Satu hal dari acara nikahan kemarin yang aku betul-betul puas adalah periasnya. Dari pengalaman mencari dan menemukannya, aku jadi belajar beberapa hal tentang bekerja sama dengan orang lain, dan lebih banyak lagi tentang diri sendiri. Mungkin semua hal yang aku pelajari hanya berlaku untuk diri sendiri, tapi aku share sedikit ya, siapa tahu berguna untuk orang lain juga.
Yang pertama, dengarkan kata hatimu. Kadang-kadang ketika kita berhadapan dengan seseorang, ada ‘aura’ atau ‘hawa’ yang terpancar dari pertemuan itu, yang membuat kamu merasa nyaman atau tidak nyaman dengan seseorang. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, tetapi jangan juga cepat-cepat membuang rasa itu. Simpan dan analisalah.
Aku menemui tiga perias sebelum memutuskan untuk memakai perias yang ini. Perias pertama adalah perias pengantin tradisional, yang direkomendasikan oleh penjahit kebayaku. Album fotonya cukup meyakinkan, tata riasnya terlihat halus, dan harganya juga masuk akal. Satu hal yang sangat menggangguku adalah dia tak hentinya berbicara, dan sangat sedikit menanyakan tentang apa yang kuinginkan. Dan dia dengan sibuknya merekomendasikan, dan bahkan menghitungkan, berapa banyak dana yang dapat kuhemat kalau aku memakai berbagai jasa lain dari dirinya.
Jujur saja aku merasa terpojok dalam setengah jam yang kuhabiskan bersamanya. Speechless, tapi bukan dalam arti yang positif. Dan itu terbukti jauh kemudian. Kami memutuskan untuk memakai jasanya untuk among tamu, dan hal pertama yang dilakukannya ketika sampai di rumah kami adalah memindah-mindahkan barang yang sudah kami atur rapi untuk dibawa ke gereja, TANPA PERMISI. Yeah, si ibu yang bossy ini memang hampir menyulut emosiku jam setengah enam pagi, fiuh…
Perias pengantin tradisional yang lain yang aku temui sangatlah lemah lembut, bahkan, terlalu lemah lembut. Sebegitu lembutnya sampai aku takut untuk berbicara dengan singkat, padat, dan jelas tentang apa yang kuinginkan. Walhasil, test make up meninggalkan aku dengan alis yang tidak seragam, dan terlalu tipis…. grrrr….
Perias yang kupakai sebenarnya adalah perias kedua yang kutemui. Awalnya aku tidak terlalu mempertimbangkan dia, karena salonnya adalah salon modern yang terkenal di antara ibu-ibu arisan dan wisudawati. Dan dia laki-laki. Tetapi ketika aku mendengar dua rekomendasi yang berbeda dari orang-orang yang sama sekali tidak berkaitan satu sama lain… hmmm, aku memutuskan untuk melihatnya. Album fotonya sama sekali tidak meyakinkan. Tetapi orangnya sangat komunikatif, dan kami bisa berdiskusi tentang keinginanku, after all, it was my wedding.
Itu tentang kepribadian. Hal yang kedua adalah, sisihkanlah dana untuk melakukan test make up. Test make-up biasanya cukup mahal, apalagi kalau dibandingkan dengan dana yang akan kita habiskan untuk make-up pada hari H. Sebenarnya, alasanku untuk melakukan test make-up hanya karena masku sedang berada di luar kota, dan dia ingin melihat gambaran make-upnya untuk ikut memilih, perias mana yang mau dipakai. Tetapi aku puas sekali bisa menjalaninya.
Test make-up bisa membuktikan bahwa reputasi semata tidaklah selalu merupakan hal yang bisa diandalkan. Terutama kalau kamu mempunyai wajah, atau permintaan, yang ‘kurang standar’. Aku misalnya, berwajah lumayan bundar dan sedikit gemuk. Mendekati hari H, bukannya tambah kurus, aku malah tambah bulat, karena stress. Kulit mukaku sangat sensitif terhadap kosmetik dan aku sangat tidak suka kalau alisku diotak-atik. Aku menyerah kalah pada kenyataan bahwa alisku memang harus dipermak, tapi aku minta seminimal mungkin permakannya. Dan satu-satunya perias yang mampu melakukannya, ya si mas itu. Dan meskipun aku puas dengan riasannya, ternyata sanggul pada saat test make-up terlalu berat (karena ukuran dan juga karena model rangkaian melati segar yang dipakai), sehingga pada hari H, model sanggul dan rangkaian melatinya sedikit diubah, yang membuatnya jauh lebih nyaman.
Aku tahu banyak orang yang mempertanyakan pilihanku. Seorang perempuan jawa biasa yang memilih dirias oleh seorang laki-laki ‘lemah lembut’ pada hari pernikahannya. Tentunya tanpa laku puasa yang biasanya dilakukan oleh wanita perias pengantin tradisional, yang katanya mampu menambah pesona pengantin pada hari H. Bukannya aku tidak percaya, tetapi aku juga percaya, bahwa pesona yang sejati bisa muncul dari dalam si pengantin itu sendiri, ketika dia MERASA cantik. Dia merasa cantik dan dia merasa nyaman dengan penampilannya.
Mungkin aku tidak cantik pada hari pernikahanku, tapi yang jelas jauh lebih cantik dari keseharianku, hehehe…. Dan itu artinya four thumbs up untuk Mas Harry Andrian, dari Harry Andrian Salon, Salatiga. Makasih ya, Mas, your make-up was the one thing I was truly truly truly satisfied in, on that day full of chaos, hehehehe….










