fragments of lifeNovember 8, 2006 9:32 am

Surat kepada seorang teman lama…

Halo, Mbak.  Apa kabar?

Rupanya sudah cukup lama kita tidak bertukar cerita.  Tentang hidup, idealisme…dan semua tetek bengek lain, yang penting dan yang nggak penting banget (gitu loh…)…

Tiba-tiba saja aku ingat padamu.

Dalam perjalanan hidupku, aku berusaha untuk terus belajar.  Menimba ilmu dari banyak orang, laki-laki dan perempuan….  Aku belajar juga darimu, Mbak.  Sayangnya, tidak selalu positif…

Mbak, mungkin aku terlalu muda untuk mengatakan ini padamu, terlalu naif dan hijau…

Please, berhentilah menjadi seorang perempuan yang pahit…bitter…seperti segelas jamu brotowali, berkhasiat tapi sumpah nggak enak….

Aku ingat salah satu percakapan terakhirku denganmu… (dan salah satu alasan mengapa aku berusaha berhenti bercakap-cakap denganmu…)

Kita saat itu berbagi cerita tentang sang mantan pacarmu (waktu itu…) yang dengan tegasnya akhirnya memilih selingkuhannya, dan akhirnya menikah setahun yang lalu.

Aku ingat betul bombardir argumenmu yang sepenuhnya menyalahkan dirinya….dan kami semua (yah, aku, teman-teman kita, mantanku…) berpikir,”Tak apa, dia sedang patah hati…”

Bulan demi bulan berlalu, dan kamu masih tetap begitu pahit, dan berusaha untuk terus membuktikan bahwa dia berdosa besar padamu, dan kami masih berpikir, “Tak apalah, sesudah 8 tahun berpacaran, mungkin dia perlu waktu…”

Sesudah hampir dua tahun berlalu, dan mereka akhirnya menikah, kamu masih begitu pahit, dan akhirnya aku berpikir, “Oh, Tuhan, dimanakah Engkau?  Dimanakah Engkau yang selalu dipanggilnya setiap malam?  Dimanakah Engkau yang selalu disebutnya setiap saat?  Dimanakah Engkau yang memaafkan dan membebaskan hati manusia dari kegetiran dan rasa sakit?”

Apakah aku mendoakanmu, Mbak?  Mungkin kedengarannya seperti itu.  Tapi sesungguhnya dalam pertanyaanku, aku berdoa untuk diriku sendiri, “Tuhan, jangan biarkan aku menjadi pahit.”

Jangan biarkan aku lupa bahwa tidak ada seorangpun yang sempurna, tidak juga aku.

Bahwa semua yang terjadi pasti ada maknanya, meskipun bukan sekarang.

Bahwa dalam setiap hal yang terjadi, pasti ada andil kita juga.

Pernahkah kamu bertanya, Mbak, “Ada apa denganku?” dan bukan meniru Ariel yang bertanya “Ada apa denganmu?”

Mengapa tidak bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kulakukan juga sehingga kamu melakukan semua ini padaku?

Sudahkah kamu memaafkan diri sendiri karena membiarkan ini terjadi?

Sudahlah, Mbak….

Buatlah hidupmu jadi jauh lebih indah.

Forgive….and forget.

Saat ini aku teringat padamu, mungkin karena aku membandingkan dengan sang perempuan lain yang baru saja kutemui.

Ya ampun…betapa perempuan melakukan banyak hal bodoh karena cinta….

Weleh…termasuk aku juga…

Tapi, tahu nggak sih…..maafkanlah dirimu sendiri.

Itu yang paling penting.

Lihatlah dirimu yang cantik, hebat, pandai, nyaris sempurna….tapi tidak akan pernah sempurna.

Tentu saja kita melakukan hal-hal yang bodoh, tak apalah…maafkan saja.
Maka kamu juga akan belajar memahami, bahwa orang lain pun, tidak sempurna.

Maafkan saja….

Yogya – Banda Aceh, 2003 – 2006.

fragments of life, points to ponder 9:23 am

Wow….

The power of love…..

Indahnya ya, kalau bisa berkata seperti itu…  tapi saat ini aku sedang mengagumi kekuatan hati seorang perempuan yang mencinta..kekuatan yang menerima, memaafkan…dan melupakan semua logika.

Indahnya jatuh cinta, dan indahnya mengatakan bahwa “aku memilih untuk tinggal bersamamu dalam cinta ini…”

Sakitnya merasakan bahwa orang yang kaucintai mungkin tidak seperti yang kau bayangkan, mengecewakan, mengancam keyakinanmu pada dirimu sendiri….


Dan betapa membingungkannya menjadi penonton….he….he….

Bayangkan saja bila pada suatu hari kamu bertemu seorang perempuan muda yang terlihat sangat mandiri.  Mungkin bukan mandiri seperti perempuan-perempuan dalam sinetron yang pergi ke mall sendiri, menyetir mobil keren sendiri, bisa nggesek kartu kredit sendiri….tapi seorang perempuan yang bekerja di kantor internasional, mungkin bukan dengan tingkat karir yang tinggi, tapi dengan gaji tinggi, bisa bertahan sebagai kaum “minoritas” dengan baik, punya banyak teman, suka olah raga dan selalu ceria, dan sangat profesional.  Hebat kan? Apakah sebagai sesama perempuan muda lain yang belum mencapai titik itu, kamu tidak akan bilang “oh, wow…”  Yah, setidaknya aku sempat bilang, wah hebat ya….  Aku mengagumi profesionalitasnya, keceriaannya, keseimbangan dalam hidupnya antara pekerjaan, teman, olah raga, orang tua….

Sampai dia jatuh cinta.


Hebat ya cinta itu…. 

Lebih hebat lagi ketika dia mulai menemukan kekecewaan dalam cintanya..  betapa kemudian si perempuan hebat ini begitu terpukul dan timpang dalam menjalani hidup, dan berusaha untuk….lari.

Dan kutemukan dia berusaha untuk meninggalkan semua yang sudah dia capai, kepercayaan dari atasan, kemandiriannya, kepercayaannya bahwa dia mampu melewati semuanya….dan dia dengan panik berusaha meninggalkan masalah ini di belakang.

Mengundurkan diri dari kantor.
Mengepak barang-barang.

Pergi.

Berhenti.

Itu cerita lama.

Berapa lama…?  Yah, kira-kira sebulan atau satu setengah bulan yang lalu…. 

Sekarang ada episode baru.
Di mana sang cinta membuktikan diri bahwa dia masih berkuasa.  Bahwa sang kekasih hati berusaha memperbaiki apa yang sempat retak.  Bahwa sang perempuan berusaha untuk kembali pada kantor yang nyaris ditinggalkannya.

Pertanyaannya….

Bisakah?

Apakah maaf sang bos sebanding dengan maaf sang perempuan pada kekasih hatinya?

Apakah sesudah membuat teman-teman kerja panik mencari ganti (yang tak kunjung datang pula…) karena pengunduran diri yang sangat mendadak dan emosional, mereka bisa percaya lagi secepat ini…?


Maaf…tentu masih ada.  Tapi apakah itu berarti kesempatan kedua untuknya….

Maaf….sayangnya, aku pun belum tahu jawabnya…

Andaikan hujan yang datang memberikan juga curahan inspirasi dan jawaban…mestinya hidup tidak serumit ini bukan.


Untukmu, seseorang yang mungkin bisa kusebut temanku…Aku sangat berbahagia karena di tanah asing ini kau menemukan cintamu.

Dan setelah semua rasa sakit yang pernah kaurasakan, kamu mampu memilih untuk memberikannya kesempatan kedua…

Tapi mungkin kamu lupa untuk minta maaf pada sedikit orang yang duduk dan menahan diri selama ini untuk membiarkan kamu melewati ini semua, memberikan waktu dan menunggumu dengan sabar.  Melihat kamu berjuang dengan semua pertanyaan yang sesungguhnya perlu kau jawab sendiri, namun kau lontarkan ke depan mereka….dan mereka cuma bisa bingung.

Maafkan aku karena aku tak kunjung bisa memahamimu….
Good luck with your love….

Banda Aceh, medio Oktober 2006