liburan  Idul Fitri sudah selesai.  bye…bye….pulau Jawa, dan kembali ke tempat tugas yang harus kujalani (minimal) sampai akhir tahun ini.  kembali lagi pada murid-muridku yang manis-manis dan lucu-lucu (wah, kok kayak anak TK, padahal sebagian besar jauh lebih tua daripada aku…)

salah satu hal terakhir yang ditanyakan padaku sebelum pergi cuti, dan hal pertama juga yang ditanyakan ketika aku kembali, "Hey, Guru, kenapa orang-orang Indonesia datang ke saya dan minta bersalaman sambil bilang ‘mohon maaf lahir dan batin’.  Artinya apa? Lalu saya harus bilang apa?"  aku bilang saja, "Ya, biasanya orang bilang ’sama-sama.’ Anda menjawab apa waktu orang bilang seperti itu?"

kira-kira apa jawabannya?  "Ya, saya bilang saja, ‘kenapa? anda tidak ada kesalahan pada saya?’ "   aduh, pasti orang-orang Indonesia itu semua bingung mendapat jawaban seperti itu.  waktu saya tanyakan bagaimana reaksinya, he…he…betul juga, orang-orang itu hanya bisa bengong dan paling-paling bilang, "Wah, kalau begitu maafkan saja, kalau emang tidak ada salah….he…he….Ini kan juga tradisi saja."  Kira-kira sesudah itu bule-bule yang baik dan benar ini bilang apa kepada si guru bahasa Indonesia? "Kenapa orang minta maaf kalau tidak ada salah? Kenapa orang minta maaf hanya karena tradisi? Apa itu artinya mereka tidak benar-benar minta maaf? Atau bilang maaf saja tanpa betul-betul berpikir ada salah apa dan kenapa? Ini sungguh-sungguh atau basa-basi?"

dan yang paling gawat…"Bagaimana kalau saya bilang, ‘nanti dulu ya, saya pikir-pikir dulu, mungkin saya tidak mau maafkan anda’?" nah lho….

tapi kalau mau jujur, semua pertanyaan dari orang-orang yang memakai logika menanyakan tentang tradisi ini, bukankah menarik? apakah kita juga berhenti untuk menanyakan pada diri sendiri, "apakah aku serius mau minta maaf kepada orang ini?"  apakah kita berhenti untuk melihat ke dalam diri sendiri, "aku punya salah apa ya pada dia? wah, hutangku yang kemarin sudah kukembalikan apa belum ya?" dll…?  apakah sebuah kalimat yang sangat indah maknanya berubah menjadi sebuah kalimat ucapan standard semata-mata, tanpa isi, tanpa maksud yang tulus?

dan apakah pernah terpikir bahwa dari semua orang yang bersalaman dengan kita, tersenyum ramah dan juga bahagia menyambut Hari Raya, ada yang mungkin saja berkata,"maafkan aku, karena aku belum bisa memaafkan kamu"?

sebuah pertanyaan, yang hanya kita sendiri yang tahu jawabannya.  yang jelas hari itu, untuk ke sekian kalinya, pelajaran hidup kembali kupetik dari sebuah pekerjaan yang namanya "guru".  dan aku berharap, semoga semua kalimat yang kukatakan tulus bermakna adanya, dan semua kalimat yang Anda…dan Anda …dan Anda juga ucapkan tulus keluar dari hati dan ikhlas diterima si pendengarnya.

salam sejahtera…