Keren kan?  Itu satu istilah yang menemukan makna baru waktu aku di sini.

Mungkin arti yang paling umum ya pengguna jalan yang bernyali besar, kebut-kebutan, zig-zag di jalan, asal belok tanpa kasih tanda…yah, seribu macam definisi deh.  Dan yang keren (?) abis adalah kenyataan bahwa di sini, semua itu bukan barang langka.  Sebenarnya udah sering banget terinspirasi soal sikap pemakai jalan terhadap lampu merah, misalnya, sayangnya belum ada waktu yang pas. 

Minggu-minggu pertama tinggal di BA, isinya cuma ngeri kalau harus naik mobil, terutama kalau yang nyetirin bukan orang Aceh atau Medan, wah, bisa sport jantung.  Aku jadi sering jadi bahan tertawaan karena mukaku yang ngeri kalau udah sampai lampu merah.  Inilah orang-orang yang benar-benar berani mati, atau berani hidup ya…Aku pernah punya teman di Jogja yang nyombong bahwa dia bisa ngapalin berapa detik jeda antara lampu mulai merah di satu ruas jalan dengan hijaunya lampu di ruas lain, tapi sori Bro’, kamu nggak ada apa-apanya deh sama orang sini.  Mau udah jelas-jelas merah sekalipun, selama mobil di depannya masih jalan, selama tu perempatan belum jelas-jelas macet, terus Bang!!  Wuih….  Nyalain reting kalau mau belok? Wah, langka…  Walhasil, jadilah pembaca pikiran yang baik dan tanggap.  Kalau kamu nyetir di jalan, dan ngeliat nih ada motor jalan di tengah-tengah, antara dua jalur.  Di depan ada pertigaan.  Tu motor makin lama makin pelan, setirnya goyang-goyang.  Nah, kira-kira apakah yang akan terjadi selanjutnya?  A.  dia akan belok ke kiri.  B.  Dia akan belok ke kanan.  C.  dia akan bikin U turn.  D. dia lagi nyari alamat. D. motornya habis bensin. E. lagi nge SMS.  Nah lho, tak ada yang tak mungkin. 
Dan temen deketku disini sudah merumuskan sebuah golden rule buat dia, “jangan pernah ngelirik spion kalau nyetir mobil, meskipun kalau mau nyalip atau belok, atau ganti jalur”.  Dan tahu nggak sih, terbukti ampuh. Fuih….

Tapi selain mereka, ada lagi raja dan ratu jalanan yang tak kalah saktinya.  (wah, tanah ini tanah sakti…..)  Waktu pertama datang juga, aku udah langsung dibriefing sama salah satu sopir kantor, “Mbak, Mbak, cuma di Aceh (selain India kali ya…red.), yang Mbak bisa jalan-jalan dan ketemu sama….LEMBU di mana-mana.”  Catatan redaksi, di sini sapi lebih sering disebut lembu ya…dan sebenarnya mereka manggil aku mbak hanya karena tahu aku orang Jawa.  Tu sapi-sapi nan seksi bisa melenggang kangkung seenaknya sendiri, kadang-kadang leyeh-leyeh di pinggir jalan menikmati BA di rembang petang. 

Kira-kira seminggu yang lalu aku diajak ngrayen motor, naik turun bukit, di daerah namanya Krueng Raya, dari kota naik bukit, tembus di pantai.  Jajah desa milang kori deh (tapi ndak dapet banyak kori, wong jarang ada rumah, korine sapa arep diitung…).  Dan dalam perjalanan inilah bener-bener harus mengakui kehebatan sang raja dan ratu jalanan yang berjudul SAPI ini…  Yang pernah jalan di area pegunungan pasti kebayang kan jalan gunung, berkelok-kelok dan kadang nggak kelihatan apa yang ada di balik tikungan berikutnya.  Inilah yang gawat dari perjalanan kami, karena bisa saja yang ada di balik tikungan berikutnya adalah serombongan sapi atau kambing atau sapi jalan-jalan bareng kambing yang lagi siap-siap nyebrang jalan.  Padahal tepi jalan dipenuhi semak-semak.  Lak nek mendadak, mak bedunduk, muncul si sapi di pinggi jalan, apa nggak kaget.  Jangan coba-coba lawan sapi sama motor deh, meskipun dalam kerajaan hewan motornya menang, (ya to, mosok macan kalah sama sapi…).  Selain nanti jangan-jangan disuruh ganti rugi tu sapi, dijamin sama-sama bunyaknya.  Akhirnya kami jalan dengan super hati-hati, bukan karena pemakai jalan lain beroda dua atau empat, tapi yang berkaki empatlah yang lebih diwaspadai.

Satu hal yang kemudian menjadi pengalaman indah adalah bagaimana kamu mendefinisikan “peraturan” secara pribadi.  Dan kesempatan untuk lebih perseptif dan sensitif terhadap apa yang terjadi di sekitar kamu.  Ini pengalaman berharga, di mana setiap menit di jalanan kamu harus memperhatikan orang-orang lain di jalan dan mencoba memahami apa yang terjadi di pikiran mereka, kemana kira-kira orang mau pergi, di jalan mana saja bisanya orang merasakan kebutuhan utnuk tiba-tiba menambah kecepatan atau belok.  Dan tiba-tiba saja, mata dan telinga dan refleks menjadi sangat terlatih.  Dan menjadi kesempatan yang berharga untuk memandangi lampu lalu lintas yang berubah dari kuning menjadi merah persis pada saat kamu sampai di depannya, dan bertanya pada diri sendiri, “haruskah aku berhenti?”  Haruskah aku berhenti ketika aku tahu sederetan sopir kendaraan lain di belakangku akan segera berbuat dosa karena menyumpah-nyumpahi mobil yang disopiri temanku ini?  Haruskah mobil kami melanggar lampu merah karena masih banyak temannya?  Akankah kamu berhenti meskipun sendirian, dan menjadi orang aneh?  Apakah kamu akan tetap jalan dengan keyakinan bahwa keselamatanmu terjamin?

Jawaban yang sangat berharga.  Dan sering kali, kami memang menjadi orang aneh.  Dan berkata dalam hati, “Bukankah perubahan itu datangnya harus dari diri sendiri?”  Daripada ikutan kaget dan menyumpah-nyumpah kalau pada akhirnya kena macet di persimpangan, meskipun sebenarnya giliran kita untuk dapat lampu hijau, akhirnya kami memutuskan bahwa mungkin kami yang harus mulai.  Maka, jadilah yang pertama berhenti di lampu merah, sebenarnya hanya mengikuti kata hati yang sudah terlanjur terbiasa dengan merah berarti berhenti.  Tapi ternyata, hanya perlu ada yang pertama, karena kemudian, selalu saja ada yang ikutan berhenti, dan akhirnya kami sama-sama menunggu lampu hijau kembali.  See?  Mau perubahan? Kenapa nggak kamu mulai aja?

Sayangnya, ini ndak berlaku buat para sapi….  Semoga saja, hanya mereka juga yang menjadi raja dan ratu jalanan sejati.

Salam, dari the cherry-green-light (lampu sehijau ceri merah…nah lho…)

(yang punya motor…)