perempuan, cinta dan memaafkan…(2)
Surat kepada seorang teman lama…
Halo, Mbak. Apa kabar?
Rupanya sudah cukup lama kita tidak bertukar cerita. Tentang hidup, idealisme…dan semua tetek bengek lain, yang penting dan yang nggak penting banget (gitu loh…)…
Tiba-tiba saja aku ingat padamu.
Dalam perjalanan hidupku, aku berusaha untuk terus belajar. Menimba ilmu dari banyak orang, laki-laki dan perempuan…. Aku belajar juga darimu, Mbak. Sayangnya, tidak selalu positif…
Mbak, mungkin aku terlalu muda untuk mengatakan ini padamu, terlalu naif dan hijau…
Please, berhentilah menjadi seorang perempuan yang pahit…bitter…seperti segelas jamu brotowali, berkhasiat tapi sumpah nggak enak….
![]()
Kita saat itu berbagi cerita tentang sang mantan pacarmu (waktu itu…) yang dengan tegasnya akhirnya memilih selingkuhannya, dan akhirnya menikah setahun yang lalu.
Aku ingat betul bombardir argumenmu yang sepenuhnya menyalahkan dirinya….dan kami semua (yah, aku, teman-teman kita, mantanku…) berpikir,”Tak apa, dia sedang patah hati…”
Bulan demi bulan berlalu, dan kamu masih tetap begitu pahit, dan berusaha untuk terus membuktikan bahwa dia berdosa besar padamu, dan kami masih berpikir, “Tak apalah, sesudah 8 tahun berpacaran, mungkin dia perlu waktu…”
Sesudah hampir dua tahun berlalu, dan mereka akhirnya menikah, kamu masih begitu pahit, dan akhirnya aku berpikir, “Oh, Tuhan, dimanakah Engkau? Dimanakah Engkau yang selalu dipanggilnya setiap malam? Dimanakah Engkau yang selalu disebutnya setiap saat? Dimanakah Engkau yang memaafkan dan membebaskan hati manusia dari kegetiran dan rasa sakit?”
Apakah aku mendoakanmu, Mbak? Mungkin kedengarannya seperti itu. Tapi sesungguhnya dalam pertanyaanku, aku berdoa untuk diriku sendiri, “Tuhan, jangan biarkan aku menjadi pahit.”
Jangan biarkan aku lupa bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna, tidak juga aku.
Bahwa semua yang terjadi pasti ada maknanya, meskipun bukan sekarang.
Bahwa dalam setiap hal yang terjadi, pasti ada andil kita juga.
Pernahkah kamu bertanya, Mbak, “Ada apa denganku?” dan bukan meniru Ariel yang bertanya “Ada apa denganmu?”
Mengapa tidak bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kulakukan juga sehingga kamu melakukan semua ini padaku?
Sudahkah kamu memaafkan diri sendiri karena membiarkan ini terjadi?Sudahlah, Mbak….
Buatlah hidupmu jadi jauh lebih indah.
Forgive….and forget.
Saat ini aku teringat padamu, mungkin karena aku membandingkan dengan sang perempuan lain yang baru saja kutemui.
Ya ampun…betapa perempuan melakukan banyak hal bodoh karena cinta….
Weleh…termasuk aku juga…
Tapi, tahu nggak sih…..maafkanlah dirimu sendiri.Itu yang paling penting.
Lihatlah dirimu yang cantik, hebat, pandai, nyaris sempurna….tapi tidak akan pernah sempurna.
Tentu saja kita melakukan hal-hal yang bodoh, tak apalah…maafkan saja.Maka kamu juga akan belajar memahami, bahwa orang lain pun, tidak sempurna.
Maafkan saja….
Yogya – Banda Aceh, 2003 – 2006.
Hi....I am Die Kleinetheresia. It has nothing to do with I am being small or something...just an alternative interpretation of the origin of my christian name. I am an Indonesian girl who is trying to experience living in different places of Indonesia, enjoying the culture and experience.







