Sebuah pertanyaan yang sekali lagi menderaku….sesudah pertemuan dengan seorang teman lama (Mbak, semoga kamu ga keberatan kusebut teman…) yang membawaku pada perenungan, apa sih resep percaya diri itu?
Sesudah merenung pun, aku pikir aku tidak akan tahu jawabannya, dan mungkin juga ga tahu bagaimana menjadi percaya diri…tapi kok tetep pengen rasanya berbagi perasaan tentang apa yang kurenungkan tentang…DIA…iya, dia yang membuatku merenung dan tak habis-habisnya heran…walah, Mbak, njenengan ki kurang opo…?
Mbak, “kami” dulu cukup “terkagum-kagum” dengan kebesaran hatimu yang bertahan dengan orang yang kaucintai…yah, mungkin kamu memang benar-benar mencintai dia, dengan segala kegantengan dan kehebatannya di matamu…Tapi Mbak, kalau boleh jujur pada diri sendiri, pernahkah kau bertanya, apakah dia benar-benar mencintaimu?
Mungkin cinta memang tidak bisa dibandingkan. Tidak bisa kita menuntut orang lain untuk mencintai kita sebesar kita mencintai dia, ataupun mereka…tidak mungkin sama, dan sebaiknya tidak dibandingkan. Tetapi apakah itu artinya kita membutakan mata pada seseorang yang “mungkin” tidak benar-benar mencintai kita?
Aku ingat bahwa kamu sangat ingin dia menikahimu…aku ingat bagaimana kudengar keluh sedih hatimu ketika tabungan yang kauharapkan untuk menikahimu ternyata dipakainya untuk sekolah lagi….hm…waktu itu kami semua masih tetap bahagia untukmu, ah…rupanya dia laki-laki yang cukup luas pandangan, menuntut ilmu tak henti, mumpung masih muda dan belum punya tanggungan…dan toh, bisa dibilang investasi kan…
Dan kami pun senang ketika dia menginspirasi kamu untuk melamar program pertukaran ke luar negeri, sembari mencari pengalaman dan menunggu dia siap menikahimu. Sejujurnya, sungguh mengejutkan bahwa kamu yang begitu low profile dan selalu kurang percaya diri ternyata menjadi salah satu yang terpilih itu…meskipun, tahu ga sih Mbak, you really deserve it.
Dan ternyata, bukan cuma kejutan untuk kamu, untuk kami, tapi juga untuk cowokmu waktu itu.
Dan kami berdoa…sungguh-sungguh berdoa bahwa kamu tahu apa yang terbaik, ketika dia mengatakan padamu, bahwa dia bersedia menikah saat itu juga…dan mungkin tak bisa menunggu sampai saat kau kembali. APA? Hari demi hari kami cemas menantikan hari keberangkatanmu, dan terus berharap kamu tahu bahwa hidup adalah milikmu… Dan kamu berangkat. Tapi kesedihan kami tak berakhir ketika kami mendengar bahwa di dunia yang jauh dari rumah, tempat yang indah, baru dan penuh petualangan itu…kamu hanya terngiang-ngiang pada dirinya…yang menepati janjinya untuk tak mengangkat teleponmu dan tak mengirim satu e-mailpun kepadamu selama di sana.
Dan kamu pun kembali. Mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, karir yang melesat. Dan tentu saja, menemukan sang mantan kekasih telah menemukan kekasih baru.
Ingatkah apa yang kaubisikkan padaku waktu kita bertemu dan kau menceritakan padaku bahwa kamu baru saja dipromosikan? “Tahulah…masalahku, seperti biasa…kurang pede…”
Ingat reaksiku? “You’ve got no reason not to feel confident.”
Dan sambil lalu kutanyakan dia, yang kutahu masih di hatimu, jawabanmu, “Iya, sudah lulus, kerja dan punya cewek baru lagi…”
Dan tanyaku, “La kowe piye?”
“Masih berharap dia segera putus.”
“Ngapain, Mbak? Opo yo nek putus mesti mbalik ning kowe…rak yo rung mesti to…”
“Tapi kan kalau dia putus minimal aku masih ada harapan…”
Oalah, Mbak…
Apa sih resepnya percaya diri itu?
Mungkin percaya diri resepnya sejumput kesuksesan, tapi kupikir, itu kamu punya… kepandaian, kamu tak kurang, bentuk tubuh yang menarik, ah Mbak, kurang apa… sahabat dan keluarga, ada di samping kamu…
Jadi kenapa tak juga kau melihat, mungkin bukan kamu yang tak pantas untuk dia cintai, Mbak, dialah yang tak pantas untukmu.
Seseorang yang merasa kecil ketika orang terkasihnya berkembang.
Seseorang yang tidak mau mengakui ketakutannya dengan berdialog, tetapi malah mengambil langkah mengancam…
Mbak, cintailah dirimu sendiri…
Ah, mungkin resep pede itu mencintai diri sendiri.
Bertanya pada diri sendiri, apakah ini yang kuinginkan? Apakah yang harus kulakukan untuk mendapatkannya?
Bertanya pada diri sendiri, dan bersikap cukup sportif untuk menghadapi kenyataan, dan terus melangkah maju, jiwa dan raga.
Bertanya pada diri sendiri, apakah aku layak menerima dan pasrah dengan apa yang kualami…
Dan bertanya, apakah ini baik untukku?
Mbak, Tuhan itu memang tidak buta, dan juga tidak tuli…
Tapi juga lebih dari itu, Dia tidak bisu.
Dibisiki-Nya kita dengan nasehat dan cinta, tapi kadang kita tak mendengar.
Dia duduk di depan kita, dan mengajak berbicara, tapi kita terlalu sibuk.
Diteriakkan-Nya peringatan dengan rasa kawatir dan cinta… tapi kita tutup kuping….
Dijitak-Nya kepala kita karena kita tetap cuek dengan semua pesan-pesannya…
Jadi…mungkin akhirnya Dia mebiarkan kita tersandung dan jatuh…mungkin juga akhirnya karena terlalu cinta Dia menopang kita supaya tak jatuh…entahlah…itu misteri…
Tapi Tuhan memberikan kita semua yang kita miliki, untuk dipergunakan…
Akal, budi, kemampuan, kesuksesan, kepandaian, kesakitan, pengalaman hidup, kesedihan, kegembiraan…
Tapi apakah kita layak mengubur semua itu hanya karena tidak percaya diri?
Percayakah kamu bahwa Tuhan yang menciptakan kita dengan penuh kasih itu, menciptakan kita hanya untuk berkubang dalam harapan kosong dan kesunyian…?
Apakah memenagkan seseorang itu cinta, atau obsesi saja?
Di antara semua kesuksesan itu, Mbak, ambillah energi…untuk terbang dan membuka diri…
You deserve something better….
Mbak, orang yang hidup dalam hatimu, siapapun dia…kamu yang kecil dan kekanak-kanakan, kamu yang dewasa dan keibuan, kamu yang pecinta, sabar dan pasrah, kamu yang keras kepala…semuanya…layak mendapatkan cinta.
Pertama-tama…dari diri sendiri… Kasihilah dan kasihanilah DIA yang layak kau cintai… dan kamu akan menemukan suatu hari nanti, Mbak, diri kita terlalu berharga dan terlalu istimewa untuk direndahkan dengan rasa rendah diri…
Every single person IS special. And I do believe that, and I did find that it is true. Hope you find your way to happiness, it’s never perfect, not it’s not, but let your heart love yourself, first and foremost…than wanting somebody who doesn’t love you to love you back…









