Sebenarnya kisah ini agak basi untuk diceritakan, tetapi bagian epilog dari kisah ini masih belum berakhir..jadi mungkin masih relevan untuk berbagi…dan kupikir, sebuah ide brilian yang menjadikan semua ini nyata, dan indah adanya.
Oktober 2006, aku masih mengajar sekelompok orang asing di BA, ketika aku didekati salah seorang muridku dan mulailah dia bercerita. Muridku ini, sebut saja Audy (nama Indonesia ya…tak apa lah…), tinggal bersama-sama dengan sekelompok bule lain dalam sebuah rumah, ngontrak bareng ceritanya. Dan mereka punya seorang pembantu yang bantu bersih-bersih dan cuci pakaian. Waktu itu mereka baru saja tahu bahwa sang pembantu ternyata menderita kanker, dan mereka pengen banget bantu. Tapi seberapa sih kalaupun sepuluh orang bule menyisihkan sebagian kecil uang mereka, kan juga nggak mungkin mencapai biaya yang cukup untuk membayar operasi dan perawatan sesudahnya, seperti yang mereka inginkan. Tapi untuk sekedar minta sumbangan, memangnya orang tertarik, kan orang susah juga banyak…jadilah mereka muncul dengan satu ide, malam dana.
Tapi malam dana di sini bukannya pentas seni, bazaar, dll seperti yang kita kenal. Berhubung mereka ga mau sang pembantu malu, mereka berusaha banget merahasiakan usaha mereka cari dana buat dia…dan jadilah mereka gerilya mendekati satu per satu orang yang pengen mereka ajak gabung.
Kenapa mereka deketin aku juga? Tentunya bukan karena aku bisa nyumbang duit banyak dong….waduh….masa staff Indonesia diarepin nyumbang lebih banyak dari bulenya…ngawur…mau makan pake apa…
Tapi ternyata ide mereka benar-benar menyenangkan…acara puncak dari malam dana mereka adalah sebuah auction, ya…sebuah lelang…
Tapi lelang ini bukanlah sembarang lelang…mereka menyebutnya sebagai “special experience auction”, artinya yang dilelang adalah kesempatan-kesempatan langka untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, berdasarkan apa yang ditawarkan. Bingung?
Kukasih contoh berdasarkan aku aja ya…karena aku guru bahasa Indonesia (waktu itu…) Audy bertanya apakah aku bersedia memberikan beberapa jam waktuku untuk ngajar orang yang mau bayar tertinggi, atau mungkin jalan-jalan keliling Pasar Aceh yang rupanya menarik untuk para bule itu….wah, jelas aja aku langsung mau…seneng rasanya bisa nyumbang sesuatu meskipun aku ga punya duit, ga punya dana untuk disumbangkan begitu aja…tapi itu jadi membuat apa yang bisa kulakukan, ngajar bahasa Indonesia, jadi bisa mendatangkan dana buat mereka…
Malam itu, ternyata rame banget yang datang…dan kira-kira ada dua belas kegiatan yang dilelang…ada yang menawarkan kelas fitness, kelas salsa, kelas bilyar, ada yang menawarkan photo shooting dua hari sampe keluar kota, tour ke tempat-tempat bersejarah di BA, makan malam bersambung alias progressive dinner , dan…tentu saja..kelas bahasa Indonesia…
Singkat cerita, seru banget acara malam itu…tapi bukan itu saja yang mengena di hati. Malam itu, entah berapa yang berhasil disumbangkan masing-masing kegiatan, entah bagaimana hasilnya nanti kelas-kelas yang ditawarkan…tapi yang indah adalah perasaan bahwa setiap orang berusaha memberikan apa yang bisa diberikan, kemampuan terbaik yang mereka miliki…ahli bank perkreditan rakyat (nah lho) yang bisa nari salsa ngajar salsa, ahli ekonomi yang jago motret kasih kelas fotografi, yang punya waktu dan suka masak bersama-sama ngasih progressive dinner..dan aku bersama temen kerjaku waktu itu yang sama sekali ga punya dana, menawarkan kelas bahasa…yang tentu saja gratis bagi kami yang ngasih dan menghasilkan dana untuk operasi sang ibu…
tahukah kamu, satu malam saja…dari semuanya, penjualan makan malam, minuman dan lelang… menghasilkan 14 juta rupiah….cepet? gampang? Benarkah?
14 juta bukanlah harga yang mahal untuk nyawa seseorang, bukan juga harga mahal untuk segala keceriaan yang menghiasi malam minggu itu…di mana semua orang dengan penuh kerelaan memberikan waktu, tenaga, uang dan kasih untuk berbagi…
Seseorang berbagi kelas salsa denganku, dan menciptakan kenangan indah yang memberikan arti khusus bagi perkembangan relasiku…
Tapi tanpa kerelaan dan kesediaan untuk berbagi, tanpa keterlibatan, sensitivitas dan inisiatif…akankah semua terjadi…?
Pertanyaan yang bagus.
BA, February 11, 2007.
Hi....I am Die Kleinetheresia. It has nothing to do with I am being small or something...just an alternative interpretation of the origin of my christian name. I am an Indonesian girl who is trying to experience living in different places of Indonesia, enjoying the culture and experience.







