fragments of life, mouse in the house, di sini senang di sana senang, Bahasa IndonesiaFebruary 3, 2007 5:25 pm

hm…ini adalah salah satu artikel yang keliatannya bakalan memakai bahasa campur-campur, jadi bagi yang kurang suka, mohon maaf gitu…

melanjutkan eksplorasi di kota Medan yang pada dasarnya adalah mengubek-ubek mall (BA is a great city, but you have to admit there is not too much choice regarding shopping centers..), kami memutuskan bahwa rasanya sayang banget melewatkan pemandangan di luar mall.  tapi berhubung di siang hari kami harus mengerjakan banyak hal yang ga bisa ditunda sampai malam, dan panas bo’…akhirnya kami memutuskan untuk mendekati salah satu tukang becak yang nongkrong di depan hotel, dan tanya-tanya, berapa sih muter-muter kota selama satu jam?  setelah sepakat dengan harga (40000 per jam), kami pun menikmati Medan di waktu malam dengan becak (becak motor loh….kalau becak sepeda, kok ya inhuman banget, alias tidak manusiawi…genjot non stop sejam bayar 40000…hiii….).

apa yang dilihat dan betapa semua terlihat eksotis di waktu malam, I will let the pictures speak for themselves.. sekedar informasi, selain memperkecil size filenya dan ngumpulin dalam satu slide, tidak ada manipulasi komputer dalam gambar-gambar ini…we were so happy…

yang tak terlupakan juga adalah bahwa becak kami disemprit polisi!!! emoticon waduh…. ceritanya di sebuah tikungan ada lampu merah, karena jalan yang kami ambil tu ga pakai nyeberang, hanya ngikuti tikungan itu, nekadlah si tukang becak….tancap bang! eh, ternyata di jalan yang kami masuki ada polisi, dan lampu hijau dari ruas jalan itu masih lama…jadi keliatan banget semua kendaraan lain masuk dari ruas kiri, cuma becak kami membaur dari ruas kanan….dari kejauhan, terlihat seorang petugas mulai menyeberang jalan sambil menyemprit dan nunjuk-nunjuk..waduh…gaswat…kami udah mulai berdiskusi, "Schatz, who will pay the ticket?" alias, kalau ditilang siapa yang mbayar nih? tapi, guess what, itu polisi udah di depan mata (untung cuma berdiri, ndak di atas motor…emoticon), eh, si tukang becak melenggang…persis di depan hidung bapak polisi…tapi entah karena yang naik becak ada bulenya…kok ya ndak dikejar…he…he…atau juga kalaupun dikejar nggak setimpal gitu…embuh lah….yang jelas, malam itu a magic night in Medan, for the trip, the amazing buildings at night, the "almost" police chase…

thank you Schatz…

Medan, January 16, 2007

fragments of life, mouse in the house, Bahasa Indonesia 5:01 pm

setelah sekian lama "terkubur" dalam kerjaan dan travelling yang rasanya ga abis-abis, meskipun dengan super maksa, bisa online agak santai.  setelah mudik untuk Natalan (wah, jauh banget flashback-nya..), ke Bali untuk mengunjungi sobat sekaligus tahun baruan, kerja di BA, ke Medan untuk mengadu untung, dan balik ke BA lagi, harus ngurusi kunjungan donor…huah…memaksa diri untuk berhenti sejenak menuangkan ide yang sudah numpuk…

pernahkah terbayang noraknya duduk gelisah di gerai makan yang super enak hanya karena merasa deg-degan? nah, inilah kisah noraknya diriku makan-makan bersama "mas"ku di Medan. 

alkisah kita mau makan siang di sebuah mall yang lumayan keren…(wah, sesudah BA, rasanya lain gitu ngeliat stilleto and mini skirt di mana-mana, he…he…).  cari-cari, akhirnya mencloklah kami di gerai Thai Express, yang kalau ga salah terletak di lantai 4 mall itu. pesen makanan yang kayaknya enak, baru deh duduk dengan lega dan nyaman, selama beberapa detik…karena sesudahnya, tiba-tiba aku merasa lantai bergetar…ah, mungkin perasaanku saja, eh…lagi….jadilah aku dag dig dug ga karuan. 

karena kalau sampai nih mall ini harus dievakuasi, ga jamin deh, selamat semua. bukan menakut-nakuti, bukan juga menyepelekan fasilitas dan kinerja orang-orang di mall.. tapi ngeliat begitu banyak orang lagi jalan-jalan, apa iya mereka bisa dengan kepala dingin berbondong-bondong mengikuti instruksi, atau malah menyakiti diri sendiri waktu menyelamatkan diri. 

anyway, aku gugup berat deh…bukan apa-apa, aku berangkat dari BA ke Medan hari Jumat pagi, dan Kamis siang-siang, lagi mumet ngejar segala kerjaan yang harus selesai dan briefing sama bosku kira-kira apa aja yang harus kusiapin sementara aku off, eh…gluduk…gluduk…gitu deh, sudut-sudut meja berbenturan dengan dinding..ga ada yang lari, bahkan bangkit dari kursi pun nggak, kami cuma liat-liatan…dan akhirnya, "udah lewat ya? udah kan?" lalu cengar-cengir.  tapi kalau soal deg-degan, ya tetep aja jalan terus (meskipun ga bisa dibandingin ngerasain gempa di kantor sendiri berlantai dua yang isinya cuma 20an orang dan mayoritas di lantai 1, dengan kalau sampai ngerasain di mall, lantai 4, dengan ribuan orang lain…hiii….)

setelah berkonsultasi dengan Mr. Engineer, dia berhasil meyakinkan aku bahwa kemungkinan besar di bawah spot gerai tersebut ada ruang generator, atau pendingin, atau apalah, yang bergetar terus menerus… aku juga berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa di mana-mana memang lantai mall cenderung bergetar, ga di Citraland, di Malioboro, bahkan yang cuma Mirota Kampus (hiks…kangen…)…

tapi, yah, dasar norak, he…he…tetep aja aku nggak bisa tenang menikmati menu yang kupilih (lupa namanya), yang puedes enak mantep…dan sekalian nyolong-nyolong kwetiau "mamas" yang uenak tenan…alhasil, makan cepet-cepet…en…kabooorr…(sesudah mbayar, tentu saja…), sambil sedikit berjanji dengan panuh penyesalan,"ga mau makan di situ lagi…." padahal enak tenan rasanya…

Moral of the story: Thai Express ternyata enak emoticon meskipun harus ati-ati mencermati berapa icon cabe yang tertera di samping nama masakan…tapi lain kali, kalau duduk di mall, mungkin minum dulu kali ya…emoticon untuk menjajagi getaran lantai *walah* daripada udah pesen, masaknya lama (berarti dijamin fresh kan…), en ternyata enak (kalau ga enak sisan kan bisa ditinggal…), tapi ga nyaman karena ndeso en noraknya diriku yang deg-degan…emoticon