fragments of life, points to ponderMarch 30, 2007 5:21 pm

setelah posting dengan judul yang mirip…ya…about truth….ternyata setelah pulang kantor kemarin aku benar-benar dihadapkan pada pertanyaan itu…meskipun sama sekali ga ada hubungannya.

kebenaran, punya siapa?  to whom does truth belong?

kepada yang kuat? kepada yang berani? kepada yang menjunjung nilai-nilai yang dipercayai? kepada yang mainstream? kepada yang berbeda? kepada siapa?

kemudian kebenaran itu milik siapa ketika jalan kekerasan menjadi pilihan untuk memperjuangkan "kebenaran"? kebenaran apa yang menghakimi kebenaran-kebenaran versi lain? ataukah sejatinya dalam hidup ini, tidak ada yang namanya kebenaran?

apakah kebenaran menutup jalannya perbedaan, dan apakah kebenaran itu hanya ada satu versi? adakah yang namanya kebenaran sejati?

tanda tanya besar…dan menyakitkan hati hanya mampu memandangi orang meneriakkan kebenaran sembari menyakiti orang lain. 

apakah kebenaran itu dibenarkan tanpa memandang caranya…kebenarankah itu?

merintih dalam hati, hanya itu yang kubisa…memandangi negara ini yang katanya unity in diversity…tetapi betulkah kita menghargai perbedaan? betulkah kita menemukan kebenaran dalam cara-cara kita yang semakin hari semakin anarkis…

dan angin nusantara pun mungkin tak berani berbisik lagi.

*memandangi berita televisi tentang insiden yang memacetkan salah satu ruas jalan Jakarta…ah….lagi?? kenapa harus dengan cara ini…*

fragments of life, mouse in the houseMarch 29, 2007 8:28 am

“Pasaran?  Ih, enggak banget deh…”

Mungkin itu salah satu ekspresi pertama yang terlontar kalau mendengar kata “pasaran”.  Apalagi kalau bicara tentang hal-hal yang pribadi…seperti “ih, seleramu pasaran”, “ih, baju kok pasaran…”, “HP seribu umat, pasaran ah…” 

Bete kan kalau dikatain pasaran?

 

Coba kalau ada yang bilang, “Eh, Jeng, mukamu kok pasaran ya?” Bakalan tersinggung? Juengkel? Atau pasrah aja…”yah memang mukanya gini, mau diapain lagi…?”

 

Kalau aku, dengan jujur dan legawa *pinjam istilah ya…* emoticon, mengakui bahwa wajahku “pasaran”.
Mau disebut dengan istilah “Jawa banget” kek, “Indonesia banget” kek…intinya ya itu, “pasaran”.

 

Setelah sebelumnya di Jogja, waktu mengajar, aku sering ditanyain murid-muridku apakah aku punya adik kuliah di sini atau di sana gara-gara mukanya mirip banget.  Ada juga yang bilang, “Eh, Miss, muka Missnya mirip lho sama temen SMAku…” atau, lebih parah, “Miss, Missnya tu mirip lho sama tanteku..” *gubrak*  Tapi, terutama kalau yang komentar gitu cowok *dan mayoritas sih iya, kalau cewek tahu kali ya perempuan sensi kalau dimirip-miripin* , aku sering menganggapnya sebagai angin lalu dan merupakan cara mereka untuk berkomunikasi dan ngobrol lebih akrab *siapa tahu dapet tips-tips biar listeningnya bagus…iya to*.  Tanggapanku standard, “Ah, ya gini deh kalau muka pasaran, banyak yang ngembari…” atau kalau lagi kambuh urat narsisnya, “Ya kalau muka manis emang banyak ditiru…”

 

Tapi kali ini, sesudah enam bulan lebih ga bersentuhan dengan murid yang aneh dan lucu-lucu, ternyata aku diingatkan kembali, bahwa yang namanya muka pasaran, dibawa sampai kemana, kok tetap ada yang ngembari ya…

Sekitar dua minggu yang lalu, aku dan ‘teman’ku janjian dinner sama sepasang suami istri…sang suami kerjanya berkaitan sama ‘teman’ku, sementara sang istri baru aja masuk ke kantorku, manajer baru di salah satu proyek. 

Sambil bercanda, ‘teman’ku tanya sama ibu itu,

“Kamu nyangka ga kalau aku datangnya sama dia,” sambil nunjuk aku. 

Ibu itu senyum sedikit, terus bilang, “Iya dan enggak sih…  Soalnya waktu kita ketemu di bank aku tanyain dia bilang nggak.” 

“Bank? Bank apaan ya?”

“Bank M___i.  Dua hari yang lalu kan kita ketemu di bank to?”

“mm….ga juga tuh…saya kan ga pernah ke bank M itu?”

“Wah, pantesan…ga nyambung… Mirip banget, sampai takajak ngobrol… Jadi malu nih…”

 

Aku jadi agak heran….
Lebih heran lagi hari Senin kemarin, lagi asik-asiknya ngerjain file, ada bapak-bapak teman sekantor yang datang ke lantai tempat aku bekerja, nyariin temen kerja yang mejanya satu lantai sama aku.  Orangnya ga ada, dan bapak itu SMS si teman kerja. 

Sambil menunggu balasan, bapak itu duduk-duduk, dan tiba-tiba, “Eh, Sabtu kemarin ikut ngantar rombongan penganten itu ya? Anak kantor sebelah?” 

“Wuah…siapa yang nikah, Pak?” (secara aku salah paham, kupikir dia mau cerita sambil mengisi kekosongan)…

”Itu, anak gedung sebelah. Adik ikut kan nganter, saya lihat tempo hari…” 

“Oh, saya…? (baru ngeh kalau itu tadi pertanyaan).  Ga tu Pak, saya ga ikut. Saya malah ga tahu siapa yang nikah, Pak.” 

“Kemarin, di Indrapuri..nggak ikut?”  (keukeuh juga nih…)

“Hehe….nggak, Pak.”  *ngeles mode on* “Bapak ikut ya, Pak?  Yang Bapak liat mirip saya ya Pak, hehe….kayaknya ada orang mirip saya nih, soalnya ibu X juga sempat salah kira….”

“Oh, bukan ya, saya pikir Adik.”

 

Waduh…aku ini mukanya berarti Indonesia banget ya…di Jawa pasaran, di Bali dikira orang Bali, di Aceh kalau ga dikira orang Aceh dan di”tes” pakai sapaan bahasa Aceh, atau ternyata masih ada juga yang salah mengenali…waduh…semoga “kembaranku” orangnya suka senyum…supaya aku ga kena getahnya…hehe….jangan sampai suatu hari ada orang nuduh aku somse gara-gara ketemu di jalan tapi jutek….nasib..nasib…

 

Pasaran….due…pasaran…..

fragments of life, in the line of duty 8:17 am

sudah seminggu lewat… tetapi masih ada kisah yang belum sempat kuceritakan…

 

seminggu yang lalu, pada sebuah Kamis sore, jam sudah menunjukkan waktu lewat jam lima sore waktu teman sekantorku ber”bubye…bubye” dan melangkah keluar.  Sebenarnya aku juga pengen keluar bareng…tapi berhubung tinggal sedikit lagi kerjaan yang tersisa..nanggung ah…
yang nanggung itu ternyata makan waktu sekitar 15 menit, dan aku bergegas pulang ketika semuanya sudah selesai.

 

Dalam benakku sudah terbayang sampai di ujung jalan, kira-kira 400 meter dari kantor, di sebuah perempatan jalan yang cukup ramai dengan lalu lalang truk-truk besar, untuk memanggil tukang becak motor yang biasanya nongkrong di seberang jalan.  Benar saja, dari kejauhan kulihat serombongan bapak-bapak duduk di atas becak di seberang sana…  sambil bersiap-siap mencari tempat yang strategis untuk menunggu dan melambai…eh, kok aku malah aku melihat teman sekantorku yang sudah dari tadi meninggalkan kantor…  Jadilah aku menghampirinya sambil bertanya (setengah “menuduh”)…”Tunggu apaan? Labi-labi?”  “Ga”, jawabnya, “Becak.” “Hah, la itu apa? Di sebrang?” “Becak.  Tapi mereka dari tadi dipanggil ga mau…”

 

Oh my…kuitung-itung sendiri ada lima sampai enam becak berkelompok di sana…  sementara untuk menyeberang, harus bersaing dengan orang-orang yang melanggar lampu merah, becak, motor, mobil truk..walah…..   muka mereka pun menghadap kami, tapi ketika kucoba melambai pun…nihil.  Jengkel…iya.  Capek…iya… Kesal…banget…

 

Akhirnya kami memutuskan untuk menunggu becak yang lewat saja, daripada menyeberang jalan…  Akhirnya, setelah menunggu 10-15an menit kemudian…ada juga becak yang lewat, dan sesudah tawar menawar dicapai kesepakatan…dan tepat waktu kami naik, terdengan teriakan “hoi!” dari seberang jalan….


 


 

Terasa sang bapak tukang becak agak-agak ga enak ati.  Dia bertanya apakah kami sudah tawar menawar dengan tukang becak di seberang jalan, wah pak…pak…gimana mau nawar…wong datang aja ga mau…

 

Sepanjang perjalanan, berkali-kali si bapak bertanya, beneran kan kami yang manggil dia, bukannya dia yang ngerebut rejeki orang….dan selain takut merasa bersalah…ada juga sekilas rasa takut yang lain…karena akhirnya kami harus ambil jalan memutar supaya ga lewat persis di depan tempat nongkrong mereka…ah….

 

Rejeki…usaha….apakah yang berarti dalam hidup ini?  Apakah mereka butuh dihargai, atau simply, sombong?  Siapa sih yang lebih butuh, penjual jasa atau pemakai jasa…bukannya dua-duanya butuh…dan perlu saling menghormati…

Salah satu kalimat yang diucapkan tukang becak kami, mereka yang ga ramah sama kami memberikan nama jelek buat tukang becak lain, karena bisa-bisa semua orang berpikir tukang becak di Aceh sombong-sombong dan males-males…. Waduh, jujur saja ya…bukannya ga terlintas, hehe…. Tapi berhubung sebelumnya selalu ga masalah pakai tukang becak, aku sendiri tidak merasakan prasangka yang terlalu umum gitu, hanya memang aku jadi ilfil sama mereka dan berusaha untuk ga cari becak di tempat itu lagi…nah lho…bener juga ya…

Seandainya saja aku bukan orang satu-satunya yang mengalami itu…sudah berapa rupiah rejeki yang mereka buang? Tidak hanya sekali…tetapi mungkin untuk banyak kali sesudahnya…ah, rejeki…tanpa usaha dan kerendahan hati, mana mungkin.

 

Bapak Becak, bagi kami, lewatnya Bapak menjadi rejeki kami, karena siapa yang tahu sempai berapa lama lagi kami harus menunggu sebelum kami bisa pulang sore itu…

Kamis, 22 - 27 Maret 2007

fragments of life, di sini senang di sana senangMarch 21, 2007 2:22 pm

Cafe Bohnen [German] in English means "Coffee Beans" is a cool new place to have meals and hang out at the side of Krueng Aceh…riverside view is guaranteed  emoticon

CafĂ© Bohnen, atau coffee beans, atawa biji kopi… adalah sebuah restoran yang dibuat berkonsep ruang terbuka.  Sebenarnya sih ruang utama restoran ini adalah sebuah extension dari teras sebuah ruko yang menghadap ke sungai Krueng Aceh (wah, redundant, wong “krueng” itu artinya sudah “sungai”…).  Jadi yang jelas-jelas berdinding adalah bagian belakangnya, dengan pintu terbuka ke arah lantai pertama ruko yang berfungsi sebagai dapur.

Dengan dapur minuman dibuat ala bar *tapi dijamin ga ada alkoholnya…* di bagian luar bangunan, jadi terasa banget ambience “lain” dari tempat ini.  Sang bartender cum pembuat kopi cum kakak kandung manajer restoran bangga banget dengan coffee machine-nya yang memang menghasilkan kopi yang topz!!

Cuma satu hal…sebaiknya bawalah kesana *seperti kemana-mana sih di Banda Aceh* lotion anti nyamuk…  tapi salah satu bukti bahwa resto ini concern dengan kenyamanan pelanggan, to a certain degree, mereka menyediakan berbotol-botol lotion anti nyamuk dengan merek “senior” yang bisa dibawa ke meja masing-masing…

 

Hm…asik juga…  Meskipun konsep resto ini memang ditujukan untuk membidik selera para bule, tetapi harganya tidak terlalu mengerikan… dan mereka berencana memadukan lebih banyak menu bercitarasa  lokal untuk mencoba survive sesudah para bule angkatz kaki…

Oh ya, kenapa namanya berbahasa Jerman… hm…sejujurnya sih, pelanggan setia sejauh ini memang orang Jerman, hehe…karena anggota keluarga dari penanam modal utama (yang berada di…guess where…yak tul, Jakarta!! the city of investors emoticon ) bisnis “keluarga” ini memang bekerja untuk organisasi Jerman di BA.  Tapi di balik itu, dua bapak yang menjalankan resto ini ndilalah lulusan universitas di Jerman, jamannya kuliah di Jerman masih gratis asalkan cas cis cus bahasa Jermannya layaknya orang “pribumi”.  Istri sang manajer cum chef lebih Jerman lagi karena berhutang sebagian DNAnya pada sang mama yang Jerman asli.

Well, ayo main ke BA!!! Kalau “kebetulan” mampir di sana, cari aja daerah namanya Peunayong, deket-deket Simpang Lima…. Asal ga nyasar, pasti ketemu *walah*

See ya…

mouse in the house, di sini senang di sana senang 2:18 pm

some Sundays are simply worth dying for…some are just….memorable…

like being stuck in the mud

Sunday, March 10, 2007
We decided to visit a colleague, well, actually a group of colleagues,building their “beach house” on the East coast of Banda Aceh.  My dear friend decided to take his beloved motorbike, regardless of the fact that the sky was a bit cloudy.
But in the end, that was NOT the problem.

The problem was that the night before we left, Saturday midnight, to be precise hard rain poured over Banda Aceh and the surrounding areas…but you know, before we left, we did not have a clue on whether this would influence out journey or not.  We, actually, it was ME who did not have a clue.

So we had a nice ride…until we got there, around 30 minutes drive from where we live.

And the trouble began when the motorbike had to go through some deep mud.
There was so much mud stuck under the mud guard of the front wheel that it simply stopped turning. Gosh…

The colleagues ended up having to pick us up, and we then had to return with a big plastic can of water and several types of make-shift tools to try to solve the problem.

After a bad case of sunburn for my fair-skinned friend, and the reinforcement of the patterns of my trekking sandals on my feet, we managed to get it free.  So we made a promise to ourselves to go there next time ..if any time, by car, the  precious, cool four wheel drive car that sticks around at the house during weekends.

 

 

And so, we kept our promise.

The following Sunday, armed with a bunch of snack, some bottles of water and the four wheel drive car, three bules and an Indonesian set out for another adventurous journey, though not at the same spot we went to the previous week.  Well, to be honest, it was not really meant to be that adventurous.  But the curious nature of four heads combined got the better of us, and we decided to take a smaller path going out of the main road ,”just to see where it ends up”.

As you might have predicted, it went quite a way.. through the mighty bushes and logging sites *don’t you dare to ask, legal???*

And then, ended up somewhere in the middle of bushy valley, with the path narrowing down until only motorbike can get through.  Well, that was the end of our “adventure” and we had to turn back.

But we did not arrive at that point without going through…guess what, yup, MUD! AGAIN.

Seemed like the road was quite muddy, and the sight of truck going out of the site which originally put us on high spirit (well, that means the road is going somewhere, right?), soon made us realize hat the truck left behind a deep track on the mud that made it more difficult for our car that has a lower chassis to go through.  Oh well…..

So, there we were…Sunday after Sunday…mud holes after mud holes….
Well, that’s what life is for, isn’t it?

Adventures…little bit, one at a time…but adventures still they were.