fragments of life, English, Bahasa IndonesiaNovember 11, 2006 2:56 pm

senandung kasih buat seorang teman yang jauh di sana.  yang selalu merasa menjadi korban dari setiap situasi yang terjadi di sekelilingnya….

Mas, aku tahu hidup bagimu mungkin tidak mudah.  begitu banyak pengalaman yang telah terlewati dengan air mata, rasa sakit dan penderitaan.  tapi tidakkah kaulihat matahari yang bersinar begitu cerah, hujan yang turun menyegarkan rumput kering?  panaskah yang kaurasakan? banjirkah yang kaukhawatirkan?

ketika cinta datang dan berlalu dalam hidupmu, hidupku, hidup kita….apakah yang lebih penting pada akhirnya? bahwa cinta itu datang? atau bahwa cinta itu pergi?  setiap orang pasti sedih dan menyesal ketika cinta berlalu dan semua berakhir, tapi tidakkah kita mensyukuri keindahan dan kebahagiaan yang pernah tercipta, meskipun semuanya hanya sementara…kenapa kemudian orang sibuk membanding-bandingkan, "aku lebih sakit dari dirimu…aku tahu kamu tidak akan kenapa-kenapa…" Apa ini, Sayang?

kepada dirimu yang sudah menemukan penggantiku…lihatlah kehidupan indahmu yang terbentang luas penuh bunga-bunga cinta yang sedang mekar.  tersenyumlah pada bayanganmu di cermin sore ini, sembari kamu mengetik baris-baris SMS kepada dia yang ada di sana, dan maafkanlah aku.  maafkanlah aku yang sudah membuang satu tahun hidupmu untuk menjalani perjalanan kita.  seperti aku juga…yang sudah memaafkanmu.  sepenuh hati ini, yang pernah sangat menyayangimu.  sepenuh hati ini, yang pernah kauragukan cintanya.

ketika kau menanam sebiji harapan, dan menatap bibit harapanmu perlahan-lahan mati, apa yang kaulakukan, Sayang? aku memindahkan biji itu ke tanah yang baru. karena biji itu akan mati dan meracuni tanah yang subur itu, dan tanah itu tidak akan pernah memberikan kehidupan lagi, tidak untuk sang biji, tidak juga untuk biji-biji lain.  tapi apakah kepercayaan dan harapan tidak pernah ditanam? apakah ketika aku berlalu dari hidupmu, aku layak menerima kalimat "Kupikir kamu memang tidak pernah mencintaiku…"?

Sayang, kumaafkan kamu, karena melupakan seberapa besar aku pernah mencintaimu.  segala yang terbaik kudoakan selalu untukmu.

a song of love for a faraway friend.  who always feels as if he’s the victim of whatever happens around him…

Mas, i know life might not be easy for you.  there are lots of experience you have gone through, with tears, pain and suffering.  but didn’t you see the shining sun, the refreshing downpour giving life to the drying grass? was it only the heat you observed? only the flood you were thinking of?

when love comes and goes in your life, my life, our life….what does really matter in the end?  that love comes? or that it goes away?  everyone would have been heartbroken and sorry when love goes away and everything seems to come to an end, but weren’t we grateful of all the thing that had happened, the beauty and the joy that came into our life, even if it’s only for fleeting seconds…why then everybody starts getting busy comparing notes, "I am more deeply hurt than you are…i know you are going to be just fine with this…"  What the hell is this, Baby?

to you who has found your new love….just take a look at your great life unfolding itself before your eyes, filled with budding love flowers.  smile to your own reflection on the mirror, as you are typing an SMS to her somewhere out there, and forgive me.  forgive me, who has wasted a year of your life to take our journey.   like me too…who have forgiven you.  with all my heart, that once loved you.   with all this heart, that once you were doubtful about.

when you planted a tiny seed of hope, and watched as your hope slowly faded into death, what would you have done, Baby?  i took it out and planted it somewhere else.  or else the seed would have died, and poisoned the fertile land, and the land would neither give life to the seed, nor to other seed whatsoever.  but does that mean that hope and trust has never been planted there?  does that mean that when i drifted away out of your life i deserved to hear this out of your mouth, "I don’t think you have ever ever loved me anyway…"?

Baby, well…i forgive you, for failing to remember how much for once i DID love you. 

i wish you: the best of everything , always.

fragments of life, mouse in the house, EnglishNovember 10, 2006 7:02 pm

i have never been the kind of person who likes sports, all kinds of sport, any kind of sport. i used to do a medium dose of dancing, here and there, especially when i was much younger than i am now…(hey, i AM still young, excuse me….but you know, there are times when you already have some kind of history…hm, herstory…. stretches behind your today reality…)

i have had men trying to convince me to do sport, for different reasons, but most of the time….LOSE WEIGHT!! and the sheer thought that these men tried to make me do things that would make me look a certain way for them even repelled me further from getting to enjoy the sport.

lately, i happen to know somebody who´s crazy about sport (well…to say "someone" is rather undermining the real situation, so let´s say…two people…he…he…)  for whom sport is something exciting, liberating…and who could not imagine that something so liberating for him is so frustrating for me…uups….i tried to defend myself by saying that…"you know, i like swimming, though i am not good at it…and i like aerobic, cause there´s music in it…" bla…bla…bla…

and alas!! there WERE aerobis classes available…and there i was, gulping down my own statement…oops…

came one lame excuse after another…"no shoes", "i´ll buy you a pair", "no outfit", "i´ll lend you mine", "no transport", "i´ll drop you and pick you up"…and so on…and so forth…. so, i bet you know where i ended up…

and you know, i actually found the reason why i said that i liked it.  the music is nice, the "dances" are fun, the people are merry.  and then he noticed that i enjoyed dancing, and oops…now i am in a salsa course…hua…ha…ha…hope i don´t trip myself.

and for those guys out there, you know, i am still the chubby old gal you used to know (well, to be honest, maybe even a bit chubbier…hiks…hiks…), but it doesn´t mean that i can´t move.  it doesn´t mean that i can´t enjoy the good feeling after sweating my butt off, without checking the scale and observing my fat ratio melted down with the sweat….nothing to do with that.  it is a good thing just because i manage to enjoy myself.

for the guy(s) who inspired and encouraged me….(one very special special guy…and another special guy…hm, i am a bit confused to make the distinction, but i hope you here and you there understand what i mean…)…..danke schoen…

fragments of life 4:09 pm

lucu…lucu….

kemarin ada kejadian lucu… (asyik ya hidupku, satu hari penuh kejadian menyebalkan, dan lucu sekaligus…)

aku punya seorang murid, ibu-ibu. orang asing.  anaknya sudah gede-gede, bahkan dalam hitungan hari dia akan segera menjadi seorang nenek (prediksi dokter sudah lewat, tapi si bayi masih belon mau nongol…tu ibu panik banget kalau handphonenya nggak kelihatan, takutnya kelewatan berita kelahiran cucunya….oh, how cute…).  anak yang satunya lagi barusan bertunangan, dan minggu depan mau datang berlibur ke indonesia.  hmmm….heboh juga si ibu.  dia menyiapkan pesta, dan undangan, dan bahkan terpikir untuk bikin umbul-umbul…wah, mungkin kegedean ya kalau umbul-umbul…spanduk kali ya, istilah yang cocok.  dia mencari-cari ekspresi yang catchy untuk ditulis, bahkan bertanya-tanya di kelas, dengan teman sekelas, denganku…apa ya yang kira-kira pas…(mohon dimaklumi, di mana-mana di BA ada baliho iklan sebuah produk yang tag line-nya memang sangat cathcy "Kita mau, Kita bisa", dan mungkin memang cucok dipasang dimana-mana di BA…)

ceritanya si spanduk itu bisa berbahasa apa aja, bisa inggris, indonesia, pokoknya yang gampang diingat dan mengungkapkan kebahagiaan pasangan yang akan segera menikah.  wah, semua jadi mikir nih.  bahkan akupun jadi kepikiran…. nginep satu hari tu ide, dua hari…eh, tiba-tiba saja muncul "rumah kita, rumah cinta"…keren kan? imut lagi, kurang apa coba. 

kemarin kami ketemu di kelas lagi. kutanyakan, apakah sudah dapat ide baru untuk spanduk, dia bilang belum.  aku bilang, "eh, aku ketemu kata ini, gimana?"

dia bilang, "wah, lucu juga ya….sepertinya imut….,rhyming lagi…tapi kok kedengarannya seperti nama distrik red light ya…kalau spanduknya dipasang di taman, jangan-jangan nanti dikira rumah bordil…"

HAAA????!!!!!!! mampus deh gue….  saking kagetnya aku cuma melotot aja, sementara dia ketawa-ketiwi….waduh….beginilah kalau asosiasinya rada kecepetan, terlalu cepat gitu maksudku…

wah….beginilah kalau kosa kata agak-agak terbatas. tapi aku agak bingung juga sih…emangnya "cinta" tu selalu ada hubungannya sama "seks" ya….walah…walah….saiki sing ora mudheng basa Indonesia aku apa dheweke yo….kok aku sing dadi gumun….he…he…

life…oh, life…. bahasa Indonesia, oh, bahasa Indonesia…. kayaknya culture shockku nggak bakalan abis-abis selama aku kerja di sini, he…he…

BA, 9 - 10 Nov 2006

fragments of life, points to ponder 3:41 pm

kemarin aku merasa malu.  dan marah. dan kecewa.  dan menyumpah-nyumpah. dan berakhir dengan minta maaf pada seseorang yang kebetulan kebagian sumpah-sumpahan itu.  bukan karena dia tidak terlibat di dalamnya, bukan itu.  tapi hanya karena dia tidak cukup mengerti apa yang telah terjadi di sekitarnya.

maaf ya B.

kemarin aku mengantar seseorang, ya sebut saja si B, bersama seseorang  yang lain, sebut saja Mr. X, ke sebuah dealer sepeda motor bermerek terkenal.  kami datang ke sana siang-siang untuk menutup transaksi penjualan sebuah sepeda motor model terkenal dari sebuah merek yang sama terkenalnya juga, wah, pokoknya keren abis deh.  tunai lagi. asyik punya kan….  sehari sebelumnya kami sudah datang ke toko yang sama, berbicara panjang lebar dengan sang manager, yang adalah relasi Mr. X.  singkat cerita, kemarin mereka sudah bawa cash 20 jutaan, tinggal bayar, dan bawa. 

kami masuk toko.  situasi lumayan sepi.  satu grup yang mungkin cukup menarik: seorang laki-laki Indonesia, satu lagi laki-laki bule, dan satu perempuan Indonesia.  seorang staff berdiri menyambut dan bertanya, "bisa dibantu?"

tanpa basa-basi, tanpa senyum, tanpa nada yang bersahabat, si Mr X bilang, "Kami mau ambil motor.  Dimana bu Dona?"

kulihat si abang agak terkejut dengan jawaban Mr.X.  dia bertanya lagi,"Semua sudah beres? Boleh lihat tanda pembayarannya?"  Tahukah kamu, apa jawaban X? "Pokoknya sudah beres. Mana Ibu Dona?!"

saat itu juga aku langsung mengkerut.  takut? segan? wuih…jauh….aku merasakan rasa marah yang luar biasa karena X begitu kasar dan tidak sopan.  air muka si staff langsung berubah, dan akhirnya di hanya berkata, "Oh, hanya mau berbicara dengan ibu Dona saja? tunggu sebentar, dia masih sibuk.", dan pergi.

ya ampun….cepat-cepat kutarik B, dan kubisikkan padanya, "Sialan, kenapa sih staff kamu harus begitu kasar?!"  B hanya mengangkat bahu.

malam itu kembali percakapan berlanjut tentang kejadian di toko motor.  tahukah kamu, yang mana yang bule, mana yang orang Indonesia? yang mana yang atasan, dan yang mana yang bawahan? yang mana yang akhirnya kena omelanku yang berkepanjangan tentang sopan santun dan cara kita memandang orang lain? coba tebak….tiga detik, satu…dua…tiga…!!

kupikir, sebagian besar dari orang yang membaca artikel ini pasti menebak dengan benar. yup, yang bule, yang atasan, yang beli motor cash 20 jutaan lebih adalah si B.  the famous Mr. X, yang adalah orang Indonesia, yang kasar dan tidak bersopan santun, adalah sang staff (posisinya cukup tinggi sih di kantor, tapi kan tetep aja staff).  yang kena omelan?  he..he…bagi yang kenal yang punya blog ini, pasti udah tahu gitu loh….jelas si bule lah, he….he….

terus terang saja, ini bukan pertama kalinya aku melihat atau mendengar perilaku ini.  tapi tetap saja, each and every time, menohokku sekeras-kerasnya.  dan kemarin, aku benar-benar merasa malu.  malu, karena aku berdiri di situ, berada satu rombongan dengan si orang brengsek yang selalu membeda-bedakan posisi orang , yang datang bergaya petinggi ke sebuah toko dan bertingkah sok…dan aku hanya bisa diam.  hanya bisa diam dan merasa malu.  bahkan tidak bisa bilang sama dia, "Hey, jangan begitu!"  tidak bisa bilang bahwa kita selalu bisa mengatakan hal yang sama dengan banyak cara, dan selalu ada cara yang lebih baik…lebih baik, dan lebih baik lagi.  dan bahwa derajat tidak ditunjukkan dari seberapa hebatnya kamu merendahkan orang lain, tapi dari bagaimana caranya kamu menunjukkan kualitasmu, derajatmu sendiri. 

dan aku hanya bisa bilang dalam hati,"Maaf ya Bang", kepada si abang di toko motor…. dan aku hanya bisa bilang, "Maaf, Dunia, karena hari itu di toko motor, aku tidak bisa memberikan sesuatu untuk membuat dunia ini jadi sedikit lebih baik…sedikit saja….lebih baik, mungkin untuk satu orang saja.  Hari itu, di toko motor, satu orang mendapatkan pengalaman kecut sebelum jam makan siang tiba, dan seorang yang lain menanam bad karma. yah, maaf dunia…"

BA, 9 - 10 November 2006

fragments of lifeNovember 8, 2006 9:32 am

Surat kepada seorang teman lama…

Halo, Mbak.  Apa kabar?

Rupanya sudah cukup lama kita tidak bertukar cerita.  Tentang hidup, idealisme…dan semua tetek bengek lain, yang penting dan yang nggak penting banget (gitu loh…)…

Tiba-tiba saja aku ingat padamu.

Dalam perjalanan hidupku, aku berusaha untuk terus belajar.  Menimba ilmu dari banyak orang, laki-laki dan perempuan….  Aku belajar juga darimu, Mbak.  Sayangnya, tidak selalu positif…

Mbak, mungkin aku terlalu muda untuk mengatakan ini padamu, terlalu naif dan hijau…

Please, berhentilah menjadi seorang perempuan yang pahit…bitter…seperti segelas jamu brotowali, berkhasiat tapi sumpah nggak enak….

Aku ingat salah satu percakapan terakhirku denganmu… (dan salah satu alasan mengapa aku berusaha berhenti bercakap-cakap denganmu…)

Kita saat itu berbagi cerita tentang sang mantan pacarmu (waktu itu…) yang dengan tegasnya akhirnya memilih selingkuhannya, dan akhirnya menikah setahun yang lalu.

Aku ingat betul bombardir argumenmu yang sepenuhnya menyalahkan dirinya….dan kami semua (yah, aku, teman-teman kita, mantanku…) berpikir,”Tak apa, dia sedang patah hati…”

Bulan demi bulan berlalu, dan kamu masih tetap begitu pahit, dan berusaha untuk terus membuktikan bahwa dia berdosa besar padamu, dan kami masih berpikir, “Tak apalah, sesudah 8 tahun berpacaran, mungkin dia perlu waktu…”

Sesudah hampir dua tahun berlalu, dan mereka akhirnya menikah, kamu masih begitu pahit, dan akhirnya aku berpikir, “Oh, Tuhan, dimanakah Engkau?  Dimanakah Engkau yang selalu dipanggilnya setiap malam?  Dimanakah Engkau yang selalu disebutnya setiap saat?  Dimanakah Engkau yang memaafkan dan membebaskan hati manusia dari kegetiran dan rasa sakit?”

Apakah aku mendoakanmu, Mbak?  Mungkin kedengarannya seperti itu.  Tapi sesungguhnya dalam pertanyaanku, aku berdoa untuk diriku sendiri, “Tuhan, jangan biarkan aku menjadi pahit.”

Jangan biarkan aku lupa bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna, tidak juga aku.

Bahwa semua yang terjadi pasti ada maknanya, meskipun bukan sekarang.

Bahwa dalam setiap hal yang terjadi, pasti ada andil kita juga.

Pernahkah kamu bertanya, Mbak, “Ada apa denganku?” dan bukan meniru Ariel yang bertanya “Ada apa denganmu?”

Mengapa tidak bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kulakukan juga sehingga kamu melakukan semua ini padaku?

Sudahkah kamu memaafkan diri sendiri karena membiarkan ini terjadi?

Sudahlah, Mbak….

Buatlah hidupmu jadi jauh lebih indah.

Forgive….and forget.

Saat ini aku teringat padamu, mungkin karena aku membandingkan dengan sang perempuan lain yang baru saja kutemui.

Ya ampun…betapa perempuan melakukan banyak hal bodoh karena cinta….

Weleh…termasuk aku juga…

Tapi, tahu nggak sih…..maafkanlah dirimu sendiri.

Itu yang paling penting.

Lihatlah dirimu yang cantik, hebat, pandai, nyaris sempurna….tapi tidak akan pernah sempurna.

Tentu saja kita melakukan hal-hal yang bodoh, tak apalah…maafkan saja.
Maka kamu juga akan belajar memahami, bahwa orang lain pun, tidak sempurna.

Maafkan saja….

Yogya – Banda Aceh, 2003 – 2006.

fragments of life, points to ponder 9:23 am

Wow….

The power of love…..

Indahnya ya, kalau bisa berkata seperti itu…  tapi saat ini aku sedang mengagumi kekuatan hati seorang perempuan yang mencinta..kekuatan yang menerima, memaafkan…dan melupakan semua logika.

Indahnya jatuh cinta, dan indahnya mengatakan bahwa “aku memilih untuk tinggal bersamamu dalam cinta ini…”

Sakitnya merasakan bahwa orang yang kaucintai mungkin tidak seperti yang kau bayangkan, mengecewakan, mengancam keyakinanmu pada dirimu sendiri….


Dan betapa membingungkannya menjadi penonton….he….he….

Bayangkan saja bila pada suatu hari kamu bertemu seorang perempuan muda yang terlihat sangat mandiri.  Mungkin bukan mandiri seperti perempuan-perempuan dalam sinetron yang pergi ke mall sendiri, menyetir mobil keren sendiri, bisa nggesek kartu kredit sendiri….tapi seorang perempuan yang bekerja di kantor internasional, mungkin bukan dengan tingkat karir yang tinggi, tapi dengan gaji tinggi, bisa bertahan sebagai kaum “minoritas” dengan baik, punya banyak teman, suka olah raga dan selalu ceria, dan sangat profesional.  Hebat kan? Apakah sebagai sesama perempuan muda lain yang belum mencapai titik itu, kamu tidak akan bilang “oh, wow…”  Yah, setidaknya aku sempat bilang, wah hebat ya….  Aku mengagumi profesionalitasnya, keceriaannya, keseimbangan dalam hidupnya antara pekerjaan, teman, olah raga, orang tua….

Sampai dia jatuh cinta.


Hebat ya cinta itu…. 

Lebih hebat lagi ketika dia mulai menemukan kekecewaan dalam cintanya..  betapa kemudian si perempuan hebat ini begitu terpukul dan timpang dalam menjalani hidup, dan berusaha untuk….lari.

Dan kutemukan dia berusaha untuk meninggalkan semua yang sudah dia capai, kepercayaan dari atasan, kemandiriannya, kepercayaannya bahwa dia mampu melewati semuanya….dan dia dengan panik berusaha meninggalkan masalah ini di belakang.

Mengundurkan diri dari kantor.
Mengepak barang-barang.

Pergi.

Berhenti.

Itu cerita lama.

Berapa lama…?  Yah, kira-kira sebulan atau satu setengah bulan yang lalu…. 

Sekarang ada episode baru.
Di mana sang cinta membuktikan diri bahwa dia masih berkuasa.  Bahwa sang kekasih hati berusaha memperbaiki apa yang sempat retak.  Bahwa sang perempuan berusaha untuk kembali pada kantor yang nyaris ditinggalkannya.

Pertanyaannya….

Bisakah?

Apakah maaf sang bos sebanding dengan maaf sang perempuan pada kekasih hatinya?

Apakah sesudah membuat teman-teman kerja panik mencari ganti (yang tak kunjung datang pula…) karena pengunduran diri yang sangat mendadak dan emosional, mereka bisa percaya lagi secepat ini…?


Maaf…tentu masih ada.  Tapi apakah itu berarti kesempatan kedua untuknya….

Maaf….sayangnya, aku pun belum tahu jawabnya…

Andaikan hujan yang datang memberikan juga curahan inspirasi dan jawaban…mestinya hidup tidak serumit ini bukan.


Untukmu, seseorang yang mungkin bisa kusebut temanku…Aku sangat berbahagia karena di tanah asing ini kau menemukan cintamu.

Dan setelah semua rasa sakit yang pernah kaurasakan, kamu mampu memilih untuk memberikannya kesempatan kedua…

Tapi mungkin kamu lupa untuk minta maaf pada sedikit orang yang duduk dan menahan diri selama ini untuk membiarkan kamu melewati ini semua, memberikan waktu dan menunggumu dengan sabar.  Melihat kamu berjuang dengan semua pertanyaan yang sesungguhnya perlu kau jawab sendiri, namun kau lontarkan ke depan mereka….dan mereka cuma bisa bingung.

Maafkan aku karena aku tak kunjung bisa memahamimu….
Good luck with your love….

Banda Aceh, medio Oktober 2006