fragments of life, points to ponderFebruary 26, 2007 1:26 pm

Sebuah pertanyaan yang sekali lagi menderaku….sesudah pertemuan dengan seorang teman lama (Mbak, semoga kamu ga keberatan kusebut teman…) yang membawaku pada perenungan, apa sih resep percaya diri itu?

Sesudah merenung pun, aku pikir aku tidak akan tahu jawabannya, dan mungkin juga ga tahu bagaimana menjadi percaya diri…tapi kok tetep pengen rasanya berbagi perasaan tentang apa yang kurenungkan tentang…DIA…iya, dia yang membuatku merenung dan tak habis-habisnya heran…walah, Mbak, njenengan ki kurang opo…?

Mbak, “kami” dulu cukup “terkagum-kagum” dengan kebesaran hatimu yang bertahan dengan orang yang kaucintai…yah, mungkin kamu memang benar-benar mencintai dia, dengan segala kegantengan dan kehebatannya di matamu…Tapi Mbak, kalau boleh jujur pada diri sendiri, pernahkah kau bertanya, apakah dia benar-benar mencintaimu?

Mungkin cinta memang tidak bisa dibandingkan.  Tidak bisa kita menuntut orang lain untuk mencintai kita sebesar kita mencintai dia, ataupun mereka…tidak mungkin sama, dan sebaiknya tidak dibandingkan.  Tetapi apakah itu artinya kita membutakan mata pada seseorang yang “mungkin” tidak benar-benar mencintai kita?

Aku ingat bahwa kamu sangat ingin dia menikahimu…aku ingat bagaimana kudengar keluh sedih hatimu ketika tabungan yang kauharapkan untuk menikahimu ternyata dipakainya untuk sekolah lagi….hm…waktu itu kami semua masih tetap bahagia untukmu, ah…rupanya dia laki-laki yang cukup luas pandangan, menuntut ilmu tak henti, mumpung masih muda dan belum punya tanggungan…dan toh, bisa dibilang investasi kan…

Dan kami pun senang ketika dia menginspirasi kamu untuk melamar program pertukaran ke luar negeri, sembari mencari pengalaman dan menunggu dia siap menikahimu.  Sejujurnya, sungguh mengejutkan bahwa kamu yang begitu low profile dan selalu kurang percaya diri ternyata menjadi salah satu yang terpilih itu…meskipun, tahu ga sih Mbak, you really deserve it.
Dan ternyata, bukan cuma kejutan untuk kamu, untuk kami, tapi juga untuk cowokmu waktu itu.

Dan kami berdoa…sungguh-sungguh berdoa bahwa kamu tahu apa yang terbaik, ketika dia mengatakan padamu, bahwa dia bersedia menikah saat itu juga…dan mungkin tak bisa menunggu sampai saat kau kembali.  APA? Hari demi hari kami cemas menantikan hari keberangkatanmu, dan terus berharap kamu tahu bahwa hidup adalah milikmu…  Dan kamu berangkat.  Tapi kesedihan kami tak berakhir ketika kami mendengar bahwa di dunia yang jauh dari rumah, tempat yang indah, baru dan penuh petualangan itu…kamu hanya terngiang-ngiang pada dirinya…yang menepati janjinya untuk tak mengangkat teleponmu dan tak mengirim satu e-mailpun kepadamu selama di sana.

Dan kamu pun kembali.  Mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, karir yang melesat.   Dan tentu saja, menemukan sang mantan kekasih telah menemukan kekasih baru.

Ingatkah apa yang kaubisikkan padaku waktu kita bertemu dan kau menceritakan padaku bahwa kamu baru saja dipromosikan?  “Tahulah…masalahku, seperti biasa…kurang pede…”
Ingat reaksiku? “You’ve got no reason not to feel confident.”

Dan sambil lalu kutanyakan dia, yang kutahu masih di hatimu, jawabanmu, “Iya, sudah lulus, kerja dan punya cewek baru lagi…”
Dan tanyaku, “La kowe piye?”
“Masih berharap dia segera putus.”
“Ngapain, Mbak? Opo yo nek putus mesti mbalik ning kowe…rak yo rung mesti to…”
“Tapi kan kalau dia putus minimal aku masih ada harapan…”

Oalah, Mbak…
Apa sih resepnya percaya diri itu?
Mungkin percaya diri resepnya sejumput kesuksesan, tapi kupikir, itu kamu punya… kepandaian, kamu tak kurang, bentuk tubuh yang menarik, ah Mbak, kurang apa… sahabat dan keluarga, ada di samping kamu…
Jadi kenapa tak juga kau melihat, mungkin bukan kamu yang tak pantas untuk dia cintai, Mbak, dialah yang tak pantas untukmu.
Seseorang yang merasa kecil ketika orang terkasihnya berkembang.
Seseorang yang tidak mau mengakui ketakutannya dengan berdialog, tetapi malah mengambil langkah mengancam…
Mbak, cintailah dirimu sendiri…

Ah, mungkin resep pede itu mencintai diri sendiri.
Bertanya pada diri sendiri, apakah ini yang kuinginkan?  Apakah yang harus kulakukan untuk mendapatkannya?
Bertanya pada diri sendiri, dan bersikap cukup sportif untuk menghadapi kenyataan, dan terus melangkah maju, jiwa dan raga.
Bertanya pada diri sendiri, apakah aku layak menerima dan pasrah dengan apa yang kualami…
Dan bertanya, apakah ini baik untukku?

Mbak, Tuhan itu memang tidak buta, dan juga tidak tuli…
Tapi juga lebih dari itu, Dia tidak bisu.
Dibisiki-Nya kita dengan nasehat dan cinta, tapi kadang kita tak mendengar.
Dia duduk di depan kita, dan mengajak berbicara, tapi kita terlalu sibuk.
Diteriakkan-Nya peringatan dengan rasa kawatir dan cinta… tapi kita tutup kuping….
Dijitak-Nya kepala kita karena kita tetap cuek dengan semua pesan-pesannya…
Jadi…mungkin akhirnya Dia mebiarkan kita tersandung dan jatuh…mungkin juga akhirnya karena terlalu cinta Dia menopang kita supaya tak jatuh…entahlah…itu misteri…
Tapi Tuhan memberikan kita semua yang kita miliki, untuk dipergunakan…
Akal, budi, kemampuan, kesuksesan, kepandaian, kesakitan, pengalaman hidup, kesedihan, kegembiraan…
Tapi apakah kita layak mengubur semua itu hanya karena tidak percaya diri?
Percayakah kamu bahwa Tuhan yang menciptakan kita dengan penuh kasih itu, menciptakan kita hanya untuk berkubang dalam harapan kosong dan kesunyian…?

Mbak, kita masih percaya bahwa menikah itu untuk satu kali saja, selama hidup.  Satu pertanyaan, apakah kau, dan Tuhanmu, menginginkan kamu untuk menikahi orang yang tidak mencintai kamu, seumur hidup?
Apakah memenagkan seseorang itu cinta, atau obsesi saja?

Di antara semua kesuksesan itu, Mbak, ambillah energi…untuk terbang dan membuka diri…
You deserve something better….
Mbak, orang yang hidup dalam hatimu, siapapun dia…kamu yang kecil dan kekanak-kanakan, kamu yang dewasa dan keibuan, kamu yang pecinta, sabar dan pasrah, kamu yang keras kepala…semuanya…layak mendapatkan cinta.
Pertama-tama…dari diri sendiri…  Kasihilah dan kasihanilah DIA yang layak kau cintai… dan kamu akan menemukan suatu hari nanti, Mbak, diri kita terlalu berharga dan terlalu istimewa untuk direndahkan dengan rasa rendah diri…

Every single person IS special.  And I do believe that, and I did find that it is true.  Hope you find your way to happiness, it’s never perfect, not it’s not, but let your heart love yourself, first and foremost…than wanting somebody who doesn’t love you to love you back…

fragments of life, mouse in the house, English 1:08 pm

Do you have a clear picture in you mind when you heard the name “cordless phone”? Do you honestly imagine a phone without any cords and wires, more like a mobile phone, or does a different picture pop up in your mind?  Well, to be honest, long time ago, before I saw the thing myself, I pictured it more like a mobile phone, but then…I simply found out just a couple of days ago…that…hello, there are still sophisticated people who fell for the same trap…

The story started when the fixed line phone at home did not work properly.  We asked our landlord to change the phone and he came to us carrying a set of black cordless phone.  You know, the ones with two parts, the cordless handset with a set of dials, and the main unit where the handset “sits”, with its own dials.  Anyway, maybe it was the connection that was sooo bad, this phone also did not work properly, or so we thought.  So my dear dear house mate decided to borrow the office phone unit for the weekend, checking whether it would work.  His office phone, accidentally, is also a cordless phone.  Slightly different from the other phone, this one only has dials on the handset, so it looks a lot like one the ancient huge mobile phones and their desktop chargers. 

To make the story short, on the second weekend that my house mate borrowed the office phone, he returned on Monday morning, carrying the unit in a plastic bag and handed it over to the secretary.  Everything seemed to go well for the rest of the day, until he went next door, where the phone and the secretary sit, and the girl came up to him and said,

“Sir, the phone did not work all day long.”

 

He simply asked the first thing that crossed his mind (though he first thought it’s a bit silly of him to ask), “Did you plug the phone line in?”

The answer, “What phone line?”

fragments of lifeFebruary 19, 2007 9:58 am

 

fragments of lifeFebruary 12, 2007 10:16 am

Sebenarnya kisah ini agak basi untuk diceritakan, tetapi bagian epilog dari kisah ini masih belum berakhir..jadi mungkin masih relevan untuk berbagi…dan kupikir, sebuah ide brilian yang menjadikan semua ini nyata, dan indah adanya.

Oktober 2006, aku masih mengajar sekelompok orang asing di BA, ketika aku didekati salah seorang muridku dan mulailah dia bercerita.  Muridku ini, sebut saja Audy (nama Indonesia ya…tak apa lah…), tinggal bersama-sama dengan sekelompok bule lain dalam sebuah rumah, ngontrak bareng ceritanya.  Dan mereka punya seorang pembantu yang bantu bersih-bersih dan cuci pakaian.  Waktu itu mereka baru saja tahu bahwa sang pembantu ternyata menderita kanker, dan mereka pengen banget bantu.  Tapi seberapa sih kalaupun sepuluh orang bule menyisihkan sebagian kecil uang mereka, kan juga nggak mungkin mencapai biaya yang cukup untuk membayar operasi dan perawatan sesudahnya, seperti yang mereka inginkan.  Tapi untuk sekedar minta sumbangan, memangnya orang tertarik, kan orang susah juga banyak…jadilah mereka muncul dengan satu ide, malam dana.

Tapi malam dana di sini bukannya pentas seni, bazaar, dll seperti yang kita kenal.  Berhubung mereka ga mau sang pembantu malu, mereka berusaha banget merahasiakan usaha mereka cari dana buat dia…dan jadilah mereka gerilya mendekati satu per satu orang yang pengen mereka ajak gabung.

Kenapa mereka deketin aku juga? Tentunya bukan karena aku bisa nyumbang duit banyak dong….waduh….masa staff Indonesia diarepin nyumbang lebih banyak dari bulenya…ngawur…mau makan pake apa…
Tapi ternyata ide mereka benar-benar menyenangkan…acara puncak dari malam dana mereka adalah sebuah auction, ya…sebuah lelang…
Tapi lelang ini bukanlah sembarang lelang…mereka menyebutnya sebagai “special experience auction”, artinya yang dilelang adalah kesempatan-kesempatan langka untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, berdasarkan apa yang ditawarkan.  Bingung?

Kukasih contoh berdasarkan aku aja ya…karena aku guru bahasa Indonesia (waktu itu…) Audy bertanya apakah aku bersedia memberikan beberapa jam waktuku untuk ngajar orang yang mau bayar tertinggi, atau mungkin jalan-jalan keliling Pasar Aceh yang rupanya menarik untuk para bule itu….wah, jelas aja aku langsung mau…seneng rasanya bisa nyumbang sesuatu meskipun aku ga punya duit, ga punya dana untuk disumbangkan begitu aja…tapi itu jadi membuat apa yang bisa kulakukan, ngajar bahasa Indonesia, jadi bisa mendatangkan dana buat mereka…

Malam itu, ternyata rame banget yang datang…dan kira-kira ada dua belas kegiatan yang dilelang…ada yang menawarkan kelas fitness, kelas salsa, kelas bilyar, ada yang menawarkan photo shooting dua hari sampe keluar kota, tour ke tempat-tempat bersejarah di BA, makan malam bersambung alias progressive dinner , dan…tentu saja..kelas bahasa Indonesia…

Singkat cerita, seru banget acara malam itu…tapi bukan itu saja yang mengena di hati.  Malam itu, entah berapa yang berhasil disumbangkan masing-masing kegiatan, entah bagaimana hasilnya nanti kelas-kelas yang ditawarkan…tapi yang indah adalah perasaan bahwa setiap orang berusaha memberikan apa yang bisa diberikan, kemampuan terbaik yang mereka miliki…ahli bank perkreditan rakyat (nah lho) yang bisa nari salsa ngajar salsa, ahli ekonomi yang jago motret kasih kelas fotografi, yang punya waktu dan suka masak bersama-sama ngasih progressive dinner..dan aku bersama temen kerjaku waktu itu yang sama sekali ga punya dana, menawarkan kelas bahasa…yang tentu saja gratis bagi kami yang ngasih dan menghasilkan dana untuk operasi sang ibu…

tahukah kamu, satu malam saja…dari semuanya, penjualan makan malam, minuman dan lelang… menghasilkan 14 juta rupiah….cepet? gampang? Benarkah?
14 juta bukanlah harga yang mahal untuk nyawa seseorang, bukan juga harga mahal untuk segala keceriaan yang menghiasi malam minggu itu…di mana semua orang dengan penuh kerelaan memberikan waktu, tenaga, uang dan kasih untuk berbagi…
Seseorang berbagi kelas salsa denganku, dan menciptakan kenangan indah yang memberikan arti khusus bagi perkembangan relasiku…
Tapi tanpa kerelaan dan kesediaan untuk berbagi, tanpa keterlibatan, sensitivitas dan inisiatif…akankah semua terjadi…?

Pertanyaan yang bagus.


BA, February 11, 2007.

fragments of life, mouse in the houseFebruary 9, 2007 8:17 am

Belajar…itu adalah salah satu hal yang wajib dilakukan dalam setiap hubungan…  Pertemanan, persaudaraan, apalagi berpasangan…

Kalau aku ditanya, belajar apakah aku dalam hubunganku…hmm…banyak, banyak sekali.  Yang keliatan-keliatan aja, aku belajar untuk lebih menghargai kesehatan, olah raga, makanan yang seimbang …(meskipun entah kenapa, kok aku malah tambah “sehat”…atau memang baru sekedar “sadar”, dan belum bisa disiplin kali ya…), dipaksa untuk membongkar segala stereotype yang sadar atau tidak sadar kumiliki tentang expat, belajar tentang perbedaan nilai dan prioritas kehidupan, pandangan hidup dan tentang limitations…belajar motret…belajar untuk berani bermimpi dan bergerak mewujudkan impian itu…

Kalau seandainya kutanya dia, apa yang dia pelajari dariku…hm…apa ya…mungkin dia belajar bahwa ada orang yang ga suka bangun siang meskipun liburan, tapi juga ga suka jalan-jalan…(maksudnya bangun pagi tetep jalan, tapi di rumah aja sante seharian…he…he…), mungkin dia belajar bahwa ada orang yang ga keberatan duduk sante seharian di hari Minggu sekedar untuk melemaskan semua otot tanpa pengen melihat pemandangan hari Minggu siang yang sunny…mungkin dia belajar untuk berbicara…untuk menyampaikan pendapat dengan jelas: kata per kata…Itu…MUNGKIN…Tapi tau nggak apa sih yang langsung keliatan buktinya…secara fisik…Dalam waktu hampir satu tahun ini, percaya ga percaya….si dia telah belajar …melet dengan baik dan benar…Apakah pernah kamu membayangkan melet yang ga lucu…ga imut-imut…? Pernahkah membayangkan bahwa ada orang yang ga bisa melet? Bukan karena kependekan lidah…bukan karena ga punya bibir…

Kalau dia melet…mm…bibir bawahnya ikut maju, jadi lidahnya ga keluar..trus jadi ga keliatan ga kayak melet gitu lho…pokoke…wah susah diteranginnya..
Pelajaran melet…mengajari kami untuk tertawa bersama-sama…menertawakan kebodohan-kebodohan kita berdua…kesalah pahaman…ketidakcocokan…dan menghadapi semuanya dengan jauh lebih ringan hati…

Dan kalau situasi sudah mulai tegang dan menjengkelkan….melet aja lagee….