Aceh, di daerah yang namanya Kampung Jawa *hey??* terletak tempat pembuangan sampah akhir, bersebelahan dengan Krueng Aceh, sungai besar yang membelah kota BA dan bermuara di laut.  Di lokasi yang sama, terletak sebuah workshop…hm..apa ya namanya, seperti balai kerja, tempat kayu-kayu bekas tsunami diolah menjadi berbagai perabotan…ya, hidup baru untuk kayu-kayu ini…

 

Sudah lama aku mendengar tentang tempat ini, tapi baru akhir minggu ini, sempat mampir di sana.  Kami masuk ke area tersebut, berbaris dengan berbagai warna truk sampah melewati jalan semi aspal, semi tanah yang *maklum saja* kondisinya kurang baik. Dan ya, tumpukan potongan-potongan kayu berbagai ukuran menyambut mata, dibarengi suara peralatan pertukangan bertenaga listrik *nggggggguuuengggggggg….. nggggggguuuengggggggg…..”….mendobrak gendang telinga.  Beberapa tumpukan kayu tertata rapi, dan sebuah bukit kayu kecil mengelilingi bangunan tempat perabotan dibuat. 

Sulit untuk tidak merasakan melankoli, karena meskipun sudah berubah warna dan bentuk dimakan cuaca, namun masih bisa sedikit dikenali bahwa dulunya kayu yang ini blandar…eh, apa ya, oh ya…kuda-kuda rumah, yang ini keliatannya tiang…yang ini kelihatannya kaki meja, de el el…  Sulit untuk tidak mengingat bahwa kayu-kayu ini dulunya mungkin rumah, tempat orang tinggal, dan bahkan tempat mereka mencoba berlindung waktu bencana terjadi…  Ah ya, tapi bukan waktunya untuk sedih, bukan?

Melankoli itu tentu saja tidak dirasakan oleh orang yang dengan bersemangat menyeretku sampai ke sana…  Dengan antusias dia menggambarkan keinginannya untuk memesan sebuah rak dan beberapa kursi untuk melengkapi meja yang sudah ada di rumah, dengan perabotan yang terbuat dari tsunami wood, alias kayu tsunami.

 

Pernah, dulu, aku bertanya, kenapa begitu bersemangat memesan perabotan di sana… Karena bagiku, cukup ngeri membayangkan bahwa di dalam rumah ada perabotan yang berhubungan dengan sebuah bencana yang meninggalkan kenangan yang begitu mendalam untuk banyak orang, baik yang mengalami langsung, maupun yang cuma menonton dari tv…

Tapi jawabannya, kayu ini membawa sejarah di dalamnya, punya riwayat dan sejarah tersendiri, dan rasanya ingin menyimpan sejarah itu dalam bentuk satu atau dua potong perabotan yang dibuat dari kayu bersejarah itu… a sense of history… 
Yah, bisa dimengerti sih.  Cuma sedikit berbeda rasa…

Jadilah kami masuk dan berkeliling.  Oh ya, tempat ini didanai oleh Multi Donor Fund dan dikelola oleh UNDP, tapi jangan mengharapkan tempat ini ada bulenya lho… dari dua kali kunjungan, kami bertemu dengan full orang Indonesia.  Hm, perabotannya boleh juga lho…  Keren. Ehem, kalau yang suka melihat perabotan dari Bali, mohon jangan dibandingkan.  Tanpa merendahkan perabotan Aceh lho, tapi di toko-toko mebel di sini, gaya perabotan tidak terlalu bervariasi.  Ada banyak yang bagus dari rotan, tapi kalau perabotan kayu, di sini masih “mode” gaya perabotan berat, yang tentu saja berkualitas bagus karena kayu keras dan gede-gede, tapi tentu saja terkesan agak “kuno”.    Di balai kerja ini, gayanya lebih ringan, pekerjaannya halus, wah…pokoknya keren…

 

Hm…sempat naksir sebuah kursi goyang seharga “cuma” 500  ribu…(meskipun pake tanda petik, ini beneran murah lho…minimal untuk ukuran sini), membayangkan terletak manis di rumah untuk bapak tersayang… hm…sayangnya bapakku tersayang nun jauh di mata, dan kebayang banget bahwa ongkos transport itu kursi goyang akhirnya akan berlipat-lipat lebih mahal daripada harga pembuatannya… *maaf ya Pak, kursi goyang keren buat Bapak berhenti cuma sampai tahap naksir saja…*

 

Pesanan dibuat….kata Bang Januari (yang menerima pesanan kami) harus ngantre dulu sampe akhir bulan…hm…ga papa lah.  Hasilnya bagaimana…kita tunggu dan lihat saja nanti…

 

Untuk para kayu, ada hidup baru….

Untuk kami, segera akan ada perabot baru… emoticon

 

Banda Aceh, 17-19 Maret 2007