tawar-menawar di balik kain (2)
Ini dia lanjutannya… Posting ini sebenarnya hanya summary dari sebuah artikel yang kubaca bersama-sama dengan muridku di kelas beberapa hari yang lalu. Check it out…
"Setiap Kamis, Pasar Ternak Nagari Cupadak, Limakaum, Tanah Datar, Sumatra Barat, selalu dipenuhi orang. Sebagian orang yang ada di pasar ternak itu membawa sarung, handuk, atau kain."
Hayo, kira-kira buat apa orang-orang bawa-bawa kain ke pasar, pasar ternak lagi….jadi ketemunya sama sapi, kambing…dan tentu saja, penjual dan pembeli ternak aja…
"Sudah sejak dahulu para tauke (juragan, atawa blantik lah di Jawa Tengah, admin.) ternak itu menggunakan sarung atau lain untuk tawar-menawar harga hewan yang diperdagangkan." Walah, bisa dibayangkan? Mungkin orang-orang yang berkecimpung di dunia perdagangan hewan sudah kenal metode ini ya…(bayanganku sih mungkin seperti kalau fungsi kalkulator pada waktu jual beli handphone, coba…bener apa nggak?)
"Menurut Jon, yang telah berdagang ternak sejak sekolah dasar bersama ayahnya, teknik tawar-menawar yang dinamakan jual bali baroso itu dilakukan untuk merahasiakan harga hewan ternak."
nah betul kan…kalau jual beli HP juga kan, ketik-ketik-ketik di kalkulator, kalkulator berpindah tangan, geleng-geleng kanan-kiri, ketik-ketik lagi…walah…sori, perbandingannya hanya dengan HP, karena cuma itu yang sanggup kubeli sendiri yang pake strategi tersendiri…he…he…
"Dalam jual bali baroso, setiap jari menunjukkan Rp 1 juta untuk transaksi sapi dan kerbau, serta Rp 100 ribu untuk kambing"
o…begitu. nah, berarti 2 jari, 2 juta, 3 jari 3 juta…dan seterusnya yah….? tapi emangnya hewan ternak harganya bulet-bulet gitu ya…kalau dua setengah juta bagaimana cara tawar menawarnya dong? tenang…tenang…bagi yang ingin mencoba teknik ini dan sukanya menawar seikit demi sedikit, alias naik turun seperempat demi seperempat…silakan lemaskan jari dan praktekkan instruksi berikut ini!
"Bila harganya Rp 3,75 juta, pedagang akan memperlihatkan empat jari dan menekuk jempol pembelinya. Kalau Rp 4,25 juta, penjual akan memegang empat jari dan menarik jempol pembeli."
wah…jadi rupanya tauke bener-bener belum menjadi pekerjaan uni gender, alias pria dan wanita bisa mengerjakannya. bukan berarti salah satu gender lebih oke atau lebih profesional, tapi coba bayangkan kalau penjual satu dengan penjual lainnya berbeda gender dan bermain-main tangan di balik kain…waduh…pasti seru, he…he..
tapi mungkin di antara yang membaca posting ini ada yang bisa mempraktekkan tips-tips tersebut di atas (karena saya tidak bisa….he…he….bingung membayangkan nekuk jari ini, narik jari orang lain….aneh…), mungkin anda perlu mempertimbangkan satu pilihan profesi baru, menjadi tauke ternak di Sumatra Barat.
untuk yang mengharapkan isi yang lain dari judulnya, maaf, jangan salahkan saya….ini judul asli artikel yang bisa anda baca lengkapnya dalam Pesona Nusantara, Suplemen khusus Media Indonesia, Jumat, 1 Desember 2006. bagi yang baru saja mengikuti perkembangan kasus (yet another…) private video of people, wajar aja mengharapkan isi yang agak-agak gimanaaa…he…he…
regards,
from yet another hillarious class…










ha ha ha ha ha kebayang kok kebayang pernah praktekin ma B gak miss?
Comment by sesy — December 7, 2006 @ 12:21 pm
Hahaha…
Jadi lebih jelas ‘gaya’ tawar-menawarnya.. *halah*
Eh bagus juga artikelnya… baru tau aku..
Ayo bikin videonya sekalian
Comment by Fany — December 10, 2006 @ 10:48 am
waks!
aku mo ngejual sapi seharga 4.369.250,- nekuk jarine piye mbakyu?
Comment by Uare — December 11, 2006 @ 12:19 pm
Mbak Fany, namanya juga summary, kalau bisa liat sendiri pasti dah kuposting fotonya, he…he…
Uare, sapine sopo arep didol? jarine Peepee disilih dhisik ra popo to..
Comment by kleinetheresia — December 12, 2006 @ 6:09 pm