fragments of life, Bahasa IndonesiaJanuary 28, 2010 9:28 pm

Satu hal dari acara nikahan kemarin yang aku betul-betul puas adalah periasnya.  Dari pengalaman mencari dan menemukannya, aku jadi belajar beberapa hal tentang bekerja sama dengan orang lain, dan lebih banyak lagi tentang diri sendiri.  Mungkin semua hal yang aku pelajari hanya berlaku untuk diri sendiri, tapi aku share sedikit ya, siapa tahu berguna untuk orang lain juga.

Yang pertama, dengarkan kata hatimu.  Kadang-kadang ketika kita berhadapan dengan seseorang, ada ‘aura’ atau ‘hawa’ yang terpancar dari pertemuan itu, yang membuat kamu merasa nyaman atau tidak nyaman dengan seseorang.  Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, tetapi jangan juga cepat-cepat membuang rasa itu.  Simpan dan analisalah. 

Aku menemui tiga perias sebelum memutuskan untuk memakai perias yang ini.  Perias pertama adalah perias pengantin tradisional, yang direkomendasikan oleh penjahit kebayaku.  Album fotonya cukup meyakinkan, tata riasnya terlihat halus, dan harganya juga masuk akal.  Satu hal yang sangat menggangguku adalah dia tak hentinya berbicara, dan sangat sedikit menanyakan tentang apa yang kuinginkan.  Dan dia dengan sibuknya merekomendasikan, dan bahkan menghitungkan, berapa banyak dana yang dapat kuhemat kalau aku memakai berbagai jasa lain dari dirinya.

Jujur saja aku merasa terpojok dalam setengah jam yang kuhabiskan bersamanya.  Speechless, tapi bukan dalam arti yang positif.  Dan itu terbukti jauh kemudian.  Kami memutuskan untuk memakai jasanya untuk among tamu, dan hal pertama yang dilakukannya ketika sampai di rumah kami adalah memindah-mindahkan barang yang sudah kami atur rapi untuk dibawa ke gereja, TANPA PERMISI.  Yeah, si ibu yang bossy ini memang hampir menyulut emosiku jam setengah enam pagi, fiuh…

Perias pengantin tradisional yang lain yang aku temui sangatlah lemah lembut, bahkan, terlalu lemah lembut.  Sebegitu lembutnya sampai aku takut untuk berbicara dengan singkat, padat, dan jelas tentang apa yang kuinginkan.  Walhasil, test make up meninggalkan aku dengan alis yang tidak seragam, dan terlalu tipis…. grrrr….

Perias yang kupakai sebenarnya adalah perias kedua yang kutemui.  Awalnya aku tidak terlalu mempertimbangkan dia, karena salonnya adalah salon modern yang terkenal di antara ibu-ibu arisan dan wisudawati.  Dan dia laki-laki.  Tetapi ketika aku mendengar dua rekomendasi yang berbeda dari orang-orang yang sama sekali tidak berkaitan satu sama lain… hmmm, aku memutuskan untuk melihatnya.  Album fotonya sama sekali tidak meyakinkan.  Tetapi orangnya sangat komunikatif, dan kami bisa berdiskusi tentang keinginanku, after all, it was my wedding.

Itu tentang kepribadian.  Hal yang kedua adalah, sisihkanlah dana untuk melakukan test make up. Test make-up biasanya cukup mahal, apalagi kalau dibandingkan dengan dana yang akan kita habiskan untuk make-up pada hari H.  Sebenarnya, alasanku untuk melakukan test make-up hanya karena masku sedang berada di luar kota, dan dia ingin melihat gambaran make-upnya untuk ikut memilih, perias mana yang mau dipakai.  Tetapi aku puas sekali bisa menjalaninya.

Test make-up bisa membuktikan bahwa reputasi semata tidaklah selalu merupakan hal yang bisa diandalkan.  Terutama kalau kamu mempunyai wajah, atau permintaan, yang ‘kurang standar’.  Aku misalnya, berwajah lumayan bundar dan sedikit gemuk.  Mendekati hari H, bukannya tambah kurus, aku malah tambah bulat, karena stress.  Kulit mukaku sangat sensitif terhadap kosmetik dan aku sangat tidak suka kalau alisku diotak-atik.  Aku menyerah kalah pada kenyataan bahwa alisku memang harus dipermak, tapi aku minta seminimal mungkin permakannya.  Dan satu-satunya perias yang mampu melakukannya, ya si mas itu. Dan meskipun aku puas dengan riasannya, ternyata sanggul pada saat test make-up terlalu berat (karena ukuran dan juga karena model rangkaian melati segar yang dipakai), sehingga pada hari H, model sanggul dan rangkaian melatinya sedikit diubah, yang membuatnya jauh lebih nyaman.

Aku tahu banyak orang yang mempertanyakan pilihanku.  Seorang perempuan jawa biasa yang memilih dirias oleh seorang laki-laki ‘lemah lembut’ pada hari pernikahannya.  Tentunya tanpa laku puasa yang biasanya dilakukan oleh wanita perias pengantin tradisional, yang katanya mampu menambah pesona pengantin pada hari H.  Bukannya aku tidak percaya, tetapi aku juga percaya, bahwa pesona yang sejati bisa muncul dari dalam si pengantin itu sendiri, ketika dia MERASA cantik.  Dia merasa cantik dan dia merasa nyaman dengan penampilannya. 

Mungkin aku tidak cantik pada hari pernikahanku, tapi yang jelas jauh lebih cantik dari keseharianku, hehehe…. Dan itu artinya four thumbs up untuk Mas Harry Andrian, dari Harry Andrian Salon, Salatiga.  Makasih ya, Mas, your make-up was the one thing I was truly truly truly satisfied in, on that day full of chaos, hehehehe….

fragments of life, Bahasa IndonesiaJanuary 25, 2010 2:21 am

Ada seseorang yang bertanya, seminggu sebelum aku menikah, akankah aku berubah, karena banyak orang yang menikah lalu berubah.  Aku berkata, aku tak tahu, karena memang aku tak tahu.  Tentunya semua pilihan dan langkah hidup memiliki konsekuensi masing-masing, termasuk menikah.  Dan konsekuensi itu bisa beruba perubahan-perubahan yang harus dilakukan.  Tentunya aku berharap bahwa diriku yang sejati tidak akan berubah, tapi, siapa sih yang tahu.

Dan sekarang, dengan kata-kata yang sering kuucapkan akhir-akhir ini, mungkin kamu merasa aku berubah.  Well, aku harap kamu tidak merasa begitu.  Karena meskipun kata-kata ini tak pernah kuucapkan dengan keras, aku telah menjalaninya, sadar atau tidak.

Jangan buang waktu-MU.  Terutama untuk makhluk yang bernama laki-laki.

Jangan buang waktu untuk laki-laki yang hanya ingin mempermainkan dirimu.  Jangan buang waktumu untuk mempermainkan lelaki.  Mungkin terasa seperti sebuah kemenangan ketika seorang perempuan bisa membuat lebih dari satu laki-laki terobsesi dan terombang-ambing, tetapi masa-masa yang kauhabiskan untuk mempermainkan mereka, adalah waktu berharga yang seharusnya bisa kaugunakan untuk menemukan laki-laki yang baik itu.  Mungkin bukan The One, tapi yang baik.  

At the end of the day, those glorious days of being a heart-breaker will not keep you company on the rainy days.  Catatan daftar nama orang-orang yang takluk di depan kakimu tidak akan ada di sana untuk menawarkan bahu saat kau lelah.  Ingatkah kita selalu bilang, bahwa orang yang baik akan mendapatkan orang yang baik juga, karena alam semesta, dan Tuhan, bagi yang percaya, memang selalu adil dan seimbang?  Jika kau menginginkan yang baik itu, jadilah baik juga, maka kau akan menjadi magnet kebaikan.

Nobody’s perfect, so expect imperfections in others.  Nobody wants to be hurt, so take care people.  Nobody likes negative energy,  so give out a positive one.  Nobody wants unhappiness, so be happy.  And remember, it’s YOUR life that you are wasting, if you make unwise choices, not theirs.  It is important to keep your goal in sight, and not to be easily distracted.  If you want to be happy, seek happiness, and nothing else.

Take care.

fragments of life, English 1:08 am

phew… January 2, 2010 came and went… and so did the stress. Thank God… :)

fragments of life, EnglishDecember 11, 2009 8:21 am

Oh wow…. an old draft…. Brings back happy memory of life in Ann Arbor, USA emoticon emoticon emoticon emoticon

Animated Program:
Lavatory - Lovestory - A lonely toilet attendant attempts to uncover the identity of her secret admirer. Dir. Konstantin Bronzit - Russia - 10 min.
Oktapodi - Two Octopi fight for their lives in a comical escape through the streets of a small Greek village. Dir. Julien Bocabeille - France - 3 min.
Le Maison en Petits Cubes - An old man battles to save his house in an attempt to beat the rising tide. Dir. Kunio Kato - Japan - 12 min.
This Way Up - Laying the dead to rest has never been so much trouble. Dirs. Adam Foulkes and Alan Smith - UK - 9 min.
Presto - Dignity. Poise. Mystery. We expect nothing less from the great, turn-of-the-century magician, Presto. But, when Presto forgets to feed his rabbit, the revered conjurer gets more than he bargained for! Dir. Doug Sweetland (Pixar) - United States - 5 min.

Extra Commended Films:
Varmints - A creature struggles to preserve a world in danger of being destroyed through recklessness and indifference. Dir. Marc Craste - UK - 24 min.
John and Karen - Two animals attempt to resolve their relationship issues. Dir. Matthew Walker - UK - 5 min.
Gopher Broke - There is no such thing as a free lunch. Produced by Blur Studios - USA - 4 min.
Skhizein - Poor Henry has been struck by a meteorite and yet, miraculously, he’s still here. Well, not exactly ‘here,’ just a few centimetres further along than the rest of us. 91 centimetres to be precise! Dir. Jérémy Clapin - France - 14 min.
Hot Dog - An intrepid dog goes to work for the fire department. Dir. Bill Plympton - USA - 6 min.

Memory of Spring 2009

fragments of life, Bahasa Indonesia 8:17 am

Aku jelas-jelas kebanyakan nonton sinetron, karena tag line ini kucomot dari sana, "Setiap ucapan adalah doa."  Kalau dalam bahasa Inggris, mungkin aku menemukan padanannya pada "Be careful with what you wish for."  Memang bukan terjemahan langsung, namun bagiku mengandung pesan yang sama akan ‘kewajiban’ kita untuk berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu, karena alam akan mendengarkannya, dan siapa tahu, menjadikannya kenyataan.

Bagaimana perasaanmu kalau sang pacar, yang sudah ngomong ngalur-ngidul menyatakan bahwa dia merasa bahwa kamulah ‘jodoh’nya, tiba-tiba mengatakan, "Yank, kalau sampai kita putus, pasti kamu menikah dengan pacarmu yang sesudah aku."? Dalam hati jengkel dan meradang, "Bukannya kamu yang mau menikahi aku? Kalau nggak niat menikahi, jangan berandai-andai soal putus begini, bilang aja langsung.  Bukannya kamu yang udah niat banget pengen nikah, kok jadi proyeksi begini? Memangnya kalau kita putus, kamu juga nggak langsung nikah sama pacarmu yang sesudah aku? "

You know what?  The universe heard you that day.  Aku akan menikah.  Dengan pacarku sesudah cowok itu.  Aku berharap kamu bahagia karena ‘ramalan’mu terwujud, Mas.

Tapi ngomong-ngomong soal ‘wishes’, sejatinya aku mendapatkan mantanku itu juga karena ‘wishes’.  Setelah patah hati parah bertahun-tahun yang lalu, aku sempat meminta seorang pasangan yang bla bla bla bla…..dan, viola, dapet deh.  Persis sama dengan yang aku minta, dia bla, bla bla dan bla.  Pas banget.  Sayangnya, ternyata ‘doa’ku itu kurang detil ;p Baru kutemukan hal-hal yang tadinya kupikir sekunder, ternyata adalah hal-hal yang sangat-sangat penting untukku. 

Hey, mungkin ucapan-ucapan nggak penting yang membawa ‘bencana’ itu memang harus dibatalkan dengan ucapan-ucapan nggak penting lain yang membawa bencana lain, hahaha… So they cancel each other… Aku berharap dipertemukan dengan dia, dan dia berharap agar aku dipertemukan dengan orang lain.  Klop.

Mas, semoga kamu belajar untuk hidup lebih positif, mengatakan hal-hal yang baik dari mulutmu, jangan begitu mudah mengatakan hal-hal buruk tentang diri sendiri dan juga orang lain..  Tapi mungkin aku harus berterimakasih padamu, karena berkat kamu lah, aku tahu, pasangan seperti apa yang benar-benar aku cari.  Datang ya, ke nikahanku… ;)

Salatiga, 11 Desember 2009.

fragments of life, English 7:58 am

Some people might think, it’s a piece of cake saying that one of your life’s motto is "No Regret".  Some people think that living it up is also a piece of cake.  That all of you have to do is living your life, and accept whatever consequences come your way.

But, did anyone ever tell you that it entails thinking BEFORE you do something?  Living with no regret does not only relate to the consequences, but also the the thing you choose to do that you know will trigger the chain effect that brings you the consequences.  Of course you cannot foresee every outcome, but if you have the slightest notion on how disastrous it can become, and how you will be unable to cope with it, then maybe it is not for you.

Some people say I lead a crazy life.  I took crazy decisions.  They brought me happiness.  I look up at other people and admire their sense of living.  But sometimes, looking up at role models should stop at that.  Look. Admire.  Do your own stuff.  Because I am not made of the same ‘material’ as they are.  And you are not made of the same material as me.  And all the crazy things my role models could get away with, I might have difficulties to live with.  And the things I could get away with, you might not be made for.  

I live a life of no regret.  And so far, there are a couple of things I wish I didn’t have to go through, but I am glad I went through them anyway.  There are few things close to regrets, but no, I have no regret.  And I am wishing you the same.  Just hoping, that you also have the grace of thinking it through before you make your choices.

fragments of life, EnglishDecember 4, 2009 2:05 am

An article which has been sitting for a month in my head.  Well, time to get it out of my system.

What would most Indonesian girls feel when they are riding a motorbike in the broad daylight of Semarang, Central Java, wearing a pair of jeans a a short-sleeved t-shirt?   Most girls I know will be worried about getting their skin tanned.  But those who know me well enough would know that I am normally not squeamish about barring my skin under the sun, especially since in Semarang, there’s more than enough reason to try to wear as little as comfortably possible.  But those few days in early November, all of a sudden I felt a strange sensation while hitching a ride on the back of my niece’s motorbike, wearing a short-sleeved shirt.

All of a sudden I felt so vulnerable.

With the sun and wind licking my bare lower arms,  I suddenly realized that for the last three years, that sensation became very limited.

Let’s start from a couple of years in Aceh, where dress code is long sleeved shirt, coupled with a safety conscious partner who didn’t let me get a ride on his motorbike without proper jacket, boots, gloves and, of course, helmet. That was a HOT place. That was then followed by nine months in Michigan, where seven of those months were cold cold cold…. Followed by regular trips to Yemen, where once again, the dresscode is long bulky flowing stuffs. And a place where I travel exclusively in cars, safety precaution-wise.

Without the layers of fabric on my skin, nor the solid metal on top of my head, all of the sudden I felt so exposed. Silly, hm?